
Kinanti memandangi keduanya, dirinya dirasa frustasi sekali.
Apalagi dengan pandangan Adisty yang memohon itu.
" Aku.." Haikal membuka suara, namun Kinanti dengan cepat menghentikannya.
" Sudah, cukup.." ujar Kinanti dengan tangan yang di arahkan kepada Haikal agar berhenti berbicara.
" Aku tau apa yang akan kalian katakan" ucap Kinanti, ia menghela nafas panjang.
" Kita akhiri saja ini semua Kal.. untuk urusan gedung dan persiapan dari pihak keluargamu tolong kau yang mengurus,
dan untuk urusan dari pihak keluargaku biar aku yang mengurusnya," nada Kinanti begitu tenang, membuat Haikal dan Adisty tertegun, bahkan keduanya memandang Kinanti tak percaya.
Padahal dari rumah Haikal sudah menyiapkan berbagai macam kalimat permohonan maaf, dan bahkan jika perlu ia akan berlutut pada Kinanti karena ia sudah memutusakan untuk kembali pada Adisty dan memperjuangkan cinta mereka berdua.
" Kau yakin Nan?" tanya Haikal dengan suara bergetar, ada haru yang menyelimuti hatinya.
" Bagaimana tidak.. kalian berdua bahkan berpegangan tangan di hadapanku..
kau kira aku mau hidup denganmu yang masih mencintai perempuan lain? bodoh jika aku terus bersikeras meneruskan pernikahan ini.." ujar Kinanti bersandar pada kursi.
" Mbak benar benar tidak apa apa?" tanya Adisty,
" Tentu saja aku kenapa kenapa, kau bahkan melihatku pingsan karena kejutan kalian.." jawab Kinanti terus terang, membuat Adisty tertunduk dalam.
" Apa yang bisa ku lakukan untuk menebus kesalahanku padamu mbak.. dan apakah aku layak meminta maaf??" ucap Adisty dengan mata berkaca kaca.
" Hiduplah dengan bahagia dan saling menguatkan, kelak jangan saling meninggalkan hanya karena hal hal yang sesungguhnya masih bisa di perjuangkan.." tak di sangka kata kata Kinanti membuat hati Haikal dan Adisty terguncang, keduanya benar benar tak menyangka Kinanti bisa mengatakan hal semacam itu pada Haikal dan Adisty yang sudah menyebabkan kerugian untuknya.
Adisty yang sudah tidak sanggup menahan kesedihannya menjatuhkan dirinya di pangkuan Kinanti, sembari menyembunyikan kepalanya, Adisty terisak.
" Maafkan ke egosianku ya mbak..?! aku sudah jahat merebut calon suamimu?!" suara Adisty di sela isak tangis.
Sementara Haikal hanya bisa terdiam dan ikut larut dalam kesedihan.
" Aku mencintai mas Haikal mbak.. ampuni aku ya mbak..?!" mohon Adisty lagi.
Kinanti hanya sanggup menghela nafas melihat apa yang Adisty suguhkan di depan matanya.
Sebagai sesama perempuan tentu saja ia faham bagaimana rasanya mencintai orang dengan perasaan yang begitu dalam.
Tapi diam diam dia juga merasakan kepedihan yang dulu pernah ia rasakan.
" Tak apa.. sudahlah.." ucapnya dalam hati, menenangkan dirinya sendiri.
Dua kali sudah calon suaminya diambil orang..
Tapi kali ini Kinanti tak menangis, hatinya malah begitu lapang dan ikhlas.
Melihat keduanya bersatu ia malah merasa tenang.
Dengan sedikit enggan di angkat tangannya, membelai kepala Adisty.
__ADS_1
" Jangan bunuh diri lagi.." ucap Kinanti kalem,
" kalau suatu hari Haikal menyakitimu.. jangan pernah merugikan dirimu sendiri..
dunia ini luas, jadi kalau suatu ketika dia lupa akan janji janjinya,
temukanlah seseorang yang lebih menghargaimu..
jangan membunuh harapan dan mimpimu yang mungkin masih bisa terwujud, meski itu terlambat dan bukan dengan orang yang sama.." nasehat Kinanti setengah berbisik di telinga Adisty.
Entah Haikal mendengarnya atau tidak, yang jelas itu adalah saran yang benar benar tulus dari lubuk hati Kinanti, sebagai sesama perempuan ia wajib menguatkan dan mengingatkan.
Apalagi tidak ada unsur kesengajaan untuk menyakiti Kinanti dalam hal ini.
Adisty yang mendengarkan itu mengangguk, dan tangisnya semakin keras.
" Kal.." panggil Kinanti mengalihkan pandangannya pada Haikal.
