Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
Baju pengantin


__ADS_3

Kinanti sedang bolak balik di kamarnya, ini hari minggu, tapi ia tidak punya kegiatan sama sekali, sedangkan membaca bukupun dia malas sekali, entah kenapa.


Hari ini ia tak punya semangat untuk mengerjakan apapun.


" Nduk?" ibunya masuk ke dalam kamar,


" Iya bu?"


" ganti bajumu.."


Kinanti bangkit,


" Memangnya mau kemana?"


" Ke tempat rias pengantin mu.."


" dengan Haikal? tapi Haikal sedang keluar kota?"


" Haikal sudah telfon ibu, ibu merekomendasikan salon rias pengantin teman lama ibu..


riasan nya manglingi nduk, pokoknya bisa kelihatan beda dan anggun layaknya pengantin jawa..


sanggulnya juga rapi dan cantik..


disana kau bisa pilih pakai solo basahan atau paes ageng..


semaumu nduk.." jelas ibu bersemangat,


" itu pilihan ibu?"


" Salon tante Reni.. kalau adat jawa ibu percayanya disitu nduk..


adat yang di pakai pakem.."


Kinanti mengangguk, apalah.. terserah ibu saja.. yang penting menikah dan membuat hati ibu tenang, pikir Kinanti.


" Lalu dengan siapa berangkatnya bu? Yusuf?"


" Yusuf sedang kerja, tidak bisa di ganggu katanya.."


" berarti Kinan berangkat sendiri?"


" Tidak nduk.. dengan Damar, katanya Haikal tadi sudah telfon Damar untuk meminta tolong, kalau tidak di booking sekarang takutnya keduluan orang lain..


sementara Haikal keluar kotanya 3 hari.."


" mas Damar?" Wajah Kinanti berubah serius,


" Kenapa nduk? soalnya Damar sudah bilang iya, setelah magrib dia menjemputmu.."


Kinanti diam, ia terlihat berpikir.


" Kenapa? kok wajahmu begitu?" tanya ibunya,


" tidak bu.. tapi apa itu tidak merepotkan mas Damar?"


" sejak kapan Damar mengeluh nduk? dia malah senang kalau dirinya selalu di libatkan..


meski kadang.." kata kata ibunya terhenti.


" Meski kadang apa bu?"


Si ibu tidak menjawab, hanya menghela nafas.


" Sudahlah.. ganti bajumu.. supaya Damar nanti tidak terlalu lama menunggumu.." ujar ibunya lalu berbalik pergi.


Kinanti menunggu Damar di teras,


ia menggunakan kemeja coklat yang berpotongan panjang, membuat dirinya tampak kalem dan rapi karena tidak satupun lekuk dari tubuh atau pinggulnya terlihat. sementara ia memakai celana jeans berwarna biru laut yang pas dengan kakinya.


Rambutnya di biarkan nya tergerai jatuh di pinggang, Kinanti hanya merapikannya dengan bandana, ia mencuci rambutnya saat mandi tadi dan itu masih setengah basah.


Terdengar suara mobil Damar yang berhenti, dan benar saja tak lama sosok Damar terlihat berjalan masuk.


Laki laki itu memakai jeans biru dan kaos berkerah berwarna hitam, rambutnya terlihat berkilau tertimpa cahaya lampu teras, entah itu basah atau karena hair wax.


Sedangkan seperti biasa, tubuhnya yang tinggi itu selalu merebut perhatian.


Melihat itu entah kenapa hati Kinanti berdebar,


" Ada apa ini?!" keluhnya dalam hati.


" Apa jantungku mulai rusak? masa semuda ini aku punya sakit jantung..?!" ia terus berbicara di dalam hati, menyadari hal itu tak benar, di helanya nafasnya dalam dalam, di buang nya jauh jauh perasaan perasaan aneh di dalam hatinya.


Ia harus bersikap normal dan tenang,


" Ayolah.. tenang lah..!" imbuhnya lagi dalam hati ia harus tegas pada dirinya sendiri.


" Kau sudah siap?" suara Damar yang berat membuyarkan perdebatan Kinanti dengan dirinya sendiri,


sehingga debaran jantungnya itu menghilang tiba tiba karena terkejut.

__ADS_1


" Ah.. iya mas.." jawab Kinanti sedikit terbata bata.


" Kalau begitu ayo.." Damar tersenyum,


" Pamit dulu dengan ibu.." ujar Kinanti,


" Pastilah.." jawab Damar lalu masuk ke dalam rumah.


Perjalanan menuju ke salon rias pengantin sekitar 30 menit, di perjalanan keduanya diam, tak ada hal hal yang di bahas.


