
Pada akhirnya datanglah hari dimana Yoga berhadapan dengan Rakha.
Laki laki itu rupanya sudah tidak tahan dengan sikap Dinda yang selalu tak ada setiap ia bertamu.
Rakha mengira semua penolakan yang di lakukan oleh Dinda di sebabkan oleh perintah suaminya.
" Kesini dengan mas Damar?! Rakha datang kerumah, Yoga menemuinya, aku takut mereka berkelahi?!
mbak Winda dan mas Yudi juga sedang pergi, bagaimana ini Nan??" Dinda buru buru menelfon Kinanti, perempuan itu cemas akan ada hal buruk yang terjadi pada suaminya.
" Berhenti mengirimi istri saya bunga" nada bicara Yoga masih terkendali.
" Tidak ada yang salah dengan bunga, selain teman dekatnya dulu, saya juga rekan bisnisnya,
dia juga sedang dalam kondisi yang kurang sehat..
jadi sudah sepantasnya saya membawa bunga dan buah tangan lainya?"
balas Rakha tak kalah terkendalinya.
" Sekali pantas, tapi lebih dari itu tidak..!"
" saya rasa yang saya lakukan masih pantas,
menjadi tidak pantas jika saya membawa lari Dinda,
namun itu tidak saya lakukan sampai sekarang,
karena saya menghormatinya,"
Yoga mengepalkan tangannya menahan diri.
" Jadi.. apakah anda menghormati istri anda?" tanya Rakha mendebat,
" tentu saja, saya mencintainya, tentu saja saya menghormati dan menghargainya?!" tegas Yoga.
Rakha tersenyum mendengarnya, setengah mengejek.
" Menghormati? lalu kenapa anda membatasi langkahnya?
anda bersikap tidak adil padanya dengan dalih khawatir, padahal...yang anda rasakan adalah ketakutan..
takut perempuan anda menjadi unggul dan mempunyai sayap yang lebar juga besar,
sehingga perempuan anda bisa kapan saja terbang dan pergi dari anda saat ekspetasinya pada anda tak terpenuhi?" lagi lagi senyum mengejek Rakha tersungging.
Yoga terpaku, yang di katakan Rakha memang benar, ia sudah menyadari kesalahan pada pemikirannya itu,
ia bahkan sudah berjanji akan membiarkan istrinya bekerja kembali jika semua hal sudah menjadi lebih baik.
" Suami mana yang tidak takut di tinggalkan istrinya..
semua suami ingin istrinya berada di lengannya setiap saat,
bergelayutan, bercanda, bermanja manja dan bahkan mengeluh,
tapi tidak ada niat sedikitpun dalam hati saya untuk menutup jalan karier istri saya,
kalau pun itu saya lakukan itu karena perihal tertentu,
anda orang luar disini.. jadi saya merasa tidak perlu untuk mengungkapkan atau bahkan menjelaskan apa alasan dan sebab atas tindakan saya..
saya harap anda cukup mengerti dengan penjelasan saya."
Rakha terdiam sejenak, terlihat berpikir keras.
" Biarkan saya melihat Dinda sebentar, setelah itu saya akan pergi." ucap Rakha.
__ADS_1
" Jaga sikap anda, itu bukan hal yang pantas anda minta?!"
" saya datang kesini untuk memastikan keadaannya,
memastikan kalau dia baik baik saja dan sakitnya tidak bertambah parah karena sikap anda padanya?!" suara Rakha tak kalah tegasnya.
" Anda benar benar melebihi batas?!" Yoga bangkit dari tempat duduknya yang sudah tidak bisa memberinya kenyamanan.
Rakha juga bangkit, namun pandangannya terarah ke dalam,
" Din?! keluar sebentar Din?! aku mau melihatmu??!" panggil Rakha keras.
" Hei!!" Yoga semaki meradang,
" keluar sekarang juga sebelum saya hilang kesabaran?!" Tuding Yoga seperti bukan dirinya lagi.
