Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
temani aku makan


__ADS_3

" Kenapa mas?" tanya Kaila setelah sampai di dalam mobil, ia menatap kakak tirinya itu dengan seksama, rasanya raut wajah Damar tidak baik baik saja.


" Tidak.." jawab Damar pendek, ia fokus menyetir mobilnya keluar dari parkiran mall.


" Gara gara perempuan yang tadi kan?"


tanya Kaila peka,


" Perempuan apa, tidak ada.." jawab Damar masih pendek dan kaku.


" Jangan bohong, mas sedang cemburu kan?" tanya Kaila memperhatikan ekspresi Damar.


Mendengar itu Damar membisu, wajahnya semakin kaku.


" Tuhkan, makin kesel mukanya.. kenapa sih nggak jujur sama perasaan sendiri mas?"


" jangan sok tau, diamlah" ujar Damar membuat Kaila tidak berani lagi berkomentar.


Sesampainya dirumah Damar langsung berbalik, ia keluar lagi,


bukan dengan mobil, namun dengan motornya.


" Lho? kemana lagi dia?" tanya mbak Winda mendekat ke arah Kaila.


" Nggak tau mbak, nggak berani tanya, takut di marahi.." jawab Kaila.


" Memangnya ada apa tadi? kau sih.. mungkin dia capek, lain kali jangan ajak belanja kalau dia pulang ngajar.."


" eh.. bukan itu.."


" terus?"


" tadi di mall ketemu perempuan sama laki laki.. wajah mas Damar mendadak aneh.." jelas Kaila.


" Perempuan? seperti apa?"


" emh.. badannya kecil, tapi lebih tinggi dariku, se bahu mas Damar lah..


terus, ya.. cantik sih.."


" Dagunya terbelah?" tanya Winda cepat.


" Iya, mbak Winda kok tau?" Kaila heran.


Winda menghela nafas,


" Itu perempuan yang ku bicarakan kemarin lusa.. yang menjenguk mas mu itu.."


" Owalahh..!! pantas muka mas Damar begitu..?!" Kaila tertawa, sekarang ia tau.


" Dia cemburu itu.." lanjut Kaila,


" Dia itu sok.. gayanya aja mau ikhlas.. hatinya meronta ronta.." Winda kesal,

__ADS_1


" dia itu payah mbak.. kalau tidak kita bantu aku yakin pasti di biarkan perempuan itu diambil orang?!"


" tidak tau, dia pintar cari uang tapi bodoh urusan perasaannya sendiri!".


Tyo menghentikan motornya di depan kost Kinanti.


" Motor siapa?" heran Kinanti dalam hati, karena melihat motor trail di depan kostnya.


" Sudah disini saja pak.." ujar Kinanti meminta di turunkan di belakang motor itu.


" Terimakasih ya bu untuk hari ini.." ucap Tyo tersenyum,


" terimakasih apa sih pak, orang mainnya rame rame.." jawab Kinanti.


" Iya.. tapi tetap terimakasih.. sampai jumpa besok ya.." Tyo lagi lagi melempar senyum.


" Iya pak, sampai jumpa besok.." balas Kinanti, lalu Tyo segera memutar balik motornya dan berlalu pergi.


Kinanti tetap diam di tempat sampai punggung Tyo tak lagi terlihat, hilang diantara pengendara motor dan mobil lainnya.


Kinanti melihat jam tangan, jam sembilan malam.


" Eh.. sudah malam.." gumam Kinanti lalu berjalan masuk ke teras, karena salah satu lampu teras sudah di matikan, ia tidak bisa melihat jelas siapa yang duduk disana, dalam cahaya yang remang remang.


Yang terlihat hanyalah bayangan seorang laki laki yang tinggi.


" Sudah puas mainnya?" terdengar suara seseorang yang ia kenal, suara yang berat.


Kinanti mendekat, ia tiba tiba mundur, seperti kaget.


Pandangan laki laki itu dingin,


alisnya yang tebal menambah kekakuan wajahnya.


