Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
siapa ini?


__ADS_3

Damar menyusul istrinya masuk ke dalam kamar setelah Yoga pergi.


" Wah.. mas baru tau lho Nan.." suara Damar tiba tiba saja berbaring disamping Kinanti.


" Apanya?" Kinanti berbalik menatap suaminya yang kembali bertelanjang dada.


" Kok apa.. ya mas baru tau kalau tetangga Dinda yang di bandung itu terlihat gagah, muda dan menawan di matamu.." Kinanti menangkap wajah yang sedikit masam,


" wah.. bisa ya mas? kalimat itu kan aku peruntukkan untuk Yoga agar dia sadar diri?" jelas Kinanti tak habis pikir kalau kata kata itu menjadi pikiran suaminya.


" Tetap saja, kalau kau bisa mengatakan dia gagah dan muda, berarti kau memperhatikannya.."


" Astaga..." Kinanti tertawa,


" oh.. jadi bapak cemburu??"tanya Kinanti meski sesungguhnya dirinya sudah tau kalau Damar cemburu.


" Buat apa cemburu pada anak kemarin sore.." jawab Damar gengsi.


" Oh ya?, benar tidak cemburu pada anak kemarin sore?" goda Kinanti sengaja.


" Tidak, lihatlah suamimu yang matang, bijaksana dan penuh kasih sayang ini..?" Damar menepuk otot perutnya dan lengannya.


" Apa aku masih kurang gagah untukmu?"


mendengar pertanyaan semacam itu membuat Kinanti geli, sejak kapan suaminya ini berubah narsis sekali.


" Tentu saja suamiku yang paling gagah.." ujar Kinanti menjatuhkan diri ke pelukan suaminya, tidak hanya sekedar untuk menyenangkan hati Damar, namun dalam pandangan Kinanti, memang suaminya itu yang paling istimewa.


" Tentu saja.. jangan ada laki laki gagah lain diantara kita.." Damar mengecup istrinya, entah Damar serius atau bercanda, karena semenjak Kinanti hamil, sikap dan omongannya terkadang di luar kebiasaannya.


Kapan hari Damar malah teler seharian, besoknya dia yang mual mual tidak jelas gara gara si yuk menggoreng ikan dan memanaskan bakso.


Hanya dengan uap masakan saja bisa membuatnya tak bertenaga.


" Kau benar benar tidak merestui mereka misal mereka saling suka?" tanya Damar tiba tiba.


" Ah..! sama sama suka dari mana? Yoga itu berhalusinasi.." Kinanti tetap saja kesal pada Yoga rupanya.


Damar menghela nafas,


" sayang..?" panggilnya,


" hemm...iya mas.."


" jangan jengkel jengkel pada Yoga.."


" lha kenapa? ya masa aku tidak boleh kesal pada orang yang sudah membuat masalah??!"


" bukan begitu... kau kan sedang hamil, aku takut.."


" takut apa??"


" mitos orang jawa kalau orang hamil benci berlebihan pada seseorang, makan wajah anak yang di lahirkannya akan mirip dengan orang yang di bencinya selama hamil.."


Kinanti bangkit dan duduk,


" Aku kan tidak benci, hanya kesal?"


" Ah.. tetap saja...aku tidak akan terima kalau wajah anakku lebih mirip Yoga.."


Damar menarik kembali istrinya agar merebahkan diri disamping Damar.


" Mulai sekarang bersikaplah yang normal..

__ADS_1


bersabarlah sebentar, Kita akan segera pindah dari sini, ada sedikit kekurangan di rumah baru kita.." ujar Damar mengelus rambut Kinanti dengan jemarinya.


Dinda yang tidak bisa tidur membolak balikkan tubuhnya.


" aduhh..." keluhnya sembari mengacak acak rambutnya.


Ia kesal sekali, karena ciuman Yoga beberapa hari yang lalu rasanya masih begitu jelas di ingatannya.


" Sialan.." keluhnya lagi, bibir Dinda sudah menjomblo bertahun tahun, semenjak bercerai tidak ada satu laki lakipun yang berani menjamahnya.


Si Yoga sialan itu malah menciumiku seenaknya, tidak cukup sekali, malah mengulanginya beberapa kali seperti orang yang menahan lapar bertahun tahun! batin Dinda benar benar kesal.


Ah...tidak tau.. selain kesal hatinya juga berdebar, ada yang berdesir dengan hebat.


Tidak hanya dirinya, detak jantung Yoga yang cepat itupun dapat di rasakan oleh Dinda kerena begitu dekatnya mereka saat itu.


" Arghhhhh!!!" Dinda menutup wajahnya dengan bantal.


" Laki laki kurang ajar itu pasti membuatku menjadi bahan pelampiasannya..!" Dinda membolak balikkan tubuhnya dengan gerakan kasar, ingin mengusir keresahan yang bercampur kekesalan itu.


Tapi tak lama berselang, HP Dinda berbunyi, nomor tidak di kenal.


" Malam?" jawab Dinda tenang,


" belum tidur?" suara Yoga yang kalem itu seperti gong di telinganya, Dinda berjingkat bangun demi keterkejutannya.


" Siapa ini?" tanya Dinda ingin memastikan, takutnya dirinya berhalusinasi.


