Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
Sesungguhnya tidak sesabar itu..


__ADS_3

Kinanti hanya membolak balik kertas di hadapannya, ia benar benar tidak ada niat membaca.


" Kau ini, sejak kembali tadi malam sikapmu aneh.. kenapa?" tanya dini penasaran.


" aku tidak apa apa.." jawab Kinanti datar, matanya terlihat ngantuk.


" Kau tidak tidur semalam?"


" tidak.."


" kenapa?"


" ada yang mengganjal pikiranku.."


" laki laki yang mengantarmu semalam beda lagi tuh.. tapi yang ini orangnya hangat dan penuh senyuman.."


" Yah.. Yusuf itu seperti matahari kadang hangat kadang menyengat.." Kinanti asal bicara.


" Namanya Yusuf?"


" kau suka? putuskan tunanganmu.."


" eh! kau gila?! bisa di bunuh aku.. lagi pula kenapa aku mau dengan lelakimu?" ujar Dini.


" Lelakiku lelakiku.. aku ini tidak punya laki laki!, dia itu sepupuku, kami besar bersama, dia bahkan main boneka dan masak masakan bersamaku?!"


" Oh ya?!"


" yayayaya!"


" ah.. sayang sekali, aku setia orangnya.. sudahlah lupakan..!"


Kinanti hanya tersenyum saja, ia malas beradu kata.


Beberapa hari kemudian, ketika Damar sudah benar benar sehat.


" Mau ngajar mas?" tanya Yoga yang baru saja selesai lari pagi.


tubuh laki laki itu bagus, tampak sehat dan bugar dengan kaos putih yang sedikit ketat dan training hitam.


Duda satu ini banyak membuat hati gadis desa rontok.


" Iya Yog.." jawab Damar sembari memakai tas punggungnya, tak kalah dari Yoga, penampilan Damar tidak menunjukkan usianya ketika sedang mengajar.


Ia lebih terkesan muda, maskulin dan berwibawa.

__ADS_1


Sedangkan Yoga tampak kalem dan hangat, layaknya seorang dokter muda yang di kagumi banyak perempuan.


" Kau libur?" tanya Damar,


" Aku berangkat jam 8 mas.." Jawab Yoga sembari mengelap keringatnya dengan handuk kecil.


" Ku dengar dengar.. ada pacar mas menjenguk..?" tanya Yoga penasaran ia bertanya pada Damar yang sedang mengelap motornya.


" Mbak Winda bergosip.. itu hanya temanku.." jawab Damar datar.


" Wah.. sayangnya aku kelewatan, kapan kapan ajak kesini mas.."


" kan sudah kubilang hanya teman.." tegas Damar halus.


" Perasaanku merasakan akan ada perkembangan hubungan.."


" Sok tau.. berubah profesi jadi peramal?" Damar terus mengelap motornya sampai mengkilap.


" Habisnya.. kulkas dua pintu sudah mulai membuka diri..


bukankan itu luar biasa?" goda Yoga.


" Bisa bisanya kau menyamakan ku dengan kulkas..


jangan mencemoohku, kau sendiri cari istri sana, jangan tebar pesona terus, kasian jantung gadis gadis di kampung ini.." ujar Damar.


" Wajah mu yang salah, jangan terlalu tampan.." ujar Damar datar, sembari beralih mengelap helmnya.


" Kau bicara seperti wajahmu jelek saja mas?! coba mas hitung berapa perempuan yang mas kecewakan?"


" kenapa kau menyalahkanku, orang orang yang ngotot menjodoh jodohkanku, dari pada ramai terus dan kepalaku pusing ya ku terima saja.."


" yah.. menerimanya lalu mengacuhkannya, siapa perempuan yang betah, kau ganteng tapi membosankan mas, sama seperti benda yang kau potong itu, kau kaku seperti kayu..!" kalimat Yoga membuat gerakan Damar terhenti.


" Lho?, tidak boleh marah.. yang kukatakan kenyataan lho mas?" Yoga mundur selangkah, ia takut Damar marah.


" lalu harus bagaimana aku memperlakukan perempuan?" suara Damar tenang.


Yoga mematung, hampir saja ia lari karena takut, tapi ternyata Damar tidak marah justru bertanya.


" Mas serius bertanya tentang ini?" Yoga tidak yakin.


Damar mengangguk, ia menaruh helmnya di atas motor.


" Yah.. kalau menurutku menyenangkan perempuan itu wajib mas..

__ADS_1


mengajaknya makan itu sudah pasti,


ajak juga ke tempat yang dia suka atau tempat favoritnya..


belikan barang barang kesukaannya..


dan yang paling penting.. buat dia tergantung denganmu..


biasakan dia melihatmu, sehingga sejenak saja tidak melihatmu ia tidak akan tahan mas.."


Damar terdiam, wajahnya serius..


" emh.. begitu ya?" ujar Damar kemudian sembari mengangguk.


" Mas serius tho sama yang ini?" tanya Yoga penasaran.


" Ah.. tidak, dia ada laki laki lain.." jawab Damar dengan raut sedikit berubah.


" pacar? tunangan?"


" Bukan.. masih pendekatan sepertinya.."


" Rebut mas! selama janur kuning belum melengkung.." seru Yoga.


" Kau ini sudah bapak bapak kok main rebut rebut saja..


di dunia ini tidak hanya perasaan kita yang terpenting, tapi juga perasan orang lain.."


" Ah.. mas tidak akan dapat apa apa dan akan selalu kecewa jika selalu seperti itu.."


" Tak apa, kata orang jodoh tak akan kemana..


kalau dia bukan jodohku ya pasti ada yang lainnya..


ya sudah, aku kesiangan nanti..


aku berangkat dulu!" Damar memakai helmnya, menaiki motornya dan segera berkendara keluar dari halaman rumahnya menuju jalanan.


Sebenarnya hatinya tak seikhlas itu, tak sesabar itu, namun rasa takutnya lebih besar dari apapun, ia takut tidak bisa membahagiakan Kinanti, dan malah justru membuat hidup Kinanti menderita.


Tentunya Kinanti ingin menikah dengan orang yang di cintainya, bukan dengan Damar yang tiba tiba saja muncul di hidupnya dan membawa kenyataan menghidupi Kinanti karena rasa bersalah.


Perempuan manapun akan takut jika menikah atas dasar itu.


Di tancap Gas motornya, di buang pikirannya yang rumit jauh jauh.

__ADS_1


Ia harus hidup dengan baik, sampai Kinanti menemukan Jodohnya.


__ADS_2