Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
aku turut bahagia


__ADS_3

" Kenapa bibirmu lima meter begitu?" tanya Kaila, ia melirik Yusuf yang sedang menyetir itu beberapa kali, wajahnya benar benar masam.


" Pikir sendiri.." jawab Yusuf sekenanya.


" Lho? bagaimana bisa aku berpikir, jika sebabnya saja aku tidak tau..?" tanya Kaila menoleh pada Yusuf.


" Apa kau sengaja?" suara Yusuf berusaha tenang.


" Sengaja apa sih?" Kaila tidak mengerti,


" Aku sudah menahan diriku, tapi kau terus saja membuatku was was dengan tingkahmu,"


" lho? tingkah apa ini maksudnya?" Kaila memicingkan matanya.


" Kau kira aku tidak melihat, laki laki itu, selalu saja mengekor padamu,"


" Azam?"


" aku tidak perduli siapa namanya."


" Astaga... apa dirimu ini tidak pernah kuliah? apa kau kuliah dulu tidak ada teman perempuan yang mengekor padamu?!"


" tidak!" jawab Yusuf tegas tanpa menoleh.


" Ih! pembohong?! mana ada hal semacam itu?!" Kaila tak percaya, ia tidak tau bahwa kekasihnya itu termasuk laki laki yang introvert dan tak memiliki banyak teman.


" Tak ada perempuan yang mengikuti ku sejak aku SMA maupun kuliah, kalau pun aku ada kepentingan aku hanya akan bicara seperlunya lalu pergi,


tidak seperti temanmu itu yang mengikutimu ke parkiran setiap pulang."


Suara Yusuf terdengar penuh kecemburuan, namun ia berusaha lebih tenang dan tidak meledak ledak.


Ia tak mau memperburuk situasi, karena ia mulai sadar,


sikapnya yang kadang berapi api itu bisa membuat Kaila jenuh dan tidak nyaman.


Bagaimanapun pasangannya adalah perempuan yang baru saja lulus SMA setahun yang lalu,


sebagai laki laki yang lebih tua seharusnya ia bisa ngemong dan menjaga perasaan Kaila.


" Tolonglah.. kami adalah teman, jangan berlebihan?" sahut Kaila.


Yusuf menghela nafas berat dan tak menjawab.


Dirinya benar benar kesal, tidak hanya sekali dua kali..


namun hampir setiap Yusuf menjemput Kaila pulang kuliah, laki laki bernama Azam itu terus saja berjalan disamping Kaila.


Meski tidak hanya berdua, namun Yusuf bisa merasakan pandangan laki laki itu berbeda.


" Inilah yang membuatku berpikir ulang saat kau memintaku menikah denganmu,


meski kau berjanji bahwa aku akan tetap melanjutkan kuliahku setelah kita menikah nanti,


tapi menilik dari sikapmu sekarang, mungkin saja kau akan memarahiku setiap hari karena kecemburuanmu yang buta itu, dan ujung ujungnya..


kau akan memaksaku berhenti kuliah." Ucap Kaila sembari menatap jalan raya.


Yusuf terdiam lama, namun ketika keduanya sampai di depan rumah Kaila, dia berkata,


" Baiklah.. salahku terlalu menyayangimu, dan mungkin saja perasaanku ini bertepuk sebelah tangan sedari awal..


jangan khawatir, mulai detik ini aku tidak aku cemburu padamu.." suara Yusuf datar namun menyiratkan sakit di hatinya.


" Kau bicara apa sih?!" protes Kaila tidak senang dengan apa yang Yusuf katakan.


Tapi bukannya menjawab, laki laki itu malah tersenyum sekilas,


" masuklah.. aku harus kembali bekerja.." ucapnya pelan.


Kaila tak menjawab, ia membuka pintu mobil dan segera keluar.


" Jangan bertindak yang aneh aneh.." ucap Kaila sembari menutup pintu mobil lalu berjalan pergi.


" Bisa bisanya kau tidak sadar kalau sedang hamil?" Dinda menggeleng gelengkan kepalanya tak percaya betapa sembrononya Kinanti.


" Saking stressnya aku.. sampai lupa kalau belum mens..


ah, jangankan berpikir soal mens, kau tau makanpun aku malas.." jawab Kinanti duduk di teras dengan Dinda.


" Ya masa sih nan.. aduhh.. !" Dinda menepuk Dahi Kinanti gemas.