Sesekali Kinanti mencuri pandang ke arah Damar, laki laki itu terlihat santai, tidak seperti Kinanti yang masih sedikit kikuk.


Bagaimana bisa setelah mengucapkan dan berbuat hal seperti itu dia sesantai itu, tanya Kinanti dalam hati.


Namun kemudian Kinanti sadar, bahwa dirinyalah sendiri yang meminta Damar untuk melupakan hal itu,


lalu kenapa sekarang setelah Damar bersikap lupa hati Kinanti seakan tak terima.


" Benar yang depan itu?" tanya Damar menghentikan mobilnya tak jauh dari sebuah salon yang cukup besar dan kental dengan adat jawa.


" Sepertinya benar, karena salon di perumahan ini hanya ini saja.." jawab Kinanti.


" Ya sudah.. ayo turun.." ajak Damar.


Lalu keduanya turun, berjalan memasuki salon rias pengantin itu.


" Ini Kinan?" sambut pemilik salon, ia memeluk Kinanti beberapa kali.


" Nggih.. njenengan tante Reni..?" Kinanti tersenyum sambil sedikit menundukkan kepalanya pertanda hormat kepada yang lebih tua.


" Lho.. dulu waktu SD kamu sering main kesini sama ibumu, mosok lupa?!" seru si pemilik salon seperti bernostalgia dengan Kinanti.


Mereka berbincang sekitar 15 menit, membicarakan tentang Kinanti dan ibunya, setelah itu barulah pembicaraan beralih pada hal hal yang berhubungan dengan baju resepsi dan riasan.


" Kalau untuk akad nduk?" tanya tante Reni,


" Rencana mau jahit sendiri te.." jawab Kinanti.


" Owalah.. ya sudah, kita pilih pilih saja kalau begitu.." si tante Reni bangkit dari kursinya.


" Lho? mas e kok diam saja dari tadi? saya sampe lupa, saya ambilkan minum dulu.." ujar tante Reni ketika melihat Damar yang sejak tadi duduk diam sembari melipat kedua tangannya di dada.


Kinanti memandang wajah itu, Damar terlihat begitu datar, bahkan nampak kalem dan tenang.


Tak lama setelah tante Reni datang dan setelah keduanya minum,


Kinanti mengikuti tante Reni menuju ruang baju pengantin, Damar tetap menunggu di ruangan tamu.


Di dalamnya banyak patung patung manekin yang di pakaikan baju kebaya dan beberapa diantaranya di pakaikan baju pengantin.


" Coba minta pendapat masnya? mas?! sini mas?!" tante Reni melambaikan tangan pada Damar yang sedang duduk tenang.


Melihat lambaian itu tentu saja Damar mendekat.


" Coba mas e bantu pilih.. yang mana yang cocok bajunya?" tanya tante Reni.


Damar memandang Kinanti yang sedikit memerah karena malu.


Bisa bisanya Damar yang disuruh memilih, sementara Damar bukan pengantinnya,


tentu saja Kinanti bersemu merah.


Namun Damar menangkap hal itu dengan bijaksana, ia langsung mengalihkan pandangannya pada baju baju pengantin itu.


Damar memandangi dua baju itu dengan teliti, lalu mengalihkan pandangannya pada Kinanti, ia menunduk dan mendekatkan dirinya.


" Kau akan tampak anggun dengan kebaya hitam ini..


yang ini juga anggun sih..


semua baju adat jawa itu anggun..


tapi bahunya terbuka, jika aku sang suami.. aku tidak akan senang istriku memperlihatkan bahu nya yang cantik pada khalayak ramai.." ujar Damar pelan di telinga Kinanti.


Wajah Kinanti semakin memerah, hal itu membuat si tante Reni tertawa.


" Aduh.. anak muda jaman sekarang.. romantisnya tidak pilih pilih di mana.." komentar tante Reni.


Damar tersenyum tipis mendengarnya.


" Jadi yang mana Nan?" tanya tante Reni lagi pada Kinanti yang masih belum memutuskan pilihan nya.


" Bagaimana kalau di coba saja.. biasanya kalau di coba akan terlihat cocok dan tidak cocoknya.." saran Damar.


" Iya, benar itu.. kalau begitu ayo kita coba..?!"


Dan Kinanti menurutinya, ia mencoba kebaya itu satu persatu,


dan benar.. pilihan Damar lebih terlihat anggun ketika di kenakan Kinanti.


" Coba lihat kesini mas?!" si tante Reni menyuruh Damar masuk untuk melihat kebaya pengantin hasil pilihan Damar tadi.

__ADS_1


Damar terdiam, mata nya di penuhi kekaguman untuk sesaat, namun setelahnya ia menundukkan pandangannya, seakan menyadarkan dirinya.


