Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
satu sama


__ADS_3

Udara di dalam rumah itu serasa sesak, padahal jendela dan pintu sedang terbuka lebar.


Damar dan Kinanti benar benar di buat pusing oleh saudara saudaranya.


" Masuklah sayang.. biar aku yang bicara pada mereka.." kata Damar menyuruh istrinya masuk ke dalam.


Kinanti patuh, ia bangkit dan berjalan ke dalam dengan tenang.


Setelah Istrinya pergi Damar menyalakan rokoknya.


Menghisapnya beberapa kali sembari menatap Yoga dan Kaila bergantian.


" Tidak bisakah kalian menyelesaikan permasalahan percintaan kalian sendiri?" tanya Damar.


" Aku kan masih butuh bimbingan?, mas Yoga yang seharusnya bisa mengendalikan perempuannya?!" sembur Kaila.


" Eh! bocah! pacarmu itu yang tidak tau diri, sudah punya dirimu tapi masih mengajak perempuan lain!


Dinda tidak akan keluar kalau Yusuf tidak mengajaknya?!" balas Yoga.


" Apa susahnya menolak kalau memang perempuan baik baik?"


" eh bayi! maksudmu apa? calon ibu Bagas sudah pasti perempuan baik baik!"


" Baik baik kok keluar dengan pacar orang?! calon saudaranya lagi?!"


"dia sudah pasti tidak tau kalau Yusuf pacarmu! salahkan Yusuf! awas ya kalau berani menghina mbak mu?! kupelintir telingamu sampai bengkok tau rasa?!" Yoga tidak mau mengalah pada Kaila, kedewasaannya lenyap sudah.


" Belum jadi istri! jadi bukan mbakku!"


" sadarlah bayi..! laki lakimu yang hobi merayu perempuan, tidak bisa lihat yang bening sedikit?!" keduanya sengit, membuat Damar tak punya kesempatan bicara.


" Aku bukan bayi..!!!" suara Kaila melengking di telinga Damar.


" Cukup!" tegas Damar terlihat lelah, tentu saja.. ia baru saja pulang dari melihat kayu di tengah hutan, pulang pulang malah di suguhi hal semacam ini.


" Kalau kalian sama sama tidak rela, kenapa kalian tidak mencegah mereka berangkat tadi?" tanya Damar.


" Aku sudah mencegahnya, tapi dia bilang dia berhak keluar dengan siapapun karena aku dan dia tidak ada ikatan.." ujar Yoga dengan suara tak bersemangat.


" Itu benar.." jawab Damar,


" Kok benar mas?!"


" karena kau masih bertepuk sebelah tangan.."


" dia punya perasaan yang sama denganku, hanya saja dia tidak mau mengakuinya?"


" aduh.. repotnya.." keluh Damar.


" Lalu kau anak kecil?" Damar beralih pada Kaila,


" aku tidak tau mas.."


" Lho? kok tidak tau?"


" hubungan kami merenggang sekarang, gara gara aku menolak datang kerumahnya dan dia sempat melihatku di jemput anak teman ibu.."


Damar menghela nafas berat sembari memijat pangkal hidungnya.


" Bukankan sudah kubilang kalau tidak mampu menyamai langkah Yusuf lebih baik kau putus saja.."


Kaila tersentak, lagi lagi Damar mengatakan hal semacam itu.


" Tidakkah mas terlalu kejam padaku?" tanya Kaila dengan air mata mengembung di sudut matanya.


" Justru ini demi kebaikan kalian.."


" dimana baiknya putus?"


" Kau belum dewasa.. bukan hanya usiamu.. tapi pola pikirmu..


hubungan itu seperti langkah kaki, berjalan bergantian.. saling mendukung..


tidak bisa jika Yusuf saja yang harus mengerti dirimu..


tapi dirimu juga harus mengerti Yusuf..


apa kau pernah bertanya kesulitannya?"


Kaila tak menjawab.


