
Pagi ini Bagas sudah ribu ribut mengajak Kinanti bermain di sawah.
Dia membuat kaki Kinanti tercebur cebur masuk ke lumpur.
Namun bukannya marah, perempuan itu malah tergelak dengan keras.
Yuk yang melihat itu hanya geleng geleng kepala.
" Awas mbak, jangan diambil pakai tangan, nanti di capit..?! biar saya ambilkan kayu sama ember..!" ujar si yuk berlari ke arah rumah.
Ketika si yuk berlari ke arah rumah, ia berpapasan dengan mobil Yoga.
Yah.. sudah seminggu, bahkan lebih sehari Yoga tidak pulang.
Winda terus saja mengabsennya setiap malam, bertanya kapan pulang karena gelagat Yoga yang tiba tiba murung terbaca oleh Winda.
" Kok mlayu mlayu yuk?! ( kok lari lari yuk?!)" tanya Yoga yang baru saja turun dari mobilnya yang berwarna putih.
" Lho mas Yoga sampun wangsul..? ( lho mas Yoga sudah pulang..?)" ujar si yuk,
" ini lho mas, mau ambil ember sama kayu mas, buat tempat yuyu nya mas Bagas..?!" jelas yuk.
" Bagas? dimana dia?" tanya Yoga sembari mengambil tas nya yang berisi pakaian dari dalam mobil.
" Di sawah mas, sama mbak.. itu.. istrinya mas Damar..?" ujar yuk, membuat Yoga ekspresi Yoga langsung berubah.
" Saya ambil ember dulu mas.." pamit yuk,
Yoga tak menjawab, ia hanya mengangguk.
Setelah lama terdiam, muncul rasa ingin melihat Kinanti dan putranya yang katanya sedang bermain bersama.
Ia berjalan dengan langkah tenang ke arah sawah.
Ia memang ingin melihat, tapi tetap belum berani menampakkan dirinya.
Melihat putranya dan mantan kekasihnya sedang bermain di antara hijaunya hamparan padi sembari tertawa kesana kemari membuatnya takjub.
Ada perasaan bahagian dan pedih yang menusuk secara bersamaan.
Bagas terlihat bahagia, bahkan lebih bahagia saat bermain bersama Kinanti dari pada dengan Winda dan Kaila.
Keduanya terlihat senang sekali masuk ke dalam lumpur,
Yoga bahkan melihat sesekali Kinanti mengangkat tubuh Bagas saat bocah kecil itu hampir menjatuhkan tubuhnya ke dalam lumpur.
Bagas berteriak kegirangan, dan Kinanti tergelak tanpa beban.
" Bagaimana ini..." gumam Yoga lirih, ia tak tahan melihat bingkai kebahagian di hadapannya.
Perempuan cantik yang sudah ia sia siakan kini menjadi begitu berharga lagi di matanya.
Andai saja laki laki itu bukan mas Damar.. pasti ku rebut mati matian.. batin Yoga.
" Ini kalengnya mba..?!!" Suara yuk yang berteriak dari kejauhan membuat Kinanti menoleh ke arah dimana Yoga sedang berdiri.
Namun dengan sigap Yoga membalikkan tubuhnya dan berjalan menjauh.
__ADS_1
" Lho, tidak ke mas Bagas?" tanya si yuk ketika tau Yoga berbalik pergi.
" Biar main dulu yuk, saya mau istirahat.." ujar Yoga.
" Oh ya yuk..?" langkah Yoga terhenti,
" nggih mas?"
" Jangan bilang sama orang orang kalau saya sudah pulang.." ujar Yoga.
" Owalah.. nggih mas.." jawab si yuk mengangguk.
Dan Yoga segera kembali ke arah rumah,
dengan sigap ia masuk lagi ke dalam mobilnya,
dan di masukkan mobilnya itu ke dalam garasi.
Menutup nya rapat rapat agar tak ada yang tau kalau dirinya sudah pulang.
Motor Damar masuk ke halaman rumah,
sayup sayup ia mendengar gelak tawa dari kejauhan,
ia berbalik dan melepas helmnya,
lalu menggeleng pelan melihat istrinya dan keponakannya itu sedang berjalan dari area persawahan menuju ke halaman rumah dengan kaki dan tangan belepotan lumpur.
Mereka terlihat bahagia, tidak hanya di penuhi lumpur, tapi juga tawa riang yang renyah.
" Eh.. eh..?" Damar berdiri sembari berkacak pinggang, seakan ingin memarahi keduanya yang berjalan mendekat,
" Apa apaan ini?" tanya Damar melihat tampilan istrinya yang tak karu karuan.
