
Ke esokan harinya, Damar benar benar Datang.
Ia hanya duduk tenang di ruang tamu dan tak banyak bicara.
" ayo.." ujar Kinanti yang baru saja keluar dari kamarnya, tanpa menoleh ia melewati Damar.
Damar hanya diam, ia bangkit dari duduknya dan mengikuti langkah Kinanti.
Dalam perjalanan keduanya pun senyap dan sepi.
Kinanti sibuk dengan HPnya dan Damar sibuk memperhatikan Jalan.
Setelah sampai di tempat tujuan lagi lagi Kinanti berjalan masuk duluan, dengan langkah cepat meninggalkan Damar.
Melihat perlakuan itu Damar hanya bisa menghela nafas dan mengelus dadanya.
Sesampainya di dalam keduanya langsung di diambilkan baju yang pernah mereka pilih,
si ibu perias mewajibkan untuk mencobanya lagi karena takut ada perubahan bentuk tubuh, entah kekecilan atau kebesaran.
Tapi diam diam si ibu perias tersenyum, dia mengamati Damar dan Kinanti, yang diam diam wajahnya sama sama bersemu merah saat mencoba baju pengantin bersama dan disandingkan.
" Yah.. namanya jodoh.. ya begini ini.." ujar si ibu meramaikan suasana.
" Itu namanya firasat.. baju pengantinnya sudah memilih siapa yang akan menggunakannya dari awal.. dan itu sampean mas.." ujar si ibu perias sembari membenarkan letak keris Damar.
Damar tertunduk, ia tidak ingin ekspresi wajahnya yang tersipu itu di lihat orang lain.
Tapi karena tubuhnya yang tinggi itu rasanya percuma, di wajahnya terlihat jelas rona kebahagiaan, kata kata si ibu membuat dirinya membumbung tinggi, meskipun sesungguhnya itu bukan sebuah pujian.
" Hawanya orang jatuh cinta itu pekat.. nggeh nopo mboten mas? ( iya atau tidak mas? )" si ibu terus menggoda Damar.
" Nggih bu.." jawab Damar mengangguk pelan demi rasa sopan, ia tak mungkin terus diam, sementara sejak tadi si ibu mengajaknya berbicara.
" Pengantin perempuannya malu malu ini.." si ibu berpindah ke kinanti, membenarkan letak bros yang di kenakan Kinanti.
" Kenapa cemberut saja nduk.. mau menikah yang sumringah.. yang ceria.. bahagia..
bakal suamimu ini ganteng.. gagah.. tuh lihat keris dan blangkonnya.." ujar si ibu perias membuat Kinanti melirik ke arah Damar, dan saat Kinanti melirik, ternyata Damar sedang memandang Kinanti juga, sehingga bertabrakanlah pandangan mereka.
Pandangan Damar begitu lembut ke arah Kinanti.
Menyadari kata kata si ibu perias itu benar semua, bahwa Damar terlihat gagah dan ganteng, Kinanti buru buru membuang pandangannya.
Ada yang berdesir di hatinya, rasa hangat mengalir entah dari mana.
Di tundukkan wajahnya, di buangnya rasa itu jauh jauh.
" Enak saja, tidak akan ku maafkan dengan mudah.." ucap Kinanti dalam hati.
" Lagi pula gara gara dirinya, kebaya kesayanganku jadi rusak.." imbuh nya lagi dalam hati, ada suatu sikap ke kanak kanakan yang menyelimuti agar dirinya tidak memaafkan Damar dengan mudah.
Di tengah perjalanan pulang Damar membelokkan mobilnya ke salah satu rumah makan lesehan yang cukup terkenal dengan masakannya yang enak.
" Makanlah sendiri, aku tidak lapar.." ujar Kinanti ketika Damar sudah berhenti di parkiran.
__ADS_1
Damar terdiam sejenak, menghela nafas dengan panjang.
Seperti ingin menambahkan kesabarannya.
" Ya sudah, tidak usah makan.." jawab Damar akhirnya.
Ia memutuskan mengalah, dan segera pergi mengemudikan mobilnya keluar dari parkiran lesehan itu.
Sesampainya di rumah suasana tetap seperti itu.
Kinanti Yang acuh dan Damar yang diam seribu bahasa.
Ibu yang melihatnya geleng geleng kepala.
Padahal sama sama suka, tapi kenapa begini kelakuannya, diam diam ibu geli melihat tingkah pola keduanya.
