
" Sudah selesai semuanya?" tanya Yoga terlihat masih berada di klinik.
Persis seperti obat yang harus di minum tiga kali sehari,
sebanyak itulah Yoga memantau Dinda melalui vidio call.
" Semua perabot sudah terjual, meski dengan harga miring.." jawab Dinda sembari menunjukkan rumah kontrakannya yang sudah kosong, dan hanya tempat tidurnya saja yang tersisa.
" Tidak masalah.. lalu tokonya? sudah di bayar?"
" belum, perjanjiannya masih kurang tiga hari lagi kan?"
" bukankah itu terlalu mepet dengan waktu kepulanganmu sayang?"
" tidak masalah menunggu, biar aku juga tak ada beban pikiran disini.."
Yoga terlihat tidak begitu senang mendengar jawaban Dinda.
" Jangan masam begitu.. toh pernikahan kita sederhana saja kan?"
" Meski sederhana, seharusnya kau pulang lebih cepat?, sesederhana apapun.. itu tetaplah pernikahan kita, keluargaku pastinya akan berkumpul semua.."
" Iya iya.. setelah aku memastikan pembayarannya, aku akan segera pulang.."
" Kenapa tidak menunggu saja dirumah?"
" itu uang yang banyak, setelah kupastikan si pembeli mengirimkan uang, baru aku pulang.. aku tidak bisa percaya pada siapapun kalau perkara uang.."
" Termasuk diriku?"
" tentu saja, kau tidak akan bisa menyimpan uang yang banyak di dompetmu setelah menjadi suamiku.."
" tidak masalah.." Yoga tersenyum lebar,
" Cepatlah kembali.. Bagas terus mencarimu.. dia rindu sekali.." imbuh Yoga.
" Bagas saja? papanya tidak?" goda Dinda,
" setengah mati rasanya.." jawab Yoga lalu menghela nafas berat.
" Lalu aku saja yang rindu? kau tidak?" tanya Yoga berharap mendapat jawaban yang sama.
" Aku juga rindu.. tapi sedikit saja.." jawab Dinda membuat ekspresi Yoga berubah,
" sedikit??" laki laki itu melotot,
" iya sedikit, kalau aku bilang banyak takutnya kau langsung menyusul ku kemari.."
" Ah.. maunya sih begitu?! tapi lebih baik cutiq kuambil untuk bulan madu kita.."
" bulan madu apa? kita bukan remaja lagi.."
" memangnya tidak boleh?, aku sudah menikah dua kali masa tidak pernah merasakan bulan madu sama sekali?"
" Yang pertaman memangnya tidak?"
" ada, tapi aku tidak berangkat.."
" kenapa?"
" eh! tanya terus, bikin kesal saja?! memangnya kau juga bulan madu dengan mantan suamimu? tidakkan?!"
" Kami bulan madu, seminggu di bali.." mendengar jawaban Dinda wajah Yoga mendadak merah padam, ia terlihat benar benar kesal.
" Bagus! buat saja aku kesal terus.." ujar Yoga,
" Ya sudah ya sudah.. segeralah pulang, kasihan Bagas, ujar Dinda sembari tersenyum, diam diam ia senang melihat ekspresi Yoga yang kesal karena masih cemburu dengan mantan suaminya.
" Aku sudah bilang berkali kali, perempuan itu tidak ada hubungan apapun denganku?! aku hanya membantu bapakku menyambutnya datang dari surabaya?!" jelas Yusuf menarik tangan Kaila agar tak bisa melanjutkan langkahnya.
__ADS_1
" Kau kira aku buta? itu kencan! bukan bisnis!" tegas Kaila menyingkirkan tangan Yusuf.
" Jangan keterlaluan menuduhku, atau kau akan menyesalinya!" bentak Yusuf, sudah habis kesabarannya.
" Aku tidak pernah mengkhianatimu sedetikpun! kau perempuan satu satunya di hatiku! di pikiranku!,
seharusnya kau bertanya sebelumnya menuduh dan mengataiku laki laki busuk?!" tegas Yusuf.
" Siapa yang percaya? sebulan lebih kau bersikap dingin padaku, acuh tak acuh?!,
setiap mengantarku kau langsung pergi tanpa basa basi,
kau beralasan sibuk dari hari ke hari,
tapi dengan mudahnya kau pergi dengan perempuan lain?!
mataku cukup jelas melihat betapa ceria dan lebar senyummu saat menemani perempuan itu!" Kaila tak kalah marahnya.
" Mungkin benar, aku masih bocah, tak pantas menemanimu,
harusnya kau bersama perempuan yang matang, yang selalu menawan di tiap kesempatan,
apalah aku ini yang masih ingusan dan tak bisa memakai rok mini kemana mana..
tentunya tak akan bisa membangkitkan gairahmu.."
" Kaila!!" Yusuf meradang, kalimat Kaila benar benar melukai hatinya.
" Aku bukan laki laki seperti itu! boleh saja kau marah! tapi jangan menghinaku seakan akan aku laki laki yang murah dan mau dengan siapa saja?!" tegas Yusuf tajam.
" Siapa yang tau? apa yang kau lakukan denganku, belum tentu tidak kau lakukan dengan perempuan lain, kesetiaanmu.. tak ada yang mampu menjaminnya.." ujar Kaila pelan, namun terdengar jelas di telinga Yusuf.
Laki laki itu sontak mundur, kakinya lemas.
Perempuan yang ia perjuangkan selama ini sudah meremukkan hatinya.
" Bohong jika aku tidak menyayangimu, karena kau adalah laki laki yang merenggut kegadisanku,
harapanku kaulah yang menjadi suamiku kelak..
tapi ternyata hidup tak selalu sesuai dengan apa yang kita harapkan..
lebih baik, kita akhiri ini semua, jangan saling menyakiti lagi.." ujar Kaila dengan air mata mengembung di sudut matanya, perempuan itu tampak terguncang.