" Kau anggun sekali.." ujarnya kemudian kembali memandang Kinanti sembari tersenyum.


Kinanti terus saja tertunduk, ia tak bisa menyembunyikan raut wajahnya yang penuh kegelisahan.


" Lha.. sekarang baju laki lakinya mas, kesini?"


mendengar kalimat itu dari si pemilik salon Damar dan Kinanti berpandangan.


" Bukan saya pengantin laki lakinya.." ujar Damar tersenyum,


" Lho?" wajah tante Reni pemilik salon rias pengantin itu benar benar heran mendengar itu, pasalnya tante Reni sempat menangkap pandangan mesra dari Damar ke Kinanti.


" Saya saudaranya.. kebetulan calon suaminya sedang di luar kota,


jadi saya yang mengantarnya kesini.." imbuh Damar, mencoba memberi alasan yang bagus agar tidak ada pandangan curiga dari tante Reni pada dirinya dan Kinanti.


Meski Damar tidak tau tante Reni akan percaya atau tidak, yang jelas ia sudah memberikan alasan yang paling masuk akal untuk kondisi sekarang.


" Owalah.. tapi badannya hampir sama kan?" tanya tante Reni mencoba mengusir kecurigaanya, toh itu juga bukan urusannya, pikir tante Reni.


" Sepertinya saya sedikit lebih tinggi dari si pengantin laki laki.." sahut Damar.


" Tapi bisa di kira kira kan? setidaknya tidak terlalu beda jauh..?"


Kinanti dan Damar sama sama diam,


suasana terasa senyap tiba tiba, sementara tante Reni masih memandangi keduanya secara bergantian.


" Coba saja mas.. toh badan mas dan Haikal tidak beda jauh.." ujar Kinanti, ia mencoba mengusir situasi yang tidak menyenangkan,itu membuat Damar memandang Kinanti serius.


" Kau serius?" tanya Damar dengan pandangan penegasan.


Kinanti mengangguk,


" Setidaknya tante Reni bisa mengira ngira Nanti..


mungkin ukuran yang lebih kecil darimu bisa di simpan dulu,


karena tante Reni tidak hanya menikahkan satu orang dalam minggu itu, jadinya kita harus menentukan ukuran jauh jauh hari untuk jaga jaga.. betul tidak tante??" jelas Kinanti,


" Kinan benar mas.. saya bisa kira kira nanti.." sahut tante Reni juga.


" Ah.. tidak usah.. tunggu Haikal saja.." tolak Damar, apa Kinanti kira dirinya ini superhero..


harus sekuat apalagi?,


mengantarkan memilih baju pengantin sudah,


eh sekarang malah disuruh mencoba baju pengantin si laki laki.


" Eh.. tidak apa apa.. mumpung kesini, di coba saja hitung hitung membantu si pengantin,


siapa tau besok besok ketularan tiba tiba menikah?!" goda si tante Reni,


" Sudah menikah?" tanya tante Reni lagi,


Damar menggeleng,


" belum.." jawabnya pendek,


" Lha ini kesempatan, sekalian tante promosi,


nanti ajak calon istrinya kesini pakai riasan dan baju tante..?!


pasti diskon!


bisa bisanya gagah begini belum menikah, apa yang di tunggu?


eman eman mas..


wes sekarang ayo di coba bajunya?!" si tante Reni menarik Damar menuju ruangan ganti,


tidak memberi Damar kesempatan untuk menolak lagi.


Damar dengan setengah hati menuruti, ia mengganti bajunya dengan baju pengantin, sembari di bantu pegawai laki laki tante Reni untuk memakaikan bawahannya, yaitu kain jarik.


Tak lama Damar keluar,


" Lho?! gagahnya..?! ukurannya pas sekali..!" seru tante Reni membuat Kinanti menatap Damar tanpa celah.


Namun tak lama Kinanti membuang pandangannya ke arah lain, dan Damar yang melihat itu,


senyumnya yang semula sedikit terkembang menjadi pudar melihat sikap Kinanti.


Kinanti sesungguhnya tidak bermaksud membuat Damar tersinggung atau bersedih, ia membuang pandangannya karena ia sadar, semakin lama ia memandang Damar,


semakin tidak beres hatinya.


Keduanya mengenakan baju pasangan pengantin sekarang, tampak serasi dan pas, entah harus senang atau bersedih, hati Damar serasa di sayat sayat.

__ADS_1


Bagaimana bisa ia memakai baju pengantin ini, sementara bukan dirinya yang akan mengenakannya,


dan bukan dirinya juga yang akan duduk di pelaminan disamping kinanti nanti.


__ADS_2