Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
anggrek dan krisan


__ADS_3

Yoga merangkul Dinda dari belakang,


" pergilah kerumah mbah uti atau kerumah mba Winda.. kalau jalan jalan sekitar sini saja tidak masalah.. dari pada tiduran terus.." suara Yoga kalem di telinga istrinya yang sedang berbaring membelakangi Yoga itu.


" Ini masih sore.." Yoga mengecup bahu istrinya.


" Sudah selesai kan sayang??" tanya Yoga membalikkan tubuh Dinda menghadap ke arahnya.


Tanpa menunggu jawaban diciumnya bibir yang sudah hampir dua minggu tak di sentuhnya itu.


Ciuman yang lembut dan hati hati, Yoga melampiaskan kerinduannya,


berusaha menepiskan segala beban pikiran yang mengganggunya,


meski Dinda diam saja, namun ia tak menolak, tubuhnya tetap menunjukkan respon meski tak sebesar biasanya.


Tangan Yoga mulai menyusup kedalam daster dan menyibakkan daster itu ke atas.


" Jangan marah terus padaku.. hari hariku terasa sesak rasanya.." bisik Yoga saat bibirnya jatuh di leher istrinya.


Ke keesokan harinya, sikap Dinda tetap seperti kemarin kemarin.


Meski dirinya sudah menerima perlakuan tidak menyenangkan dari mantan istri Yoga, ia tak berkata apapun pada Yoga.


Dinda hanya Diam sepanjang waktu, hal itu membuat Yoga semakin salah tingkah dan serba salah.


Hampir setiap malam Yoga bersikap lembut dan memanjakan Dinda, berharap perempuan itu mau mengeluh atau bahkan marah.


Semua saran dari seniornya ia lakukan bahkan mengajak istrinya itu menginap di salah satu kota yang terkenal paling dingin di Malang, tempat dimana apel dan berbagai jenis bunga tumbuh dengan subur.


Kota dimana airnya sedingin es, dan kabut selalu bisa turun kapan saja, entah itu siang atau sore.


" Mau kemana lagi?" tanya Yoga saat membawa istrinya pulang menuruni bukit, ia berkendara pelan, matanya melirik Dinda yang duduk disampingnya sesekali, raut wajahnya mulai tenang dan sedikit ceria melihat jajaran bunga dan kebun apel yang berada di pinggir jalan.


" Kita pulang saja, aku tidak tenang meninggalkan Bagas terlalu lama.." sahut Dinda masih menjatuhkan pandangannya ke arah jajaran bunga.


" Kita pergi baru dua hari..tenanglah.. Bagas juga sudah mengerti kepentingan papa dan mamanya.." ujar Yoga lalu menepikan mobilnya di salah satu toko bunga.


" Turun yuk.." ajak Yoga melempar senyum, sembari turun dari mobil putihnya.


Dinda tak menjawab, namun ia turun dan mengikuti langkah suaminya.


Yoga berjalan melewati jajaran bunga bunga,


" Beli yang mana saja.." ucap Yoga saat menangkap ekspresi senang di wajah istrinya.


" Aku mau beli krisan dan anggrek.." Dinda terlihat antusias,


" boleh.. beli sesukamu.." jawab Yoga menggenggam tangan Dinda.


" Kata mas Damar, ada petani anggrek di sebelah sana, anggreknya cantik cantik..


tapi kita harus jalan sedikit..


bagaimana? kita jalan?"


Dinda mengangguk,


melihat anggukan istrinya Yoga melanjutkan langkahnya.

__ADS_1


" Mau beli krisan warna apa?" tanya Yoga sembari berjalan berdampingan dengan istrinya.


" Semua warna.." jawab Dinda sembari mengawasi bunga bunga yang ia lewati.


Keduanya berjalan sekitar lima ratus meter dari tempat Yoga memarkirkan mobilnya.


Tak lama keduanya menemukan sebuah rumah kaca yang di penuhi berbagai jenis anggrek,


tanaman itu tertata rapi, setiap jenis di pisahkan, begitu juga dengan wana bunga yang di atur sedemikian rupa hingga memanjakan mata Dinda.


Wajah Dinda terlihat begitu sumringah,


" Suka?" tanya Yoga melepas tangan istrinya dan membiarkan istrinya itu berjalan kesana kemari bahkan berkeliling.


Mendengar pertanyaan nya tak di jawab, karena Dinda buru buru berkeliling, Yoga hanya tersenyum saja.


Ia senang jika istrinya senang, lagi pula dua hari ini seperti bulan madu kedua baginya.


Mereka menginap di sebuah hotel yang balkonnya menyuguhkan bingkai pemandangan yang luar biasa, dimana perbukitan dan pegunungan yang di hiasi kabut di sekitarnya terlihat jelas di depan mata.