" Itulah kenapa aku menyarankan kau putus saja.. sikapmu yang hanya mau di mengerti itu akan menyakiti salah satu pihak..


apa kau tau kalau Yusuf dipaksa menikah oleh orang tuanya? bahkan sudah ada calonnya jika Yusuf mau..


tapi dia bertahan demi dirimu..

__ADS_1


menghargai keputusanmu tidak menikah kalau tidak lulus kuliah.."


" Mas dengar itu dari mana?" tanya Kaila sungguh tidak tau,


" Tentu saja dari orang tuanya.. kami bertemu beberapa hari yang lalu saat mengambil bahan di pabrik.." jelas Damar kembali menghisap rokoknya.


" Sekarang pilihan ada pada dirimu.. dewasalah.. dan jadi perempuan yang berprinsip, tirulah yang pantas di tiru.. turuti apa yang baik, dan tinggalkan yang merugikan..


Yusuf itu laki laki yang sudah matang, sekeras apapun dia.. kenyataannya dia luluh di hadapanmu..


timbang timbanglah semuanya dengan bijak.. masa depanmu.. kau sendiri yang menentukan.."


Nasehat Damar membuat Kaila tertunduk dalam.


" Lalu kau.. sang duda.." Damar menghembuskan asap rokoknya.


Yoga tak menjawab hanya diam memandang Damar.


" Kau mau bagaimana sekarang?" tanya Damar santai.


" Aku mau menikah, titik." jawaban Yoga membuat Damar terkekeh.


" Wah.. sungkanlah sedikit.. jangan terlalu terus terang begitu.. ada aku dan Kaila disini.." ujar Damar masih dengan sisa tawanya.


" Memang aku mau menikah, pokoknya aku harus menikahinya mas?! kalau tidak takut dosa, sudah......?! " Yoga terlihat gemas.


" Sudah apa?" pancing Damar,


" Sudah.. emboh..!" jawab Yoga kesal.


" Aku pulang saja, kalian bicaralah.." Kaila tiba tiba bangkit,


" sudah bicaramu?" tanya Damar,


" Sudah mas.. biar ku pikirkan baik baik segalanya.." jawab Kaila.


" Hemm.. ya sudah.. pulanglah, tidur sana.. jangan berpikir macam macam.." saran Damar.


Kaila tidak menjawab, ia langsung berlalu melewati kedua kakak laki lakinya.


" Beri aku cara yang ampuh mas?!" desak Yoga ketika Kaila di rasa sudah benar benar pergi.


" cara ampuh apa?"


" lha mas dan mbakyu dulu bagaimana?"


" Lalu bagaimana?"


" ya bagaimana? kata Kinan traumanya berat.. kau tau kan, bagaimana penderitaan yang di hadirkan oleh trauma pada pikiran kita..


ada ketakutan ketakutan tidak wajar..


harusnya kau lebih bersabar.. jangan terlalu agresif.."


Yoga terlihat berpikir,


" Kau harus hati hati.." ucap Damar kemudian,


" tentang?"


" Yusuf dan Dinda.."


Deg..


wajah Yoga mendadak tegang.


" Mereka pernah menjadi sepasang kekasih saat Dinda kuliah dulu.."


Wajah Yoga benar benar menegang sekarang, seperti ada sirine ambulan yang berbunyi di kepalanya.


" Kok aku tidak pernah tau?"


" bukankah kalian musuh bebuyutan dulu, apa masuk akal Kinanti memberitahumu tentang itu?"


Yoga mengigit bibir bawahnya, sialan.. keluhnya..


ternyata mantan pacar..


pantas saja senyumnya begitu manis, sikapnya begitu ramah.


" Jadi? apa kau membawaku untuk memanas manasi gadis kecilmu?" tanya Dinda sembari tertawa.


" Ah.. mana mungkin, aku memang sedang ingin bernostalgia denganmu.." jawab Yusuf tenang, ia menyalakan rokoknya.


" Merokok sekarang?" tanya Dinda heran, karena dulu Yusuf tidak merokok.


