
Damar berdiri diantara rumahnya dan gudang yang baru di bangun di seberang rumahnya.
Matanya menyalang lepas, entah apa yang ia perhatikan.
Yang jelas tatapannya menjadi redup saat ia menemukan sosok putrinya yang berjalan keluar dari pintu rumah dan melambaikan tangan padanya.
Di lempar senyum termanisnya pada putri satu satunya.
" Masuk nak..?!" ujar Damar tegas,
dan putri kecilnya itu berjalan perlahan masuk ke dalam rumah yang berhalaman luas itu.
Rumah yang tenang, jauh dari sanak saudara dan ibunya,
rumah yang sengaja ia buat dari kayu kayu pilihannya, sehingga rumah itu tampak etnik dan hangat.
" Mas, semua barang sudah di masukkan.." suara Umar membuat Damar mengalihkan pandangannya dari rumahnya yang asri itu.
" Ya sudah, kau kembali saja ke pabrik.." jawab Damar sembari melangkah menjauh dari rumahnya dan menuju gudang.
" Itu mas.." suara Umar ragu,
" apa, bilang saja?" Damar masih terus berjalan, di ikuti Umar di belakangnya.
" Kita butuh orang yang sudah berpengalaman, waktu saya habis jika di gunakan untuk mengajari orang baru?" keluh Umar.
Langkah Damar terhenti, di tatapnya Umar yang juga menghentikan langkahnya.
" Jangan terima orang lagi," ujar Damar membuat Umar menatapnya bingung.
" Berarti saya kerja sendirian lagi mas??" tanya Umar lesu.
" Bersabarlah.. ku berikan orang yang berpengalaman beberapa minggu lagi," jawab Damar tenang lalu melanjutkan langkahnya.
Umar yang masih bingung tentu saja hanya mengangguk tanpa bertanya.
Pabrik semakin berkembang setahun ini,
bukan membuka cabang, tapi Damar lebih suka menambah beberapa gedung sehingga pabrik kecil itu terlihat semakin besar saja.
Belum sampai langkah Damar ke gudang, sebuah mobil putih yang sangat di kenalnya berhenti di depan rumahnya.
Laki laki berkulit putih keluar dari mobil itu dan berjalan menghampiri Damar, wajahnya terlihat sedikit muram, tak sesegar biasanya.
" Kembalilah ke pabrik," ujar Damar pada Umar.
" Nggih mas.." Umar buru buru berjalan ke parkiran gudang dan mendekati motornya.
" Ayo makan?!" Suara Yoga terdengar kesal.
" Makan??" Damar mengerutkan dahinya,
" Kau ini, tidak tau aku mau ke gudang?"
" aku suntuk, ayo makan mas?!"
" sana makan di mbakyu mu?!"
" emoh..! ayo makan di luar sambil ngobrol?!" paksa Yoga.
__ADS_1
Damar diam di tempat, memandang Yoga dengan kesal.
" Belajar selesaikan problemmu sendiri, jangan selalu mengangguku, kau kira hidupku santai?" omel Damar.
" Aku harus lari kemana selain dirimu mas??" jawab Yoga,
mendengar itu Damar hanya menghela nafas sembari melanjutkan langkahnya.
" Bicara saja di gudang, aku tidak bisa keluar, pekerjaanku sudah tertunda banyak gara gara ke Madiun beberapa kali,"
" Kaila mau pulang??" tanya Yoga dengan raut penasaran, ia mengikuti langkah Damar masuk ke gudang.
" Harus mau," jawab Damar pendek, raut wajahnya sedikit sayu.
" Bukankah mas yang memutuskan untuk tidak ikut campur?"
mendengar itu Damar diam, tak menjawab.
" Apa kondisi mereka benar benar menyedihkan?? sorot mata mas membuatku hatiku sedikit.. entahlah apa namanya..
manja manja begitu Kaila juga adikku..
aku tidak membantunya selama ini karena wanti wanti dari mas agar tak mencampuri dan memberi bantuan apapun.."
Damar sampai di ruangan yang khusus ia siapkan untuk dirinya bekerja,
letaknya di disamping gudang, menyerupai kantor kecil, beberapa ruangan juga tersedia untuk admin gudang dan ada juga sebuah dapur dan toilet yang layak.
" Katakan urusanmu.." kata Damar sembari duduk, laki laki itu tampak semakin matang saja dua tahun ini, ia tampak semakin matang dan lembut.
Kelahiran Gendhis membawa banyak rasa syukur di hatinya, ia menjadi laki laki yang lebih bijak dari sebelumnya, namun tak mengurangi ketegasannya.
Dinda bersikap dingin padaku, acuh tak acuh.." jelas Yoga ikut duduk tak jauh dari kursi Damar.
