
" Waduh, calon pengantin ini.. rajinnya.." goda ibu ibu,
" sebelum jadi calon pengantin saya juga rajin budhe..?" jawab Damar sembari terus mengangkat karung karung berisi cabai itu.
" Sudah mas.. jangan ikut angkat angkat, nanti punggungnya cidera..
ingat.. 8 hari lagi, eman eman malam pertama kalau tidak berjalan dengan lancar.."
ibu ibu terus menggoda Damar.
Damar hanya tersenyum saja, ia malu,
ibu ibu ini keterlaluan sekali menggodanya.
" Rausah di rungokno mas?! ibu ibu yo ngunu iku ( gausah di dengarkan mas, ibu ibu ya begitu itu), yang di bahas malam pertama terus..!" celetuk Hari membuat Damar tertawa,
" sepertinya kangen suaminya semua nggih bu? mau pulang sekarang?" Damar menimpali sembari tertawa,
" eleng buk..! eleng..!, sek awan iki.. ( ingat bu..! ingat..!, masih siang ini..)" ujar Hari.
" Huss! lambemu Har ?!( huss! mulutmu Har?!)" salah satu ibu melotot pada Hari.
Bukannya diam, Damar dan Hari malah tergelak lebih keras.
" Wis wis.. kerja kerja, biar cepat selesai terus ketemu suami dirumah..!" ujar Damar membuat semua orang yang ada disitu tertawa.
Setelah lelah tertawa Damar duduk di atas kursi kayu yang ada di samping mobil pick up.
Setelah memperhatikan ibu ibu yang mulai serius bekerja lagi, ia mengalihkan pandangannya ke jalan.
Seperti mendapat kejutan, ia menemukan sosok yang di rindukannya selama beberapa hari ini berjalan mendekat, sosok Kinanti yang sedang berjalan belakang Winda.
" Apa itu benar Kinan? dia kan sedang marah, mana mungkin kesini..?" ucap Damar dalam hati.
Di sentuh dadanya demi merasakan desiran demi desiran yang tak mampu ia fahami kenapa itu selalu muncul saat ia melihat Kinanti.
Ia harus menguasai dirinya, tidak lucu kalau dirinya terlihat kikuk atau tersipu sipu di hadapan ibu ibu ini, pasti mereka akan mengejek atau menggosip setelahnya.
Yah.. meskipun hal hal yang mereka bicarakan pastinya baik.
Di tundukkan kepalanya sejenak, demi menyembunyikan senyumnya, bunga bunga yang bertebaran di hatinya.
Setelah dirasa cukup bunga bunga itu mekar, ia segera mengendalikan perasaannya,
di tegakkan lagi kepalanya dan bersikap sewajarnya.
" Dam..!" suara Winda terlihat lelah, ia sudah mengelilingi pasar, dan sekarang ia masih harus berjalan mencari Damar.
" mbak.." jawab Damar bangkit dari kursinya.
" Antarkan Kinan pulang nanti, mbak tadi sengaja membawanya.." ujar Winda,
sementara Kinanti diam saja, ia sibuk memandang situasi sekitar, entah karena tertarik dengan dengan pemandangan persawahan yang lumayan indah ini, atau sekedar lari dari pandangan Damar.
Damar mendekat,
" dari mana?" tanyanya lembut pada calon istrinya,
" pasar, menemani mbak Winda.. ayo antarkan aku pulang.." ucap Kinanti memandang Damar seadanya.
" Nanti nduk.. kau kan belum bertemu mbah..?" sahut Winda, Kinanti tak berkomentar.
" Aku mau ke pasar sebentar.. sudah janji dengan pak Anwar mbak..",
" kan biasanya pak Anwar sendiri Dam? tumben tumbenan?"
" hasil panennya jelek mbak, sebelum di lihat mbah uti langsung di bawa ke pasar saja,
aku juga ingin mengusahakan harga yang sedikit pantas meski kondisi cabainya seperti itu.."
Winda diam, ia berjalan ke arah ibu ibu yang sedang memilih cabai dan menimbangnya.
Setelah melihat sebagian Winda kembali ke arah Damar dan Kinanti.
" Semprotannya kurang?" tanya Winda,
" cukup mbak.."
" lalu?"
" belum ku cari tau.. apa karena ganti merk ya.."
" Kenapa kau ganti?"
" bukan aku mbak, mbah uti.. dia mendapat rekomendasi dari orang dan asal ikut saja,
__ADS_1
cocok di tanaman orang kan belum tentu cocok di tanaman kita?" Komentar Damar.
" Lha terus?"
" ya aku mau ke pasar.."
" yang benar saja, masa kau mau ke pasar dan menjualnya langsung pada pembeli?"
Winda kurang setuju, ada banyak pekerja yang mampu berinteraksi dengan penjual, tidak harus Damar yang turun tangan.
" Mbak malu aku turun ke pasar?" tanya Damar, ia melirik Kinanti sepintas.
" Kau malu aku menjual cabai ke pasar?" tanyanya pada Kinanti.
Kinanti kaget tiba tiba di beri pertanyaan semacam itu.
Tentu saja menggeleng pelan.
" Baguslah.." ujar Damar melihat gelengan Kinanti.
" Aku hanya ingin berdiskusi dan memperoleh harga yang baik.."
" kau kira mudah memperoleh harga yang kau inginkan dengan hasil panen yang seperti itu?!"
" aku harus mencobanya mbak.."
mendengar itu Winda menyerah,
" ya sudah lah, berangkatlah.. jangan lama lama, Kinanti menunggu dirumah!"
Damar mengangguk, namun tiba tiba ia terpikirkan sesuatu.
" Mau ikut?" tanya Damar pada Kinanti.
Kinanti tak menjawab, ia menatap mbak Winda.