Belum lagi udara dingin yang menusuk membuat Yoga seperti lem super yang menempel terus pada Dinda.


" Aku memilih banyak," suara Dinda membuat Yoga mengalihkan pandangan dari jalan raya ke arah istrinya.


" Terserah, asal di rawat.."


" tentu saja.. memangnya dirimu.." celetuk Dinda,


" eh.. eh.. maksudnya? memangnya kapan aku pernah merawat tanaman? saat keluargaku sibuk bertani saja aku tidak ikut,


jadi coba jelaskan apa makna sesungguhnya dari kalimatmu?" tanya Yoga kalem,


" sudahlah.. lupakan.." sahut Dinda,


Yoga menatap istrinya dari kejauhan, perempuan itu..memang berbeda jauh dari Kinanti, baik dari segi fisik dan karakternya,


Dinda sungguh bukanlah tipenya, karena perempuan itu hampir sama mandirinya dengan laki laki,


bahkan tinggi badannya menyamai Yoga, hal itu membuat Yoga tidak suka.


Tapi entahlah, pertemuan mereka di Bandung membuat perasaan Yoga tergerak tiba tiba, padahal Yoga bukan tipe laki laki yang mudah jatuh cinta, apalagi hanya karena fisik.


Tapi tak bisa di pungkiri, perempuan yang seperti laki laki itu membuat perubahan yang mengejutkan bagi Yoga.


Rambutnya hitam terurai panjang, tubuhnya yang kurus berubah lebih sintal.


Yoga diam diam tersenyum, mengingat betapa lucunya masa lalunya dengan istrinya itu.


" Apa senyum senyum? sudah di bayar?" tau tau Dinda di sampingnya.


" Sudah semua?, di kira masih mau tambah.." jawab Yoga,


" mau terasmu jadi kebun bunga?"


" tidak masalah.. yang penting dirawat.. tapi hati hati.."


" hati hati?"


" iya.. tangan putramu.."

__ADS_1


" ah.. iya, tangannya suka gatal kalau lihat yang cantik cantik.."


" hei.. ambigu sekali.. bukan gatal, hanya jahil.."


" kenapa? kau merasa?"


" aku? tentu tidak..


aku hanya gatal saat melihatmu.. bahkan gatal sekali..


sudahlah..


percuma saja menyindirku..


aku tidak tersindir.." Yoga melempar senyum dan berjalan menuju kasir.


Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, Yusuf dan Kaila sudah kembali ke malang.


Kaila mulai mengurus kembali segala keperluannya untuk melanjutkan perkuliahannya,


sedangkan suaminya sibuk bekerja di bawah naungan kakaknya.


Damar terlihat bahagia bisa melihat adiknya dekat kembali dengannya.


Sedangkan Yoga dan Dinda sudah mulai membaik, karena Yoga memutuskan bersikap tegas dan akan membawa permasalahan hak asuh anak ke jalur hukum jika Vania tidak berhenti datang kerumahnya.


Ia tak bisa diam saja terus terusan, apalagi saat dirinya tau Dinda di intimidasi terang terangan.


" Kau jangan sok menolakku, semua orang bisa melihat aku lebih segalanya dari pada istrimu yang sekarang..!" Vania tak mau menyerah begitu saja.


" Kau perempuan yang kurang tau diri ya..


hentikan kebiasaanmu yang terlalu percaya diri itu, tidak semua orang bisa menerimanya." tegas Yoga tenang,


" Yoga Yoga.. aku yakin, jika aku tidak pergi dari rumah ini, sudah pasti aku masih menjadi nyonya dirumah ini sampai sekarang,


kau masih menyimpan perasaan padaku kan?"


" apa??" ekspresi Yoga sedikit jijik mendengar kalimat Vania.


" iya, kau masih menyimpan perasaan padaku, buktinya setelah kutinggalkan bertahun tahun kau masih juga belum menikah,


apalagi jika kau masih belum bisa melepas perasaanmu?"


Yoga terkekeh tiba tiba, tak bisa di cegah dirinya untuk tertawa.


" Kau pandai mengarang ya.. sejak kapan aku punya perasaan padamu?" ujar Yoga santai,


" Kita memang pernah menjadi suami istri, bahkan kita punya seorang putra, tidak ada yang bisa menghapus itu,


tapi jangan juga kau lupa,


kita menikah karena orang tua, bukan karena cinta..


dan kau sadar betul itu..


bukankan karena aku kurang menyayangimu kau jadi minggat dari rumah ini dengan laki laki lain?"


mendengar itu wajah Vania merah padam, entah marah.. entah malu..

__ADS_1


entah marah bercampur malu..


" Kau bahkan meninggalkan putramu yang masih merah, kau lupa? perlu kuingatkan??" tegas Yoga sinis.


__ADS_2