
Yoga mengira, dengan mengacuhkannya semua akan berlalu begitu saja.
Laki laki itu pasti hanya punya rasa ketertarikan yang sementara karena melihat istrinya dalam kondisi sedih dan teraniaya,
laki laki mana yang tak simpatik dengan Dinda yang cantik itu bersedih,
yah.. pasti itu.. sebulan dua bulan juga laki laki itu akan menghilang sendiri.
Namun keyakinan itu lenyap saat ia melihat bunga mawar di tangan si mbak pengasuh Bagas.
" Bagus bunganya mbak?" Yoga berbasa basi saat pengasuh membawa bunga itu dan sudah bersiap untuk pulang.
" Oh, kata mbak Dinda untuk saya saja, karena mbak Dinda tidak suka mawar.." jawab si pengasuh polos.
" Oh.. beli dimana mamanya Bagas mbak?"
" ndak beli mas, tadi ada teman jenguk mbak Dinda, ini pemberiannya.."
" oh.. ibu ibu?"
" laki laki mas, teman sekolah mbak Dinda dan mbak Kinan dulu tadi katanya.."
" oh.." Yoga mengulas senyum, menutupi perasaannya yang sesungguhnya.
" Ya sudah.. saya pamit dulu..
mas Bagas tidur di kamar mas, sepertinya kecapekan karena ikut mba Winda seharian ke kota.."
" mamanya?" tanya Yoga yang memang baru saja pulang dari klinik.
" Mbak Dinda di dapur.. makan nasi dan kerupuk.."
" kok kerupuk??"
" maunya kerupuk mas, kerupuk bapak bapak yang keliling naik sepeda ontel itu lho mas.."
Yoga menghela nafas lelah,
" ya sudah.. mbak pulang saja, sudah gelap langitnya" ujar Yoga berjalan masuk.
Di perhatikan istrinya yang sibuk mengunyah nasi putih dan krupuk,
" Itu kan juga di goreng.." Yoga duduk disamping Dinda.
" Tidak ada baunya kok.." jawab Dinda lalu berdiri ke arah lemari kaca,
Mengambil beberapa piring dan mangkok berisi lauk pauk.
" Wah.. aku harus diet minyak juga ya?" Yoga tersenyum melihat menu makanannya kebanyakan di kukus dan di panggang.
" Katanya mau masakanku?"
" masakanmu yang normal sayang.."
" tidak mau pakai minyak.."
Yoga tersenyum mendengarnya,
" ya sudah.. apapun yang di masak istriku pasti ku makan.." Yoga mulai makan disamping istrinya.
Satu, dua, tiga, kerupuk demi kerupuk terus bertambah, hingga akhirnya Yoga merebut toples kerupuk di hadapan Dinda.
" Cukup.. berlebihan itu tidak baik," Yoga menatap istrinya serius.
" Dokter Weni bilang aku boleh makan apapun asal bisa membangkitkan selera makanku..?"
" maksud dokter Weni adalah makanan yang sehat," bantah Yoga menjauhkan toples krupuk di tangannya.
" Kau sudah makan banyak sayang, tolong berhentilah.. biar ku seduhkan susu kedelai untukmu.." bujuk Yoga bangkit, membuka lemari es dan mengambil sebotol susu kedelai buatannya kemarin.
__ADS_1
" Minum ini saja supaya kenyang, atau makan buah.." Yoga menyodorkan segelas susu kedelai.
Dengan wajah sedikit di tekuk Dinda mengambil segelas susu itu.
" Besok jadi orang orang kesini untuk pengajian?" tanya Yoga melanjutkan makannya.
" Jadi.. pulanglah lebih cepat.. ya masa banyak orang dirumah tuan rumah tidak ada.."
" biar besok aku tukar pagi.." ujar Yoga kalem.
Setelah memastikan istrinya terlelap Yoga bangkit dan duduk di pinggiran tempat tidurnya.
Ada perasaan tak nyaman yang mengganjal hatinya, entah itu apa,
sekali lagi di pandangi wajah istrinya yang sedang terlelap itu.
Ada kekhawatiran yang lebih besar dari pada gangguan Rakha yang di rasakannya.
Alasan terbesarnya merahasiakan kehamilan Dinda adalah ketakutannya akan apa yang tidak bisa ia prediksi.
Ia merasa akan lebih baik merahasiakan hal membahagiakan ini, karena ia takut suatu ketika kabar membahagiakan akan berubah menjadi kabar buruk.
Jadi.. ada atau pun tidak adanya janin itu, istrinya tidak akan menanggung kepedihan untuk kesekian kalinya.
Melihat kondisi Dinda yang naik turun tentu saja ia cemas, namun sebagai dokter dirinya sudah melakukan usaha yang terbaik.
Yoga menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya,
Dokter Weni menyarankan operasi ikat rahim setelah trisemester pertama, karena sudah di pastikan kandungan istrinya lemah.
Trauma dan kekerasan dalam rumah tangga yang istrinya alami dulu cukup berpengaruh besar pada kondisi rahimnya.
