Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
aku seperti ini karena mencintaimu


__ADS_3

Kinanti berusaha melepaskan dirinya namun tak bisa.


Tenaga Damar berkali lipat lebih kuat darinya.


Damar yang di kuasai emosi tak bisa berpikir bijak, yang ada di kepalanya hanya bagaimana caranya supaya Kinanti menjadi miliknya, beralih kepadanya dan tidak memberi celah pada laki laki lain lagi.


Gerakan Damar yang kasar membuat kebaya yang di kenakan Kinanti terkoyak hingga terbuka bagian atasnya, kancing kancing kecil itu terlepas,


dan sanggul yang di atur dari rambut Kinanti itu berantakan tak karuan.


Bibir Kinanti terlihat bengkak karena ciuman paksa dari Damar.


Begitu juga leher dan dada Kinanti yang kemerahan karena jejak jejak yang di buat oleh bibir Damar.


Tangan Damar mulai menyusup, kedalam rok Kinanti yang sempit, menyibakkan dengan paksa,


namun karena di rasa rok itu sempit sekali, dan kaki Kinanti selalu bergerak untuk mempersulit,


Damar merobeknya tanpa berpikir panjang.


Kinanti memekik,


namun Damar yang sedang buta oleh kemarahannya tak perduli.


" Ampuni aku mas..?? jangan perlakukan aku seperti ini.., aku janji akan patuh..??" isak Kinanti, suaranya parau, ia berharap untuk di lepaskan.


Namun tetap saja Damar tak perduli, telinganya seperti tuli, ia terus saja memaksakan kehendaknya ,seakan ingin memberi tanda bahwa Kinanti itu miliknya.


" Untuk apa mas melamarku kemarin.. kalau hari ini mas melakukan hal sekejam ini padaku..." Kinanti masih terisak, bahkan semakin keras, hatinya sakit sekali di perlakukan seperti ini oleh Damar.


Kinanti yang sudah lelah karena perlawanannya percuma,


juga air matanya yang tak membuat Damar menghentikan perbuatannya, mulai putus asa.


Ketika dirasa Damar mulai menekan tubuhnya dan Kinanti merasakan kesakitan, Kinanti melontarkan kalimat yang penuh dengan kebencian pada Damar.


" Menyesal aku menerima lamaranmu..!" suara Kinanti di tengah tengah isak tangisnya.


" Aku sudah bersedia menjadi istrimu.., inikah balasanmu padaku..!


inikah cinta yang kau agung agungkan..?!"


Kata kata yang di sertai pekikan itu membuat Damar menghentikan dirinya seketika.


Ia menjauhkan tubuhnya dari Kinanti demi memperoleh kembali kesadarannya.


Di pandanginya wanita yang sedang berada di bawah tubuhnya itu dengan pandangan yang sulit di mengerti.

__ADS_1


Wajahnya basah di penuhi air mata, sorot matanya penuh luka.


" Apa yang kau katakan tadi?" tanya Damar dengan suara bergetar, masih menahan gejolak di dalam dirinya.


" Aku.. aku menyesal menerima lamaranmu..! kau ternyata laki laki jahat! cintamu omong kosong..!" tegas Kinanti sembari membuang wajahnya ke arah lain, ia tak sudi melihat wajah Damar untuk sekarang.


Damar tertegun, sontak ia melihat tumpukan kotak yang berjajar di samping dinding.


" Jadi mbak Winda melamarmu?" tanya Damar dengan ekspresi masih kebingungan.


" Itu.. itu seserahanku? bukan Haikal?" tanyanya lagi, tapi Kinanti tak menjawab, ia terus saja menangis.


" Kumohon jawablah Nan? supaya aku tau keadaan yang sesungguhnya??" pinta Damar dengan nada suara di penuhi kegelisahan.


" Kebodohan apa yang sudah kau lakukan mas? tentu saja itu lamaranmu!


hubunganku dengan Haikal sudah berakhir, aku sudah membatalkan pernikahan kami..?!" desis Kinanti penuh kemarahan yang tertahan.


Deg..


Tubuh Damar lemas seketika, gejolak dalam dirinya menghilang seketika entah kemana.


Ia bangkit dari atas tempat tidur dan terduduk.


Namun betapa kaget dirinya setelah melihat tubuh Kinanti yang sudah ia perlakukan dengan kasar dan serampangan.


" Maafkan aku..?" ucapnya dengan wajah merah padam, ia marah dan malu melihat kelakuannya sendiri.