" Tolong ikut aku menemui Vania?" pinta Yoga,
" Kau tidak perlu aku, kau sendiri bisa menyelesaikan semua ini asal kau tegas," jawab Damar.
" Kurasa aku sudah cukup tegas, tapi ia terus saja datang kerumah??!"
" Ku beri nomor seorang pengacara, konsultasikan..
tapi, tanpa kunsultasipun aku yakin Vania tidak akan berhasil mengambil Bagas dengan cara apapun darimu,
karena dia sudah dengan sengaja meninggalkan Bagas di usia yang sesungguhnya masih benar benar membutuhkan ibunya.."
" Aku juga tau dengan benar itu mas, tapi dia menggunakan rasa belas kasihan untuk terus mengunjungi Bagas,
dia bilang..
aku adalah orang yang kejam jika tidak memberi tau Bagas tentang siapa ibu kandungnya sesungguhnya.." Yoga terlihat bimbang.
" Kejam? kau yang merawat Bagas sejak bayi, kau bahkan tidak menikah lagi untuk waktu yang lama supaya bisa fokus melihat perkembangan Bagas, dan sekarang kau di tuduh kejam..
aku merasa kau terlalu lembek pada perempuan itu..
tegaslah, ambil tindakan hukum,
kau juga harus menjaga perasaan istrimu..
__ADS_1
Dinda ibu sambung yang baik, aku melihat ketulusannya dua tahun ini, Bagas pun terlihat amat menyayangi Dinda..
jangan sampai karena gangguan mantan istrimu rumah tanggamu goncang.."
Yoga terlihat berpikir,
" Kalau bukan kau, siapa yang akan melindungi anak istrimu? tegaslah Yoga.. jika karena hal remeh seperti ini saja kau bingung, bagaimana jika timbul permasalahan yang lebih besar di kemudian hari.." imbuh Damar menatap Yoga serius.
Setelah berbincang dengan Damar Yoga memutuskan untuk kembali pulang.
Ia membungkus beberapa makanan kesukaan Dinda dan Bagas.
Setelah mengemudi sekitar dua puluh menit dari rumah Damar, Yoga sampai dirumah.
" Sayang?!" panggil Yoga membuka pintu rumah.
Tak ada sahutan hingga laki laki itu berjalan masuk ke dalam rumah.
" Kok diam saja...?" tanya Yoga ketika menemukan Dinda malah tiduran di kamar.
" Bagas mana?" tanya Yoga lagi mendekat dan duduk disamping istrinya yang sedang berbaring.
" Sedang dirumah mbak Winda." jawab Dinda pendek,
" Aku tadi mampir ke toko, kukira di toko, tapi kata pegawaimu kau tidak ke toko sejak pagi..",
Dinda diam, tak menjawab, bahkan tak menatap wajah suaminya.
" Aku belikan dendeng rawon kesukaanmu.. makan yuk?" ajak Yoga membelai punggung dan pinggang Dinda,
" aku sudah makan dengan Bagas, masih kenyang, makan saja duluan." lagi lagi jawaban Dinda terasa tidak menyenangkan untuk Yoga.
Laki laki itu menghela nafas untuk memperpanjang kesabarannya, ia tau kalau Dinda sedang tidak dalam mood yang baik, hal ini sudah terjadi selama seminggu,
namun Yoga tetap mengalah dan bersikap sewajarnya karena tak ingin menambah masalah.
Semarah dan sekesal apapun dirinya, tak bisa menghapus rasa cintanya ada Dinda, karena itu ia lebih memilih mengalah dan menerima sikap dingin Dinda.
" Kalau tidak mau makan, kita tidur saja.." Yoga menaikkan kakinya dan membaringkan dirinya disamping istrinya.
Keduanya saling beradu pandang, namun Dinda segera berbalik dan memunggungi Yoga.
Melihat itu Yog tersenyum,
" Aku dari mas Damar tadi, telfon saja kalau tidak percaya.." jelas Yoga tanpa di minta.
" Apa aku bertanya?" suara Dinda dingin,
" tidak, tapi aku ingin memberitahumu, aku tidak ingin kau menebak nebak.."
" untuk apa aku menebak? lakukan apapun yang kau suka, pendapatku tidak penting."
" Siapa bilang pendapatmu tidak penting? kau istriku, segala tentangmu penting?" Yoga memeluk Dinda, namun Dinda menolak.
" Menjauhlah, aku gerah." ujar Dinda benar benar menguji kesabaran Yoga.
" Ya sudah, kalau kemarahanmu lebih besar dari pada rasa sayangmu padaku.. teruskan saja begitu,
yang penting aku merasa tidak melakukan sesuatu yang salah..
__ADS_1
pikiranmu saja yang terlalu buruk kepadaku.." ujar Yoga menahan diri, lalu bangkit dari tempat tidur dan berjalan keluar dari kamar, meninggalkan Dinda yang diam sediam diamnya.