Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
Bandung


__ADS_3

Damar membuka kaca mobilnya, dan tentu saja membakar sebatang rokok seperti biasanya.


Laki laki itu terlihat lesu, tidur tidak nyenyak berhari hari.


Perasaan gelisah dan was was selalu mengikuti, lebih parah dari pada kemarin kemarin saat dirinya pergi dari rumah.


Beberapa kali di tepuk dadanya, mengusir getaran keperdihan yang mulai merayap naik ke kepalanya.


Dari kejauhan tampak Yoga berjalan mendekat.


Ia baru saja keluar dari rumah salah satu teman baik Kinanti dan Dinda dulu.


Ini adalah rumah kedua yang mereka datangi hari ini.


" Hufft...." terdengar suara Yoga menghela nafas sembari masuk ke dalam mobil.


Yoga duduk terdiam, cukup lama, matanya lurus menatap jalan.


Begitu juga Damar,


ia hanya diam dan terus menghisap rokoknya.


Keduanya tampak tenang, namun sesungguhnya tidak setenang itu.


Pikiran mereka berisik, hati mereka gelisah dan takut.


" Tidak ada yang tau Dinda sekarang tinggal dimana.." Yoga membuka suara.


Damar yang mendengarnya tetap diam.


" Besok aku akan cari informasi lagi setelah pulang praktek..


mas istirahat saja dirumah, tidak usah ikut.." ujar Yoga.


" Kau kira aku bisa tenang? sudah hampir seminggu aku tidak bisa menemukan istriku." Suara Damar dalam.


" Apa mas kira aku juga tenang, setelah mas yang minggat, sekarang istri mas?! aku pontang panting sebulanan ini..


bersabarlah mas..


aku tau aku yang menjadi penyebab semua kejadian ini,


karena itu aku sadar diri dan tidak diam.


Yang jelas dia bersama Dinda..


aku yakin sekali,


sayangnya..


Dinda sekarang entah sekarang tinggal dimana.." Ujar Yoga setengah menggerutu, dirinya juga lelah..


dia benar benar kapok, tidak akan pernah lagi dirinya berbuat seperti ini.


Kerusakan yang di akibatkan oleh ulahnya sungguh luar biasa untuk keluarga.


" Jangan terlalu banyak merokok mas.." kata Yoga melirik Damar yang membuka bungkus rokoknya kembali, laki laki itu tidak ada habisnya merokok dan merokok.


Dinda baru saja membuka pagar, tapi seorang laki laki berkulit putih menghampirinya.


" Ramai hari ini Din?" tanya Alfian, anak si pemilik kontrakan.


" Eh, Fian, alhamdulillah.. lumayan.. gimana?" tanya Dinda sembari mengangkat alisnya memandang laki laki yang mempunyai tinggi 170 cm itu.


" Si teteh takut denganku sepertinya, jadi tidak mau pergi berdua saja.." jawab Alfian.


" Ahh.. dia memang susah, belum akrab saja sepertinya.."


" Iya.. bagaimana kalau minggu saja ke lembangnya?


lanjut ke tangkuban perahu juga boleh..


kalau sama Dinda selalu seru atuhh..?"


Alfian terlihat bersemangat,


" Ih.. bosan.."


" terus kemana? siap antar ini, baterai full.." Alfian tertawa, dan Dindapun tertawa.


" Nanti ku bicarakan lagi dengan temanku ya..


nanti ku chat.. oke?" Dinda mengedipkan matanya, hanya sekedar bercanda, dan itu sudah menjadi hal yang biasa bagi keduanya.


" Kalau si teteh itu nggak mau, kita saja yang jalan sendiri.." cetus Alfian memberanikan diri.


" Lho lho.. nekat sekali..?"


" ya nekat.. susah sih di ajak keluarnya sekarang?" protes Alfian pelan.


" Apa kata orang orang nanti kalau kita sering keluar berdua?


ibumu juga mungkin tidak nyaman..


aku seorang janda.." tatapan Dinda sedikit sayu.

__ADS_1


" Disini banyak janda, jadi tidak usah memandang rendah dirimu sendiri,


ibuku pun selalu menilai dirimu baik.."


tukas Alfian.


