Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
hujan sore ini


__ADS_3

" Ku kira semua butuh waktu.." ucap laki laki itu sembari meminum es jeruknya.


" Sepertiku dulu, untuk mengikhlaskan seseorang yang kita cintai itu tidak mudah..


setelah aku melihatmu hamil baru aku perlahan menerima kenyataan.." Daud tertawa.


" Kau dan Yoga berbeda jauh.." sahut Winda.


" Bedanya?"


" Yoga mengebu ngebu, sedangkan kau tidak..."


Daud tertawa mendengar itu,


" itu karena aku sadar.. bahwa di dunia ini tidak hanya kita berdua yang punya perasaan.. tapi orang di sekitar kita juga,


orang tuamu dan orang tua ku..


kita faham benar, perbedaan kita terlalu jauh..


dan ternyata benar penilaian orang tuamu kan?


hidupmu lebih sejahtera sekarang..


coba kalau kau menikah denganku dulu..


jangankan mobil, mungkin aku hanya bisa memboncengmu dengan motor kemana mana.." Daud terus tertawa, seperti tak pernah ada luka diantara mereka.


Namun entah bagaimana sesungguhnya perasaan hatinya.


" Ah, jangan bicarakan itu.." keluh Winda,


" Hei, cerialah.. semua masalah ada jalan keluarnya.." Daud memberi semangat.


" Pusing aku memikirkan adik adikku..


andai kata mereka berpikir seperti kita dulu.."


" Hei.. jaman sudah berbeda bu.. kita hidup di jaman wajib untuk patuh dan tau diri..


sedangkan mereka hidup di jaman berjuanglah selagi bisa.."


Winda tiba tiba tertawa,


" apa?" tanya Daud,


" rambutmu sudah beruban.." ucap Winda masih memperlihatkan giginya yang rapi.


" Aku sudah tua.."


" Aku juga.."


" Berapa usia putrimu sekarang mas?"


" Baru SD kelas 4.."


" wah.. putraku sudah kelas 1 SMP, bagaimana kalau kita jodohkan saja mereka..?" canda Winda,


" tidak ah.. aku tindak sanggup punya besan sepertimu.." sahut Daud tersenyum.


" Maksudmu?! aku tidak seperti orang tuaku, jadi jangan beranggapan aku akan pilih pilih mantu?!"


" tapi aku yang pilih pilih besan, aku tidak mau terus terusan bertemu denganmu.." Daud tertawa.


" Jahatnya?!" Keluh Winda tak senang,


" tapi.. melihat betapa bijaksananya mas Yudi yang tetap memperbolehkan kita menjalin persahabatan..


akan ku pertimbangkan.."


" Eh.. kok malah suamiku yang kau puji puji?"


" tentu saja.. setelah tau kalau aku ini mantan kekasihmu, dia tetap bersikap baik padaku, bahkan akrab..


sikapnya itu membuatku sangat rela melihatmu hidup bersamanya..

__ADS_1


dan yang terpenting..


sikap baiknya padaku membuatku tau diri..


kalau aku memang hanya pantas menjadi temanmu setelah semua hal yang sudah kita lewati.."


Winda tersenyum tipis mendengarnya,


" Kau benar.. sikapnya begitu dewasa, tak pernah memaksakan perasaannya, meski dia tau hatiku saat itu tidak ada padanya.." ujar Winda, ia bersyukur memiliki Yudi di sisinya, meski awal dari pernikahan mereka adalah keterpaksaan.


" Ya sudah.. jangan bahas masa lalu terus, ku bungkuskan soto ya untuk anak istrimu? jangan lupa bilang juga, salam dariku?" Winda bangkit dari kursinya.


Daud tersenyum sembari mengangguk, ia senang sekali, karena hubungan mereka tetap berjalan dengan baik,


tidak hanya keduanya, tapi juga hubungan diantara keluarga mereka.


Tak jarang ketika Yudi bertemu Daud di kota, Yudi mengajaknya ngopi dan berbincang,


tak ada rasa kikuk meskipun Yudi tau hubungan Winda dan Daud di masa lalu.


Mungkin karena usia Yudi jauh di atasnya, sehingga sikap yang Yudi tunjukkan selalu ramah dan tenang.


Mendung semakin pekat, Damar yang sejak siang di sawah berjalan sedikit tergesa gesa dengan sepatu bootnya.


Ia bisa merasakan titik titik air hujan yang mulai turun menyentuh wajahnya.


Dan Semakin lama titik titik hujan itu turun semakin banyak dan membesar.


Damar berlari melewati got got yang mulai penuh terisi air.


Sekilas ia melihat binatang binatang kecil mulai kebingungan juga karena hujan,


capung dan kupu kupu sama sama mencari tempat untuk berteduh.


Sedangkan Damar, ia terus berlari ke arah rumahnya.


Istrinya pasti cemas, apalagi hujan begini.. pikir Damar.


Dan benar saja, sesampainya dirumah Kinanti ngomel.


Kenapa hujan hujan? kenapa tidak berteduh? dan sebagainya.