Ada lumpur di wajah dan rambutnya, dan Bagaspun begitu.
Sementara di belakangnya ada yuk yang tampak bersih.
" Yuk??" tanya Damar pada Yuk dengan pandangan yang menginginkan sebuah penjelasan kenapa istrinya yang malah kotor penuh lumpur.
" Jangan salahkan yuk.. aku yang memang ingin menangkap yuyu sendiri untuk Bagas,
jadi aku masuk ke dalam lumpur.." ujar Kinanti menjelaskan.
Damar tak menjawab, namun tetap saja menggeleng geleng.
" Tapi tetap saja, bahaya.. bagaimana kalau ada ular?" tanya Damar setelah beberapa lama.
" Kenyataannya tidak ada.." Jawab kinanti,
" Ah.. jangan begitu, kau hanya sedang beruntung saja sayang.. lain kali jangan masuk ke dalam sawah.." Damar khawatir,
" Mas takut aku merusak padimu ya?"
" eh..! astaga.. mau kau injak semua padi berpetak petak itu tidak
masalah bagiku, aku bisa menanamnya lagi, tapi kalau sampai kaki istriku dan keponakanku di gigit ular bagaimana??" Melihat Damar benar khawatir Kinanti merasa sedikit bersalah.
__ADS_1
" Maaf mas.." ujar Kinanti,
" Boleh cari yuyu.. tapi jangan lagi lagi masuk lumpur, oke Bagas?" Damar menatap Bagas.
" oke om..!" tegas Bagas.
" Hemm.. ya sudahlah.. mandikan Bagas yukk.." ujar Damar.
" Biar ku mandikan saja dia mas?" sahut Kinanti.
" Biar yuk saja.." ujar Damar,
" Masuk sana lewat belakang.." ujar Damar pada istrinya.
Kinanti mengangguk, lalu mencuci kakinya di belakang rumah.
Setelah kakinya sudah bersih ia masuk melalui dapur.
Tak di sangka Damar sudah menunggu di pintu penghubung.
Ia sudah melepas kemejanya dan hanya memakai kaos dalam dan celana pendek nya.
" Mas sedang apa?" tanya Kinanti heran melihat suaminya yang sedang bersandar santai di pintu penghubung dapur.
" Akan memandikanmu lah.." ujarnya sembari tersenyum.
" Aku takutnya kalau kau mandi sendiri kurang bersih, jadi aku dengan senang hati akan membantu istriku.. bagaimana.." ujar Damar lagi berjalan mendekati Kinanti dan menggendongnya dengan cepat.
" Mas?! aku sudah tau kalau ujung ujungnya kita tidak mandi?" protes Kinanti ketika sudah di gendongan Damar.
" Mandilah.. tapi setelah kegiatan kita selesai.." jawab Damar mengecup bibir perempuan yang di gendongnya itu.
" Astaga mas.. ini bahkan masih siang bolong..??" keluh Kinanti yang tak bisa berkutik.
Ia hanya bisa diam patuh ketika tubuhnya di gendong ke dalam kamar mandi yang terletak di dalam kamar mereka.
Sedangkan Yoga yang sejak tadi mengintip dari jendela hanya bisa diam.
ia ingin sekali mengambil Bagas, tapi yang terbaik sekarang adalah diam.
Betapa sakitnya hatinya saat melihat Kinanti tersenyum begitu cerah di hadapan Damar.
Serasa matahari hanya menyinari mereka berdua dan meninggalkan mendung yang pekat untuk Yoga.
Yoga menghempaskan dirinya di atas sofa.
Hidupnya tak pernah semenyedihkan ini, meskipun saat ibu Bagas meninggalkannya.
Tak begitu banyak cinta yang terasa, tak banyak juga kesedihan yang keluar ketika perempuan yang melahirkan anaknya itu pergi dengan laki laki lain.
Tapi entah kenapa, sekarang dengan melihat kehadiran Kinanti saja rasanya sesakit ini,
rasa yang dulu sempat menghuni hatinya tiba tiba menyeruak kembali dengan tak terkendali.
Kerinduan akan kenyamanan yang pernah di berikan Kinanti dulu seakan menyelimuti hati dan pikirannya untuk mengulang hal yang pernah terjadi itu kembali.
Yah.. dia ingin merasakan hal itu kembali..
__ADS_1
mengulang masa masa indah yang dulu pernah ia raih dan miliki bersama Kinanti.