
" Dia sudah sadar?" tanya Damar yang sudah menganti pakaiannya.
Ia menyerahkan tote bag berisi pakaian bersih untuk Yoga.
" Sudah sadar.. tapi lebih baik mas jangan menemuinya dulu.." ujar Yoga sembari menerima tote bag itu.
" Kenapa?"
" jangan tanya kenapa, dia takut sekali padamu.."
" takut? padaku? kalau dia takut padaku dia tidak akan bertindak bodoh! omong kosong bocah itu takut padaku?!" kesabaran Damar sudah menipis.
" Kita ke Yusuf saja sekarang mas, hanya Yusuf yang bisa membuat semangatnya tumbuh.." ujar Yoga sembari berjalan kearah toilet rumah sakit.
" Tunggu sebentar mas, aku ganti.. awas, jangan menemui Kaila dulu?!" peringat Yoga pada Damar yang sepertinya sudah gatal ingin menemui Kaila itu.
Lima belas menit kemudian Yoga keluar dari toilet dengan pakaian yang sudah bersih, ia berjalan mendekati Damar yang sedang duduk di jajaran kursi tunggu.
" Kita bicara di mobil.. ayo mas.." Yoga menarik lengan kanan Damar agar bangkit dan mengikuti langkah Yoga ke parkiran.
" Sarapan dulu?" tanya Yoga setelah keduanya meninggalkan area rumah sakit dan meluncur menuju toko mebel bapak Yusuf.
" Mana bisa aku makan di situasi begini?" gumam Damar dengan wajah masam.
" Justru harus tetap makan supaya bisa tetap waras..
perut kosong menyebabkan orang mudah tersulut emosi.." Yoga menyandarkan kepalanya dan terpejam sejenak.
Sementara Damar fokus menyetir dan memperhatikan jalanan.
" Tadi mbak Winda dan mbakyu sudah bicara pada Kaila.." ucap Yoga membuka matanya.
" Apa kata bocah itu?" tanya Damar kaku,
" mereka khilaf.."
" khilaf?! sampai hamil?! bukan khilaf jika berkali kali Yog?!" sahut Damar emosi.
__ADS_1
" Cepat cepat menikah tidak mau! tapi kelakuannya malah memalukan begini!" imbuh Damar benar benar kecewa atas perbuatan Kaila dan Yusuf.
" Tidak berkali kali.. Kaila bilang mereka hanya melakukannya sebanyak dua kali, itupun di hari yang sama..
setelah itu mereka tidak pernah melakukan hal semacam itu lagi,"
" Kau percaya?! kau ini dokter? mau di bodohi bocah?!"
" apapun bisa terjadi jika Kaila sedang dalam masa subur mas.." jawab Yoga membuat Damar terdiam.
" Kaila juga bilang kalau Yusuf tidak tau kalau dirinya sedang hamil.."
Damar terdiam, hingga suasana dalam mobil itu senyap.
Tak ada satupun yang membuka mulutnya hingga keduanya tiba di toko mebel yang terkenal cukup mewah di kota malang itu.
" Nomor Yusuf tidak bisa di hubungi, karena itu saya kemari," nada Damar kaku, tak bersahabat, cara duduknya pun terlihat tak nyaman.
Bapak Yusuf cukup peka, ia juga merasa bersalah atas putusnya hubungan Yusuf dengan adik Damar.
dia pun sudah tidak tinggal satu rumah dengan kami.." jelas si bapak ramah, bagaimanapun Damar adalah rekan bisnis yang penting untuknya.
" Wah.. bapak sengaja menyembunyikan Yusuf?" ucap Damar tajam, ia sengaja menekan bapak Yusuf.
Sesungguhnya ia tau kalau Yusuf sedang bermasalah dengan bapaknya, tapi masalah ini harus di ketahui oleh seluruh keluarga, tentu tidak bisa hanya menuntut Yusuf saja.
" Wah.. mana mungkin saya begitu mas?, kebetulan memang sedang ada problem antara saya dan Yusuf,
biasa.. antara bapak dan anak,
nanti kalau sudah luluh hatinya juga kembali kerja dan pulang mas.."
" Mana bisa begitu?! cari Yusuf dan suruh dia temui saya sekarang kalau dia masih ingin hidup!"
Bapak Yusuf terlihat kaget dengan kata kata Damar.
" Lho? ada apa ini mas? memangnya apa yang sudah di perbuat Yusuf?" tanya si bapak hati hati.
__ADS_1
" Dia sudah menghamili adik kami.. dan semalam adik kami pendarahan hebat karena keguguran.." Yoga mengambil alih karena ia takut Damar tak bisa menahan diri dan berkata kasar.
Bapak Yusuf tercekat, laki laki tua itu terlihat kebingungan saking kagetnya.
" Bawa Yusuf kemari, atau saya pastikan apa yang sudah bapak bangun dengan susah payah, akan ambruk dalam sekejap.." suara Damar memenuhi ruangan.
Yusuf datang di temani Anita, kakak perempuan satu satunya.
Laki laki itu terlihat kurang sehat dan sedikit kurus.
Damar yang tak bisa menahan amarahnya langsung menarik kerah baju Yusuf saat melihat Yusuf baru saja masuk keruangan bapaknya.
" Tidak bisa di percaya kau! kelakuanmu brengsek!" sembur Damar menahan tangannya agar tak memukul Yusuf.
" Kuasai dirimu mas.." bisik Yoga menenangkan sembari memegang lengan Damar erat.
Laki laki yang bertubuh tinggi dan amat mendominasi itu benar benar merasa di permalukan oleh Yusuf.
Jika bisa ia ingin menghajar Yusuf sampai mati, tapi mengingat adiknya yang sedang terbaring di rumah sakit dilepaskannya Yusuf dengan kasar, hingga tubuh Yusuf terpental ke dinding.
" Kau ikut aku kerumah sakit!" tegas Damar.
" Siapa yang sakit mas?" tanya Yusuf dengan wajah yang benar benar layu.
" Siapa lagi, tentu saja Kaila!"
" Kaila..? Kaila sakit..?" ekspresi Yusuf dari datar dan sayu berubah menjadi khawatir.
" Sudahlah, ikut kami.." sela Yoga menarik lengan Yusuf.
Sementara Anita dan bapaknya saling memandang.
" Ijinkan kami ikut?" kata Anita tiba tiba, ia takut adiknya di hajar habis habisan setelah jauh dari pengawasannya atau bapaknya.
" Ah.. tentu saja, keluarganya harus tau benar apa yang terjadi sesungguhnya..
bahwa putra kebanggaannya sudah merusak masa depan seorang gadis..!" jawab Damar cepat dan tajam sembari menatap Anita.
__ADS_1