" Kau kan hafal Din, setiap aku stress.. siklus menstruasiku akan berantakan..


jaman kuliah aku bahkan sempat tidak mens dua bulan..


jadi, aku benar benar tidak berpikir kalau diriku hamil.." Kinanti menggosok dahinya yang di tepuk oleh Dinda.


" Gila ya suamimu.."


" kenapa?"


" dapat dimana suami begitu sih?"


" kenapa kok?!"

__ADS_1


Dinda tidak menjawab, hanya tertawa, membuat Kinanti semakin penasaran.


" Kalau ada lagi.. aku mau satu.." Dinda tertawa lebar,


" tidak ada, cuma satu..!" jawab Kinanti tegas.


" kan ku bilang kalau ada lagi.."


" katamu tidak mau menikah lagi..?"


Dinda tersenyum kecut tiba tiba,


" yah.. kalau dapat yang tidak bisa mengerti diriku, buat apa aku menikah..


bikin ribet.. bukan tambah sehat, tambah penyakitan.." jawab Dinda.


" Tidak semua laki laki itu menyakiti wanita.." kata Kinanti menghibur,


" ah.. kau bicara begitu karena suamimu mencintaimu.."


" Kau juga akan dapat laki laki yang baik suatu hari nanti.. percayalah itu"


" hemm.. iya sajalah.." jawab Dinda tidak serius.


" Lalu.. kau jadi pulang besok?" tanya Dinda tiba tiba mengubah topik pembicaraan.


" Yah.. mas Damar sudah harus bekerja, dia meninggalkan pabrik terlalu lama,


aku yakin, pasti banyak hal yang terbengkalai.."


" tentu saja.. banyak yang menggantungkan hidupnya pada suamimu.."


" Yah.. penduduk sekitar rata rata yang bekerja padanya.."


Dinda mengangguk,


" Aku tidak menyangka, dia bersaudara dengan Yoga.. berbeda sekali.."


" Kau kira aku menyangka?!"


Dinda tertawa melihat raut wajah Kinanti yang tak terima.


" Yah.. sesungguhnya Yoga tidak buruk..


caranya meninggalkanmu saja yang buruk..


namun ketika aku tau dia terpaksa melakukan itu..


kukira.. dia laki laki yang baik.."


dengan wajah dan pekerjaannya dia bisa saja menikah lagi, tapi dia sudah menolak banyak wanita.."


" Itu karena dia menunggumu?"


" ku kira tidak, karena penolakan itu banyak terjadi sebelum aku menikah dengan mas Damar..


mbak Winda banyak bercerita.."


Dinda tak berkomentar, hanya mengangguk ringan saja.


" Lalu dimana suamimu, kenapa belum pulang?" tanya Dinda sembari melihat ke atas, dan menemukan langit yang gelap.


" Katanya cari oleh oleh.. dia tidak memperbolehkan aku ikut.."


" Yah.. kau sedang hamil, jangan keluyuran..


jadi.. ini malam terakhir kita?".


" Huss..! mana ada malam terakhir?! aku akan menunggumu di malang, ingat itu!" tegas Kinanti sembari melotot, membuat Dinda tertawa melihatnya, buka takut, malah ia merasa geli.


" Gausah sok galak.. bukan takut malah geli.. ya sudah, ayo masuk.. sudah malam.." ajak Dinda, tapi baru saja dirinya bangkit, Alfian terlihat masuk melewati pagar.


" Kok susah di cari sih beberapa hari?" tanyanya langsung.


Kinanti memandang Dinda sekilas, ia tau kalau dirinya harus pergi di saat saat seperti ini, tanpa pamit ia bangkit dari kursi dan berjalan masuk, meninggalkan Dinda dan Alfian berdua di teras.


Yoga yang baru saja datang langsung menuju rumah Winda.


Matanya menatap sekeliling, tapi tak ada satupun orang di ruang tamu.


" Papaa..!" suara Bagas dari arah Dapur, dan laki laki itu bergegas ke dapur.


Benar saja disana berkumpul semua anggota keluarga mereka terlihat sedang sibuk mengobrol sembari mengupas bawang.


" Mau ada acara apa?" tanya Yoga melihat tumpukan bumbu.


" mau ada arisan.." jawab Winda,


" mbok ya suaminya jangan disuruh kupas bawang juga.." gumam Yoga melihat suami Winda juga sibuk mengupas bawang.


" Lha kenapa? aturan dirumah ini suami wajib membantu istri, sebanyak apapun uang yang dia hasilkan,


lagi pula kau tidak akan faham..!"


" eh? apa yang tidak akan faham?" Yoga mengerutkan dahinya penasaran.

