
Pintu Yoga di ketuk dengan keras, mau tak mau Yoga bangun juga dari tidurnya.
" Ada apa mas?" tanya Yoga dengan mata yang masih kabur karena mengantuk.
Di luar hujan masih lebat, dan tanpa melihat jam pun Yoga tau kalau ini sudah tengah malam.
" Lihat mbak yu mu sebentar?" suara Damar penuh kekhawatiran.
" Kenapa?" Kantuk Yoga hilang seketika, pandangannya lebih fokus pada Damar.
" Badannya panas, dia menggigil?"
" demam?"
" Kurasa?!"
" Ya sudah, pulanglah dulu mas, aku akan menyusulmu setelah ini..!" ujar Yoga.
Damar mengangguk dan berjalan pergi menembus hujan.
Dan beberapa menit kemudian Yoga datang dengan tas yang berisi peralatannya.
Laki laki itu masih memakai piyamanya,
rambutnya yang acak acakan tak membuat ketampanannya hilang.
Sementara Damar yang menggunakan celana pendek dan berkaos oblong putih itu berdiri dari pinggiran tempat tidur saat Yoga datang.
" Badannya panas sekali Yog?" Damar khawatir.
" Biar ku periksa mas, sampean tolong ambil air hangat ya mas..?"
mendengar itu, laki laki bertubuh yang jauh lebih tinggi dari Yoga itu segera keluar dari kamar dan menuju Dapur.
" Nan.. apa Yang kau rasakan?" tanya Yoga mulai memeriksa Kinanti.
" Pusing, dingin.." suara Kinanti lirih dengan mata tertutup.
" Kau hujan hujan tadi atau kemarin?" tanya Yoga kalem,
" tidak.." jawab Kinanti.
Setelah beberapa saat memeriksa Kinanti, Yoga sedikit terdiam,
" Kau harus sehat dan bahagia.. kau dengar aku?" ucap Yoga lirih, di sentuhnya dahi Kinanti sembari membelainya lembut.
" Maafkan aku.. aku selalu menyakitimu..?" ucap Yoga lagi.
" Ini Yog..?!" suara Damar berjalan masuk ke dalam kamar,
ia membawa sebaskom air hangat.
Mata Damar menemukan tangan Yoga yang sedang berada di kepala Kinanti.
Dengan gerakan cepat Yoga menarik tangannya.
" Kuambilkan obat dirumah mas, untuk malam ini saja..
untuk besok mas tebus resep yang nanti akan ku tulis.." Yoga buru buru bangkit, tak berani menatap mata Damar.
" Di kompres ya mas, biar panasnya cepat turun.." lanjut Yoga, lalu segera berjalan keluar kamar.
Damar tetap mematung di tempatnya, dengan baskom yang masih di tangannya.
Ia tak habis pikir melihat cara Yoga memandangi istrinya, tentu saja itu bukan sikap yang layak untuk ia lihat.
Apa yang sebenarnya terjadi..
__ADS_1
Bukankan dokter tak perlu sampai membelai kepala? pikir Damar dalam hati, ada rasa was was dan tidak terima di hatinya.
"Kenapa makin kesini semuanya terlihat jelas... sesuatu yang ku anggap hanya omong kosong saja.." gumam Damar, ia meletakkan baskom berisi air hangat itu di meja,
lalu duduk disamping istrinya.
" Sayang..? di kompres ya?" ucap Damar lirih di dekat wajah Kinanti.
Ia menenangkan dirinya, karena kondisi Kinanti lebih penting dari pada kecemasannya pada perilaku Yoga.
" Brakkk!!" suara mobil Yusuf menabrak mobil yang berhenti tiba tiba di depannya
Untung saja Yusuf menginjak rem tepat pada waktunya, jika tidak mungkin tabrakan itu lebih keras.
Dengan emosi yang sudah membumbung tinggi Yusuf keluar dari mobilnya.
Dan di saat yang sama pengemudi mobil di depannya juga keluar.
" Kau?!" ucap keduanya bersamaan,
ternyata pengemudi mobil yang di tabrak Yusuf adalah Kaila.
" Oh... pantas, tidak becus menyetir pakai sok sok an?!" suara Yusuf sinis.
" Yang tidak becus itu kau! bukankah sudah seharusnya kau jaga jarak?!" balas Kaila yang terlihat baru pulang kuliah itu.
" Sudah! jangan banyak bicara! cepat ganti rugi, urus biaya perbaikan mobilku di bengkel!" tegas Kaila.
" Lho lho lho?! yang berhenti mendadak siapa?!"
" Aku berhenti mendadak karena ada kucing loncat ke tengah jalan!" jelas Kaila.
Posisi mereka ada di pinggiran kota, tentu saja jalanan tidak begitu ramai, dan kucing itu mungkin saja milih salah satu penduduk disini.
Dari kejauhan ada bebepa penghuni yang keluar rumah untuk sekedar melihat perdebatan Kaila dan Yusuf.
" Aku telfon mas Damar saja!" Kaila mengeluarkan HPnya, tapi Yusuf dengan cepat merebutnya.
