Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
siapa?


__ADS_3

Mobil Yoga berpapasan dengan mobil Yusuf,


" Lho?!" Yoga membuka kaca mobilnya.


" Besok saja kesini lagi, ada janji dengan mas Damar mas..?!" ujar Kaila.


" Ya sudah.. hati hati!" jawab Yoga sembari mengangguk.


Yoga memarkirkan mobilnya di garasi, sembari keluar dari mobil, ia mengawasi motor matic yang biasanya di gunakan oleh istrinya.


" Tetap posisinya seperti tadi pagi.." ucapnya tenang dalam hati.


Laki laki berkemeja putih itu berjalan memasuki ruang tamu.


" Papa.." sapa Bagas yang sedang bermain game di atas sofa.


" Mana mama?" tanya Yoga mendekat, setengan berbisik ada putranya.


" Mama di kamar, mama masih sakit pa?"


" mama sudah mendingan, tadi mama makannya lahap tidak?"


" sedikit pa.. mama melamun terus, Bagas ajak bicara sering tidak jawab.."


" eh.. kenapa begitu??"


" papa sih?! tante itu yang buat mama sedih?! jangan boleh kerumah lagi, setiap tante itu kerumah, mama Bagas sedih..!" protes Bagas,


" memangnya kesini lagi??"


" iya! ngomong sama mama, mau ajak Bagas pergi juga tadi pa?!" Bagas terlihat serius, ia sampai menaruh HPnya dan menatap papanya lurus.


Yoga terdiam sejenak,


" Bagas dengar mereka bicara?" tanya Yoga hati hati pada putranya,


" tante itu marah marah ke mama, terus bilang Bagas bukan anak mama.." Bagas terdengar sedih.


" Apalagi yang Bagas dengar?" tanya Yoga dengan raut wajah yang mulai muram.


" Banyak pah.. tante itu pokoknya marah marah sama mama.." jawab Bagas jelas.


Yoga menghela nafas berat, ia sudah lelah dengan pikirannya seharian ini, sekarang di tambah lagi Vania membuat masalah,


sepertinya ia memang harus tegas,


kalau terus seperti ini, rumah tangganya akan berantakan.


" Hemm... ya sudah.. papa mandi dulu ya..." Yoga mengelus kepala putranya sejenak,


lalu kembali berjalan ke kamarnya dengan langkah yang berat,


rasanya ia tak sanggup melihat wajah istrinya,


dan sudah bisa di pastikan, suasana di dalam kamar akan semakin tidak menyenangkan untuknya.


" Sudah makan?" tanya Yoga ketika sudah di dalam kamar, ia mencoba mencairkan suasana.


Istrinya sedang duduk disamping jendela dengan HP di tangannya.


" Sudah.." jawab Dinda tanpa menoleh pada suaminya.


" Chating siapa? sibuk sekali sepertinya?" Yoga mendekat dan matanya ikut menatap layar HP Dinda.


Dinda tak perduli, ia tetap sibuk dengan HPnya.


" Masih juga sibuk kerja, padahal aku menyuruhmu istirahat.." Yoga menggerutu saat tau istrinya itu sedang sibuk membicarakan barang barang yang ia jual.


Dinda tak menjawab, susana kembali hening.


Yoga yang faham betul dengan situasi segera menjauh, dan mengganti bajunya.


Setelah mandi Yoga masih menemukan istrinya tak berkutik di tempat yang sama.

__ADS_1


Andai saja ia tak mendengar dari putranya kalau mantan istrinya datang kerumah ini,


mungkin Yoga sudah memberondong Dinda dengan berbagai pertanyaan saat ini,


tentunya tentang laki laki bernama Rakha itu.


Tapi karena keadaan sedang tidak memungkinkan sekarang, lebih baik Yoga diam dan meredamnya.


Keesokan harinya Yoga kembali ke toko, ia memang sengaja.


Ia duduk beberapa lama, bahkan makan siang di meja kerja Dinda.


Beberapa pegawai sampai heran, memangnya suami bosnya itu tidak ke klinik untuk bekerja,karena terkadang jam makan siang sudah lewat pun Yoga masih diam di meja kerja Dinda.


Telfon tiba tiba berdering, satu orang pekerja menjawab telfon itu.


" Siapa?" tanya Yoga setelah si pegawai meletakkan gagang telfon itu kembali.


" Ee.. itu pak.." si pegawai enggan menjawab,


" siapa?" wajah Yoga serius,


" itu pak.. orang yang kemarin mencari ibu.."


" dia telfon terus setiap hari?" tanya Yoga dengan wajah terheran heran.


" Iya pak.."


" astagaa..?!" gumam Yoga kesal.


" memangnya semendesak apa sih urusan dia dengan ibu?" tanya Yoga kesal.


" Maaf pak.. setau saya urusan dagang biasa.. ibu juga selalu biasa biasa saja kok pak.. harap bapak jangan salah paham pada ibu.."


Yoga diam mendengar penjelasan pegawainya.


