Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
kasihan istrimu


__ADS_3

" Damar di takoni sek ( di tanya dulu)?!" ujar salah satu anggota.


" Takon opo? ( tanya apa?)" jawab Damar sembari berjalan ke arah gerombolan temannya yang sedang beristirahat.


Mereka semua sampai di pos ranu pani 15 menit lebih cepat dari Damar dan Dedy.


Itu terjadi karena Damar berhenti cukup lama saat bertemu Yoga di watu rejeng.


Belum lagi Damar harus menunggu Dedy yang sepertinya sudah payah dan tidak bisa berjalan secepat dulu.


" Dam? melok nang arjuno welirang ora? iki ben di data? ( ikut ke arjuna welirang tidak, ini biar di data?) cuma 3 hari Dam, melok yo? ( ikut ya?)" bujuk salah satu alumni.


" Tidak, dia langsung pulang!" sela Dedy berjalan di belakang Damar, nafasnya tidak karuan.


" Astaga Ded.. mangkannya olah raga rutin, nafasmu rabu kamis begitu..?!" protes Rian.


" Wes? tenan iki ora melok?! ( sudah? benar ini tidak ikut?!)"


" Tenan! ojok ngotot!" Dedy bersuara keras.


Sedangkan Dari jauh terlihat Yoga dan Wiwit yang berjalan ke arah pos perijinan juga.


Keduanya berjalan melewati kelompok Damar masuk ke dalam pos.


Tak lama keduanya keluar, Yoga dengan sedikit ragu mendekat ke arah Damar.


" Ku tunggu mas, kalau mas tidak sudi pulang satu mobil denganku tidak apa apa..


tapi aku akan mengikuti mas Dari belakang..


aku sudah berjanji pada orang rumah,


akan membawamu pulang.." ujar Yoga dengan suara pelan agar tak di dengar oleh teman teman Damar.


Damar diam tak menjawab, ia malah berjalan menjauh.


Namun Yoga tak menyerah, ia mengikuti langkah Damar yang berjalan ke arah aula yang kosong.


Langkahnya terhenti disana,


" sudah ku katakan jangan menampakkan dirimu." suara Damar dingin.


" Maafkan aku mas, aku hanya ingin memastikan kalau mas akan langsung pulang.." jawab Yoga, wajah laki laki itu terlihat lusuh dan pucat.


Damar tentu saja tau bahwa saudaranya itu kelelahan.


" Bukankan harusnya kau senang jika aku tidak kunjung pulang?" Damar masih sinis.


" Itu tidak benar mas.. sebenci dan sekesal apapun mas dengan ku sekarang, tentunya mas tidak lupa bagaimana caraku menghargai kehadiran mas dalam keluarga kita..


itu tidak akan berubah sampai kapanpun..


dan..


untuk sekarang yang terpenting bukan hal ini..


tapi segeralah temui istrimu yang sakit mas..?" Yoga memberanikan diri menatap Damar.


Ia berusaha tak gentar, di sepanjang jalan Wiwit menyuntiknya dengan kalimat kalimat yang mampu menekan keberaniannya agar muncul.


" Aku sudah bilang, mas boleh memukulku sampai puas, sekarang, esok, lusa, kapanpun mas mau..


tapi tolong..


aku lekas pulang..


kasihani istrimu.." ucap Yoga dengan nada penuh keyakinan dan tak bergetar lagi seperti saat di watu rejeng.


" Kau tidak berlutut lagi?" Damar lagi lagi sengau.


Yoga seperti tak mengenal Damar yang biasanya, apa kekecewaan membuat sikapnya menjadi sarkas dan menyebalkan.


Yoga berharap itu hanya sementara saja, dan berusaha memahaminya.

__ADS_1


" Aku sudah melakukannya mas, semua kalimat permohonanku juga sudah ku ungkapkan,


sekarang semua tergantung mas,


karena bukan lagi harga diri yang kita bicarakan..


tapi Kinanti,


istrimu yang tidak bersalah itu sedang menunggumu dengan kondisinya yang menyedihkan..


dia terus saja menyalahkan dirinya sendiri karena mas tak kunjung kembali?!" Yoga terus menatap Damar, dan keduanya beradu pandang sesaat.


Hingga akhirnya Damar membuang pandangannya ke arah ranu pani.


" Apa mas sanggup menerima kecurigaannya?"


" apa maksudmu?" kalimat Yoga mulai menarik perhatian Damar, laki laki bertubuh tinggi itu melihat Yoga kembali dengan pandangan masih sinis namun juga penasaran.


" Inilah yang tidak mas pelajari, tentang seberapa dalam perasaan perempuan..


mas hanya tau cara bekerja dan menyimpan aset aset mas dengan baik,"


" Jadi kaulah yang paling pintar perkara perasaan perempuan?!" mata Damar melebar karena marah.


