Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
Harapan ibu


__ADS_3

Damar Sedang sibuk di pabrik, ia mengendarai mobil forklift dan mengangkat kayu kayu yang sudah di potong.


" Waduh repot kalau begini terus.." gumam sopir forklift duduk di pos satpam.


" Sambat wae.." komentar si satpam.


" Lha dari tadi pagi mas Damar yang pegang forklift nya, terus saya ini disuruh ngapain pak..?"


" Kan ada lainnya.."


" yang lainnya di pakai lah pak..!"


" yowes kamu diam saja menunggu perintah, seperti tidak tau saja.. mas Damar kan paling nggak bisa diam.."


kedua orang itu diam memperhatikan dengan pasrah Damar yang kesana kemari mengangkat kayu dengan forklift.


Sekitar 30 menit kemudian Damar turun dari mobil forklift dan berjalan ke pos satpam.


" Tuh, saya kembalikan pak..!" ujar Damar sembari tersenyum, ia tau si sopir sedikit kesal dengan tingkahnya, mungkin ia merasa pekerjaannya diambil oleh Damar.


" Iya e, mas Damar ini.. saya kan tidak enak duduk duduk saja sejak tadi..


apa kata orang nanti, bos yang kerja saya makan gaji buta.." keluh si sopir.


" Ah, wong cuma sebentar pak.. ya sudah, saya pergi dulu ya, ketemu lagi nanti malam..!" pamit Damar, ia menepuk lengan si sopir, lalu berjalan pergi menjauh dari arah pabrik.


" Mau kemana?" tanya Winda yang melihat Damar sudah memakai jaket dan tas punggungnya.


" Ngajar? kenapa?" tanya Damar heran,


" Aku ada kelas sore.. mbak tolong lihat lihat pabrik sebentar.." imbuhnya.


" Langsung pulang?" tanya Winda,


" lha terus mau kemana?" tanya Damar balik.


" Siapa tau, mendatangi Kinanti lagi.."


" Wah, mbak jadi dukun sekarang? kok bisa tau aku begini begitu.." gumam Damar.


" Tidak usah pakai dukun, melihatmu saja aku sudah faham, coba kendalikan dirimu..


jangan menemui perempuan malam malam,


dia juga harus menjaga nama baiknya.."


Damar heran, ia tak mengerti dengan apa yang di ucapkan Winda.


"Memangnya aku berbuat apa mbak sampai merusak nama baiknya? kami hanya makan?" jawab Damar.


" Yah, tapi apa kau pernah berfikir, kau sering menjemputnya, bahkan kau mengunjunginya malam malam,


bagaimana orang sekitar bahkan pemilik kost memandang,


laki laki lain bisa salah faham..


tentu saja akan ada gosip tidak baik tentang Kinanti, padahal ia seorang guru.."


Damar terdiam mendengarnya, pikirannya benar benar tidak sampai kesitu.


" Jadi maksud mbak aku tidak usah menjemputnya lagi?" nada Damar bimbang.


" Ya kalau kau tidak ada niat menikahinya, jauhilah dia.. kau kan bisa ketemu ibunya sebulan sekali, sama seperti biasanya..


lalu..


kalau memang kau mau ikhlas membiarkan dia bersama laki laki lain ya jangan memprovokasinya..


biarkan laki laki lain mendekatinya dengan leluasa,


tentu saja tetap.. harus menjauhinya.."


nasehat Winda serius.


" Kenapa aku harus menjauhinya? toh aku hanya mengantar jemputnya?" hati Damar mulai tak terima,


" karena kau pengecut, kau berdiri di tengah tengah dan tidak bisa mengambil keputusan, jadi lebih baik kau menjauh saja..!" tegas Winda.


" Biarkan laki laki lain yang menikahinya dan membahagiakan dia kalau kau tidak sanggup!"


Damar benar benar resah,


" kenapa mbak bisa berkata sejahat ini padaku??" tanya Damar dengan suara berat.


" habisnya aku heran denganmu, sebenarnya maumu itu apa Dam? membantunya secara finansial saja, atau ingin memilikinya?"


dan lagi lagi Damar terdiam.


" nggak bisa jawab toh..?" ujar Winda


" Jaga Jarak, cari tau perasaanmu.. baru mengambil langkah yang benar,


bukannya aku tidak mendukungmu, tapi melihat kelakuanmu sekarang yang kadang mau kadang tidak membuatku mengasihani wanita itu,


jangan membuatnya jatuh cinta padamu jika kau tidak berniat menikahinya." Winda benar benar tegas kali ini, ia sengaja bersikap seperti itu agar adiknya itu bisa membedakan perasaannya,

__ADS_1


hanya sebatas tanggung jawab yang ia rasakan,


atau perasaan ingin memiliki Kinanti sebagai seorang pasangan.


" Sudah.. berangkatlah.. hati hati, pelan pelan jangan ngebut.." ujar Winda tenang lalu berjalan menjauh seperti tak berdosa, meninggalkan Damar dengan beban pikiran.


