Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
cinta tidak memaksa


__ADS_3

Damar berkali kali memandang Rakha sembari menghela nafas berat,


ia sungguh tak habis pikir..


Rakha adalah anak SMP yang pernah ia didik dulu,


tentu saja mereka cukup dekat karena beberapa kali berbincang.


Saat latihan Rakha selalu menunjukkan ekspresi yang datar, tak ada emosi sama sekali, hal itu yang membuat Damar tertarik dan mendekatinya, hingga akhirnya Damar tau, apa yang membuat anak laki laki itu berekspresi begitu datar dan tanpa emosi.


" Saya bersedia menerima pukulan dua kali lipat, atau bahkan tiga kali lipat senpai.." suara Rakha membuyarkan pikiran Damar.


" Jangan panggil aku senpai, " ujar Damar dengan suara malas.


" lalu saya harus memanggil senpai dengan sebutan apa? anda memang senpai saya.." Rakha tertunduk sedalam dalamnya.


Damar terdiam,


" panggil aku pak, mas, terserah.." ucap Damar lagi.


" ah.. rasanya asing sekali memanggil senpai dengan mas atau bapak.." keluh Rakha merasa canggung, ia sesekali meringis merasakan perih di punggungnya.


" Akan kusuruh anak buahku membantu mengobatimu, atau kau mau kerumah sakit?" tanya Damar.


" Saya baik baik saja, luka semacam ini tidak akan membunuh saya.." jawab Rakha berusaha tenang.


Damar mengeluarkan rokoknya dari handbag kulit yang selalu ia bawa kemana mana,


membakar rokoknya itu sebatang, menghisap dan menghembuskan nya perlahan, sembari menatap sawah di hadapannya.


" Aku akan menganggap hal ini tidak pernah terjadi..


tapi jangan menampakkan dirimu lagi di hadapan Dinda." Ujar Damar tenang namun penuh penegasan.


Rakha diam, ia tak menjawab,


" Aku akan memberi pengertian pada adikku untuk tidak memperpanjang hal ini,


kau adalah anak didikku, apa yang kau lakukam sekarang adalah kelalainku,


aku akan ikut menanggungnya," lanjut Damar.


" Tidak.." terdengar suara Rakha lirih,


" tidak?" Damar menatap Rakha dengan dahi berkerut.


" Sulit bagi saya untuk tidak melihat Dinda.."


Damar bangkit dari tempat duduknya, emosinya kembali naik mendengar ucapan Rakha.


" Kau terang terangan menentangku?!" suara Damar tak ramah.


" Saya tidak berani.." Rakha masih tertunduk dalam,


" Lalu apa maksudmu dengan sulit?!"


" Saya.." Rakha tercekat, ia tak sanggup melanjutkan kata katanya.


" Saya apa? katakan?!" Damar tak bisa sabar,


Rakha diam cukup lama, ia terlihat bimbang.

__ADS_1


" Saya.. saya sudah lama jatuh cinta pada Dinda.." ujar Rakha akhirnya setelah lama terdiam.


" Saya dengan sengaja mempermainkan perempuan.. karena saya sakit hati dengan ibu yang mencampakkan saya..


tapi Dinda..


kehadiran Dinda disamping saya berbeda,


saya menahan diri dari masa kuliah karena tidak yakin diri saya mampu setia dan menjaganya.."


" lalu kenapa kau kembali? kenapa kau kembali di saat dia sudah bahagia dengan keluarganya?!"


" apa dia bahagia senpai?? apa dia bahagia??


senpai lihat? suaminya bahkan tidak punya kekuatan untuk melindunginya,


di bahkan menutupi ketidakbecusannya dengan membatasi ruang gerak Dinda,


di mematahkan sayap Dinda agar tidak terbang tinggi dan meninggalkannya?!"


Damar diam, ia kehabisan kata kata, di lempar rokoknya yang masih panjang itu, meletakkan kedua tangannya di pinggang sembari memunggungi Rakha.


" Yoga memang lemah dalam hal fisik sejak kecil, dia bukan petarung..


tapi melihatnya bertahan dengan pukulanmu yang sudah terlatih tidakkah kau faham?" ucap Damar membiarkan matanya menatap hamparan sawah hijau dengan bebas.


" Dia bertahan karena dia tidak mau mengalah atas istrinya, dia mempertahankan istrinya,


resiko apapun akan ia tempuh meski harus habis di tanganmu,


tidakkah kau malu? atau aku yang harus menanggung malu untukmu karena teledor mendidikmu dulu?"


Damar berbalik dan menatap Rakha, masih dengan kedua tangan di pinggangnya.


" Baiklah.. maumu bagaimana? bertarung sampai mati?


membunuh suaminya dan merebutnya demi cintamu yang agung itu?" Damar kembali duduk dan berusaha menenangkan dirinya.