" Dasar tukang mengadu..! baiklah akan ku bawa mobilmu ke bengkel..! tidak usah merepotkan mas Damar dengan hal sepele begini!" ujar Yusuf.
" Sepele?"
" Ya sepele lah, mobilmu hanya penyok sedikit tapi koar koarmu luar biasa.." Yusuf mengembalikan HP Kaila.
" Jangan membuat hubunganku dengan mas Damar yang baik baik saja jadi buruk hanya karena hal sepele begini,
ayo sudah, kita ke bengkel..!"
Ajak Yusuf.
" Ikuti aku dari belakang, kita ke bengkel langgananku.." nada Yusuf sedikit menurun, dengan langkah tenang ia masuk kembali ke dalam mobilnya.
Sesampainya di bengkel Yusuf dan Kaila duduk di ruang tunggu.
Musuh bebuyutan itu sama sama berdiri, mereka tak mau duduk berdampingan, karena hanya tersisa dua kursi tunggu yabg kosong.
" lho? mas Yusuf?!" pemilik bengkel mobil itu menyapa dan menyalami Yusuf.
" Wah, ini tho pacarnya?!" si pemilik bengkel tersenyum pada Kaila, namun wajah Kaila masam.
" Bukan ko, kebetulan mobilnya saya tabrak.." jelas Yusuf.
" Owalah.. terus gimana? mbok ya ditinggal saja, bengkel sedang ramai.. tidak bisa selesai sekarang.."
" tidak bisa sekarang?" tanya Kaila,
" ya tidak bisa tho mbak.. mungkin sekitar 3 harian, itu sudah cepat.. lebih baik di tinggal pulang saja, nanti saya hubungi.." jelas si pemilik.
__ADS_1
" Ya sudah ko.. nanti hubungi saya saja.." ujar Yusuf, lalu si pemilik mengangguk dan berlalu pergi.
" Terus aku kuliah bagaimana?!" protes Kaila pada Yusuf.
" Ya mana ku tahu.." jawab Yusuf bangkit dan berjalan keluar dari bengkel,
dengan langkah kesal Kaila mengikutinya dari belakang.
" Harusnya tidak butuh waktu lama kan?!" ujar Kaila,
" Memangnya kau pikir mereka pesulap, 3 hari itu sudah cukup cepat" Yusuf berjalan ke parkiran.
Sesampainya di mobil Yusuf memperhatikan Kaila, perempuan itu berdiri jauh darinya dengan wajah masam.
Ia memencet mencet HPnya entah menghubungi siapa.
Yusuf lama berdiri di sebelah mobilnya, menunggu seseorang menjemput gadis itu.
Bagaimanapun juga tidak etis dia pergi meninggalkan Kaila begitu saja.
Sekesal apapun, dia tetap adik Damar, suami saudaranya yang amat dia sayangi.
" Mana menjemputmu? sudah 20 menit berlalu?" Yusuf akhirnya mendekat, karena dia juga lelah menunggu.
" Aku menunggu temanku, dia baru selesai kuliah 15 lagi" jawab Kaila.
" Pesan taksi online lah..?!"
" tidak, aku tunggu temanku saja.." Kaila menggeleng.
" Astaga.. jangan bilang perempuan sebesar dirimu takut naik taksi online?" tanya Yusuf,
Kaila diam tidak menjawab,
" Kau benar benar takut??" Yusuf tak percaya.
" Wah.. tamparanmu saja yang keras, nyalimu kecil.." gumam Yusuf sembari tersenyum tipis, sedikit mengejek.
" Diamlah dan pergilah sana..!"
Yusuf tertawa,
" Ah.. karena kau adik mas Damar aku jadi tidak bisa mengabaikanmu tau..
apa kata mas damar jika dia tau aku bersikap tidak baik dengan mengabaikan adiknya?,
ya sudah, ayo ku antar, langit sudah mendung, kau mau menunggu hujan?"
ujar Yusuf.
Namun Kaila tak berkutik tetap diam di tempat.
" Hei?! hujan segera turun, jangan mempersulitku? kau hanya tinggal masuk ke dalam mobil dan kuantar pulang?!" tegas Yusuf mulai kesal.
Karena Kaila tetap diam di tempatnya, akhirnya Yusuf mengambil inisiatif, dia menarik lengan Kaila dan membawanya ke arah mobilnya.
" Kau itu?!" Kaila metotot,
" Aku tidak bisa pulang selama kau tidak pulang, jadi cepat masuk mobil dan aku akan mengantarmu?! apa yang kau takutkan? aku jelas jelas saudara kakak iparmu?"
keduanya diam, saling berpandangan, namun bukan pandangan yang bersahabat.
" Baiklah tapi kau yang memaksaku ya?! bukan aku yang minta diantar?!"
Yusuf tertawa mendengar itu,
" Ah.. benar benar, ya sudah..! masuklah..!" ucap Yusuf tak habis pikir, kenak kanakan sekali perempuan di hadapannya ini.
__ADS_1