" Aku tidak berkata akulah yang paling mengerti perasaan perempuan,


tapi setidaknya aku belajar dari kesalahanku yang dulu,


kenapa aku di tinggalkan oleh ibu Bagas,


itu karena aku kurang memberinya perhatian dan kurang mengerti apa maunya.


Aku tidak pernah mendengarkan pendapatnya dan hanya mengikuti apa yang menurutku benar saja, padahal tidak semua yang ku pikirkan itu ternyata benar dan layak untuk di lakukan.


Hingga akhirnya ia berpaling dan meninggalkanku karena lelah..


dia lelah karena aku tidak memberinya kasih sayang yang sepantasnya.


ada yang sanggup menunggu lama,


ada yang tidak..


sama seperti kita, laki laki terkadang juga tidak sabaran bukan?,


aku tak ingin hal itu terjadi padamu mas?!".


Damar membeku dengan ekspresi tertegun.


Beberapa kalimat Yoga membuatnya berpikir tiba tiba.


Raut kecemasan mulai timbul di wajahnya.


" Cukup aku saja yang pernah mengecewakan Kinanti, cukup aku saja yang pernah membuatnya terluka..


mas jangan begitu..


jangan brengsek sepertiku?!,


bayangkan saja betapa sakitnya hatinya saat ini,


hidupnya di ganggu olehku yang sudah membuat luka batin di masa lalu,


dan sekarang suaminya bukannya percaya.. tapi malah menghardiknya, menuduhnya dengan keras dan meninggalkan dia..?!"


Damar terdiam, matanya mulai penuh dan memerah.


" Aku tidak meninggalkannya.." suara Damar bergetar.


" Aku tidak pernah ingin meninggalkannya.." imbuhnya goyah.


" Lalu kenapa ketika kemarahan sudah menghilang mas tak kunjung kembali?"


" Kekecewaanku pada kalian terlalu besar.."

__ADS_1


" kecewalah mas, tapi pada kenyataannya tak terjadi apapun diantara aku dan istrimu di masa sekarang,


bahkan di masa lalunya pun saat dia masih menjadi kekasihku,


dia begitu hati hati menjaga dirinya,


dia bukan tipe perempuan yang menyerahkan segalanya hanya demi cinta!


jadi sekarang kalau mas tidak mau segera pulang,


jangan salahkan siapapun jika dia berpikir buruk padamu dan akhirnya lelah!"


Damar lagi lagi membisu, seperti memberikan kesempatan Yoga untuk terus bicara dan merubah pemikiran Damar.


" Menurut mas, apa yang seorang istri akan pikirkan jika sang suami pergi dari rumah dengan kondisi marah dan tidak kunjung pulang setelah beberapa minggu?"


Damar masih diam, matanya tertuju entah kemana.


" Bagaimana jika dia salah faham dan mengambil kesimpulan sendiri?


bahwa mas yang sedang marah dan tidak pulang pulang ini bertemu dengan perempuan lain?


bagaimana jika dua minggu lebih ini, pemikiran pemikiran buruk tentang mas meracuni pikirannya??


sikap apa yang akan mas ambil jika di pikirannya mas sudah menyentuh perempuan lain??"


Wajah Damar memerah, hatinya mendadak gusar.


" Diam!" tegas Damar keras tanpa menatap Yoga.


" Ayo kita pulang!" imbuhnya masih marah, di lewatinya Yoga begitu saja.


Wiwit mengemudi dengan berhati hati, ia tetap mengikuti jeep yang Damar kendarai dari belakang.


Sesekali ia melirik Yoga yang memejamkan matanya, laki laki berkulit putih itu tampak payah,


namun kegelisahan sedikit memudar dari wajahnya.


Tak seperti awal mereka bertemu,


mungkin pembicaraan berakhir dengan baik..


batin Wiwit.


" Terimakasih.." ucap Yoga tiba tiba membuka mata.


" Lho? di kira tidur mas.." Wiwit agak kaget.


" Hanya memejamkan mata, bukan berarti aku tidur.." jawab Yoga memperbaiki posisi duduknya.


" Berkat dirimu aku jadi berani mengemukakan pendapat ku, meski resikonya aku bisa saja di pukul.."


ujar Yoga sembari membuka sebungkus permen dan memakannya.


" Tapi kenyataannya tidak di pukul kan?" Wiwit tersenyum,


" Yah.. sepertinya dia menahan diri agar tidak memukulku.." ujar Yoga.


" Dia orang yang penuh kasih sayang.. terlihat sepintas..


tak ada kebencian di mata si mas Damar itu, meski kata katanya sinis dan kasar..


jadi..


maaf ini ya mas.. maaf.."


" katakan saja.. aku tidak akan tersinggung.." kata Yoga sembari membuang pandangannya pada pepohonan sekitar.


" Jangan menyakitinya lagi.. tubuhnya gagah, tapi hatinya mudah sekali terluka.. kasihan mas..?"


ucap Wiwit.


" Kau benar.. dialah yang paling kasihan diantara kami.." ucap Yoga lirih.

__ADS_1


__ADS_2