Selama mengajar Damar kurang fokus.


pikirannya resah memikirkan ucapan Winda.


Harus menjauhi Kinanti.. bagaimana aku bisa melakukannya, pikirnya.


Tapi kata kata Winda ada benarnya juga, sebagai laki laki harusnya ia tidak egois.


Ia bahkan senang memaksakan kehendaknya secara tidak langsung.


Tapi apa daya, Kinanti seperti magnet yang kuat untuknya, entah perasaan apa ini ia juga tak bisa memahaminya.


Apa ini sebatas tanggung jawab yang sudah berubah menjadi obsesi, atau.. memang ada perasaan yang timbul setelah mengawasi wanita itu setelah bertahun tahun.


Seperti kata Winda..


ia selama ini seperti merawat sebuah tanaman, lalu ketika tanaman itu berbuah, sanggupkah dia merelakan tanaman bahkan buah itu di petik oleh orang lain.


Tentunya Kinanti tidak bisa di samakan dengan sebuah tanaman, itu hanyalah sebuah perumpamaan, dan tentu saja dia lebih berharga dari itu.


" Sialan.." keluhnya lirih, membuat para mahasiswa menatapnya heran.


Namun ia tak menghiraukan tatapan para mahasiswa itu.


Ia bangkit dari kursinya, berjalan keluar, dan bersandar di salah satu pilar.


Sekarang Damar sedang berdiri di lantai 3, Seperti ingin menyingkirkan sedikit keresahannya ia membuang pandangnya ke langit yang biru yang di hiasi dengan awan awan putih itu, tampak cerah sekali.. tak seperti hati Damar sekarang yang tidak jelas inginnya dan maunya.


Lalu beberapa lama kemudian ia menjatuhkan pandangannya ke bawah, mengawasi dengan iseng para mahasiswa dan mahasiswi yang sedang hilir mudik di halaman kampus.


Ada yang sedang berbincang, bahkan ada yang sedang berdua dua an duduk di kursi sebelah taman taman kampus.


Dari atas segalanya seperti terlihat jelas.


Ia berharap hatinya juga sejelas pandangannya sekarang.


Apakah keinginannya menikahi Kinanti hanya sebatas obsesi, atau karena hatinya benar benar menginginkannya.


Ia menghela nafas berat, lalu memegang kepalanya yang tidak sakit dengan kedua tangannya, seperti ada sesuatu yang berat sedang menghinggapi pikirannya.


" Bagaimana ini Ji.. apa yang harus ku lakukan pada adikmu.." ujarnya dengan suara lirih.


Kinanti berjalan terburu buru keluar dari ruangan kepala sekolah.


" Saya mau pulang pak, ibu sakit lagi..?!" jawab Kinanti dengan wajah resah, namun ia sudah mengantongi ijin dari kepala sekolah.


" Aduh..?!"


" kenapa pak?"


" kalau tidak sedang mengajar inginnya saya antar bu??" ucap Tyo,


" tidak usah pak, saya naik bus atau angkutan umum saja.." ujar Kinanti.


" Ya sudah pak, mari saya duluan?!" pamit Kinanti lalu segera berjalan ke parkiran mengambil motornya.


Dan benar saja, Kinanti segera kembali ke kost untuk ganti baju, setelah itu ia segera menuju jalan raya untuk mencari bus yang melewati jalan raya yang menuju rumahnya.


Yusuf membantu ibu duduk, keduanya baru pulang dari dokter.


" Apa nggak rebahan saja bulek?" tanya Yusuf.


" Duduk saja le.. rebahan makin pusing.." ujar ibu Kinanti.


" Mikir opo tho bulek.. darah sama gulanya bisa tinggi begitu.. lambung e njenengan itu juga, mbok ya maem teratur.."


" Wes maem le.. orang ibumu rutin masakin bulek tiap pagi.. moso nggak di maem.."


" tapi pikiran bulek ini kenceng.. nggak punya hati saya lihat bulek begini, tapi Kinan sudah saya telfon?!"


" jangan le, kasian dia ngajar.."


" sekarang dia berat ngajar apa berat ibunya?!" Yusuf sedikit kesal.


" Maaf bulek.." katanya kemudian dengan nada lebih rendah.


" Bulek pindah kerumah saya saja nggeh.. biar ada yang mengawasi.." Yusuf benar benar khawatir, karena ia pun tidak bisa mengawasi, ia sibuk mengawasi keluar masuk barang di toko mebelnya, dan malam ia masih harus membantu bapaknya dengan administrasi keluar masuk bahan baku kayu.


" Mas Damar tidak di kabari?, dia pasti marah kalau tau bulek sakit tapi tidak mengabarinya?" ujar Yusuf.


" Jangan le.. bulek ndak enak.."


" ndak enak kenapa bulek, katanya sudah seperti anak sendiri?"


