
Sesampainya dirumah Kinanti terlihat lelah, namun setelah mandi di langsung sibuk di dapur lagi untuk menyiapkan makan malam.
Damar hany melirik saja tanpa berkomentar.
Setelah makan malam Damar bukannya beristirahat, dia malah pamit memeriksa orang orang di pabrik.
Kinanti yang tau kalau suaminya itu sengaja menyibukkan diri tak berkomentar apapun.
Kinanti sedang sibuk mengetik tugas anak muridnya ketika Kaila mengetuk pintu dan tau tau sudah duduk tak jauh dari Kinanti.
" Lha? kapan masuknya?" tanya Kinanti hampir terperanjat.
Namun Kaila tak menjawab, wajahnya begitu suram.
" Lho lho lho? kenapa?" tanya Kinanti menghentikan jari jarinya yang sibuk.
Di arahkan pandangannya dari laptopnya ke adik iparnya itu.
" Yusuf Jahat.." ucap Kaila tiba tiba,
" Lho? kok jahat? memangnya kenapa?" tanya Kinanti heran, tapi Kaila hanya terdiam sembari terus memasang wajah muram.
" Begini nduk.. Yusuf memang orangnya ceplas ceplos.. tapi dia baik, kadang memang sedikit kasar perilakunya, tapi dia tidak bermaksud seperti itu.. pahamilah ndukk..
soal mobilmu, dia tanggung jawabkan?" jelas Kinanti karena mengenal Yusuf sejak kecil.
" Bukan perkara mobil.."
" lalu?"
Kaila diam lagi,
" lha.. dari mana mbak tau permasalahannya kalau diam begini?"
" Jangan bilang mas Damar ya?" ujar Kaila pelan.
Kinanti tak menjawab, namun dia mengangguk pasti.
" Aku kan pura pura pacaran sama Yusuf mbak, karena takut rahasia masa lalu mbak dan mas Yoga terbongkar gara gara Yusuf memukul mas Yoga saat itu.."
Kinanti mengangguk, pertanda ia memahami.
" Selama ini dia kan selalu jutek, sinis dan sebagainya padaku.. pokoknya nggak ada manis manisnya mbak, lha kok tiba tiba.."
Kaila menceritakan semua yang terjadi di antara dirinya dan Yusuf pada Kinanti,
sedetail dan sejelas mungkin.
" Jahat sekali kan mbak? di sengaja ingin mempermainkan aku..
atau jangan jangan dia mau membalas dendam padaku?"
" balas dendam apa?" Kinanti mengerutkan dahinya.
" Atas perbuatan mas Yoga padamu??"
Kinanti langsung tersenyum mendengar itu.
" Yusuf tidak begitu.." ujar Kinanti,
" Lagi pula.. balas dendam adalah pemikiran yang bodoh, kau adalah adik mas Damar.. jadi kalau dia menyakitimu, yang akan dia hadapi bukan Yoga, tapi mas Damar..
sampai disini kau faham nduk?"
" faham mbak.. tapi pikiran buruk mengelilingiku..
andai kata dari awal kenal dia tidak galak begitu, dan dia tidak sebenci itu pada mas Yoga..mungkin aku tidak akan berpikir seburuk ini padanya.."
Kinanti tersenyum lagi,
" Yusuf itu sulit di dekati wanita.. dan dia pun pemilih..
jadi ku kira.. yang dia ungkapkan padamu itu sesuai dengan apa yang dia rasakan.."
Kaila diam mendengar itu, ia tertunduk bimbang.
" tapi tetap saja.. aku merasa dia mempermainkanku.." ucapnya lirih.
" Dari mananya sih nduk? Yusuf selalu berwajah serius begitu?"
" Dia mendadak genit dan agresif.. seram sekali mbak.."
Kinanti tergelak mendengar kalimat Kaila itu.
" Lalu maumu bagaimana?"
" Apanya?"
" Ya pernyataan cinta Yusuf?"
" Ah.. aku bingung?" jawab Kaila,
" lho? kok bingung?? berarti ada rasa suka juga dong??" goda Kinanti,
__ADS_1
" Ah! mbak, bukan begitu?!"
" lalu?"
" Aku.. aku masih terlalu kaget mbak, jadi aku tidak bisa memahami perasaanku untuk saat ini.." jawab Kaila.
" Bukankan kalau tidak suka tinggal menolak saja..?" Kinanti terus menggoda.