" Sudah kukatakan aku tidak akan pergi sebelum melihat Dinda baik baik saja!!" balas Rakha sengit.
" Kau ini tidak bisa di ajak bicara baik baik sepertinya..!!" Yoga maju dan menarik kerah baju Rakha,
Rakha yang tak mau kalah menarik kerah baju Yoga juga.
" Jangan berkelahi??!" Dinda yang sejak tadi menahan diri di dalam akhirnya keluar juga mendengar keduanya sudah tidak bisa mengendalikan diri.
" Jangan berkelahi??" perempuan yang tampak pucat itu memohon di hadapan keduanya.
" Masuk Din? masuk kembali ke kamar..?!" tegas Yoga tak rela istrinya di lihat laki laki lain.
" Din? kau baik baik saja? kenapa wajahmu pucat lagi??" Rakha tak mau kalah.
" Heii! diam!!" Yoga menarik kerah Rakha semakin keras, hingga akhirnya saling mendorong.
" Cukup?!! hentikan..!" pekik Dinda saat melihat keduanya saling mendorong kasar.
" Pergi Rakha?! pergi..!!!" teriak Dinda keras, ia tak ingi melihat kekerasan sekecil apapun di hadapannya.
Suaminya berkali kali mendapat pukulan, namun tetap saja tak menyerah.
" Jangan mendekat Din?! jangan kesini! jangan sampai kau terluka?!!" suara Yoga terdengar, sembari menahan sakit di tengah pukulan yang di terimanya di perutnya.
Dinda mencoba mendekat, menarik Rakha agar menjauh dari suaminya namun ia bekali kali terpental jatuh ke atas sofa dan bahkan menabrak meja.
Tangis Dinda pecah, melihat darah keluar dari ujung bibir suaminya, laki laki itu menerima pukulan yang lebih banyak, namun tak juga mau berhenti menyerang, entah apa yang membuatnya sekuat itu,
Yoga bahkan tak pernah berkelahi sekalipun dalam hidupnya.
ia selalu bersikap sopan dan berlaku ramah sehingga tak pernah menyinggung perasaan orang lain,
tapi untuk saat ini, harga dirinya sebagai laki laki bahkan sebagai seorang suami di pertaruhkan, ia tentu saja tak boleh dan tak bisa mengalah,
meski dirinya sudah babak belur.
Setelah beberapa menit keduanya bergelut dengan kasar dan penuh pukulan,
terdengar langkah kaki yang terburu buru masuk ke dalam rumah.
" Bocah brengsek..!!" tangan seorang laki laki menarik lengan dan mengangkat tubuh Rakha yang sedang memukul Yoga dengan bebas.
" Pyarr..!!! brakk..!!" dua suara bersamaan,tubuh Rakha di banting ke atas meja kaca yang berhiaskan kuda emas di setiap sisinya itu.
Rakha meringis, punggungnya terluka karena tergores salah satu hiasan kuda yang patah.
Seperti biasa, Damar selalu menjelma menjadi sosok yang menakutkan saat marah, kebijaksanaannya hilang.
" Bangun!" tegas Damar marah saat melihat Yoga menerima beberapa pukulan tanpa mampu membalas dan jatuh merosot begitu saja ke lantai, tenaganya untuk bertahan seperti terkuras habis saat melihat kedatangan Damar, ada rasa lega dalam hatinya, setidaknya saudaranya itu lawan yang seimbang untuk Rakha.
Kinanti yang baru saja masuk buru buru membawa Dinda ke dalam dan menjauhkannya dari situasi menegangkan di ruang tamu.
__ADS_1
Damar menatap Yoga dan Rakha bergantian dengan pandangan kesal, yang satu payah, yang satu tidak tau diri, ia sungguh geram sekali.
Melihat Yoga yang masih terduduk lemas di lantai Damar menarik lengannya,
" bangun ku bilang..!" tegas Damar kesal melihat adiknya itu babak belur tak berdaya.
Setelah Yoga bangkit perlahan,
Damar beralih ke Rakha yang merayap bangkit.
