Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
aku juga ingin kasih sayangmu..


__ADS_3

Haikal berdiri di depan pintu sembari menatap Kinanti yang sibuk membaca buku.


" Wah.. tidak merindukanku sama sekali ya?" tanya laki laki yang masih berseragam lengkap itu, dia melempar senyum manis ke arah Kinanti.


" Baru pulang?" tanya Kinanti menutup bukunya,


" iyalah.. buru buru kesini ingin melihatmu.." Haikal duduk disamping Kinanti.


" Buru buru kenapa? aku kan tidak pernah kemana mana?" Kinanti tersenyum pada laki laki yang akan menjadi suaminya itu.


" Aku takut kau diambil orang.." ujar Haikal membuat wajah Kinanti berubah kaku sejenak.


" Padahal hanya ku tinggal 3 hari.. tapi kenapa kau terlihat semakin cantik saja.." Haikal mencubit dagu indah Kinanti.


Kinanti tersenyum, sedikit kikuk, ada rasa bersalah dalam hatinya melihat sikap Haikal yang seperti ini padanya.


" Oh ya, bagaimana dengan rencana ke tempat rias pengganti itu? jadi diantar mas Damar?" tanya Haikal seperti menambah beban di hati Kinanti.


" jadi.. tapi tolong, lain kali tidak usah minta tolong mas Damar.." jawab Kinanti berusaha bersikap senormal mungkin.


" Kenapa memangnya? dia kan sudah seperti kakakmu katanya.."


" benar.. tapi kasihan, sejak dulu dia ku repoti dengan sekolahku dan kebutuhanku..


ya masa mau menikah aku masih merepotkannya.." jelas Kinanti.


Haikal tersenyum,


" Ku kira kenapa.." sahut Haikal setengah bergumam.


" Setelah kita menikah kau tidak akan merepotkannya lagi.. aku janji.."


" memang seharusnya begitu kan Kal.."


" Tentu saja, tapi tetap.. aku harus berterimakasih kepadanya, tidak etis kalau kita tiba tiba menjauh dari orang yang sudah berjasa besar di hidupmu..


seperti katamu..


dia yang menunjang kehidupanmu mulai dari awal kuliah sampe sekarang..


kita tidak boleh menjadi manusia yang bertindak seperti kacang lupa kulit..


karena dia aku punya calon istri yang begitu cerdas dan galak.." Haikal tertawa renyah.


" Kapan aku galak padamu?"


" galak tidak harus dengan kata kata.. tapi dari sikapmu saja terlihat kalau kau ketus dan waspada pada setiap orang.."


" itu wajar.." jawan Kinanti menyandarkan punggungnya di kursi.


" Dulu kau tidak ketus begini.. seingatku.."


" orang ketus atau galak ada sebabnya.. jadi jangan menilai orang tanpa tau apa yang sudah dia alami.."


Haikal memandang Kinanti teliti,


" Nan.." panggil Haikal pelan,

__ADS_1


" Kau benar tidak akan menyesal menikah denganku..?" tanya Haikal,


Kinanti terdiam,


" Aku tidak tau.. menyesal tidaknya itu tergantung dirimu.." jawab Kinanti lama terdiam.


" Sikapmu setelah menjadi suami.. ku kira itu yang paling penting"


" Lalu sikapmu? apakah itu tidak penting bagiku? aku juga butuh kasih sayangmu.." ujar Haikal membuat Kinanti sedikit terhenyak.


di sela sela keterhenyakan itu Haikal mendekatkan wajahnya ke arah Kinanti, ia bermaksud untuk mencium Kinanti.


Kinanti yang menyadari Haikal akan menciumnya langsung bergerak menghindar,


entah kenapa tubuhnya reflek begitu saja menjauh.


Haikal terdiam sejenak, ia lalu tersenyum sembari memperbaiki posisi duduknya.


" Baiklah.. aku akan menyimpan nya untuk malam pengantin kita.." ujarnya sembari tersenyum mengerti.


" Maafkan aku kalau menganggu kalian.." terdengar suara Damar dari depan pintu,


" tapi aku sedang ada janji dengan ibu, bisa tolong panggilkan ibu?"


Perasaan Kinanti tiba tiba berantakan, ia terkejut sekali menemukan sosok Damar yang entah sejak kapan berdiri di depan pintu itu, jangan jangan Damar melihat saat Haikal ingin menciumnya.


Bagaimana bisa Kinanti tidak menyadari kedatangan Damar.