" Bisa bisanya kau lupa padaku.. padahal belum seminggu aku menciummu.." benar, itu Yoga.


Rahang Dinda mengetat, di tahan dirinya.


" Tau dari mana nomorku?" suara Dinda setenang mungkin, ia tak mau keresahannya terbaca oleh Yoga.


hanya saja, aku baru berani menghubungimu sekarang.." jelas Yoga.


" Oh.. sial?" gumam Dinda terdengar,


" oh sial? itukah yang harus ku dengarkan setelah lebih dari sejam ku bolak balik HP ku? aku perlu mengumpulkan keberanianku untuk menghubungimu, andai kau tau itu?" suara Yoga terdengar kecewa.


" Apa yang mengharuskanmu menghubungiku? seperti aku punya hutang padamu saja?!" balas Dinda.


" Ah, tidak pantas di katakan hutang.. kau bahkan merampokku.."


" Merampokmu?! aku?!"


" Yah.."


" edann! aku tidak pernah berbuat hal semacam itu! memangnya apa yang kurampok darimu?!" sanggah Dinda tegas.


Untuk beberapa detik tak ada jawaban dari Yoga, akan tetapi beberapa detik kemudian terdengar sebuah jawaban.


" Apa yang sudah kau rampok? tentu saja hatiku.." Suara Yoga terdengar begitu lembut seakan menggoda Dinda.


Sial.. umpat Dinda lagi dalam hati, laki laki ini tidak hanya ganteng, tapi mulutnya juga manis.


" Tidak ada perempuan lain yang bisa kau rayu?" tanya Dinda datar, berusaha terlihat biasa saja meski hatinya sedikit tergoyahkan di dengan gombalan Yoga.


" Tidak ada perempuan yang pantas ku rayu selain kau.." jawab Yoga lagi masih halus.


" Dasar.. laki laki bermulut manis, sudah berapa perempuan yang kau taklukkan dengan mulutmu yang.."


" dok! dok! dok!" belum selesai Dinda bicara terdengar suara pintunya di ketuk dengan keras.

__ADS_1


" Dinda?!!!" suara Roni melengking dari luar rumah.


" Brak! brak! brak!!" suara pintu dan kaca yang di ketuk dengan keras terdengar oleh Yoga dari balik telfon.


" Ada apa? suara ribut siapa itu??" tanya Yoga khawatir.


Dinda tidak bangkit dari tempat tidur meski ia terkejut.


" Biarkan.. kalau mabuk selalu begitu," jawab Dinda dengan nada suara yang sudah berbeda, terselip sedikit ketakutan.


" Mantan suamimu?!" suara Yoga meninggi,


" Tidak waras!" imbuh Yoga,


" Biarkan, sebentar lagi juga dia pergi.."


" Ah... bisa gila aku memikirkanmu kalau begini?!" suara Yoga benar benar terdengar cemas.


" Sudah kau kunci semua pintumu?" tanya Yoga kemudian,


" tentu saja sudah,"


" Bagaimana kalau dia mendobrak? orang mabuk kan ngawur?!"


" Tetanggaku tidak akan diam saja,"


" Ah! omong kosong tetangga! bahkan ibumu saja tidak membelamu? bagaimana aku bisa tidur malam ini Adinda??".


Dinda heran, kenapa laki laki ini berlebihan sekali, bukankan tidak perlu sampai seperti ini jika hanya ingin menggodaku dan melampiaskan kekecewaannya pada Kinanti?.


" Aku kesana ya? ku jemput..?" suara Yoga benar benar resah.


" Jangan aneh aneh, ini sudah malam, lagi pula aku tidak apa apa, dia tidak masuk kerumah,"


Terdengar Yoga menghela nafas,


" Oh Dinda.. aku tak akan bisa tidur jika tak menjemputmu? aku akan benar benar menyesal jika sampai terjadi sesuatu padamu..? kumohon biarkan aku menjemputmu??" pinta Yoga, laki laki itu memohon.


" Kenapa kau begini? bukankan kau hanya ingin menjadikanku pelampiasanmu?" tanya Dinda akhirnya sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya,


membuat Yoga tercekat sejenak,


ia tak percaya akhirnya kata kata itu keluar juga dari mulut Dinda.


" Baguslah.. semua orang menganggapku menjadikanmu pelampiasan, termasuk dirimu sendiri.. sangat luar biasa.." Suara Yoga bergetar.


" Tentu saja, lalu maksudmu apalagi?"


" apakah aku serendah itu di matamu? sehingga sanggup menjadikan mu pelampiasanku?!" suara Yoga lagi lagi bergetar terdengar terluka oleh kalimat Dinda.


" Dan perkara maksud, kau tanya maksud ku?


kau bahkan masih bertanya apa maksudku setelah aku melamarmu dan menciumimu seperti itu??"


Dinda di ingatkan lagi akan ciuman itu, pipinya panas seketika, rasanya benar benar masih melekat.


Untung saja Yoga saat ini tidak bisa melihat wajahnya yang bersemu merah.


" Sudahlah...hentikan sementara perdebatan kita, kau boleh mendebatku lagi nanti..


aku akan menjemputmu malam ini juga.. titik!


jadi siapkan segala keperluanmu.." suara Yoga terdengar lebih tegas dan serius.

__ADS_1


__ADS_2