
Udara dingin mulai menusuk, Kinanti bergerak menggeliat, lalu meringkuk dan bersembunyi di dada Damar yang hangat.
Karena Damar tertidur dengan bertelanjang dada, ia merasakan gerakan istrinya itu,
lalu membuka matanya perlahan,
sayup sayup ia melihat wajah Kinanti yang menempel di dadanya, dan nafas Kinanti yang terasa hangat menggelitik permukaan kulitnya.
Ia tersenyum, lalu memindahkan tangannya, memeluk pinggang Kinanti erat.
Merasakan tangannya menyentuh kulit Kinanti langsung dan tanpa pembatas apapun, matanya terbuka lagi.
Ia menyadari kalau istrinya itu tidak memakai bajunya kembali setelah keintiman mereka semalam, dan istrinya itu tertidur seperti bayi sampai pagi.
Aduh, begitu luar biasanya perasaan Damar, seperti mendapat hadiah pagi pagi, rasa hangat menjalari tubuhnya lagi.
Di rengkuh tubuh istrinya yang sedang tanpa sehelai benangpun itu.
di tariknya agar mendekat tanpa batas sedikitpun.
Tangannya mulai membelai kemana mana, ke atas dan ke bawah punggung Kinanti.
Kinanti yang merasakan tubuhnya di gerayangi dan di belai lembut disana sini, sontak membuka matanya.
Betapa terkejutnya ia ketika menemukan tubuhnya sedang terbaring di atas tubuh Damar.
Entah kapan Damar mengangkatnya, Kinanti bahkan tak merasakannya.
" Apa sih mas??" tanya Kinanti sembari mengerjap ngerjapkan matanya.
Ia bisa merasakan betapa hangat tubuh suaminya.
Damar tersenyum senyum,
tak menjawab apapun,
namun pandangan matanya mengandung ajakan yang pasti.
Pandangan yang di mengerti sekali maksudnya oleh Kinanti.
" Mas tidak kerja hari ini?" tanya Kinanti,
" aku bolos saja hari ini.."
" bolos?"
" iya, aku belum ikhlas meninggalkanmu dirumah.." jawab Damar lalu menarik tubuh Kinanti, agar wajahnya dan wajah Kinanti bertemu.
" Sampai kapan bapak mau begini?" tanya Kinanti sembari tersenyum, ia menjatuhkan kepalanya di bahu Damar.
" Sampai tua.." Jawab Damar menghela wajah istrinya itu, dan menciumnya perlahan.
" Di bawah.. atau di atas..?" tanya Damar setelah bibirnya sudah menjelajahi leher dan dada Kinanti.
Kinanti tak menjawab, ia hanya mengeluh karena tangan Damar yang tak henti menyentuh bagian bagian sensitive nya.
Tak mendengar jawaban,
__ADS_1
Damar menggeser tubuh istrinya itu, dan memindahkannya di bawah tubuhnya.
Dan bekerjalah bapak Damar subuh subuh buta.
Saat semua masih terlelap, dan fajar masih malu malu untuk menunjukkan wajahnya.
Namun kedua anak manusia itu terlalu giat hingga pagi dan malam menunjukkan cinta kasih mereka,
sepertinya waktu di dunia ini berhenti untuk mereka, dan bumi tak berotasi sementara karena menunggu mereka sadar bahwa banyak rutinitas yang harus mereka kerjakan selain tugas mereka sebagai sepasang suami istri di atas tempat tidur.
Tak ada yang menyangka, gadis SMA yang di temui Damar beberapa tahun lalu saat ia berkunjung kerumah sahabat baiknya itu, menjadi istrinya sekarang, menjadi teman saat ia menutup mata di malam hari, dan teman ketika ia membuka mata di pagi hari.
Kinanti pun begitu, tak pernah mengira, laki laki yang sering ikut makan bersama keluarganya dulu, yang rupanya menyedihkan itu dan jarang tersenyum. Sekarang berada di atas tubuhnya, membelai dan menciumnya dengan penuh kasih,
laki laki itu telah menjadi suaminya, secara susah payah.. dengan melewati begitu banyak penolakan darinya.
" Kenapa.." tanya Damar saat ia melihat istrinya memandanginya dengan pandangan sayu,
" Apa sakit?" imbuh Damar berhenti.
" Tidak.."
" lalu..?" tanya Damar sembari mengecup bibir Kinanti.
" aku hanya teringat pertama kali kita bertemu mas.." ujar kinanti,
" Ah.. masa masa yang menyedihkan itu.. saat aku sering minta makan pada orang tuamu.." ujar Damar menempelkan hidungnya ke pipi Kinanti dan menggosoknya pelan.
