Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
Tugas untuk Umar


__ADS_3

" Masuklah.." Ujar Damar mengantar Kinanti hanya sampai di teras.


" Mas tidak masuk?" tanya Kinanti, keduanya beradu pandang.


" Jangan melihatku seperti itu.. aku jadi tidak ingin pulang.." ujar Damar langsung terduduk di kursi teras.


Wajahnya benar benar terlihat lelah.


" Ya sudah.. diam disini sebentar, ku panggilkan ibu.." Kinanti berjalan masuk namun belum sampai pintu Damar menarik tangannya.


" Jangan panggil ibu, duduklah disini.." wajah Damar terlihat benar benar lelah, Kinanti tak mau menolak sehingga mengakibatkan cek cok seperti biasanya.


Ia patuh dan duduk tak jauh dari Damar.


" Aku inginnya berlama lama disini.. duduk tenang menghabiskan waktu bersama dengan calon istri orang.." ucap Damar tersenyum tipis,


" tapi aku harus ke luar kota..


sopir ku kecelakaan.." imbuhnya,


" Apa harus mas yang kesana? banyak kan orang yang bisa mas suruh..?" Kinanti merasa kasihan melihat wajah Damar yang terlihat lelah sekali,


" memang banyak yang bisa ku suruh.. tapi keperdulian yang mereka tunjukkan, aku tak akan bisa menjaminnya..


Aku adalah orang yang hidup di desa, sudah sepatutnya aku punya beban moral yang semacam itu karena aku adalah seorang pimpinan meski dalam skala yang kecil..


kurasa tidak berlebihan bukan? bersikap seperti itu pada mereka?


saat mereka begitu menghargaiku, maka sudah seharusnya aku memperlakukan mereka dengan cara yang sama.." jelas Damar, tatapannya lembut ke arah Kinanti.


Diam diam Kinanti kagum, betapa bijak dan rendah hati laki laki di hadapannya ini.


" Kau mau ikut?" tanya Damar tiba tiba,


" kemana mas?" tanya Kinanti,


" Ikut bersamaku keluar kota.. nanti malam kita kembali kesini.."


Kinanti terdiam, wajahnya menyiratkan ketidaknyamanan.


" Mas lupa? aku ini mau menikah.. apa aku boleh bertindak seperti itu?" ujar Kinanti pada Damar.


Damar juga diam, namun tak lama ia mengeluh.


" kau benar, lebih baik kau tidak ikut.. aku jarang bisa mengendalikan diriku ketika dekat denganmu.." ucap Damar.


" Jadi.. calon istri orang.. dengan berat hati aku kembali dulu.." Damar meraih tangan Kinanti begitu saja dan mencium pergelangan tangan Kinanti dengan lembut.


" Mas?! perhatikan perilakumu?!" Kinanti menarik tangannya.


Matahari masih di atas kepala, tapi bisa bisanya Damar bersikap tanpa takut di lihat orang lain seperti itu.


Padahal baru saja Kinanti mengaguminya dalam hati, betapa bijak dan rendah hatinya karakter Damar.


Tapi gara gara kelakuannya sekarang yang asal cium sana sini membuat Kinanti kesal juga.


" Aku harusnya tegas padamu mas, karena ku biarkan terakhir kali, mas jadi seperti ini terus?!" tegas Kinanti dengan perasaan yang campur aduk, malu dan kesal.

__ADS_1


" Cekik saja aku.. kadang aku juga tak bisa mengendalikan tanganku..


tuas kontrol di pikiranku sepertinya selalu rusak saat bertemu denganmu.." ujar Damar menatap Kinanti serius, ada banyak harapan dalam wajah lelah laki laki itu.


" ah, sudahlah.. aku pergi.." Damar bangkit, memandang Kinanti sejenak, lalu kembali berjalan ke arah pagar.


Kinanti diam, ia hanya melihat punggung Damar yang menghilang di balik pagar, lalu di susul dengan suara motornya yang menjauh.


Kinanti tertunduk, ia menepuk nepuk dadanya, seperti ingin menyadarkan diri, entahlah.. jantungnya seperti tidak sehat setiap kali bertemu Damar.


" Sejak awal ibu sudah memperkenalkan dirimu dengan Damar, tapi kau menolak..


lalu kenapa sekarang ibu melihat sentuhan sentuhan semacam itu diantara kalian?" suara ibu dari balik pintu mengagetkan Kinanti.


" Ibu?" suara Kinanti bergetar, entah sudah berapa lama ibunya berdiri di balik pintu.


Kaki Kinanti lemas seketika,


" Bagaimana ini.." keluhnya dalam hati, ibunya melihat sesuatu yang sesungguhnya tidak perlu ibu lihat.