__ADS_1


" Kau tidak akan faham, hal hal semacam ini di butuhkan untuk menjaga keharmonisan.." jawab Winda,


" mengupas bawang? menjaga keharmonisan?"


" wah.. anak ini, predikat mu saja bapak, pikiranmu masih bujang..!


lekas lekaslah menikah lagi, supaya kau tau bagaimana rasanya..?!" sembur Winda.


" Ah aku sudah pernah menikah dan sudah tau bagaimana rasanya.."


" yang kau lakukan kemarin tidak bisa di kategorikan menikah?! menikah itu tidak hanya menyatukan dua tubuh, tapi juga menyatukan dua pemikiran, dua hati.


Suami istri itu harus sepakat hidup bersama sesulit apapun kondisi mereka,


saling memahami, saling mendukung dalam situasi apapun..


sementara apa yang kau lakukan dengan ibu Bagas hanya sebatas suami istri di luarnya saja..!"


Winda mulai mengomel dan itu membuat Yoga risih.


" Tidak hanya mbak, mas Damar juga menyuruhku menikah, tapi aku tidak mau menikah hany karena terpaksa..


cukup sekali saja aku menikah dengan cara di paksa.." ujar Yoga dengan raut wajah lelah.


" Tidak ada yang memaksamu disini.. tapi cobalah membuka hatimu,


kasihani anakmu..


carilah ibu yang baik untuknya, bekal cinta memang baik, tapi perempuan yang mengerti kondisimu dan anakmu jauh lebih baik..


belajarlah mencintai orang lain.."


Yoga diam, ia terlihat berpikir.


" Ah...sudahlah, kenapa aku jadi di ceramahi..


aku kesini membawa kabar baik,


Besok mas Damar dan Kinanti pulang.."


" Alhamdulillah..syukurlah.."


raut wajah Winda berubah sumringah.


" Dan satu lagi.. Kinanti hamil.."


suasana dapur tiba tiba senyap, Winda dan suaminya yang sejak tadi diam tak berkomentar berpandangan.


" Wah.. akhirnya.. tambah satu lagi anggota keluarga..


Kita adakan selamatan kecil saja sayang untuk rasa syukur kita.." Yudi membuka suara sembari tersenyum, memecah keheningan yang sempat menguasai mereka.


" Kau tidak apa apa?" tanya Winda pelan pada Yoga yang sejak tadi bersandar di dinding.


" Memangnya aku kenapa?" tanya Yoga dengan raut datar.


" Kau tidak merasa sedih atau terluka kan?" tanya Winda lagi,


" Kenapa aku harus sedih mbak? sudah selayaknya aku bahagia dengan kabar baik ini, Aku sudah membuang jauh jauh perasaan perasaan tidak pantas dalam hatiku,


dan bahkan aku mulai menyadari..


kalau yang kulakukan selama ini adalah bentuk dari rasa tidak terima dan obsesi..


itu tidak murni cinta lagi.."


Winda dan suaminya lagi lagi berpandangan.


" Baguslah le.. aku turut senang kalau pikiranmu sudah terbuka begitu.." kata Winda kemudian dengan raut lega.


" Kapanpun kau menemukan seorang wanita yang cocok untukmu, katakan pada kami..


kami akan melamarnya untukmu, seperti saat mbakmu melamar untuk Damar dahulu..


kami akan berikan yang terbaik,


jadi, hiduplah dengan hati yang kuat dan tegar untuk menerima segala kenyataan yang terjadi di hidupmu..


aku yakin waktu dan rasa sakit sudah mendewasakanmu..


kau seorang ayah yang luar biasa.. jadi, pilihlah perempuan yang luar biasa hebatnya juga untuk menjadi ibu anakmu..


kau faham maksudku..?" suara Yudi bijak, laki laki yang tidak banyak bicara itu, kini banyak bicara.


" Apa kalian akan menghargai pilihanku nanti, dan tak akan menentangnya jika aku memilih seorang perempuan yang sederhana?" tanya Yoga,


" bukankan Kinanti juga perempuan yang sederhana, apa kau lihat kami menentangnya?" Winda balik bertanya.


" Yah.. kalian tidak menentang apapun pilihan masa Damar.. kadang itu membuatku iri.."


" Kau tidak perlu iri, aku juga tidak akan menentang mu..


siapapun pilihanmu kelak aku akan menghargainya..


aku ingin kau bahagia.." suara Winda dalam, membuat Yoga tertunduk sedih.

__ADS_1


Tentu saja ia merasa haru dengan kata kata saudara perempuannya itu.


__ADS_2