" Bagiku, kepercayaan adalah segalanya, kebohongan kecil, akan mengawali kebohongan yang besar kelak..
dan aku tak akan sanggup menerima itu..
pergilah, cari perempuan yang lebih lebih dariku..
yang dewasa dan tidak kekanak kanakan..
kita sudah berakhir Yusuf.. sudah berakhir.." imbuh Kaila dengan air mata yang tak bisa ia bendung lagi.
Perempuan itu berbalik memunggungi Yusuf, terlihat bahunya yang berguncang sesaat, namun dengan langkah cepat ia segera pergi menjauh, ia tak ingin melihat Yusuf lagi.
Sedangkan Yusuf membeku di tempatnya, ia tertunduk sembari mengepalkan tangannya, itu ia lakukan untuk menahan dirinya agar kemarahan yang di akibatkan kekecewaan yang di rasakannya tidak meledak, bagaimanapun ia sedang berada di tempat umum, tidak mungkin ia akan mengejar Kaila sembari berteriak seperti orang gila.
Dadanya di rasa sesak, dan kakinya pun juga terasa lemas,
ia butuh waktu untuk menguasai dirinya,
sekuat apapun ia sebagai seorang laki laki, tetap akan ambruk juga jika perasaannya di remukkan seperti ini.
" Mas? kenapa mas?" tanya seorang laki laki tau tau memeganginya.
" Sakit mas? duduk dulu..?!" kata orang itu memaksa Yusuf duduk di kursi besi panjang yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
" Tidak apa apa.." jawab Yusuf pelan, ia mencoba tersenyum.
__ADS_1
" Yang benar mas?? tapi wajah sampean pucat? sampean tadi juga seperti mau jatuh??" ujar si laki laki yang mendudukkan Yusuf.
Yusuf diam, tak menjawab, herannya ia bisa mendengar suara detak jantungnya sendiri, kuat dan cepat, layaknya orang yang telah berlari berkilo kilo meter.
Sementara seluruh tubuhnya kini lemas, dan keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya.
" Saya baik baik saja.. " ucap Yusuf lirih dengan wajah yang memucat.
" Yusuf sudah seminggu tidak bekerja, dia sudah mengundurkan diri, sekarang tidak tau dia bekerja dimana? tinggal dimana??" kakak kandung ibu Kinanti itu mengadu dan menangis dirumah ibu Kinanti.
Ia tak tau harus bicara pada siapa lagi, karena suaminya sudah tak bisa di ajak bicara.
" Sudah telfon anita mbakyu? siapa tau menginap disana?"
" tidak ada, bahkan anita pun kaget, dia akan kemari sebentar lagi.." jawab ibu Yusuf sembari menyeka air matanya.
" Ini semua gara gara bapaknya sendiri, dia memaksa Yusuf menemani putri pak Handoko, rekan bisnis yang dari surabaya..
pak Handoko memang orang yang luar biasa, keluarganya menjanjikan, putrinya juga pintar berbisnis,
karena itu dia ngotot menjodohkan Yusuf dengan putri pak handoko.." jelas ibu Yusuf pada adik kandungnya.
" Bukankan Yusuf pacaran dengan adiknya Damar mbakyu??"
ibu Yusuf mengangguk,
" tapi dia tidak mau segera menikah, Yusuf harus menunggu empat tahun,"
" empat tahun? bukan tiga tahun?"
" tidak, dia mau empat tahun, karena setelah lulus kuliah dia mau bekerja dulu mencari pengalaman.. itu yang di ungkapkan Yusuf pada kami,
bahkan saat kami mengundangnya untuk kerumahpun dia enggan hadir..
karena itu bapaknya ngotot mempertemukan dia dengan anak pak Handoko..
Sesungguhnya akupun ragu..
keluarga suami Kinanti juga cukup berpengaruh,
takutnya setelah Yusuf lama menunggu, dia akan di sia siakan..
apalagi usianya sangat muda.."
" Bukankan Yusuf tidak mau di jodohkan mbakyu? lalu kenapa dia menemui anak pak Handoko?" tanya Ibu Kinanti penasaran, karena Yusuf bukan tipe laki laki yang gampang beralih.
" Bapaknya tidak jujur.. dia mengatasnamakan bisnis, jadi mau tidak mau Yusuf mengikuti perintah bapaknya sebagai seorang pegawai,
Yusuf juga di iming imingi posisi yang lebih baik jika putri pak handoko setuju untuk bekerja sama di cabang baru..
Yusuf yang memang sedang menabung itu tentu saja menyambutnya dengan gembira..
tapi siapa yang menyangka, Yusuf malah ribut dengan pacarnya di depan putri pak Handoko.." ujar ibu Yusuf dengan pandangan sayu, ia kurang tidur.. tak berselera makan, putra satu satunya, anak yang paling kecil, yang biasanya wira wiri di hadapannya tiap pagi dan sore, sekarang tak ada..
anak yang keras tapi juga manja, setelah Anita kakak perempuannya pergi, dialah satu satunya gantungan hati ibunya.
" Bu?!" suara Anita dari teras rumah ibu Kinanti,
" Nita?! masuklah!" sahut ibu Kinanti.
" Ibu disini nak?" jawab ibunya.
Perempuan dengan garis alis yang tegas dan berhidung mancung mirip Yusuf itu masuk,
tubuhnya sedikit berisi, namun ia terlihat cantik keibuan.
Makeupnya tipis menyiratkan ibu ibu muda jaman sekarang.
" Nita sudah bicara pada bapak.." ujar perempuan berusia tiga puluh enam tahun itu duduk disamping ibunya.
__ADS_1