" itu.. gara gara Kinan pulang dengan laki laki teman gurunya itu.. bulek jadi tidak enak.."


Yusuf berfikir lama, lalu memandang budhenya yang wajahnya pucat itu baik baik.


" Budhe.. boleh saya tanya?" suara yusuf tenang,

__ADS_1


" apa le.."


jawab buleknya itu kalem,


" apa yang bulek harapkan sebenarnya dari mas Damar dan Kinan?"


mendengar pertanyaan Yusuf buleknya itu bersandar di punggung kursi sembari menghela nafas pelan.


Seperti ada beban yang berat di hatinya.


" Kalau bulek capek, kapan kapan saja kita sambung pembicaraan ini.." potong Yusuf takut buleknya itu kelelahan.


" Ndak le.. mumpung kamu tanya, bulek juga tidak pernah bisa bicara leluasa dengan Kinan seperti denganmu..


kau tau sendiri..


sejak putus dengan kekasihnya dulu ia jadi sosok yang keras kepala dan tidak mudah menerima masukan orang lain,


yang bagi kita baik.. belum tentu bagi kinan itu baik.."


" iya bulek, saya faham itu.." Yusuf mengangguk.


" Di mata bulek, Damar laki laki yang bertanggung jawab.. baik atau tidaknya, bulek tidak tau bagaimana sikapnya keseluruhan di belakang bulek..


tapi sepintas bulek lihat,


di matanya menyimpan sesuatu yang lebih dari tanggung jawab untuk Kinanti..


apalagi sejak dia menawarkan diri menikahi Kinanti, bulek jadi yakin dia bisa bertanggung jawab pada hidup Kinan dengan menjadi suaminya..


yah.. walaupun alasannya adalah pertanggung jawabannya, katanya dia bahagia jika bisa bertanggung jawab sampai akhir pada adik sahabatnya.."


jelas ibu kinan.


" Jadi mas Damar yang mengajukan diri untuk menikahi? bukan seperti yang bulek katakan pada Kinan kalau bulek yang menginginkan?"


Ibu Kinanti menggeleng pelan,


" Dia menginginkan Kinanti.. tapi dia tidak ingin Kinanti terbebani dan takut, karena itu dia meminta ibu menyembunyikan kenyataan kalau dia yang mengajukan diri ingin menikahi Kinanti..


yah..


mungkin itu juga di sebabkan karena keluhan keluhan ibu padanya.."


" keluhan apa bulek?"


" bulek sesekali curhat padanya ketika datang kesini,


bahwa Kinanti sudah 25 tahun, dan kondisi bulek seperti ini..


yah.. keresahan keresahan bulek, karena dia sendiri sudah seperti pengganti Aji..


bulek bilang, kalau bulek meninggal.. siapa yang mengawasi Kinan dan membimbingnya, sudah pasti dia akan hidup se hidup hidupnya..


hidup asal hidup, tanpa tujuan dan harapan..


kau tau sendiri ketika Aji dan bapaknya meninggal..


seperti apa terpuruknya dia..


lalu di khianati kekasihnya yang sudah bertahun tahun menjalin hubungan dengannya..


sehancur apa hatinya bulek tau..


lalu kalau tiba tiba bulek meninggal dan dia masih sendiri.. bagaimana nasibnya le..?" mata ibu Kinan mulai berkaca kaca.


" Kan ada saya bulek? saya tidak mungkin membiarkan Kinan hidup sendiri.." ujar Yusuf.


" Kau akan menikah le.. kau akan punya istri dan anak yang harus di urus..


tidak mungkin selamanya kau mengurus dan memperhatikan Kinanti.."


Yusuf terdiam, ia tertunduk.


" Jalan keluarnya adalah menikah.. dia harus menikah mumpung ibu masih hidup.." ujar ibu sedang suara mulai parau.


air mata menetes sedikit demi sedikit dari sudut matanya, ia benar benar tidak sanggup jika harus meninggal sebelum Kinanti benar benar ada yang menjaga.


Kinanti sudah merasakan banyak kehilangan, dan ibu tidak mau anak itu sendirian ketika ia juga di panggil oleh Tuhan.


" bulek ingin meninggal dengan tenang nanti..


sukur sukur kalau di beri umur lebih panjang dan bisa melihat cucu.."


" pasti bisa bulek.. pasti bisa melihat cucu bulek.. mangkannya jangan pikiran yang macem macem,


soal Kinan biar saya nasehati pelan pelan bulek..


bulek sekarang makan dulu, terus minum obat ya? biar Yusuf ambilkan makan.."


Yusuf tak sanggup lagi mendengar kata kata dari buleknya itu.


ia terpaksa memotong pembicaraan ini karena dirinya sendiripun hampir saja menangis melihat buleknya itu menitikkan air mata.


Ia segera bangkit dari kursi dan menuju ke dapur.

__ADS_1


__ADS_2