" Apa mau aku bicara pada Yusuf?" tanya Kinanti,
" untuk apa mbak?"
" Keseriusannya lah.."
Kaila lagi lagi terdiam dan berpikir.
" Dia... sempat membicarakan perkara pekerjaannya..
dia bilang sudah membeli sebuah tanah, dan sedang bersiap siap untuk membangun rumah..
dia bilang ingin dirinya dan istrinya hidup mandiri berdua tanpa embel embel orang tua.."
Kinanti lagi lagi tertawa mendengarnya.
" Mbak kok tertawa terus sih?!" Kaila mulai kesal.
" Ya jelas aku tertawa, Yusuf bisa ya serius begitu padamu? padahal awal ketemu kalian seperti kucing dan anjing.."
" Jangan begitu mbak..?!"
" Lalu?? dia sudah pada tahap membicarakan itu, ku kira dia tak ingin membuang buang waktu..
usianya setahun di atasku, dan kurasa dia ada pada usia yang cukup untuk menikah.."
" aku masih semester dua mbak?! gila apa?!" Kaila melotot.
Dan Kinanti tak bisa berhenti tertawa melihat ekspresi Kaila.
" Yusuf bukan orang yang sabar.. tapi dia juga bukan orang yang sembrono.." ujar Kinanti setelah membiarkan Kaila lama berpikir.
" Aku.. aku sesungguhnya.. hatiku sedikit tergerak ketika dia mulai bersikap lembut kepadaku.." sahut Kaila,
" Aku takut.. impianku terputus karena ketidakfokusanku..
aku tidak ingin mengecewakan mas Damar yang sudah mengeluarkan Banyak uang untukku..?"
imbuh Kaila.
" Jadi kau mengaku kalau Yusuf membuatmu tidak fokus?"
" Begini saja.. ada baiknya kalian menjaga jarak sementara, gunanya untuk sama sama mempelajari perasaan masing masing..
takutnya itu hanya sebatas ketertarikan sepintas.." Ujar Kinanti memberi masukan agar Kaila lebih mempelajari perasaannya.
" Apa yang mas gelisahkan..?" tanya Umar ikut resah melihat ekspresi Damar yang kadang kadang mirip orang linglung itu.
Ia tak mau duduk di kantornya, malah duduk di atas tumpukan kayu yang belum di produksi.
Rokoknya terus mengebul, sembari tak jelas kemana arah pandangannya.
" Pulanglah mas.. kasian mbak Kinan kalau setiap malam di tinggal terus.." ucap Umar memberanikan diri.
" Saya tidak tau ada masalah apa.. tapi saya hafal sekali, mas selalu seperti ini saat ada masalah yang sulit..
jangankan berbincang..
bicarapun mas pelit..
saya sudah biasa.. faham sekali dengan mas..
tapi mbak Kinan?, kasian mas.. coba mas bicarakan sesungguhnya apa persoalannya..?"
" Diamlah.." potong Damar.
" Kau yang belum menjadi suami tak akan tau bagaimana rasanya..
jadi diamlah.." suara Damar tenang namun penuh penekanan, seakan akan ingin Umar tak banyak bicara, karena sesungguhnya Umar tak tau apa apa.
" Baiklah.. maafkan saya mas..
tapi.. jam lembur saya sebentar lagi habis..
saya kembali dulu ke gudang untuk merapikan semuanya lalu pulang.."
" Hemm, pulanglah.." jawab Damar tanpa menoleh pada Umar.
Setelah Umar pergi dari hadapannya, Damar hanya bisa tertunduk.
Sampai kapan harus ia sembunyikan rasa sakit hatinya ini terhadap istrinya dan adik nya itu.
Ia ingin marah, apalagi melihat keduanya yang selalu berpura pura tidak pernah mempunyai hubungan di masa lalu itu sungguh hebat.
Mungkin keduanya bisa menjadi bintang film karena kemampuan akting mereka.
__ADS_1
Damar mendengus kesal,
di injaknya putung rokoknya yang masih menyala itu hingga padam.
Sesungguhnya tak boleh ada yang merokok di dalam pabrik, namun di saat seperti ini, dia sendiri yang membuat peraturan, dan dia sendiri yang melanggarnya.
Seandainya ia tidak mempunyai trauma, mungkin dia akan lari ke gunung untuk menenangkan dirinya.