" Bagaimana? bisa periasnya?" tanya ibu duduk disamping Damar yang di tinggal sendirian oleh Kinanti di ruang tamu.
" Alhamdulillah bisa bu.." jawab Damar dengan raut kurang bersemangat.
" Kalian ini aneh.." komentar ibu akhirnya,
" aneh kenapa bu?" tanya Damar.
" Kalian bersikap seperti dua orang asing, acuh tak acuh.. ibu sampai geli kalau memikirkan kalian.."
" Kok geli bu?" Damar sedikit tak terima dengan kata kata geli itu.
" Mau bagimana? sekarang kalian menyuguhkan sikap yang seperti ini di hadapan ibu, sementara saat itu kalian menunjukkan kemesraan yang luar biasa sampai membuat ibu sakit kepala..
lalu bagaimana ibu tidak merasa geli.."
" Saya salah bu.. maaf.." ujar Damar sembari menunduk,
" Sudahlah le.. kau kan akan menjadi suami, harus pintar pintar membaca isi hati istrimu kelak..
perempuan itu biasanya antara ucapan, tindakan, dan hati itu tidak sama.." nasehat ibu.
Damar mengerutkan dahinya.
" Maksudnya bagaimana bu?" tanya Damar benar benar tidak mengerti maksud ucapan ibu.
" Mulutnya bilang tidak, sikapnya acuh, tapi hatinya sayang.." jelas ibu,
Damar diam, terlihat masih berpikir, entahlah,
jika hal hal itu menyangkut Kinanti, ia tiba tiba saja menjadi bodoh.
" Kadang bilang tidak.. tapi ternyata mau.." imbuh ibu,
Damar kemudian mengangguk,
" Tapi masa Kinanti begitu bu.. galaknya keterlaluan pada saya.." ujarnya,
Ibu tersenyum,
__ADS_1
" Ada iya di balik tidak le.. fahami dulu.." ibu bangkit,
" Ah.. saya untuk saat ini diam saja bu, takut salah..
soalnya saya sudah di somasi.." gerutu Damar.
" Ibu mau kemana? tidak usah buatkan minum, saya mau langsung pulang saja bu," ujar Damar
" minum dulu?"
" tidak usah bu, Kinanti pasti tidak senang saya lama lama disini.." Damar bangkit dan segera berpamitan.
Mendengar suara deru mobil Damar Kinanti yang duduk disamping jendela mengintip, rupanya laki laki itu sudah pergi.
Diam diam dirinya mengeluh,
Dirinya sebentar lagi akan menjadi seorang istri,
seorang nyonya,
Bohong kalau diam diam tak ada bunga bunga yang bermekaran di hatinya.
Suami yang begitu bidang dadanya dan kokoh bahunya,
juga begitu menawan parasnya, perempuan mana yang tak bahagia.
Hanya saja hatinya selalu mengingkarinya dan tak mau jujur dengan kebahagiaan itu.
Damar sesungguhnya cukup sempurna untuk Kinanti, sebelum insiden pemaksaan itu terjadi.
Laki laki yang selalu lembut padanya itu tiba tiba saja berubah kasar dan tak terkendali,
siapapun tentunya akan kecewa dan merasa berhak untuk marah.
Meskipun ia adalah calon suami, kekasaran semacam itu tak bisa di terima Kinanti.
Karena itu Kinanti tak merasa berlebihan meskipun mengacuhkannya.
Dan lagi mbak Winda mendukungnya untuk memberi Damar pelajaran.
Kinanti menutup bukunya, lalu menjatuhkan pandangannya ke atas tempat tidurnya.
" Ah.. sudahlah.." Ujarnya seperti lelah berpikir, ia menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur.
Sedangkan Damar mengemudikan mobilnya dengan tenang ke arah rumahnya.
Namun sesungguhnya ia tidak setenang itu.
Wajah Kinanti seperti menempel di pelupuk matanya.
Apalagi saat mengingat Kinanti sempat mencuri pandang padanya saat dirumah rias pengantin tadi, itu memberikan angin segar untuk dirinya meski sedikit.
" Setidaknya sudah mau melirikku.." gumam Damar diam diam tersenyum.
Ia tak masalah meskipun di acuhkan dan tidak di ajak bicara.
__ADS_1
Ia akan menahannya sampai Kinanti mau memaafkan nya.
Apapun itu bisa ia tahan untuk sekarang, kecuali urusan laki laki lain.