" Kau mau sok jagoan disini?!" ujarnya tajam sembari menginjak dada Rakha sehingga laki laki itu jatuh terbaring kembali di atas pecahan kaca, tata krama Damar sudah hilang.
" Jangan ikut campur..?!" suara Rakha keras kepala, masih tak mau mengalah meski sudah di bawah kaki Damar.
" Enak sekali mulutmu bicara, sudah membuat kekacauan disini tapi masih angkuh?! bangun..! ayo bangun..?! adikku bukan lawan yang seimbang untukmu.." ujar Damar mengangkat kakinya.
" Ayo bangun, lanjutkan denganku.." imbuh Damar membuat Rakha tertegun,
saat ia bangkit, barulah dirinya bisa melihat wajah Damar dengan jelas.
" Sen.. senpai?!" suara Rakha membuat Damar kebingungan, amarahnya sedang berkobar sekarang, malah laki laki yang sudah menghajar habis adiknya ini memanggilnya dengan sopan tiba tiba disertai anggukan kepala yang dalam,
apalagi itu sebutan yang sudah lama tidak ia dengar semenjak ia lulus kuliah.
Ia memang pernah menjadi asisten pelatih salah satu tempat karate, tapi itu sudah lama sekali, tidak mungkin ia bisa mengingat wajah wajah anak SMP dan SMA yang sudah mulai dewasa.
Damar mengatur nafasnya, mudur dan meredakan dirinya.
" Kau siapa?!" tanya Damar dengan suara masih menyisakan kesal.
" Rakha senpai..?!" jawab Rakha dengan sikap hormat.
Yoga yang sedang merasakan sakit di bagian wajahnya itu malah tertawa melihat pemandangan di hadapannya.
" Sialan.. aku di hajar muridmu.. sialan kau mas.." ujar Rakha tersenyum kecut.
" Rakha siapa! aku tidak kenal, jangan sembarangan memanggilku!" tegas Damar.
" Saya Rakha senpai, anak pak Herman yang beberapa kali senpai antar kerumah kalau tidak di jemput pulang karate, waktu itu saya baru lulus SMP senpai lupa?" jelas Rakha sembari masih menahan sakit di punggungnya.
Damar masih samar samar, membuat Rakha mencari ingatan lagi pada masa itu.
" Saya Rakha yang di tinggalkan ibu dan hanya hidup dengan ayah saya saja senpai,
karena ayah sering pulang kerja malam dan telat menjemput, senpai beberapa kali antar saya pulang kerumah,
yang di gang.." belum selesai Rakha bicara,
" Astaga...." Keluh Damar memegang dahinya, ia ingat, ia ingat siapa yang ada di hadapannya sekarang.
" Kau Rakha yang itu.." Damar tak percaya anak kecil yang seperti tak bisa besar itu bisa tinggi dan gagah begini.
" Maafkan saya senpai..? saya tidak tau kalau.." ucapan Rakha terhenti, kepalanya tertunduk dalam sedalam dalamnya.
Damar yang masih terkejut memandang Yoga lagi,
namun Yoga hanya menggeleng pelan, sepertinya tenaganya sudah benar benar habis.
" Aku tidak merasa pernah mengajarimu untuk berbuat hal memalukan semacam ini..?" Damar bertanya dengan tegas meski masih diliputi keterkejutan, di hadapannya ini adalah salah satu anak yang paling ia kasihani saat itu.
Meski ia di besarkan dengan baik dan cukup, namun dia sering di ejek karena ibunya pergi meninggalkannya dan lari dengan laki laki lain, kasarnya dia di telantarkan oleh ibunya, sama seperti Bagas.
" Jangan karena kau merasa ibumu di rebut darimu..
lalu sekarang kau ingin merebut milik orang lain.." imbuh Damar dengan hati yang juga pedih, sesungguhnya ia tak sampai hati,
namun terpaksa ia mengatakan hal itu,
__ADS_1
karena terlalu marah dan kecewanya ia pada apa yang ia temukan sekarang.