Entah apa yang ia pikirkan, yang jelas wajahnya terlihat tidak nyaman,


yah...siapa juga yang nyaman, ada laki laki gila yang tidak jelas sesungguhnya ada urusan apa mencari istrinya terus,


Yoga memarkirkan mobilnya di parkiran karyawan.


" Sudah makan siangnya dok?" tanya salah satu perawat di lobby klinik saat Yoga berjalan masuk.


" Sudah." jawab Yoga berlalu begitu saja.


" Wahh.. kenapa dokter Yoga?"


" sedang tidak dalam mood yang baik sepertinya.. sudah jangan di ganggu.." para perawat saling berbicara, mereka heran, Yoga yang kalem dan murah senyum berubah menjadi muram setelah makan siang.


" Aduhh.. wajahmu makin kau tekuk saja.." komentar rekan seprofesinya.


" Ahh.. tidak tau lah.." jawab Yoga duduk di salah satu kursi pantry.


" Istri cantik begitu.. anak sehat.. mikir apalagi..?" rekannya sedang membuat teh hijau,


" Ah.. tidak tau, kesal rasanya.." Yoga melipat kedua tangannya di dada.


" Kesal kenapa?"


" aku sedang dalam situasi yang kurang menyenangkan..


mantan istriku mengusikku dan anakku..


lalu istriq uring uringan saja terus..


belum cukup itu..


tiba tiba ada seorang laki laki yang menyebalkan mengejar ngejar istriku..


kalau kau jadi aku apa tidak kesal?"


mendengar keluhan Yoga rekannya itu tersenyum sambil menyeruput tehnya.

__ADS_1


" Baru dua tahun.. wajar.. kalau sudah lima tahun ke atas kau pasti akan lebih tenang dalam kondisi seperti ini.."


" Ahh..! mana bisa..!"


" bisa.. dulu rumah tanggamu yang pertama juga cuma seumur jagung kan..


kau belum benar benar matang menjalani rumah tangga..


bersabar dan selalu menjalin komunikasi yang baik itu kuncinya.."


" sudah.."


" apanya sudah?"


" ya komunikasi yang baik itu.."


" mosok?" tanya si senior tersenyum simpul,


" ngasih nasehat apa ngejek?"


" nah itu.. kurang sabar.."


Yoga terdiam, ia tertunduk untuk meredakan kekesalannya.


" Kau takut kan? kau takut istrimu mencari pelampiasan karena jenuh?" ucap si rekan yang juga seniornya itu seakan membaca pikiran Yoga.


Yoga mengangguk pelan,


" Nah.. sebelum itu terjadi, potong penyebab permasalahan ini..


mantan istrimu itu, kau harus bisa segera menyelesaikannya.." imbuh si senior.


" Aku sudah memikirkan hal itu, hanya saja aku bingung harus mengawalinya dari mana..


perempuan itu berkata setelah berpisah dariku dan menikah lagi, dia tidak pernah hamil sekalipun..


karena itu dia berpikir untuk mengunjungi Bagas dan menjalin hubungan baik,


tapi lama kelamaan di menginginkan hal yang lebih..


bahkan menurutku dia tidak hanya ingin mengambil Bagas, tapi ingin kembali menjadi nyonya rumah,"


" nah itu peka.."


" peka, tapi bingung juga kalau istriku susah di ajak bicara begitu.." keluh Yoga.


" Bukan susah.. tapi harus pintar pintar mengambil hatinya.. pada dasarnya semua akan terbuka ketika merasa nyaman.."


" maksudmu aku tidak membuat istriku nyaman?"


" mungkin metodemu kurang tepat..


yang paling penting jangan menunjukkan kuasamu sebagai seorang suami,


posisikan dirimu sebagai seorang teman, sahabat.. sehingga dia merasa nyaman untuk mengungkapkan segala isi hatinya.. uneg unegnya padamu..


tanya dia, bagaimana baiknya.. ajak dia menyelesaikan segala permasalahan bersama sama.. sehingga di merasa di anggap ada dan di hargai.."


" aku berpikir dengan menyelesaikan segalanya sendiri akan lebih baik..


tidak membuat repot dan menambah beban pikirannya itu yang ku jaga selama dua tahun ini..


karena aku menyayanginya..


sudah banyak hal sulit yang ia lalui selama belum bertemu denganku..


itu membuatku ingin menjaganya dari kesulitan apapun.. termasuk dari beban pikiran.."


" mungkin hal itu baik menurutmu.. tapi belum tentu baik menurut istrimu..


dia bisa saja merasa tak di butuhkan.."


Yoga termenung tiba tiba tiba, kata kata seniornya membuatnya mampu melihat sudut pandang lain,

__ADS_1


ia tak pernah berpikir tentang hal itu selama ini.


Suasana pantry itu hening, seniornya hanya memandanginya sembari duduk disampingnya dan mengulas senyum beberapa kali, seakan ingin memberi tahu Yoga, bahwa dirinya sudah pernah mengalami hal semacam ini.


__ADS_2