Tidak benar jika istrinya tidak akan bisa hamil seumur hidupnya, yang benar adalah masih bisa hamil, namun kemungkinan keguguran besar, hal itu lah yang menjadi penyebab utama kenapa ia merahasiakan kehamilan Dinda sampai detik ini.
Kehamilan Dinda juga hasil usahanya selama dua tahun ini, dia selalu mendorong istrinya untuk meminum vitamin dan menerima suntikan yang khusus di persiapkan untuk ibu yang sedang program kehamilan.
Yoga tidak bermaksud untuk menjadi suami pembohong,
" Satu saja ya Allah.. satu saja.." gumam Yoga memohon.
Terdengar suara Dinda bergerak dan mengigau,
membuat Yoga kembali memandangi istrinya.
Yoga bangkit, di belai pipi istrinya, lalu di kecupnya beberapa kali.
Ada perasaan sedih menghinggapinya, ia tak bisa membayangkan bagaimana hari hari yang di lewati istrinya itu dulu..
perlakuan keras apa saja yang ia terima hingga ia lari ke tempat yang jauh dari keluarga dan tempat kelahirannya.
Senelangsa apa hatinya..
saat tau ibunya lebih mementingkan uang dan sebidang tanah dari pada dirinya..
Yoga berjalan perlahan meninggalkan kamar,
langkahnya terhenti di depan kamar Bagas,
Ia membuka pintu dan memandangi putranya yang sudah lelap itu cukup lama.
" Kasiannya.." ucapnya lirih,
" mamamu juga kasihan nak.." ucapnya lagi dengan raut penuh beban pikiran.
Yoga menutup kembali pintu kamar Bagas, dan berjalan keruang tamu, membuka pintu rumah, dan duduk di kursi teras.
Seperti mencari tenang diantara tenang, ia mendongak mencari sinar rembulan yang redup.
Namun rupanya para katak tak memberinya kesempatan dirinya untuk tenang,
__ADS_1
penghuni sawah itu ramai bersautan,
seakan menyadarkan Yoga, bahwa ia tidak boleh terlalu larut dalam pikirannya.
Ia adalah seorang suami dan seorang ayah,
ia harus mengambil langkah langkah yang baik demi orang orang yang di cintainya.
Hari berganti minggu, sudah tiga kali Yoga membuang buket bunga mawar yang di letakkan begitu saja di teras.
Syukurlah Dinda tak lagi membuka pintu untuk laki laki yang mendorong dirinya pada Dinda itu.
Namun tetap saja, hal itu membuat Yoga meradang.
" Dimana rumah si Rakha itu? biar aku menemuinya?" tanya Yoga pada Kinanti,
" Biarkan saja, nanti juga capek sendiri.." sahut Kinanti menaruh kopi untuk suaminya dan teh untuk Yoga.
" Kau jangan terpancing.. sudah, toh istrimu tak membuka pintu sekarang.." lanjut Kinan.
" Habiskan saja.. kalau ada proses hukum biar aku yang mengaturnya.." celetuk Damar santai,
" Eh! malah memberi saran yang buruk?!!" Kinan mencubit suaminya.
" Bukan memberi saran yang buruk, tapi kelakuan laki laki itu sudah melebihi batas,
kalau aku jadi Yoga.. hemm... entahlah.." balas Damar.
" Kalau bisa di ajak bicara kenapa harus menggunakan cara kasar??"
" lha memangnya dia bisa di ajak bicara? dia merasa dirinya lebih baik dari Yoga, karena itu dia terus mendesak Dinda menerimanya..
hei... suamimu ini sudah cukup usia untuk memahami hal semacam itu.."
" hal semacam apa?"
" ingin di akui dan mengalahkan Yoga, dia berprilaku seperti orang yang bisa mendapatkan apapun yang dia inginkan asal dia lebih unggul dari laki laki lainnya..
itu terbentuk dari lingkungannya yang selalu mendambakan dan memanjakannya..
yah, melihat wajahnya dan postur tubuhnya.. tak ada yang akan menolaknya..
jadi wajar saja, jika ia terus mengejar Dinda.." ujar Damar pada istrinya lalu segera menyeruput kopi panasnya.
" Dia memang unggul di kampus..
dia juga atlit karate dulu, karena itu Dinda menghalangi benar saat kau dan Rakha akan berkelahi waktu itu,
kau malah salah faham dan menganggap istrimu lebih berat laki laki lain..?!" Kinan gemas.
Yoga tertegun dengan kata kata Kinan,
" yang benar mbakyu?"
" ya benar, sekarang kalau aku jadi Dinda aku juga akan begitu.. siapa yang mau melihat suami babak belur??"
" Kau akan begitu kalau jadi Dinda??" sela Damar serius,
" Kau tidak yakin pada kemampuan suamimu?" tanya Damar lagi.
Kinanti salah tingkah,
" ini perihal Yoga, bukan mas.." jawab Kinanti pelan,
Damar tersenyum mendengar kata kata istrinya.
" Jangan pernah meremehkan kekuatan seorang laki laki saat miliknya di usik..
bahkan seorang terpelajar pun bisa menjadi buas dan di luar batas..
__ADS_1
jadi kalau aku bisa begitu..
Yoga pun bisa begitu sayang.." tegas Damar dengan nada lembut pada istrinya.