
Damar naik motor matic Dinda yang cukup kecil bodynya itu menyusuri jalanan Dayueh kolot, mencari pasar yang di katakan Dinda.
Tubuhnya yang tinggi dan besar membuatnya terlihat sedikit lucu dengan motor Dinda, belum lagi helm berwarna pink yang ia pakai sekarang.
Udara masih terasa dingin, karena hari masih subuh, langit pun juga masih tampak abu abu kehitaman.
Namun demi rasa penasarannya, ia harus segera menemukan apotik.
Dan setelah mengambil perjalanan lebih dari 15 menit, karena Damar sempat nyasar, Apotik itu di temukan.
" Ada alat tes kehamilan?" tanya Damar pada mbak mbak penjual, masih dengan helm pink di kepalanya.
" Merek apa ya?" tanya si mbaknya dengan penekanan logat sundanya,
" Yang paling bagus!" jawab Damar, karena ia memang tidak tau tentang alat tes kehamilan, merk yang paling bagus di rasakan pilihan yang tepat untuk sekarang.
Dinda duduk di ruang tamu, dengan kopi panasnya saat Damar tiba dirumah kontrakannya.
Laki laki itu buru buru turu dari motor dan masuk kedalam kamar, tingkah lakunya seperti tidak ada Dinda saja di dalam rumah.
" Sayang? sudah tidurnya, ayo bangun?!" suara Damar masuk ke dalam kamar.
Ia membangunkan paksa istrinya yang masih terlelap itu.
" Kinanti? Kinanti?!" panggil Damar berkali kali tapi Kinanti hanya membolak balikkan badannya, perempuan itu masih tidak mau bangun.
Damar yang sudah tidak sabar tanpa banyak bicara lagi membungkus tubuh istrinya dengan selimut, lalu menggendongnya.
Kinanti yang merasakan tubuhnya di angkat sayup sayup membuka mata.
" Mas?!" protes Kinanti kebingungan, tau tau Damar sudah menggendongnya keluar kamar.
" Mas?!" protes Kinanti lagi tapi Damar tetap saja membawanya keluar kamar.
Dinda yang baru saja menyeruput kopinya langsung tersedak melihat Kinanti yang tubuhnya di lilit selimut itu di gendong keluar.
" Apa yang..uhuk uhukk!! uhukk!!" Dinda terbatuk batuk hebat.
" Kalian..?! uhukkk uhukkk!!" selain tersedak, ia juga kaget melihat pemandangan di hadapannya.
Sementara Damar tak memperdulikan apapun, laki laki itu berjalan saja lurus ke kamar mandi.
" Apa apaan ini mas?!" Kinanti melotot, namun tak di gubris oleh Damar.
Di turunkan istrinya itu di atas lantai kamar mandi.
" Cepat.." suara Damar tenang namun tegas, ia menyerahkan sebuah kantong kresek hitam yang di dalamnya ada alat tes kehamilan pada Kinanti.
Dengan raut wajah bingung Kinanti menerimanya.
" Tes saja.. kalau memang tidak, berarti kau harus kerumah sakit, ada yang aneh di perutmu, apa kau tidak merasakan tubuhmu semakin kurus, tapi perutmu berisi.." ucap Damar dengan raut wajah setenang mungkin, meski hatinya tidak setenang itu.
__ADS_1
Sementara kata kata Damar membuat Kinanti mulai sadar, wajahnya tegang seketika.
" Aku akan menunggu di sini.." ujar Damar menutup pintu kamar mandi itu dan membiarkan istrinya itu di dalam sendiri.
Sementara Dinda yang sudah tidak bisa bersabar lagi bangkit dan berjalan ke tempat dimana Damar berada, yaitu depan pintu kamar mandi.
" Mas? bisa kita bicara?" suara Dinda menahan kesal, ia mengajar Damar ke ruang tengah.
" Mas, saya tidak melarang sampean bermesraan, tapi jangan begitu jugalah.." protes Dinda.
Mendengar kata kata Dinda, Damar juga baru tersadar,
ini adalah rumah Dinda, mereka sedang menumpang, seharusnya dirinya dan istrinya harus lebih bisa menahan diri dan tidak membiarkan Dinda merasa tidak nyaman di dalam rumahnya sendiri.
" Maaf mbak, saya keterlaluan ya.." suara Damar halus, namun rautnya masih khawatir.
Mendengar kata maaf Damar, mau tidak mau Dinda luluh juga, kekesalannya melihat kelakuan Damar tadi berangsur hilang.
" Ya sudahlah.." ucap Dinda berbalik dan berjalan meninggalkan Damar, ia kembali pada kopinya yang berada di ruang tamu.