Saat Damar berjalan kembali ke teras rumahnya,
jam di HPnya sudah menunjukkan waktu tengah malam.
Dengan langkah lebar ia memasuki rumah.
Kinanti ternyata tak mengunci pintunya,
dan laki laki itu langsung ke kamar mandi untuk mencuci kaki dan tangannya.
Melepas kaosnya karena ia ingin menggantinya dengan kaos yang baru untuk tidur.
Namun belum ia masuk ke dalam kamar, dengan dada yang masih telanjang, dan otot perut yang terlihat berbuku buku itu, ia kembali berjalan ke ruang tengah.
Sorot matanya menyipit melihat istrinya tertidur dengan laptop yang masih menyala.
Melihat itu Damar berpegangan pada kedua pinggangnya, ia tak habis pikir, bisa bisanya Kinanti tidur dengan posisi terduduk seperti itu.
Apalagi pintu tidak terkunci sampai tengah malam.
" Bagaimana kalau Yoga masuk.." gumam Damar, bukan maling yang ia cemaskan, malah Yoga.
Tentu saja ia tak akan rela, membayangkan saja sudah membuat ya cukup marah.
Tapi Damar tau Yoga sedang tidak dirumah, jadi kecemasannya itu segera di buangnya jauh jauh.
Ia melangkah mendekati istrinya yang sedang pulas itu.
Meraih tubuhnya perlahan, dan menggendongnya ke arah kamar tidur mereka.
Ia tak mungkin membiarkan istrinya tertidur disana sampai pagi dan masuk angin.
Kinanti yang merasakan tubuhnya di angkat bergerak,
ia membuka matanya perlahan, dan menemukan dirinya dalam gendongan suaminya.
Wajah mereka begitu Dekat, membuat nafas Damar terasa di kening Kinanti.
" Maafkan aku mas.." suara Kinanti lirih, membuat langkah Damar terhenti dan memandang istri yang sedang dalam dekapannya itu.
" Kau terbangun?" tanya Damar,
" tidurlah lagi.." ucapnya kemudian dan kembali berjalan ke arah tempat tidur.
" Aku bilang maafkan aku..?" suara Kinanti lagi,
di sandarkan kepalanya di dada Damar yang hangat.
Damar merasakan gerakan demi gerakan Kinanti, nampak perubahan ekspresi Damar.
" Sudah, tidurlah kembali.." ujar Damar sembari membaringkan Kinanti ke atas tempat tidur.
Tapi Kinanti dengan kuat melingkarkan tangannya ke leher Damar, sehingga Damar kesulitan menurunkan Kinanti.
" Maksudnya apa? disuruh tidur kok malah..?" ucap Damar,
" tidak.. aku lelah terus di hindari.." sahut Kinanti,
" Siapa yang menghindarimu? lucu.." jawab Damar dengan Kinanti yang masih bergelayut padanya.
" Aku tau mas marah padaku.."
" Kenapa aku harus marah..?"
Damar mencoba tersenyum, dan keduanya berpandangan.
Cukup lama, sehingga mampu membangkitkan desiran desiran di hati keduanya.
" Mas satu satunya laki laki yang ku cintai.." ucap Kinanti setengah berbisik.
Suaranya seperti menari nari di telinga Damar, seakan sengaja menggoda.
" Apa mas sudah tidak secinta itu padaku?" imbuh Kinanti membuat Damar tak sanggup lagi menahan diri.
Rasa panas menjalari tubuhnya, begitu juga Kinanti, tentu saja ia rindu dengan sentuhan sentuhan lembut suaminya.
" Jangan mempertanyakan cintaku Kinanti.." tegas Damar sembari membaringkan tubuh Kinanti.
Namun bukan bangkit, Damar malah menindih tubuh istrinya.
Kinanti mengeluh karena merasakan kedekatan fisik yang sedang di lakukan Damar.
Kinanti menari leher Damar dengan mudah, karena kedua tangannya masih melingkar disana.
" Aku selalu kalah berhadapan denganmu.." keluh Damar tak sanggup lagi menahan diri, lalu dengan segera merenggut bibir istrinya itu.
__ADS_1
Dan bukannya menolak karena di acuhkan selama beberapa hari,
Kinanti malah menerima sentuhan demi sentuhan Damar dengan baik, bahkan membalas dengan agresif sehingga Damar semakin tenggelam.