
Damar merasakan geli di jari jari kakinya, entah siapa yang menyentuhnya.
Damar membuka matanya perlahan, dan menemukan Bagas yang sedang menyentuh satu persatu jari jari kakinya.
" Jangan.. kaki om kotor.." ujar Damar sembari tersenyum, sesekali ia meringis menahan sakit karena menggerakkan kakinya.
" Om sakit?" suara Bagas begitu candu di telinga Damar, seperti penghibur di pagi ini.
" Iya.. sedikit.." jawab Damar.
" Om mau makan? budhe masak hoto ayam?" Bagas mendekat, sehingga Damar bisa meraih anak itu dengan tangan kirinya.
" Bilang sama budhe, om Damar mau makan sayur dan tempe goreng saja.."
" siap.. sayul dan tempe..!"
Bagas segera berlari keluar kamar Damar.
Diam diam Damar tertawa melihat tingkah putra Yoga itu.
Caranya bicara benar benar menghibur.
Damar tak sengaja melayangkan pandangannya pada sudut kamarnya, dekat jendela.
Matanya terbentur pada sebuah foto ukuran 10R yang sudah bertahun tahun menempel di dinding kamarnya itu.
Terlihat dua orang pemuda yang sedang berdiri di puncak gunung tertinggi di jawa.
Satu pemuda lebih tinggi, berwajah menawan, namun terkesan kaku dengan senyum seadanya tanpa menunjukkan giginya,
dan yang satu lagi pemuda berdagu indah, ia terlihat ceria,
di bubuhi dengan senyuman yang lebar dan manis, wajahnya terkesan lembut dan ramah.
Damar lama melihat foto itu, ia seperti hilang, dan kembali ke masa masa dimana dirinya dan Aji masih sering bersama.
Lagi lagi ada buliran air mata yang memaksa keluar, ia menitik begitu saja melewati kedua sudut mata Damar dan jatuh semaunya.
Ada rasa yang belum bisa ia kendalikan setiap melihat foto itu,
wajah aji yang ramah itu, dan senyumnya yang selalu tulus membuatnya semakin merasa bersalah.
Kebodohan Damar yang membuat laki laki itu meninggal,
andai Damar menjaganya baik baik seperti di pendakian sebelumnya, mungkin ia masih bisa memeluk Aji sekarang,
masih bisa mendaki dari satu puncak ke puncak yang lain berdua.
Semua orang menyarankan dia untuk menyimpan foto itu di dalam lemari atau laci, agar tak terlihat dan membangkitkan kenangannya yang menyakitkan.
Namun Damar tidak mau, ia tidak mungkin menyingkirkan Aji dalam hidupnya, apalagi menyimpan fotonya dengan alih alih agar lupa.
Rasanya itu tak pantas, bagaimana ia bisa hidup dengan baik, sementara Aji meninggal tepat di atas punggungnya.
Ia akan terus menanggung rasa kehilangan dan bersalah ini,
dan Damar memang tak ingin lupa,
ia tak ingin melupakan sahabatnya itu bagaimanapun pedih hatinya setiap ia mengingat apa yang sudah terjadi.
Aji meninggal karena keteledorannya, sebagai seorang pendaki yang sudah berpengalaman, seharusnya ia menjaga Aji yang pemula sebaik mungkin, namun yang terjadi ia malah mencelakai Aji.
Ia akan merasa lebih berdosa lagi jika ia berusaha untuk melupakan Aji, itu yang di pikiran dan di yakini Damar selama ini.
" Ku Dengar kau jatuh?" terdengar suara seseorang memasuki kamar, membuyarkan lamunan Damar.
" Iya bu," jawab Damar pendek, itu adalah ibu tirinya, sedang berdiri di depan pintu kamar.
Damar bisa melihat sekilas, begitu berbinarnya sorot mata ibu tirinya itu melihat Damar terbaring, ia seperti senang.
" Harusnya kau hati hati, kalau begini siapa yang mengurus pekerjaanmu?
untung saja lukamu ringan..." ujar si ibu tiri.
Damar diam tak menjawab.
" Kau harus cepat menikah setelah ini, kalau sampai ada hal buruk menimpamu nanti, akan ada yang mengurus mu,
kau lihat dirimu sekarang, Kaila pun berangkat kuliah,
__ADS_1
dia tidak bisa kau repot kan dengan terus mengurusimu,
dia masih muda, setelah kuliah dia akan main bersama teman temannya,
jadi jangan membebaninya..
apalagi membuatnya menempel padamu setiap hari,
bagaimana dia akan menemukan jodoh jika dia menempel padamu terus,
laki laki juga akan segan,
wajahmu yang ' ramah ' itu pastinya menakuti laki laki yang akan mendekat pada Kaila.." nada ibu tiri Damar halus namun menyakitkan hati.
" Saya akan segera sembuh, dan tidak akan merepotkan siapapun.." jawab Damar datar.
" Baguslah kalau begitu.. lekas lah sembuh..! dan jangan membuat semua orang sibuk mengurusimu..!" si ibu tiri melempar pandangan mencemooh yang sinis, lalu berjalan menjauh dari pintu kamar Damar.
Damar hanya memejamkan matanya, tak berkomentar apapun, karena dia sudah biasa dan kebal dengan sikap ibu Kaila itu.
Kalau ia menahan diri selama ini, itu semata mata demi Kaila,
ia ingin Kaila hidup dengan baik..
harus baginya melindungi Kaila meski mereka tidak seibu, karena hanya dia yang bapak tinggalkan satu satunya untuknya.
Setidaknya ia tidak sebatang kara.
Tak lama Winda masuk membawa sarapan Damar, sesuai dengan apa yang di pesan Damar pada bagas tadi.
" Jangan kau masukkan ke hati, sudah..ayo sarapan..?!" Winda duduk disamping tempat tidur.