" Mas.. jangan tempatkan dirimu dalam posisi yang menyedihkan seperti itu.. padahal sebenarnya tidak semenyedihkan itu hidupmu.." ujar Kinanti melingkarkan tangannya di leher Damar.
" Wah.. istriku rupanya lebih tau dari pada aku yang menjalaninya.." gumam Damar lalu mengecup kening Kinanti.
" lalu.. apa yang tampak olehmu saat itu istriku..?"
" yang menyedihkan itu adalah sikap dan sorot matamu yang aneh, pandangan getir yang selalu saja hadir di saat ibu dan bapak memberikan perhatian padamu..
di saat melihat mas Aji mengangguku dan bercanda denganku..
kau selalu tampak terluka saat keluargaku memberikan sikap yang hangat dan perduli..
aku bahkan sering mengira kau tak tau terimakasih..
bapak dan ibu sudah menganggap mu anak sendiri, tapi sikapmu tetap saja kaku.."
Damar tertegun, ia tak menyangka istrinya itu diam diam memperhatikannya,
padahal dulu ia masih remaja, masih ingusan, dan sikapnya lebih terkesan acuh, tak perduli meski damar sering datang kerumahnya.
" Jadi begitu penilaian mu padaku dulu..?, penilaian saat kau masih ingusan dan masih memakai seragam abu abu putih..? bagaimana bisa anak perempuan yang merengek pada ibu hampir setiap pagi karena di ganggu kakaknya bisa menilai ku sedemikian rupa..
apa kau sudah jatuh hati padaku sejak dulu.. " Damar tersenyum menggoda, lalu menjatuhkan kecupannya lagi ke bibir Kinanti.
" Ihh..!"
" kok ihh?" Damar tertawa kecil,
" memang diantara teman mas Aji mas yang paling ganteng, tapi amit amit aku yang waktu itu masih SMA, imut imut, suka pada laki laki yang usianya jauh dariku, bahkan pantas ku panggil om.."
__ADS_1
" Om??" Damar mendelik,
" Iya, di pikiranku saat itu mas seperti om om, siapa suruh mas gondrong begitu?"
Damar masih belum tersadar dari keterkejutannya atas kalimat om om yang di ucapkan istrinya.
" belum lagi tidak pernah bercanda, selalu serius.. seperti orang tua.."
" astaga.." keluh Damar akhirnya,
" jahatnya penilaianmu istriku.." imbuhnya.
" Itu kan dulu mas.." ujar Kinanti,
" lalu sekarang, kau menyesal menikah dengan om om dan orang tua ini?" wajah Damar serius.
Kinanti tersenyum, lalu menggeleng pelan.
" Tidak.. aku suka kalau om om nya itu mas..",
" wah.. manis sekali jawabanmu Nan.." Damar tersenyum, dan keduanya beradu pandang,
" aku bersyukur mas.. karena yang menjadikan aku sarjana dan menghidupiku selama ini adalah laki laki yang akhirnya menjadi suamiku.." ujar Kinanti mengecup bibir suaminya.
" Yang benar? lalu kenapa kau memilih laki laki lain padahal aku selalu disampingmu?" tanya Damar masih sering heran akan hal itu.
" Karena aku merasa terancam.."
" terancam??"
" Iya.. mas mulai mengancam pikiranku, hatiku.. prinsip prinsipku.. dan keteguhan pemikiranku.."
Damar terhenyak,
" Bagaimana bisa aku mengancammu? sedangkan aku memikirkan mu setiap jamnya.."
" Bagiku perasaan yang mulai timbul itu adalah sebuah ancaman mas..
aku yang pernah di kecewakan ini sudah berjanji tidak akan mempedulikan cinta lagi..
karena itu, semakin besar perasaanku padamu aku akan semakin lari untuk menghindarinya.."
" Karena kau takut terluka lagi??"
Kinanti mengangguk pelan,
" jadi karena itu kau memilih Haikal.. karena kau tak mempunyai perasaan apapun padanya?"
Kinanti lagi lagi mengangguk.
Tatapan Damar tiba tiba sayu,
" aku tidak akan berjanji padamu.. perkara kesetiaan dan yang lainnya.." ujar Damar merebahkan kepalanya di atas dada Kinanti.
" Tapi jika suatu ketika aku menyakitimu, maka aku akan memberi hukuman yang setimpal untuk diriku sendiri,
semua yang menjadi milikku akan menjadi milikmu..
__ADS_1
biarkan aku miskin dan terlunta lunta di jalan jika aku sanggup menyakitimu kelak.." imbuh Damar.
Kinanti membisu, tak berniat menjawab apapun, ia hanya menarik nafas dalam dalam dan memeluk tubuh Damar.