
Damar menarik Kinanti ke dalam pelukannya,
pelukan seorang laki laki yang hanya menggenakan handuk saja.
Dan yang di peluk juga hanya berbaju tidur yang begitu tipis.
Kinanti terpaksa memakainya karena hanya baju itu yang di sediakan mbak winda di kamar saat dirinya membuka mata.
Damar mendudukkan Kinanti di pangkuannya sehingga wajah mereka begitu dekat.
tanpa sadar tangan Kinanti melingkar begitu saja di leher Damar.
" Maafkan aku ya.." ujar Damar setelah mengecup kening dan bibir Kinanti beberapa kali.
" Kenapa meminta maaf?"
" Aku bersikap kasar waktu itu.. bahkan merusak bajumu.. aku brengsek.." suara Damar dalam dan serius.
" Yah.. mas brengsek saat itu, dan aku membencimu karena sudah merusak kebaya kesayanganku.."
Damar kaget dengan pengakuan Kinanti.
" Jadi kau membenciku?" tanya Damar dengan sorot khawatir.
" Iya.. tapi saat itu.."
Mendengar nya senyum Damar muncul kembali.
" Lalu sekarang? apa yang di rasakan nyonya Adamar?" tanya Damar.
Kinanti diam sejenak, lalu mengecup balik bibir suaminya itu dengan lembut.
" Menurut bapak?" tanya Kinanti dengan senyum menggoda,
" Tentu saja harus mencintaiku.." jawab Damar,
" aku tidak menerima penolakan lagi sekarang.. dalam bentuk apapun.." imbuh Damar lalu merengkuh punggung dan pinggang Kinanti, dan segera menciuminya.
Ini bukan ciuman pertama mereka, namun gejolak yang mereka rasakan masih sama seperti saat pertama kali bibir mereka bertautan.
Setelah cukup lama keduanya berciuman, dan tangan Damar sudah menjalar kemana mana.
Kinanti tak sengaja menggeser posisi duduknya,
sehingga menyebabkan handuk yang menutupi Damar terlepas.
" Mas..?" suara Kinanti bergetar,
Paha nya di rasa menyentuh sesuatu, menyadari itu, tubuh Kinanti reflek menjauh seketika karena kaget.
Namun Damar dengan sigap menarik pinggang Kinanti agar kembali dekat dengan tubuhnya.
Pegangan Damar semakin kuat, pelukannya semaki erat, dan ciuman Damar semakin menekan dan bertubi tubi.
__ADS_1
Damar yang sudah tidak tahan,
merebahkan tubuh istrinya itu di atas tempat tidur,
hawa panas mengalir ke seluruh tubuhnya menginginkan sesuatu yang lebih.
" Aku mencintaimu Nan..." bisik Damar ketika keduanya sudah seperi bayi yang baru lahir, keduanya tampak polos, dalam arti kata sesungguhnya.
Kinanti tak menjawab pernyataan cinta Damar, kesadarannya sudah hilang, ia hanya merasakan tubuhnya yang menggeliat kesana kemari dan gemetar hebat karena sentuhan sentuhan Damar.
Dan ketika seluruh tubuhnya sudah habis di jamah oleh bibir Damar,
ia merasakan dirinya sudah di ujung tanduk, sama seperti yang di rasakan oleh Damar.
" Aku akan pelan pelan.." ucap Damar melihat kegelisahan di mata Kinanti, perempuan itu terlihat begitu tegang ketika Damar mulai menyentuh pangkal pahanya
Kinanti menguatkan hatinya, mengusir kegelisahannya, lalu mengangguk pelan.
Di letakkan tangannya di dada Damar yang bidang demi bersiap siap.
Namun sentuhan itu malah membuat Damar semakin membara.
Entah bagaimanapun rasanya, pikir Kinanti,
ia sudah siap untuk menjadi satu dengan suaminya itu.
Damar pun bertindak dengan hati hati, ia berlaku selembut mungkin agar Kinanti tak merasakan hal hal yang tidak menyenangkan di karenakan sentuhannya.
Namun tetap saja, selembut apapun tindakan Damar, ia tetap melihat ekspresi Kinanti yang menahan sakit saat Damar menekan tubuhnya perlahan.
di belai dan di kecupnya dahi Kinanti demi berharap agar rasa sakit yang di derita Kinanti saat ini berkurang.