" Itu karena beliau tidak tau kita dekat, beda lagi kalau beliau tau kita dekat?"


" itu kan asumsimu sendiri, karena itu juga kau selalu menolak setiap aku ingin mengajakmu berkomitmen kan?


pikiran pikiran burukmu itu.."


" Huss!" Dinda melotot tiba tiba,


" disini banyak telinga?! sudah.. kita bicara lagi nanti, datanglah kesini setelah magrib, temanku sedang membuat cemilan katanya..


kita ngobrol di teras sembari makan.." ujar Dinda.


Alfian tersenyum,


" pokoknya aku akan terus berusaha ya Din, jangan menolakku terus.." ujar Alfian lalu berjalan menjauh.


Dinda hanya menghela nafas, dan melanjutkan langkahnya masuk ke dalam rumah kontrakannya yang tidak terlalu kecil, namun juga tidak terlalu besar itu, hanya ada dua kamar tidur di dalamnya, satu ruang tamu, satu kamar mandi, satu ruang tv, dan satu dapur, sedangkan di lantai dua hanya terdapat jemuran dan beberapa tanaman yang Dinda tanam sendiri di pot pot plastik.


Dinda senang memasak sayuran hasil tanamnya sendiri.


Dinda juga sering duduk di bawah jemuran hanya untuk mencari angin di malam hari.


Suasana di lingkungannya yang lumayan padat terkadang terasa sedikit panas untuknya.


Dinda duduk di karpet ruang tamunya, ia memang tak memiliki kursi, karena ruang tamu itu akan terlihat semakin kecil jika di beri kursi.


Jadi Dinda hanya memberinya karpet dan beberapa bantal kursi yang empuk untuk duduk dan bersandar.


" Aku menguping.." suara Kinanti muncul dari kamar paling depan.


" Ihh.. dasar..!" gerutu Dinda.


Kinanti tertawa lalu duduk disamping Dinda.


" Aku tidak pernah bilang mau membuat cemilan malam ini lho..?" goda Kinanti,


" Ah.. sudah, buat saja.. kau kan enak kalau bikin cemilan?!"


" Kalau suka kenapa tidak menjalani saja berdua?


malah kucing kucingan.."


" bukan kucing kucingan.." jawab Dinda kurang semangat,


" lalu?"


" memangnya kenapa kalau janda?"


" Aku suka padanya.. tapi..


banyak yang harus ku pikirkan.." Dinda membaringkan dirinya.


" Ekonomi?" celetuk Kinanti,


" soal ekononi aku sudah lebih dari sanggup menghidupi diriku sendiri.."


" Maksudku ekonomi si Alfian itu?"


" Meski tidak bekerja, uang kontrakan rumah tiap bulan sanggup membuatnya hidup berkecukupan.. kurasa.."


" Lalu?"


Dinda terdiam,


" Kau trauma?" tanya Kinanti pelan,


" siapa yang tidak.. usianya juga lebih muda dariku.."


" hanya setahun kan? kau tidak menyesal? dia cukup ganteng.." goda Kinanti,


" Kau kira aku melihat orang dari gantengnya saja?!" Dinda sewot.


" lha terus.. mantan suamimu juga ganteng.."


" ya karna itu..!"


Kinanti tertawa kecil,


" iya iya.. aku faham, senyamanmu saja, jangan memaksakan diri.." ujar Kinanti kemudian.


" Dia tipe anak rumahan.. di akan selalu menjaga ibunya..


aku tau itu kewajiban anak,


tapi untukku yang berjiwa bebas..


mungkin hubungan kami tidak akan sampai di pernikahan..


pacaran saja sudah bagus.."

__ADS_1


" Anak mama??"


" yahh.." Dinda mengangguk,


" ah..pantas saja kau banyak berpikir.."


Dinda tersenyum getir,


" mantan suamiku juga anak mama.. kau tau itu kan?" ujar Dinda dengan suara lirih.


Kinanti mengangguk, sekarang ia faham benar, apa alasan di balik sikap Dinda yang mau tapi tak mau itu.


Yusuf berjalan pelan pelan, mengendap endap di samping mobilnya.


