
" Ada masalah le?" tanya ibu Kinanti ikut duduk di kursi teras, tak jauh dari menantunya.
" Tidak bu, kenapa?" Damar mematikan rokoknya dan melihat mertuanya dengan serius.
" Istrimu seperti punya beban pikiran, terlihat dari sorot matanya.." jawab ibu,
Damar terdiam sejenak,
" Apa ibu kira saya berbuat hal yang tidak baik pada istri saya bu?" tanya Damar hati hati,
" bukan begitu le.. ibu tidak pernah ragu pada sikap dan kasih sayangmu..
ibu mengenalmu bukan setahun dua tahun le..
mungkin saja, ada hal hal yang menganggu pikirannya.. permasalahan dengan orang lain misalnya?"
Damar menghela nafas berat,
" Nggih ( iya )... saya kira juga begitu bu, sebenarnya saya ragu terhadap penilaian saya, tapi setelah ibu bicara begini..
saya yakin bukan hanya mata saya saja yang menemukan keresahan Kinan..
namun sayangnya..
saya ragu untuk bertanya dalam kondisi dia yang seperti ini.."
jelas Damar, sorot matanya sayu tiba tiba.
" Saya takut dia tidak nyaman dengan pertanyaan yang akan saya ajukan nanti bu..
saya juga takut apa yang saya tanyakan akan memicu pertengkaran diantara kami..
jadi saya lebih memilih untuk menahan diri sampai istri saya sendiri bicara tentang apa yang sebenarnya dia rasakan.."
Mendengar dan melihat Damar yang seperti itu ibu benar benar tak bisa untuk tak kagum, menantunya itu selalu menjadi pemuda yang luar biasa baginya.
Bahkan sekarang, dia menahan diri demi menjaga perasaan istrinya.
" Apa ibu boleh tau, apa yang ada di pikiranmu le?" tanya ibu hati hati,
" Saya belum berani menerka nerka bu, karena ini adalah hal yang sensitive..
sesungguhnya apapun itu, saya amat mencintai Kinanti..
tidak ada yang sanggup mengubah itu..
kecuali Tuhan berkehendak lain pada kami..
ibu tau, tidak mudah bagi saya menunggu Kinanti sampai pada usia dewasa,
belum lagi penolakan penolakannya pada saya.."
Ibu turut menghela nafas,
" Ibu tau le.. sejak kau datang kerumah dengan Aji, matamu sudah sering mencuri pandang pada Kinan..
tapi jangan salah le..
istrimu juga mencintaimu..
hanya saja, dia sedikit susah mengungkapkan perasaannya..
sejak dia di tinggalkan mantan kekasihnya dulu, sikapnya menjadi sedikit dingin dan keras.."
__ADS_1
" Apa ibu tau siapa nama laki laki itu..?"
" siapa? mantan pacar istrimu?"
Damar mengangguk,
" Untuk apa le..? yang lalu biarlah berlalu.." ujar ibu.
" Eh.. besan?!" terdengar suara ibu Kaila, perempuan yang baru saja datang dari rumah salah satu anggota arisannya itu berjalan mendekat.
Dengan senyumnya ia menyapa ibu Kinanti.
" Sehat bu? tumben? mampir kerumah dulu ayo?
saya mau ngobrol..
njenengan kan ndak pernah ngobrol sama saya semenjak anak anak menikah..?" ujar ibu Kaila tiba tiba ramah.
" Tidak bu, ibu kesini untuk menunggui Kinan..
saya juga mau ke pabrik sebentar, jadi lebih baik beliau tetap diam disini saja.." tukas Damar kalem namun tegas.
" Memangnya istrimu kenapa di tunggu?" tanya Ibu tiri Damar sedikit menampakkan kekesalan.
" Istri saya sakit bu, sudah dua hari ini badannya panas.. di juga belum bangun dari tempat tidur, "
" Astaga..? kok Kaila diam saja, coba coba ibu lihat..?" entah perduli atau pura pura perduli, ibu tiri Damar berjalan masuk begitu saja melewati Damar dan ibu Kinanti.
Sementara Damar memandang ibu mertuanya sembari menunduk dengan perasaan kurang nyaman,
" Maaf bu.. kalau saya sedikit kurang sopan.. tapi lebih baik ibu diam dirumah ini saja..
tentunya ibu sudah faham bagaimana sikap ibu saya?
Ibu Kinanti tersenyum mengerti,
" Ibu mengerti le.. jangan khawatir.." ibu Kinanti menepuk punggung menantunya itu untuk memberi semangat, dan untuk memberi isyarat..
bahwa bagaimanapun kondisi dalam keluarga Damar, ibu Kinanti selalu tulus menyayanginya.