" Kaget?" tanya Damar mendekat.


Kinanti mundur selangkah,


" Kok mas disini?" tanya Kinanti heran, ia sedikit takut dengan ekspresi Damar.


" Kenapa? tidak suka melihatku disini?"


" bukan begitu mas, ini kan belum waktunya menjemputku?"


" Oh, jadi aku hanya boleh menemuimu saat menjemputmu saja?"


" Tentu saja tidak, tapi biasanya mas kan begitu?"


Damar diam sejenak, menatap Kinanti dengan pandangan kesal.


" Aku sudah satu jam menunggumu, ku kira kau sudah pulang..


ternyata kau masih melanjutkan jalan jalanmu dengan laki laki itu sampai semalam ini.."

__ADS_1


" Mana aku tau mas kesini, lagi pula tadi kita kan sudah ketemu? ada apa sih mas?!" Kinanti kesal juga dengan sikap Damar.


" Aku hanya ingin melihatmu pulang dengan aman saja"


" maksud mas?"


Damar diam,


" Maksud mas mau mengecek ku pulang jam berapa? pulang atau tidak begitu?" Kinanti salah faham dengan kalimat Damar.


Sebenarnya Damar tidak tahan saja dan ingin melihat Kinanti.


" Aku tidak mengatakan itu, aku hanya ingin melihatmu sampai di kost dengan baik, itu saja..


aku juga ingin melihat keseriusan laki laki itu," jelas Damar


" Lalu yang mas lihat?"


" laki laki itu serius, kau tidak.." jawab Damar mendekat lagi.


" Mas kesini hanya untuk bicara tentang omong kosong ini?" Kinanti mundur lagi.


Ia sedikit tak tahan dengan aura Damar yang seperti magnet malam ini.


Meski wajahnya galak, namun ia tetap terlihat menarik.


Rahangnya yang kokoh, dan garis hidung yang tegas, hati Kinanti tidak baik baik saja rasanya.


" Lebih baik mas pulang, ini sudah malam, waktu berkunjung hanya sampai jam 10 malam" tegas Kinanti, ia ingin segera masuk, karena takut Damar menangkap ekspresi wajahnya yang mungkin sedikit bersemu.


" Ayo ikut aku" ujar Damar menangkap tangan Kinanti.


" Eh mas?! maksudnya?!"


" Sebentar saja, nanti aku akan mengantarmu kembali.."


keduanya saling berpandangan.


" Temani aku makan, aku bahkan tidak bisa menelan makananku tadi, itu gara gara kau dan kekasihmu itu duduk tak jauh dariku,


jadi sekarang kau harus tanggung jawab, temani aku makan.." suara Damar setengah memohon.


" Jangan konyol mas?!" Kinanti menarik tangannya, namun Damar memegangnya dengan erat.


" Kau akan membuat keributan disini, atau pergi denganku sebentar saja dan pulang dengan tenang.." ujar Damar dengan suara lebih halus.


Kinanti diam, ia berpikir cukup lama.


" Terlalu banyak berfikir.." ujar Damar menarik tangan Kinanti dan mengajaknya berjalan keluar dari teras kost.


" Kita cari dekat dekat sini saja, aku ingin jalan kaki denganmu.." Damar berjalan sembari setengah menarik Kinanti agar mengikuti langkahnya.


" Mas ini se enaknya?! jangan salahkan kalau aku nanti juga se enaknya?!" gerutu Kinanti sembari mengekor di belakang Damar, masih dengan tangan yang di genggam.

__ADS_1


" Kau mau se enaknya padaku? jika kau berani, aku mengijinkannya.." ujar Damar membuang senyum sekilas pada wanita yang sedang berjalan di belakangnya itu.


Ia tak perduli meski di tuduh memaksa atau apa, yang jelas ia hanya ingin melihat dan dekat dengan wanita yang diawasinya diam diam sejak SMA itu.


__ADS_2