
" Kenapa kau bersikap seperti ini?! apa kau ingin menghancurkan hidupku lagi?" tegas Haikal,
" Susah payah aku melupakan mu?!" imbuh Haikal penuh rasa marah pada perempuan itu.
" Dan kenyataannya kau masih belum bisa melupakanku, sungguh nekat sekali kau mau menikahi perempuan lain?"
" Cukup! pergilah! mencintaimu membuatku sesak Adisty!" kesabaran Haikal benar benar sudah di ujung.
" Aku menemanimu dirumah sakit karena aku masih punya rasa kasihan, setidaknya kita pernah bertahun tahun bersama,
jadi Kau jangan se enaknya menyimpulkan kalau aku masih mencintaimu!" Haikal berdiri, ia menatap perempuan di hadapannya itu baik baik.
" menikahlah.." ujarnya kemudian dengan nada yang lebih tenang,
" Menikahlah dengan pilihan ayahmu.. aku adalah laki laki yang berpangkat rendah, aku tidak pantas bersanding denganmu.. jadi pergilah..
tidak ada yang bisa kau dapatkan disini,
aku sudah memilih perempuan lain yang lebih menghargai ku.." imbuhnya dengan hati yang di penuhi rasa sakit.
" Aku tidak bisa kembali, aku sudah menentang orang tuaku demi dirimu.. dan sekarang kau malah mau menikahi orang lain?" perempuan itu ikut berdiri, ia mendekat pada Haikal.
" Kalau kau menolakku, untuk apa aku hidup.. semuanya sudah ku korbankan untukmu.." ujarnya dengan nada yang tak kalah menyakitkan.
" Kau jangan bertindak gila?! hentikan pemikiranmu yang bodoh itu! di dunia ini laki laki tidak hanya aku?!" Haikal menyentuh pundak Adisty dan menggoncang nya, ia ingin wanita itu sadar bahwa yang ia lakukan itu salah.
" Aku tidak mau mas.. aku tidak mau menikah dengan orang yang tidak ku cintai sama sekali..
aku tidak sanggup membayangkan bagaimana aku akan menjalani hari hariku kelak..
aku sudah bertahan tanpamu selama 8 bulan, ku kira akan mudah..
ku kira lama lama aku akan lupa..
tapi ternyata rasa sakit itu semakin hari semakin bertambah,
Terserah jika kau sanggup mas..
tapi aku tidak sanggup..?" Adisty menangis, menangis sejadi jadinya.
8 bulan ini bukanlah hal yang mudah baginya, hubungan yang baik baik saja tiba tiba harus kandas di karenakan perjodohan dari orang tuanya.
Dirinya sempat marah karena Haikal tidak berjuang dan malah pergi begitu saja.
Karena itu dia berusaha menerima perjodohan itu dengan susah payah.
Namun yang ia rasakan dari hari kehari hanyalah rasa sakit karena menanggung kerinduan yang dalam.
Dan rasa sakit itu semakin besar ketika ia mendengar kabar bahwa mantan kekasihnya itu akan menikah dalam waktu dekat.
" Kita bersama bukan setahun dua tahun mas, tapi sudah 3 tahun? bisa bisanya kau langsung menikahi perempuan lain setelah berpisah dariku?! jahat sekali kau mas?!" Adistiy terus saja menangis, perempuan yang sudah di cintainya selama kurang lebih 3 tahun itu sedang terisak di hadapannya, wanita itu bahkan baru saja sembuh dari sakit, dan jahitan di pergelangan tangannya bahkan belum kering sepenuhnya.
Haikal yang tidak sanggup melihat air mata Adisty, langsung memeluknya.
__ADS_1
" Maafkan aku? maafkan aku??" ujar Haikal memeluk Adisty erat,
Haikal yang bertubuh gagah itu ternyata tidak sanggup menahan dirinya,
air matanya pun turut turun meski tak sederas milik Adisty,
di lepaskan kerinduannya yang selama 8 bulan ini ia tahan.
" Jangan menyakiti dirimu lagi, kumohon.." imbuh Haikal.
" Apa semudah itu cintamu hilang mas? apa semudah itu melupakanku?"
" tidak.. tidak.. segalanya tidak semudah itu.. percayalah, hari hari tanpamu itu menyakitkan..?!
karena itu lebih baik aku menikah dengan orang lain, sehingga aku bisa melupakanmu dengan terpaksa..?!" tegas Haikal memeluk Adisty erat.