" Maafkan kebodohanku Nan.. mataku buta akan kecemburuan.." ujarnya memohon ampun, di raihnya tangan Kinanti, di cium dan di letakkan di keningnya.


" Ampuni aku.. aku berdosa.. aku memang laki laki brengsek..


tapi aku seperti ini karena aku mencintaimu,


hatiku tak sanggup melihatmu di miliki oleh laki laki lain.." ucapnya dengan suara bergetar.


Untung saja, ia berhenti tepat pada waktunya, jika tidak, entah penyesalan sedalam apa yang akan ia rasakan kelak.


Begini saja ia tak bisa memaafkan dirinya sendiri, apalagi jika ia sampai sampai menodai Kinanti yang ternyata sudah tinggal selangkah lagi menjadi istrinya.


" Menyingkir mas, pergi dari pandanganku..! aku tak mau melihatmu sekarang..!" ujar Kinanti tajam.


" Ampuni aku Nan..?" pinta Damar,


" Hatiku terlalu sakit untuk mengampunimu.." jawab Kinanti masih tak mau memandang wajah Damar.


Damar yang menyadari kerusakan yang sudah di sebabkannya tak akan dengan mudahnya mendapatkan maaf, ia perlahan melepaskan tangan Kinanti,

__ADS_1


lalu bangkit dari tempat tidur.


" Aku memang bersalah..kau boleh marah, tapi jangan membenciku..


kebodohanku karena memang terlalu emosional dan tak bertanya dulu.." ujar Damar lembut, kelembutan yang tak di miliki saat berada di atas tubuh Kinanti tadi.


" Aku tak mau kehilanganmu.. kau tau dengan benar berapa banyak dan besar perasaanku hingga hal seperti ini dapat terjadi..


andai kata kau tak menolakku berkali kali aku tak akan sefrustasi ini.." suara Damar lemah, ia ingin Kinanti tau, apa yang terjadi juga di dasari dari rasa ketidak percayaan diri Damar karena berkali kali mendapatkan penolakan.


" Sudahlah mas, pergilah.. dan jangan menampakkan dirimu di hadapan ku sebelum hari pernikahan kita di tentukan, jika kau tidak mengindahkan kata kataku, aku akan lari darimu.."


Damar tersentak,


" Lari?" ucapnya tak percaya,


" Yah, aku akan lari jika kau masih saja mendahulukan ke egoisanmu dan tak memperdulikan perasaanku..


setidaknya biarkan aku tenang sebelum pernikahan kita.." tegas Kinanti dengan suaranya yang serak.


" Aku janji tidak akan menyentuhmu jika kau tak mengijinkan dan menginginkannya Nan.. tapi aku mohon, jangan pergi kemanapun?!" pinta Damar.


" Pergilah.. tolong.." ucap Kinanti lagi terlihat lelah.


Damar tak punya pilihan lain, memang yang terbaik untuk sekarang adalah membiarkan Kinanti menenangkan dirinya.


Dengan langkah berat ia membuka pintu kamar dan berjalan keluar, meninggalkan Kinanti yang masih terbaring di atas tempat tidur.


Damar menghela nafas berat, bahkan sangat berat.


Diam diam ia melihat kaca yang berada di ruang tengah,


menyadari betapa berantakan dirinya, Rambut yang sudah di pomade itu acak acakan tak jelas bagaimana modelnya.


Begitu juga baju dan celananya.


" Astaga.." keluhnya sembari menutup wajahnya dengan telapak tangannya, ia terduduk seketika di lantai.


Betapa malunya dirinya sendiri melihat kondisinya,


rasa bersalah menghujam, membuatnya menyadari betapa buruk perlakuannya pada wanita yang ia cintai itu.


" Kau tidak pernah sebodoh ini dalam hidupmu Damar.." keluhnya lagi masih menutup wajahnya.


Apa yang akan ia katakan pada ibu nanti, pada Winda nanti, harusnya ia mendengarkan kata kata Winda dulu, bukan pergi dengan marah begitu saja ketika mendengar nama Haikal di sebutkan.


Di tengah keguncangan batinnya HPnya berbunyi, dengan gerakan tak bersemangat ia mengeluarkan HP itu dari saku celananya dan menerima panggilan.

__ADS_1


" Hallo mas, saya sudah di depan rumah mbak Kinanti.." terdengar suara Umar.


Ia datang untuk menjemput Damar.


__ADS_2