Dan setelah melihat wajah kinanti tenang dan lebih rileks,
Damar melanjutkan apa yang sudah ia tunda,
tangannya membelai tubuh Kinanti, sembari tak henti menautkan bibirnya ke bibir kinanti.
Keduanya saling membalas, saling memeluk, saling memberi dan saling menerima.
Dan pagi ini mereka habiskan dengan hal hal yang memang sepatutnya di lakukan oleh pengantin baru.
Sarapan yang di hidangkan oleh asisten rumah tangga Damar pun menjadi dingin karena tak tersentuh oleh sang majikan yang sedang sibuk memadu kasih.
si asisten rumah tangga buru buru berjalan keluar rumah demi kesopanan, saat ia mendengar tuannya mengunci pintu kamar, dan tak berangsur lama kemudian ia mendengar suara eluhan nyonya mudanya itu, bahkah setengah memekik.
Bagas berlari ke arah rumah Damar.
" Lho? mas Bagas.. mau kemana?" tanya si asisten rumah tangga yang berdiri di teras sembari menyapu sisa sisa sampah bekas tadi malam.
" Om Damal..!" ucapnya,
" Om Damar masih bobok.. nanti saja ya.." bujuk si asisten rumah tangga itu.
__ADS_1
" Di bangunin lah yuk.." ucap Bagas polos.
" Aduh.. om Damar sedang sakit kepala, mas Bagas main sama yuk aja ya.. kita cari yuyu di sawah.." si Yuk buru buru meletakkan sapu lidinya dan mengendong Bagas ke arah persawahan.
Kaila duduk di teras sembari menguap, ini sudah cukup siang.
Matanya sibuk mengawasi bapak bapak yang sedang membongkar tenda dan pelaminan.
" Kau mau kemana hari ini?" suara ibu Kaila duduk disampinh Kaila.
" Tidak kemana mana? memangnya kenapa bu?"
" temani ibu ke mall, kita belanja.. rasanya aku sumpek sekali dengan kondisi rumah ini" suara ibunya itu tidak senang, Kaila dapat merasakannya.
" Sumpek kenapa? harusnya ibu bahagia mas Damar sudah menikah.." ujar Kaila.
" Bahagia? bagaimana ibu bisa bahagia.. sementara dia menolak di jodohkan dengan perempuan yang setara dengannya,
dia malah mempermalukan ibu dengan menikahi perempuan yang tidak punya apa apa?!
apa kau kira cantik saja itu cukup?!"
Kaila menghela nafas mendengarnya.
" Ibu tetap saja ya, memaksakan kehendak ibu, padahal kehendak ibu belum tentu membuat orang lain bahagia.."
" eh, mulai pintar menjawab kau La? Damar yang mengajarimu?
atau Winda?!"
" tidak ada yang mengajariku bu, aku sudah cukup dewasa untuk mengerti mana yang baik dan tidak, ibu harus mengubah pola pikir ibu, jangan pernah mengusik kebahagiaan mas Damar bu?"
" Siapa yang mengusik?"
" dengan komentar ibu itu? bagaimana kalau mas Damar mendengarnya? atau istri mas Damar mendengarnya?"
ibu Kaila terdiam.
" Dia tak akan tau kalau kau tak mengatakannya?!"
" lalu apa ibu hanya mengatakan hal itu padaku saja?
aku tidak yakin, ibu pasti akan bicara macam macam di arisan nanti.."
" eh! aku ini ibumu La, sebegitunya kau membela Damar?!" tegas ibunya.
" Jelek jelek mas Damar kakakku bu, bapak kami sama..
perlakukan mas Damar dengan lebih baik bu, dia adalah pemilik semua aset, ibu tau itu dengan benar.. dia tidak mengusir kita karena dia masih memikirkan masa depan Kaila bu.." ujar Kaila.
" Omong kosong La, anak itu tidak punya keberanian mengusir ibu..!
sudah! cepat ganti pakaianmu! kita segera berangkat! hawa disekitar sini membuatku sesak!" ujar ibu Kaila lalu bangkit dan masuk ke dalam rumah untuk menganti bajunya.
__ADS_1
Kaila hanya bisa mengelus dada melihat kelakuan ibu kandungnya itu.
Andai saja ibunya itu bisa lebih bijaksana, pastinya dirinya tak akan punya rasa bersalah pada kakaknya.