" Ampuni aku Disty, ampuni aku..
aku tidak sanggup melawan orang tuamu..
apalah aku ini?
orang tuaku susah payah membuatku bekerja sebagai seorang pegawai negeri..
aku tidak mungkin membuang pekerjaanku dan melukai hati orang tuaku.." ujar Haikal, dirinya sungguh sungguh tak berdaya.
" Apa maksudmu mas?" tanya Adisty melepaskan pelukan Haikal dan menatap Haikal serius.
" Ayahmu mengancamku, dengan kuasanya dia bisa membuatku di pecat dengan tidak hormat, dia akan mencari segala macam cara untuk melimpahkan hal hal buruk padaku jika aku tidak meninggalkanmu..?" jelas Haikal.
Deg..
Adisty terdiam, ia tak menyangka ayahnya bisa melakukan hal semacam itu.
" Maafkan aku.. aku bahkan tidak sanggup melawan dunia demi dirimu..
apa aku masih pantas kau perjuangkan sampai seperti ini?" ucap Haikal dengan perasaan yang tak karu karuan.
" Aku mencintaimu.. masih sangat mencintaimu.. andai ayahmu bukan seorang pejabat yang mempunyai kuasa yang menakutkan, aku akan membawamu lari tanpa pikir panjang..
apakah kau pernah memikirkan bagaimana orang tuaku akan menanggungnya nanti? jika aku sampai membawamu lari?"
Keduanya berpandangan, seperti menanggung kesedihan yang sebesar gunung.
" Jadi kau akan tetap menikah mas? dan meninggalkanku?" tanya Adisty,
Haikal tak menjawab, ia tertunduk dalam.
Damar Hanya beberapa jam saja pulang kerumahnya, setelah menyerahkan urusan urusan pabrik dan Zahira pada Umar ia segera kembali kerumah Kinanti.
" Bagaimana kondisinya bu?" tanya Damar pada ibu.
" Dia tidur nak.. baru saja.." jawab ibu sembari meminum teh hangatnya.
__ADS_1
Damar dan Ibu duduk di ruang tengah, di depan televisi yang sengaja di biarkan menyala meski tidak di lihat.
" Ibu jangan banyak berpikir.. biar Damar yang mengurus segalanya.." ujar Damar menenangkan ibu.
" Apa yang tidak usah di pikir? ini masalah masa depan Kinanti.." jawab ibu.
" Saya tau.. tapi tolong, serahkan hal hal besar kepada saya.."
" tidak nak, besok ibu akan kerumah orang tua Haikal,
ibu harus bicara sebelum semuanya kepalang basah..!" tegas ibu,
" Biar saya yang bicara pada Haikal bu?" ucap Damar,
" Dengan tinjumu?"
Kata kata Ibu membuat Damar tertunduk dalam, ia sudah bersalah karena menggunakan kekerasan.
" Maafkan saya bu.. maafkan saya.." pinta Damar merasa malu karena k
lepas kendali.
" Sudahlah.." ujar ibu kemudian.
" Untuk hal ini biarkan orang tua Dengan orang tua yang bicara..
kalau besok tidak ada pekerjaan tolong jaga Kinanti saja sampai ibu dan Yusuf pulang.." imbuh ibu,
" Iya, saya akan ijin bu.." Damar mengangguk.
" Ya sudah.. makanlah kalau kau belum makan.."
" nanti saja bu, saya akan makan dengan Kinan kalau dia sudah terbangun nanti.." kata Damar.
Ibu terdiam sejenak melihat Damar.
" Terimakasih nak.. karena sudah menjaga kami dengan baik.." ujarnya kemudian dengan sorot mata sedih.
Damar mengangguk,
" Saya anak ibu, sudah kewajiban saya membuat ibu dan Kinan merasa aman dan nyaman.." jawab Damar,
" Ya sudah.. ibu mau merebahkan diri dulu, kau disini saja.." ibu bangkit dari duduknya,
Damar tak menjawab, namun ia mengangguk.
Melihat itu ibu berjalan ke arah kamar dan menutup pintu kamar.
Sedangkan Damar yang penasaran bangkit dan berjalan ke arah kamar Kinanti,
membuka pintu kamar Kinanti sedikit dan mengintip,
ia ingin memastikan Kinanti benar benar tertidur nyenyak.
__ADS_1