Sesuai apa yang di rencanakan Damar, ia mengantar anak dan istri sholeh kerumah sakit.


Dia juga sengaja berlama lama di rumah sakit karena ingin mencari tau dimana ruangan dari perempuan yang bersama Haikal.


Kalau tidak mencari tau ia bisa mati penasaran.


Karena sesuai ucapan Kinanti Haikal hanya pamit keluar kota untuk urusan tertentu, dan menurut Kinanti pun Haikal hanya mempunyai satu orang kakak perempuan.


Kalau sampai benar Haikal mencurangi Kinanti, ia sudah bersiap siap untuk meremukkan Haikal.


" Mar.." panggil Damar pada Umar yang duduk disamping Damar.


Keduanya kebetulan sedang mencari angin di luar ruangan,


" aku punya tugas untukmu sebelum kita pulang malam ini.." Umar langsung menoleh pada bosnya itu.


" Apa mas?" tanya Umar dengan perasaan tidak enak.


Beberapa Hari berlalu setelah ibu memarahi Kinanti karena menangkap basah dirinya dengan Damar.


Ibu sudah menghubungi Damar agar menemuinya, namun Damar mengatakan dirinya sedang di luar kota.


" Selamat sore bu?" Haikal masuk ke ruang tengah menyapa ibu yang sedang sibuk menata kue.


" Lho? sudah pulang dari surabaya?" tanya Ibu.


" Sampun bu.." jawab Haikal mencium tangan ibu.


" Kinanti mana?"


" sepertinya dirumah Yusuf, coba panggil kesana.."


Haikal mengangguk lalu segera berjalan menuju rumah Yusuf yang tak begitu jauh dari rumah Kinanti.


" Sudah pulang?" tanya Kinanti melihat Haikal berjalan mendekat ke arahnya.


laki laki itu tampak lelah, wajahnya benar benar tidak segar seperti biasanya.

__ADS_1


" Capek sekali kelihatannya..?" ucap Kinanti, ia bangkit dari kursi.


" Iya, wajahmu terlihat lelah, seperti orang yang tidak tidur berhari hari.." komentar Yusuf juga.


" Iya.. aku memang lelah.." jawab Haikal,


" Nan.. ayo pulang.." ajak Haikal,


" sudah sana pulang Nan, ada yang rindu.." Yusuf tertawa,


" Nah itu.." Haikal tersenyum lalu meraih tangan Kinanti.


Sesampainya dirumah Haikal duduk tenang ia memandangi Kinanti dengan pandangan yang sedikit sulit di jelaskan,


" Kenapa?" tanya Kinanti heran,


" tentu saja aku rindu padamu.." Jawab Haikal sembari menyentuh tangan Kinanti.


" Apa aku boleh menciummu? aku rindu sekali padamu?" Haikal menatap Kinanti lekat, rasa lelah dan rindu bercampur menjadi satu.


" Apa apaan sih kau kal.. datang datang begini.." ujar Kinanti kaget, Haikal bersikap tidak seperti biasanya.


Haikal terdiam mendengar jawaban Kinanti, menarik nafas pelan.


" Aku lelah.. biarkan aku tidur sebentar.."


" Tidurlah di kamarku.."


" ah jangan di sofa saja.."


" tidak apa apa.. toh aku li luar dengan ibu.. nanti sejam dua jam aku akan membangunkan mu.."


Haikal mengangguk, ia tak punya tenaga menolak.


Ia berjalan masuk ke kamar Kinanti, dan segera membaringkan dirinya.


Tak perlu menunggu waktu lama, Haikal langsung terlelap, sepertinya ia benar benar lelah.


Kinanti tidak tau urusan apa yang ia selesaikan hingga is tampak setelah itu.


Diam diam Kinanti kasihan, ia iba dengan laki laki yang akan menikahinya itu.


" Nan, telepon Damar lagi.." ujar ibu tiba tiba.


" Kenapa bu?" tanya Kinanti dengan ekspresi tegang.


" Ibu mau memberinya kue.." Jawab ibu,


" apa biar ku antar saja bu?" tanya Kinanti, ia takut kalau kalau ibu memarahi Damar.


" Tumben sekali kau mau mengantar tanpa disuruh..?" tanya ibu penuh rasa heran.


" Tidak bu, saya hanya takut mas Damar sibuk.." jawab Kinanti tertunduk.


" Sudah.. bilang padanya ibu mencari, dan kesini malam ini juga.." tegas ibu tenang.


" Iya bu.." jawab Kinanti tak berdaya.

__ADS_1


__ADS_2