" Yah.. aku perlu sedikit pelampiasan.." jawabnya tersenyum ringan.

__ADS_1


" Berarti dulu tidak perlu?"


" dulu mana ada yang kupikirkan dengan serius.."


" Berarti sekarang semua serius?"


" Ah.. kau seperti wartawan saja Din?"


Keduanya tertawa lepas, seperti tak ada beban saja di pikiran mereka.


Suasana remang remang di lesehan langganan mereka ketika pacaran dulu menambah hangat pembicaraan keduanya.


Seperti dua orang yang sama sama telah terlahir kembali, bertemu saat sudah bertambah usia dan matang pemikirannya.


" Kau menyenangkan ya sekarang, tidak seperti dulu.. kaku seperti robot.." kata Dinda sambil menikmati makanannya yang belum juga habis.


" Kau juga.. sudah lebih murah senyum, tidak seketus dulu.." balas Yusuf, lagi lagi keduanya tertawa.


" Apa tidak apa apa Suf? pacarmu tadi sepertinya melihat kita berangkat?"


" ah.. biarkan saja.." jawab Yusuf datar, di hisap lagi rokoknya.


" Wah.. bisa di cakar aku nanti?" Dinda tersenyum,


" Kenapa dia harus mencakarmu?"


" cemburu??"


" hah.. dia tidak punya rasa cemburu terhadapku.. jangan khawatir.." Yusuf tersenyum sinis sekilas, dan Dinda menangkap itu.


" Apa yang terjadi? ceritalah.." suara Dinda santai, membuat suasana nyaman.


" Kau tau sendiri.. keluarga Mas Damar, suami Kinanti.."


" kenapa memangnya.. suami Kinanti baik dan bijaksana.."


" mas Damar orang yang baik.. tidak ada yang bisa menyangkal itu.."


" Lalu..?" tanya Dinda, tapi lama tak mendapat jawaban.


" Ah.. sudahlah, jangan di bicarakan.. merusak suasana saja.." ujar Yusuf setelah lama diam.


" Setelah makan kita jalan kemana?" tanya Yusuf,


" heh.. jangan keterusan, kita tidak sedang berkencan..!" peringat Dinda.


" Ya memang.. tapi kita kan setelah ini tidak bertemu lagi, apa salahnya.."


" ah.. kau ini sedang melarikan diri dari masalah ya? terlihat jelas oleh mataku.."


" tidak.."


" apanya yang tidak? mana ada laki laki yang berani dengan sengaja mengajak perempuan lain di depan kekasihnya?"


Yusuf tersenyum geli tiba tiba,


" jadi kau tau kalau ku manfaatkan?" tanyanya ringan,


" tentu saja.." jawab Dinda juga ringan sambil meneguk jus nya.


" Lalu kenapa kau mau?" tanya Yusuf heran,


" karena aku juga memanfaatkanmu.. hemm.. satu sama kan?"


" wah.. perempuan ini.." Yusuf benar benar tertawa lebar sekarang.


" Tapi untuk apa kau memanfaatkan aku?" tanya Yusuf tiba tiba penasaran,


" Aku juga sedang berurusan dengan keluarga itu,"


" Urusan?"


Dinda mengangguk,


" Jangan bilang..??" kata kata Yusuf terhenti,


" dugaanmu benar.." Dinda mengangguk.


" Yoga?? wahhh...!! apa apaan??!" Yusuf terbelalak kaget.


" Kau merasa dunia ini sempit?"


" sangat sempit..!" jawab Yusuf tegas.


" Jadi sekarang bagaimana? jalan jalan atau pulang?" tanya Yusuf kemudian.


" Laki laki tidak suka perempuan yang pulang malam kan?" tanya Dinda dengan sorot mata redup, ada kesedihan yang tersirat.

__ADS_1


" Kau ingin membuatnya membencimu??" tanya Yusuf tiba tiba saja faham apa maksud Dinda yang sebenarnya.


__ADS_2