Ia tak ingin terlihat oleh Damar, beberapa hari ini dia sudah melarikan diri dengan cukup baik.


Namun nampaknya hari ini dirinya tidak cukup beruntung.


" Berhenti bersembunyi, atau ku pecahkan kaca mobilmu."


Suara Damar tenang namun menakutkan bagi Yusuf.


" Ampun mas?!" suara Yusuf langsung keluar dari belakang mobil.


" ngomong baik baik lah mas..?" Yusuf mengangkat kedua tangannya ke atas.


" Jangan ya mas, ini mobil meski jelek ku beli dengan hasil jerih payahku sendiri.." kata Yusuf dengan dahi berkerut khawatir melihat Damar berdiri di hadapan mobilnya dengan raut tak menyenangkan.


" Baik baik yang seperti apa yang kau mau?" tanya Damar menatap Yusuf penuh kesal.


" Ya baik baik tho mas..??" yusuf bergidik takut.


" kalau memang maumu baik baik, kenapa kau terus menghindariku?"


" Bukan menghindar mas ee.. bukan?, aduh.. sibuk aku iki.. sibuk.. duduk ( bukan ) menghindar.. saestu ( sungguh ) mas.."


Damar diam sejenak sembari berkacak pinggang, ia terlihat menahan diri.


" Sudah, jangan banyak omong.. dimana istriku?"


" aduh..." keluh Yusuf sembari menatap paving yang ia injak.


" Aku tau kau yang mengantarnya kan? tidak mungkin istriku bepergian sendiri?!"


Suara Damar keras.


Yusuf masih tertunduk,


" Yusuf..!!" tegas Damar membuat satu dua orang yang sedang memarkir mobil dan motornya kaget dan memandangi keduanya.


" Aku hanya mengantar ke travel saja.. selebihnya tidak tau.." jawab Yusuf sembari menelan ludahnya, karena benar benar khawatir Damar akan memukulnya.


" Bohong..!!"


" tidak mas?? sungguh.. aku hanya mengantarkan sampai bus travel itu datang dan dia naik..


ke esokannya dia menghubungiku dengan nomor lain,


setelah dia mengatakan sudah selamat sampai tujuan, nomor itu sulit untuk di hubungi lagi.."


jelas Yusuf jujur saking takutnya.


" Kau itu! bodoh atau bagaimana?! bisa bisanya istriku kau biarkan pergi!" ujar Damar keras,


dan tanpa tau kapan Damar berjalan, tau tau Damar sudah di hadapan Yusuf dan menarik kerah kemeja Yusuf.


" Mas? aku memang saudaranya, tapi apa yang bisa ku lakukan ketika dia terus disini dan menangisimu?


kau tak kunjung kembali,


kau sudah mengecewakannya?!"


jawab Yusuf meski gugup.


" Diam!"


" Dia hanya berkata akan pergi beberapa hari saja, setelah itu pulang? mas tau dengan benar kalau dia tidak mungkin meninggalkan bulek kan?"


Mendengar itu Damar melepas tangannya dari kerah baju Yusuf perlahan.


" Tetap saja, kau terlalu ceroboh?! seharusnya kau memberitahuku?!" ujar Damar masih marah.


" Memberitahu mas kemana? sedangkan mas sendiri sudah lama tidak pulang?"


Mendengar itu Damar diam, kali ini ia tak bisa menjawab kalimat Yusuf,


memang benar, ia sudah salah dengan pergi selama berminggu minggu.


" Katakan? pergi kemana istriku?" tanyanya kemudian, setelah emosinya sedikit mereda.


" Bandung.." jawab Yusuf,


" Apa? kemana?"


" Ke bandung mas.. bandung, jawa barat.." ucap Yusuf lebih jelas.

__ADS_1


" Astaga...??" Damar memegang kepalanya seketika, ia tak pernah membayangkan istrinya akan pergi sejauh itu.


" Tapi aku tidak tau alamat tujuannya mas, hanya taunya terakhir dia menelfonku, katanya sudah sampai di terminal luwih panjang.." imbuh Yusuf membuat kepala Damar semakin berat.


__ADS_2