Membatu Damar duduk dan menyuapinya pelan pelan.
" Apa yang kau rasakan?"
" pinggang, punggung, sendi sendiku sakit semua.." keluhnya.
" ku panggilkan tukang pijit nanti, sekarang habiskan makananmu.." Winda masih menyuapi Damar.
" Kau tidak mengabari adik temanmu itu kalau kau jatuh?" tanya Winda hati hati,
" bukankah kau jatuh setelah menjemputnya?"
" Tidak.. aku mencarinya ke kost, tapi ternyata dia sudah pulang.."
" Kalian bertengkar? sebab itu pikiranmu kemana mana dan jatuh, iyakan?"
Damar menatap Winda serius,
" bukalah praktek mbak.. mbak sekarang mirip peramal.."
" eh! aku tau karena aku juga pernah muda dan ada pengalaman.. siapa yang tidak bisa menebak, kau itu bodoh dalam urusan menyembunyikan ekspresi wajahmu.."
" apakah begitu jelasnya?"
" iyalah.."
Damar diam sejenak,
" kalau begitu harusnya dia memahamiku.." keluhnya,
" memahami laki laki yang setengah setengah itu sulit,
mau tapi seperti tak mau..
perempuan mana yang faham dengan sikapmu yang tidak jelas.."
Damar tertunduk.
" Jadi apa keputusanmu?"
" Keputusan apa mbak?"
" tentang Kinanti?"
Damar membeku, ia tidak bisa berfikir apa yang benar untuk sekarang.
" Aku tidak tau mbak.. sepertinya aku benar benar bertepuk sebelah tangan, dan luar biasanya aku juga tak bisa mengenali perasaanku ini sebatas tanggung jawab atau benar benar ingin memilikinya karena perasaan pribadi ku sendiri,
__ADS_1
aku seperti menemukan Aji setiap bersamanya..
senyumnya, cara bicaranya, itu mirip sekali dengan Aji..
namun..
saat berpisah kemarin.. aku sudah memutuskan untuk menjauhinya, mungkin itu yang terbaik mbak,
di luar sana pasti banyak laki laki yang ingin menjadi suaminya.."
Winda malah tersenyum melihat wajah Damar yang lemah lesu itu.
" Semoga saja aku kuat.. karena aku sudah berjanji siapapun pilihannya aku akan menikahkannya.."
" aku tidak tau kau ini baik atau bodoh Damar..
awas saja kau menangis nanti ya..
jangan sampai kau mengeluh padaku?!" peringat Winda.
Dua minggu berlalu.
Tak ada kabar Damar sama sekali.
Kinanti yang masih belum mendapatkan sekolah baru itu sedikit merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan timbul dalam hatinya.
Kalimat Damar saat ia pergi dari rumah ini tidak bisa Kinanti lupakan.
Laki laki itu bilang bahwa ia akan menjauh dan tidak akan menganggu Kinanti lagi.
" Haahhh..." Kinanti mengeluh, ingin sekali membuang keresahannya, padahal ia dan Damar tidak punya hubungan semacam itu, lalu kenapa timbul perasaan aneh dalam hatinya.
" Mau menjauh ya menjauh saja.. berisik sekali..!" Kinanti bicara sendiri, ia kesal, karena di rasa pikirannya berisik di penuhi Damar.
Kinanti diam di teras, ia membolak balik buku bacaannya, sama sekali tidak ada minat membaca.
Rasanya sungguh sungguh bosan.
Sebenarnya ia bisa keluar karena pak Tyo beberapa kali mengajaknya jalan jalan, namun ia tidak berminat sama sekali.
Ia tau dengan benar kalau Tyo itu menaruh hati padanya, tapi ia tak bisa membayangkan menikah dengan Tyo, bagaimanapun mereka itu teman, dan Kinanti benar benar tidak mempunyai perasaan pada Tyo.
" Hoy! melamun saja!" ada suara yang begitu keras mengagetkan Kinanti.
Terlihat Yusuf yang berjalan mendekat ke teras, sementara di belakangnya ada seorang laki laki, perawakannya tegap dan berotot.
" Dari mana Suf?" tanya Kinanti,
" Dari rumah, kebetulan ada Haikal kerumah, sekalian ku ajak mampir kesini, masih ingat kan kalian?"
Laki laki bersweater coklat dan bercelana pendek itu mendekat ke Kinanti, ia memberikan tangannya untuk di jabat.
" Oh.. Haikal? apa kabar..?" Kinanti bangkit dan menjabat tangan teman lamanya itu.
Keduanya saling tersenyum.
" Baik Nan.. kau sendiri?" tanya Haikal,
" Aku kurang baik, karena aku tiba tiba menjadi pengangguran dua minggu ini ." Kinanti tertawa kecil.
" Oh ya, ku dengar kau mencari sekolah baru?"
" Iya, aku mencari SD yang sedang membutuhkan guru.."
" Kau sudah melamar kemana saja?"
" Di sekitar sini saja, karena aku tidak mau terlalu jauh dengan ibu.."
" iya.. bagus juga bekerja sembari merawat orang tua.." Haikal tersenyum, laki laki yang dulu gembul itu, sekarang bertubuh bagus.
" Eh, apa kau akan membiarkan kami di luar saja?" Yusuf menengahi,
" Oh, iya.. ayo masuk, biar ku buatkan minum untuk kalian.." ujar Kinanti,
" Iya, sekalian ada yang mau di bicarakan oleh Haikal.." kata Yusuf sambil melempar senyum pada Haikal.
" Ada yang mau di bicarakan? padaku?" tanya Kinanti,
" Iya.." jawab Haikal tersenyum,
__ADS_1
" Wah.. apa itu?" tanya Kinanti penasaran.