" Mau ikut? kepasar sayur, berbeda dengan yang kita datangi tadi.." ujar Winda.
Kinanti masih berpikir, namun saat ia belum menjawab, Damar tiba tiba saja meraih tangannya.
" Ayo ikut..?" suara Damar lembut, tatapannya penuh harap.
" Sekalian ku antar pulang.." imbuh Damar masih menggenggam tangan Kinanti.
sebagai calon istri ia harus menjaga martabat calon suaminya,
meskipun ia ingin mengibaskan tangan Damar karena masih marah.
Sentuhan sentuhan kasar itu masih belum bisa sepenuhnya ia lupakan meskipun hatinya mulai terisi oleh sesuatu, dan mungkin mulai penuh.
" Ikutlah nduk.. sekalian pulanglah, biar besok aku yang akan mengajak mbah uti berkunjung kerumahmu.." ucap Winda.
" Baiklah mbak.. baiknya saja bagaimana.." jawab Kinanti akhirnya.
Damar mengendarai mobilnya mengikuti pick up di depannya.
Terlihat sekali betapa hati hatinya Damar menyetir di karenakan jalan yang menanjak.
" Di ajak makan tadi sama mbak Winda? atau belum?" tanya Damar di sela sela keseriusannya memperhatikan jalan.
" Sudah.." jawab Kinanti pendek.
" Aku yang belum.." ucap Damar, namun Kinanti diam saja tak merespon.
Damar tersenyum melihat keacuhan Kinanti.
Masih marah rupanya.. batin Damar.
" Tidak malu kan..?" lagi membuat Kinanti memandangnya,
" Malu apa?" Kinanti mengerutkan dahinya.
" ikut aku ke pasar menjual cabe.."
" ah, mengada ngada saja.." jawab Kinanti kembali ke arah kaca jendela disampingnya.
" Jangan malu ya.. kalau bukan aku, siapa yang membantu mbah..
Aku kadang juga bekerja kasar, ya mengurus kayu, ya mengurus sawah..
tanganku tak sebersih Haikal atau pak guru itu.." ujar Damar serius.
" Sudah ku bilang aku tidak malu dan tidak masalah,
jadi cukup cukup mas bicara se akan akan dirimu ini tidak lebih baik dari mereka.." tukas Kinanti.
__ADS_1
Bisa bisanya dia mengira Kinanti malu dengan kelakuannya, padahal yang Kinanti rasakan bukan rasa malu, tapi justru bangga.
Namun Kinanti menyembunyikan kebanggaan itu dalam dalam supaya tidak terendus oleh Damar.
" Yah memang kan aku tidak lebih baik.. aku tidak punya seragam dan pensiunan.."
lanjut Damar.
" Berhenti membahas itu.." suara Kinanti kesal.
mendengar nada suara Kinanti yang kesal Damar tak memperpanjang pembicaraannya.
" Oh ya.." suara Kinanti tiba tiba,
" Setelah menikah tinggal dimana?" tanya Kinanti menyembunyikan rasa malunya, dan berekspresi sedatar mungkin.
Ia harus membicarakan ini dengan Damar.
" Tentu saja dirumahku, dirumah kita.." jawab Damar mantab.
" lalu ibu?"
" tentu saja kita bawa.." jawab Damar pasti.
Mendengar itu Kinanti mengeluh resah, hingga Damar menoleh kearahnya karena keluhan itu begitu jelas di telinga Damar.
" Kenapa?" tanya Damar,
" Ibu tidak akan mau, jadi tinggal dirumah ku saja.." jawab Kinanti"
" Kenapa begitu?"
" aku khawatir.."
" kau kira aku tidak.. dia bukan hanya ibumu, tapi ibuku.." tegas Damar kalem.
" Apa ada masalah jika tinggal dirumahku?
terlalu kecil ya?"
tanya Kinanti menyingkirkan kekesalannya dulu demi memperoleh jalan keluar.
Damar tersenyum,
" tidak masalah tinggal disana, aku malah lebih senang dengan tempat tidur sempit, kita bisa tidur dengan saling memeluk.." jawab Damar membuat raut wajah Kinanti berubah.
" Kok larinya kesitu?" Kinanti bersemu merah.
" Lalu mau lari kemana?" Diam diam Damar gemas, andaikan Kinanti tidak marah, tentunya ia akan merangkul wanita di sampingnya itu tanpa berpikir panjang.
" Aku malas bicara dengan mu, tidak serius..!" tegas Kinanti.
Damar menghela nafas panjang.
lalu berkata dengan hati hati,
" Calon istriku.. bukannya aku tidak mau tinggal disana..
tapi banyak hal yang harus di perhitungkan,
satu.. pekerjaanku,
dua, barang barangku terlalu banyak.. tidak mungkin aku memindahkannya disini, apakah kau mau berbagi, membuang beberapa boneka dan koleksi buku bukumu untuk memberiku ruang?
ketiga, tempat tidurmu kurang panjang.. kakiku selalu menggantung saat aku tidur disampingmu..
dan terakhir,
apakah kau tak malu pada ibu..?"
tanya Damar,
" malu kenapa?"
" apa harus ku katakan kalau kita punya hal hal akan kita lakukan nanti setelah menjadi suami istri?
dan dinding kamarmu itu terlalu tipis,
ibu bahkan akan mendengar suara kita dari kamarnya meski kita hanya berbisik"
kata kata Damar membuat Kinanti diam, tak ada jawaban apapun lagi dari mulutnya.
Apa yang di katakan Damar memang benar dan masuk akal.
" Tenanglah.. aku akan membujuk ibu.." ujar Damar menghentikan mobilnya, ternyata mereka sudah sampai di pasar sayur terbesar di malang.
__ADS_1