Waktu sudah menunjukkan jam tujuh malam, Yusuf juga sudah datang kerumah Damar untuk menjemput ibu Kinanti.
Sembari menunggu, laki laki yang tingginya sekitar 173 cm itu duduk di kursi teras, sembari menikmati pemandangan malam dengan tenang.
Dari kejauhan terlihat beberapa motor melintas, ada juga para pekerja dari pabrik Damar yang melintas sembari berjalan kaki.
Tampaknya mereka pulang, karena arah yang mereka tuju berlawanan dari pabrik.
Sekitar 30 menit kemudian Yusuf menemukan sosok Damar yang muncul dari kegelapan, ia berjalan mendekat.
" Lho.. dari mana mas?" tanya Yusuf melihat Damar muncul dari jalan setapak area persawahan disamping rumahnya.
" Dari rumah mbah, ambil jamunya Kinan Suf.." Damar menunjukkan secangkir minuman berwarna kuning tua, seperti kunyit.
" apa itu mas?"
" Kunyit di parut.. terus di campur madu.."
" Wah.. seger itu mas..!"
" Iya.. biar Kinan cepat enakan, kelihatannya lesu sekali.. aku tidak tega melihatnya.." keluh Damar.
" Iya iya.. kebanyakan minum obat juga kurang bagus mas, lebih baik ramuan herbal..
__ADS_1
itu juga bagus untuk lambung kan katanya..
segera di minumkan saja mas.."
" Iya Suf, tak tinggal masuk sebentar yoo..?"
Yusuf mengangguk, dan Damar segera berjalan ke dalam rumah.
Sesampainya di dalam kamar, ia menemukan istrinya yang terduduk lesu, sorot matanya tetap saja sayu.
Tenaganya seperti habis entah terkuras kemana.
" Muntah barusan le.." ibu memberi tahu,
" Muntah lagi? apa obat lambungnya tidak di minum dulu sebelum makan tadi bu?" Damar Khawatir.
" Sudah le.. coba besok ibu buatkan bubur ayam, biar Yusuf yang antar.." ujar ibu,
" Inggih bu.. ini bu, kunyit madu.." Damar duduk disamping istrinya, mendekatkan cangkir berisi jamu itu.
" Minum nduk, biar perutmu adem.." ucap ibu,
" Baunya tidak enak mas.." suara Kinanti lirih, rasanya ia mau muntah saat mencium bau jamu itu.
" Biasanya kau doyan jamu..? sudahlah.. di tahan sedikit ya?" Damar sedikit memaksa.
" Sedikit sedikit saja dulu le.. yang penting tidak di muntahkan lagi.." ucap ibu lagi.
Damar membantu istrinya meminum jamu itu sedikit demi sedikit, kesabaran dan kasih sayangnya tampak sekali.
sorot mata yang tidak bisa berbohong, bahwa ia amat kecewa melihat kondisi Kinanti.
Sedikit banyak ia merasa bersalah, mungkin saja Kinanti kelelahan karena dirinya yang terlalu berlebihan saat mereka sedang tidur bersama.
Diam diam Damar mengeluh dalam hati, kecewa pada dirinya sendiri.
Tentu saja, stamina seorang perempuan berbeda dengan seorang laki laki.
Ia bertekad, setelah Kinanti sembuh, ia tak akan berlebihan lagi.
Ia sadar sekarang, bahwa perasaan dan keinginannya juga bisa membawa dampak buruk bagi tubuh istrinya jika berlebihan.
" Melamun opo tho le?" tanya ibu Kinanti pada Damar yang duduk diam sembari memandangi istrinya yang sudah berbaring, dan mulai tertidur.
" Mboten bu.. ( tidak bu..) hanya sedikit merasa bersalah.." jawab Damar tertunduk,
" bersalah kenapa tho le..?"
" saya kurang becus sehingga istri saya sakit begini..
mungkin juga selama ini dia lelah.. hanya saja dia tidak mengungkapkannya.."
" Ah.., itu semua hanya pikiranmu le..
tidak ada istri yang lelah ketika hal hal yang ia kerjakan bertujuan untuk suaminya..
jangan berpikir yang tidak tidak..
malah ndak karu karuan perasaanmu nanti..
wes, sudah malam..
ibu pamit dulu.. besok pagi biar Yusuf kesini ya?" si ibu bangkit dari duduknya,
__ADS_1
" Inggih bu.." Damar ikut bangkit, mengikuti langkah ibu mertuanya berjalan keluar kamar.