" Cinta tidak begitu, jika ia memaksa itu bukan lagi cinta tapi obsesi,


jika cinta itu mendorong kita menyakiti seseorang untuk memilikinya, maka itu tidak bisa lagi di katakan cinta, tapi sebuah kekeliruan perasaan, dan kekeliruan itu bisa berkembang menjadi sebuah kejahatan..


kau sudah siap menjadi orang jahat?


yang merebut istri dari suaminya?


yang merebut ibu dari anaknya?"


Rakha lagi lagi termenung dan bimbang,


" itu.. itu hanya anak tirinya.." ujarnya lirih kemudian,


" Bagas.. nama anak itu Bagas, jika kau di tinggalkan pada saat kau berusia 12 tahun, maka dia di tinggalkan sejak bayi,


ibunya sama seperti ibumu, memilih hidup dengan laki laki lain dan mencampakkan anaknya,


jika sekarang kau mengambil Dinda yang sudah seperti detak jantungnya,


kau kira apa yang akan terjadi?


kau ingin mengulangi kisahmu? menjadi penjahat yang kau benci?

__ADS_1


menjadi orang yang mengobrak abrik masa depan orang lain?


apa kau siap menanggungnya?" kata kata Damar benar benar menusuk nusuk hati Rakha.


Mata Rakha mulai menggenang, di buang pandangannya ke arah lain agar Damar tak menemukan linangan air mata itu.


" Jangan paksa saya untuk tidak melihat Dinda lagi senpai.. saya mohon..?" suara Rakha bergetar.


" Saya butuh waktu.. saya butuh kekuatan untuk mengalihkan pandangan saya,


karena selama bertahun tahun, tidak pernah saya temukan perempuan setulus dia..


dia.. dia selalu dalam angan angan saya meski perempuan lain yang saya peluk..


rasanya tercekik senpai... membayangkan dia di pelukan suaminya..


lalu suatu ketika saya menemukan dia di perlakukan tidak adil di toko oleh mantan istri suaminya,


dan suaminya tidak bisa bertindak tegas..


rasanya saya tidak sanggup lagi mencegah diri saya untuk tidak mengharapkannya dan melindunginya..


apa ini obsesi senpai?? saya benar tidak bisa membedakan..


yang saya tau.. saya hanya ingin membuatnya bahagia.." imbuh Rakha membuat Damar menyandarkan punggungnya di kursi dan sesekali menghela nafas berat.


" Rasanya dadaku sesak berada diantara kalian.. " keluh Damar,


" Ampuni saya..


saya tidak bisa berjanji, namun saya akan berusaha untuk menarik diri..


saya tidak mau menjadi orang jahat seperti yang senpai katakan..


saya menginginkan cinta yang murni, yang tidak menginjak tubuh atau leher orang lain demi memilikinya..


saya...


saya... akan mencintainya dengan senyap dan memandangnya dari jauh.. "


Kata kata Rakha benar benar membuat Damar pening,


apalagi melihat mata yang sudah tergenang di hadapannya itu membuatnya semakin tidak tau saja harus berbuat apa.


" Apapun bentuk cinta itu, bagiku itu salah tempat dan salah waktu,


aku tidak bisa menerima kata katamu, berjanjilah untuk tidak menampakkan dirimu lagi di hadapan Dinda, itu saja janji yang kubutuhkan darimu," tegas Damar terpaksa demi ketenangan rumah tangga adiknya, ia masih tak puas dengan jawaban jawaban Rakha yang seakan berat dan sulit untuk melepaskan Adinda.


Rakha benar benar membisu sekarang, tak satupun kata keluar dari mulutnya setelah Damar meminta janjinya.


Laki laki yang gagah dan tinggi itu terlihat gelisah, matanya tak tenang dan bibirnya benar benar terkatup rapat.


" Kau tidak bisa berjanji??!" tanya Damar lebih tegas lagi,


" Kalau kau tidak mau mundur baik baik, baiklah.. di pertemuan berikutnya, jangan salahkan aku bersikap kurang berperasaan." imbuh Damar menegaskan, bahwa ia tak akan segan segan memukul dengan seluruh kekuatannya jika Rakha masih saja berada di sekitar Dinda.


" Kau dengar itukan?" suara Damar membuat Rakha bimbang dan mulai takut, ketakutannya di dasari oleh pikirannya yang mulai terbuka oleh kata kata Damar.


Pada saat Rakha di selimuti kebimbangan terdengar suara Kinanti yang berlari keluar, wajahnya terlihat ketakutan dan kebingungan.


" Mas?! Dinda?!" suara perempuan itu Setengah menangis,

__ADS_1


" Kenapa??!" Damar bangkit dari kursinya, begitu juga Rakha, wajahnya tak kalah tegang melihat ekspresi Kinanti.


__ADS_2