" Karena undangan dari pihak keluargamu terlanjur tersebar, dan uang gedung tidak bisa kembali beserta keperluan keperluan lainnya..
bagaimana kalau kalian saja yang menggunakannya.." saran Kinanti,
" Apa boleh begitu Nan?" Haikal memasang wajah yang lagi lagi terkejut dengan kata kata Kinanti.
" Ku kira boleh, itu uang yang banyak.. rasanya akan mubazir..
bicarakan itu dengan orang tuamu.." jawab Kinanti,
" Aku akan membantumu bicara pada mereka..
dan mungkin kita perlu memakai sistim gerilya.." Kinanti tersenyum sedikit licik,
" Maksudmu Nan, gerilya apanya, kita tidak sedang berperang.." Haikal layu kembali.
" Tentu saja kalian sedang berperang dengan keluarga kalian sendiri..
buat saja alur nasi sudah menjadi bubur..
menikahlah agama terlebih dahulu, baru kita temui orang tuamu kal.. bagaimana..?"
Saran yang
licik dari Kinanti membuat sorot mata Haikal yang layu menjadi bersinar kembali.
Begitu pula Adisty, ada Kilatan harapan di dalam sorot matanya yang masih di penuhi air mata itu.
" Kau benar benar perempuan yang luar biasa Nan, siapapun suamimu nanti.. dia adalah seseorang yang beruntung..?!" Haikal meraih tangan Kinanti di hadapan Adisty, menciumnya beberapa kali saking bahagianya.
Kinanti terhenyak,
ia langsung menatap Adisty, takut perlakuan Haikal padanya itu akan menimbulkan permasalahan.
Namun bukan kemarahan yang Kinanti temukan di wajah Adisty, perempuan itu malah tersenyum mengerti seakan tak ada kecemburuan yang menyerangnya.
__ADS_1
" Ayo kita cari penghulu.. secepatnya.." ujar Kinanti sembari tersenyum penuh arti.
Damar duduk dengan tidak tenang, ia terus saja mondar mandir keluar masuk kelas.
" pak?" panggil salah satu mahasiswi ketika Damar kembali masuk ke dalam kelas.
" iya, ada yang mau di tanyakan?" ujar Damar kembali fokus pada para mahasiswanya.
Sementara Winda Dan kaila sedang sibuk berbelanja mulai pagi.
Umar yang terlihat lelah, memilih untuk duduk beristirahat setiap keduanya berpindah dan masuk ke toko toko baru di mall itu.
" Yang ini lucu mbak..?!" Kaila memilih sebuah kalung dan gelang yang menurutnya menarik sekali.
" Iya ya.." jawab Winda,
" Mas mas?! coba yang ini.." ujar Winda menunjuk pilihan Kaila.
30 menit kemudian Umar mengikuti langkah mereka lagi, berpindah ke toko tas dan pernak pernik wanita yang lainnya.
" Apalagi mbak Win?" tanya Kinanti menyerahkan hasil belanjaannya pada Umar yang tangannya sudah penuh dengan bawaan.
" ada yang kurang.., ayo kita ke pasar tradisional sekarang.." ucap Winda,
" Memangnya cari apa?" tanya Kaila yang sesungguhnya merasa belanjaannya itu sudah lebih dari cukup.
" Kita orang desa, ada aturan dan adat yang harus di penuhi, seperti bahan pokok, keperluan dapur dan lainya.." jelas Winda, Kaila yang tidak tau hanya patuh dan mengangguk saja.
" Ayolah Mar, waktu kita sedikit..?!" ujar Winda.
Dan mereka berangkat ke pasar tradisional yang tak jauh dari rumah mereka.
Membeli semua keperluan yang di butuhkan.
Kaila yang paling bersemangat dalam hal ini, ia yang sesungguhnya ngambek pada Damar, tiba tiba senang ketika mendapat kabar dari Winda.
Tanpa di minta ia langsung ijin tidak masuk kuliah dan lebih memilih menemani Winda.
Kalau Damar tau Kaila bolos hanya karena hal ini, sudah pasti Kaila akan mendapatkan omelan yang panjang.
Tapi Kaila tidak perduli.
Ia merasa hari ini begitu membahagiakan.
Sesampainya dirumahpun senyumnya masih terkembang sembari membungkus barang barang yang sudah di beli tadi dengan rapi dan cantik.
" Tas, baju dan lainya aku saja yang bungkus mbak, mbak Winda peralatan dapur dan bahan pokok ya?" ujar Kaila.
" Terserah saja, selesaikan dengan cepat dan rapi.. dan ingat, sembunyikan hal ini dari ibumu dulu kalau kau kasihan terhadap mas mu.." perintah Winda.
" Siap mbak..! aku akan tutup mulutku rapat rapat! tapi aku nanti ikut ya?"
" Ya sudah, tapi diam dan jangan berisik.." angguk Winda sembari terus melihat vidio tutorial membungkus dan membentuk pita pita dan kain dengan cantik.
__ADS_1