Ia meremas tangannya sendiri, membuang perasaan tidak enaknya lalu bangkit dari kursi.


" Ku panggilkan mas, duduklah.." ujar Kinanti lalu berjalan masuk memangil ibunya.


" iya terimakasih.." Jawab Damar, diam diam hatinya kesal, seandainya dia lebih berani sedikit saja..


mungkin ia akan duduk di posisi Haikal sekarang.


Terlalu banyak pertimbangan tenyata malah membuatnya kehilangan sesuatu yang sudah ia jaga sekian lama.


Sekarang menyesalpun percuma, ia harus menerima apa yang terjadi dengan baik, meski beberapa hari yang lalu ia masih mengecap bibir manis Kinanti.


Keduanya bertindak seperti tak ada apapun yang terjadi setelah malam itu.


Sesungguhnya Damar bisa membawa Kinanti kemanapun, merebutnya dengan paksa dari tangan Haikal,


namun Damar tidak memiliki sikap selicik itu.


Ya sudah.. kalau memang bukan jodoh.. itu adalah kalimat yang selalu ia ucapkan untuk menenangkan dirinya sendiri.


" Mau kemana mas?"


" Aku mau mengajak ibu berbelanja sesuatu.." jawab Damar,


" apa perlu saya temani mas?"


" tidak usah.." jawab Damar,


Haikal mengangguk patuh.

__ADS_1


" Bagaimana baju pengantinnya kemarin mas? terimakasih lho sudah mengantar si galak itu.." canda Haikal.


" Tanya saja pada Kinan, ada baiknya kau kesana dengan Kinan lagi.."


" Yah.. nanti akan saya sempatkan waktu.. saya juga sibuk mengurus berkas berkas.."


Damar mengangguk,


" Kalau boleh tau.. kesibukan mas apa?" Haikal yang selama ini penasaran akhirnya ingat untuk bertanya pada yang bersangkutan langsung.


" Aku hanya seorang tukang kayu dan petani, jadi kesibukanku ya berkutat dengan kayu dan padi.."


jelas Damar tenang,


" Pastinya mengelola milik sendiri kan mas?"


" aku hanya membantu mengelola.."


Haikal mengangguk, ia tetap saja masih penasaran, dari mana asal pundi pundi rupiah yang di hasilkan laki laki di hadapannya ini, ia tampak sederhana dan terpelajar, apa yang ia kenakan tak mengesankan ia orang kaya.


Lalu bagaimana dia bisa menyekolahkan Kinanti dan menanggung biaya Kinanti selama ini?, penasaran yang besar benar benar menganggu Haikal.


" Apa saya boleh main kerumah mas sekali kali dengan Kinanti.. saya ingin lebih akrab dengan mas.." ucap Haikal,


" tentu saja.. silahkan, kapanpun kalian boleh kerumah, tapi jangan lupa mengabariku dulu.. karena aku tidak selalu dirumah..


maklumlah.. aku bekerja disana sini.." jelas Damar,


" Wah.. mas benar benar rajin ya.. padahal belum ada istri.." komentar Haikal.


Damar tersenyum,


" Ada istri atau tidak.. kita tetap harus bekerja dengan giat, bukankan kita laki laki.. ada tanggung jawab yang besar di pundak kita, bukan begitu?"


Mendengar kata kata Damar haikal jadi tau, dan sadar, bahwa laki laki di hadapannya ini adalah sosok yang luar biasa.


" Saya kok jadi ingin belajar dengan sampean mas.." Haikal serius,


namun Damar hanya tersenyum.


" Ayo nak Damar.." terdengar suara ibu keluar dari ruang tengah,


Damar bangkit, ia meraih tangan ibu.


" Tidak usah..ibu sudah sehat.." ujar ibu tidak mau di tuntun Damar.


Damar tersenyum melihat itu,


" nggih pun.. tapi tetap hati hati jalannya.." nasehat Damar.


" Ibu ku bawa dulu.. " ucap Damar tanpa memandang Kinanti yang berdiri disamping ibunya.


" Hati hati mas?" sahut Haikal ketika ibu dan Damar berjalan keluar.


" Bagaimana kalau kita juga keluar? kita makan ya.." ajak Haikal,


" ayolah.. aku sedang ingin menghabiskan waktu denganmu.." pinta Haikal semakin manja ketika Kinanti tidak segera menjawab.

__ADS_1


" Ya sudah.. pulanglah mandi dulu dan ganti baju.. kutunggu dirumah.." jawab Kinanti membuat senyum di wajah Haikal terkembang lebar.


__ADS_2