" Baca komik terus.. sini, baluri perut dan dadaku dengan minyak kayu putih.." suara Damar kalem.


Ia menghela tangan istrinya,


" Kok badanmu hangat sekali..?" ucap Damar menggenggam tangan Kinanti.


" Sakit?" tanya Damar lagi,


" tidak mas.." jawab Kinanti sembari mengambil minyak kayu putih yang sudah sejak tadi diam di meja dekat tempat tidur.


" Benar?" tanya Damar ragu,


" Benar mas.." jawab Kinanti sembari mengoleskan minyak kayu putih ke perut Damar.


" Kenapa kau sedikit aneh belakangan ini?" tanya Damar tenang,


" aneh bagaimana sih mas?"


" Kau lebih banyak melamun.. sering menunjukkan ekspresi tidak tenang juga..


katakan padaku..


sesungguhnya ada apa?" Damar menyentuh tangan istrinya yang sedang mengolesi dadanya dengan minyak kayu putih itu.


Kinanti tersenyum,


" Jangan berpikir macam macam mas.. aku baik baik saja.." jawab Kinanti.


" Lalu untuk apa Yusuf kesini kemarin lusa?"


" Mencari mas.. tapi mas kan ke kampus.. aku menyuruhnya mencari Umar atau pak Hartono.."


" Tapi dia tidak sedang dalam urusan bisnis denganku.. ayahnya sudah mengambil bahan baku yang cukup bulan lalu.."

__ADS_1


" aku mana tau mas urusan laki laki..


mungkin dia juga hanya ingin berbincang atau apa?"


" Yusuf? berbincang panjang denganku? ah.. mana pernah.."


" Sudah mas.. jangan di pikirkan.. Yusuf memang begitu.." Kinanti meletakkan minyak kayu putih itu di tempat semula.


" Kalau begitu kita saja yang berbincang panjang sekarang.." Damar melingkarkan tangannya ke pinggang Kinanti.


" Hujan hujan begini, yang paling enak tidur.." ucap Damar lalu menarik tubuh Kinanti hingga jatuh di atas tubuh Damar.


" Memangnya tidak capek?" tanya Kinanti menyentuh dada suaminya.


Damar tersenyum sembari menggeleng,


" Melihatmu capek ku langsung hilang.."


Damar mencium istrinya.


Yoga berdiri di teras rumahnya, pandangannya menembus hujan, tertuju pada rumah Damar.


Masih terlihat memar di bawah matanya, bekas pukulan Yusuf.


" Papa?" Bagas tiba tiba keluar dan menarik ujung celana pendek Yoga.


" Sudah bangun anak papa?" Yoga menggendong putranya.


" Hujan.." gumam Bagas,


" Iya.. hujannya lebat.."


" Om?!" Bagas menunjuk ke area persawahan.


" Om Damar? pasti sudah pulang.. jangan khawatir..


sekarang Bagas mau makan apa?, kita masuk ke dalam ya?"


Yoga berbalik, ia mengajak putranya masuk.


Rasanya akan sulit setelah ini untuk menemui Kinanti,


apalagi Winda dan Kaila sudah mengetahui hubungan mereka di masa lalu.


Yoga menghela nafas berat sembari menggendong putranya masuk.


Andai perasaan ini bisa di buang dengan mudah..


maka segalanya tak akan serumit ini,


batin Yoga.


Damar membungkus tubuh Istrinya dengan selimut, lalu membopongnya ke luar kamar.


" Mau kemana?!" Kinanti ingin protes, tapi ia tak bisa bergerak.


" Di sofa tengah ya?" Damar berjalan dengan santainya.


" Jangan aneh aneh, di kamar saja??"


Damar terkekeh,


" dengarkan, kalau kita sudah punya anak nanti, kita tidak akan bisa sembarangan lagi..


setidaknya setiap sudut di rumah kita harus menjadi saksi betapa manisnya istriku saat bercumbu denganku.."


Damar membaringkan Kinanti di atas sofa dan membuka tubuh polos yang hanya di tutupi selimut itu.


" Astaga mas? wajahmu polos acuh begitu, tak kusangka pemikiranmu semesum ini?" protes Kinanti malu sekali,


" Mesum? aku suamimu? setiap bagian dari tubuhmu halal bagiku..?!"


" Iya halal.., tapi kita tidak harus melakukan ini di semua tempat?, ih.. mas benar benar, kalau begitu kenapa tidak sekalian saja di ruang tamu? jendelanya lebar tuh, biar terlihat dari luar kegiatan kita..!" Kinanti ngomel.


" Disana lebih baik, kita bisa melihat hujan lebih jelas.." Damar membungkus lagi tubuh istrinya dan mengangkatnya menuju ruang tamu tanpa menunggu persetujuan dari Kinanti.

__ADS_1


Sedangkan Kinanti yang kaget, hanya bisa diam pasrah, ia tak menyangkan omelannya yang ngawur itu justru di tanggapi serius oleh suaminya.


Ia benar benar seperti anak anak yang tak berdaya di bawah kehendak Damar sekarang.


__ADS_2