Terdengar suara pintu kamar mandi terbuka, Damar buru buru mendekat.
Di lihat sosok istrinya yang keluar dari kamar mandi dengan selimut yang diangkat agar tak terkena air.
Di awasi wajah istrinya yang lebih ke arah sedih itu, pandangannya tertunduk dan tak terucap apapun dari mulutnya.
Menilai itu Damar menghela nafas dan tersenyum mengerti,
Dengan tangannya yang kuat Damar mengendong kembali tubuh istrinya, dan membawanya ke dalam kamar.
Dinda yang melihat keduanya lewat di hadapannya hanya bisa menggeleng gelengkan kepala.
Sesampainya di kamar Damar mendudukkan istrinya itu di atas tempat tidur.
" Pakai bajumu.. tidak usah masak, kita beli sarapan saja.." ujar Damar sembari mengambil Daster istrinya di ujung tempat tidur.
Damar menarik selimut yang menutupi tubuh istrinya, dan dengan hati hati memakaikan daster pada istrinya.
Melihat istrinya yang diam saja, Damar duduk disamping istrinya.
" Kenapa Nan? ada yang tidak nyaman?" tanya Damar menghela wajah istrinya yang sedari tadi tertunduk.
Betapa terkejutnya Damar melihat air mata yang mengalir di kedua sudut mata istrinya.
" Kenap menangis? aku tidak akan kecewa dan marah?" Damar buru buru memeluk istrinya, ia benci melihat air mata di wajah istrinya, hatinya sakit sekali.
" Tidak ada anak juga tidak apa apa.. kalau memang Tuhan hanya mentakdirkan kita berdua saja sampai tua tidak masalah bagiku..
aku mencintaimu Nan.. jangan khawatirkan apapun itu.." Damar erat memeluk Kinanti.
Setelah beberapa menit, Kinanti tak juga berhenti menangis, Damar semakin resah akan hal itu.
__ADS_1
" Apa yang kau tangisi.. sudahlah.. aku akan selalu disampingmu sayang.." ucap Damar melepas pelukannya dan mengusap air mata di wajah istrinya.
" Aku menangis bukan karena sedih.." suara Kinanti lirih,
" Lalu..?" tanya Damar masih menyentuh kedua pipi istrinya.
Kinanti menyerahkan alat tes kehamilan yang sejak tadi di genggamnya pada Damar.
Damar menolaknya karena tak ingin melihatnya.
" Buang saja.. aku tidak perlu melihatnya.." suara Damar pelan.
" Lihatlah mas.." ujar Kinanti masih dengan air mata di sudut matanya.
Melihat wajah istrinya yang seperti memohon, dengan berat hati Damar mengambil alat tes kehamilan yang di belinya pagi buta itu.
Dengan Nafas yang berkali kali di hela, ia melihat alat yang berbentuk panjang dan berwarna putih itu.
Matanya berkali kali mengerjap, ia tercekat melihat dua garis yang di tunjukkan oleh alat tes kehamilan itu.
Kepalanya reflek menggeleng tak percaya sembari menatap istrinya.
Matanya penuh memerah,
" coba periksa lagi, aku beli 3 Nan..?" katanya masih tak percaya.
" Sudah mas, hasilnya sama semua.." jawab Kinanti sembari mengangguk pasti.
Damar buru buru melihat hasil untuk kedua alat yang lainnya, dan benar saja, hasilnya sama.
Laki laki itu menutup wajahnya dengan satu telapak tangannya dan terdiam cukup lama.
" Lalu kenapa kau menangis?" tanya Damar kemudian, terlihat juga air mata di sudut matanya.
" Sama seperti mas.. karena aku terlalu bahagia.." jawab Kinanti,
" Maafkan aku ya.. tidak menjagamu baik baik.. malah meninggalkanmu saat hamil, aku suami yang buruk.." Damar memeluk istrinya, menyampaikan sekali lagi penyesalannya.
" Aku bersalah padamu.. aku tidak mempercayaimu.. padahal kau sudah memberikan hadiah yang besar untukku.." Sekarang Damar yang tidak bisa menahan air matanya.
Di peluknya istrinya itu se erat mungkin karena rasa bersalah dan juga bahagia.
Sementara Dinda yang duduk di luar hanya bisa bersandar di dinding.
Ia tak tau benar apa yang terjadi pada kedua suami istri itu.
Padahal barus saja Dinda melihat keduanya bermesraan dan bergendong gendongan.
Tapi sekarang, ia bisa mendengar suara tangis keduanya dari dalam kamar.
" Ah.. astaga... kehidupan rumah tangga yang membingungkan.." keluh Dinda lalu menghabiskan kopinya.
__ADS_1