Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
darah rendah


__ADS_3

Damar membuka matanya, sakit kepalanya sudah mereda.


" Istriku di bandung.." suara Damar pelan,


membuat Yoga yang sedang memeriksa tekanan darah Damar terhenti sejenak.


" Yusuf, dia yang mengantar Kinanti naik bus.." imbuh Damar.


Yoga menghela nafas, menggelengkan kepalanya sejenak.


Lalu kembali memeriksa tekanan darah Damar.


" Delapan puluh per lima puluh, pantas pusing.." kata Yoga sembari melepas alat dari lengan Damar.


" Diam dulu, istirahat.. makan yang baik.." ujar Yoga.


" Tidak, mana bisa aku tenang, apalagi dia berada sejauh itu..?" Damar benar benar frustasi, ia kaget sekali mengetahui bahwa istrinya yang tidak pernah kemana mana itu berani pergi sejauh itu.


" Apa dia membenciku? karena itu dia pergi sejauh itu?" gumam Damar sedih, dan Yoga mendengarnya.


" Jauh apanya, kalau sudah menyebrangi laut barulah jauh..


sudahlah..


jangan terus berpikir buruk, kalian berdua itu klop kalau masalah berandai andai..


omong kosong benci..


justru dia pergi karena saking kecewanya, dan kekecewaan itu timbul karena rasa cinta yang besar..


masa begitu saja perlu ku ajari mas?"


kata Yoga seperti lelah, ia bahkan baru pulang dari klinik, tapi dia langsung lari ke kediaman Damar saat mendengar Damar sakit kepala hebat sejak siang.


" Kau bicara seakan kau tidak bersalah.."


" tentu saja aku tersangkanya disini,


karena itu aku berusaha bertanggung jawab atas kalian mas..


apa luka luka di punggungku ini kurang untukmu mas? kau boleh menambahkannya jika mas rasa masih kurang..


jangan mas kira aku tak berpikir..


bahkan tidurku pun tak akan nyenyak sebelum kalian berdua pulang kerumah ini.."


Mendengar apa yang di ucapkan Yoga, Damar tak berkomentar, ia hanya diam sembari memejamkan kedua matanya.


" Sepertinya jalan keluar kita hanya Yusuf..


tekan terus Yusuf mas.." ujar Yoga.


" Tentu saja, kalau bisa ku peras.. akan ku peras ke darah darahnya juga sampai dia memberi petunjuk tepat.." kata Damar masih dengan mata terpejam.


Yoga hanya menghela nafas mendengarnya, hal kejam yang damar ucapkan tentu saja bisa menjadi kenyataan jika Yusuf tidak mengerti keadaannya sekarang,

__ADS_1


ia seperti satu satunya petunjuk menuju harta karun.


" Ada beberapa panggilan yang di lakukan Kinanti dia bilang..


dengan nomor lain,


tentu saja Yusuf adalah pintu masuk untukku sekarang, sebelum aku menggunakan cara yang lain tentunya.."


lanjut Damar.


" Jangan perlakukan istrimu seperti seorang buronan mas,


dia hanya mencari angin sejenak.."


" mencari angin? caranya mencari angin sungguh menyiksa, membuat pikiranku tak tenang..!"


" Harusnya kau tidur mas.. tekanan darahmu rendah..


kau bahkan tidak beristirahat dengan benar setelah turun dari semeru.."


" Sudahlah, sebaiknya ambilkan HP ku di ruang tengah, biar ku panggil Yusuf kesini, lebih cepat lebih baik."


" Tapi ini sudah malam.."


" aku kan sudah bilang, karena kelakuannya yang membantu Kinanti pergi, tak akan ku biarkan hidupnya tenang,


kalau harus ku peras darahnya akan ku peras.." suara Damar tenang namun terdengar kesal.


Dinda sedang mengobrol dengan Alfian sembari ngopi dan makan roti pisang buatan Kinanti.


" kok besok?"


" besok sabtu.. liburlah jualan barang sehari saja.." bujuk Alfian,


" Kenapa aku harus menurutimu?" Dinda melempar senyum,


" Ah.. kau sengaja menggodaku, awas saja nanti.. aku tidak akan mau kalau ke depannya kau mintai tolong kemana mana.."


" lho.. ancaman ini..?" Dinda tertawa,


" iya ancaman..?!"


Dinda lagi lagi tersenyum sembari mengambil sepotong roti.


" Penjualanku kurang sebenarnya, karena itu aku malas libur.. kau mengerti kan?"


Alfian terdiam sejenak,


" Kalau begitu ku bantu ya??" Alfian menawarkan diri.


" Jualan?"


" lha terus? mau di bantu apa?" keduanya saling berpandangan dan tersenyum,


" jangan.. nanti malah bukan baju yang laku.." sahut Dinda.

__ADS_1


" Telfon lagi.." suara Damar tenang, ia membakar sebatang rokok kembali.


Sementara Yusuf sejak tadi sibuk dengan HP di telinganya.


" Sekarang coba ke nomor yang satunya.." suara Damar masih tenang.


Yusuf patuh,


ia berkali kali mencoba memanggil nomor yang di gunakan Kinanti terakhir kali.


" Tidak diangkat mas..??" kata Yusuf seperti lelah.


" Tapi memanggil?" tanya Yoga,


" memanggil, tapi tidak pernah diangkat.." jawab Yusuf dengan raut wajah seserius mungkin.


Damar diam, di hisap rokoknya beberapa kali.


" Tinggalkan nomor itu disini, biar ku hubungi..


tapi awas saja..


kalau sampai aku tau kau memberi info kepada Kinanti lewat belakang.." ujar Damar menaruh rokoknya di asbak.


" Aduh.. aku ini jujur mas...wes jujur sak jujur jujure.. ora ngapusi..( tidak bohong )" jawab Yusuf sedikit kesal, ia merasa sudah sangat jujur, tp Damar masih ragu terhadap kata katanya.


" Din, sejak tadi HP mu yang satunya bergetar terus.." ujar Alfian melihat HP yang hanya di gunakan sesekali itu.


" Alah.. paling orang rumah.." ujar Dinda,


HP itu memang hanya di khususkan untuk keluarganya.


Dinda merahasiakan nomor pribadinya yabg dia pakai setiap hari.


Ia sengaja melakukan hal itu, karena setiap keluarganya menghubunginya, yang di bicarakan sudah pasti uang.


" Angkatlah.. siapa tau ada yang penting.." ujar Alfian.


Dinda terdiam, dan tak lama HP itu bergetar kembali.


Dengan gerakan malas Dinda mengambil HP itu di ruang tamu, dan kembali keluar, untuk duduk di tempatnya semula.


" Nomor tidak di kenal..?" gumam Dinda,


" sudah, angkat saja.. khawatirnya ada sesuatu.." lagi lagi kata kata Alfian membuat Dinda goyah.


Dengan berat hati di jawab panggilan telfon itu.


" Selamat malam?" jawab Dinda dengan nada dingin.


Raut wajah Damar berubah seketika,


" Selamat malam.." balas Damar.


" Di angkat?" tanya Yoga setengah berbisik di samping Damar.

__ADS_1


Damar tak menjawab pertanyaan Yoga, ia fokus pada HP di telinganya.


__ADS_2