
Yoga yang sudah kesal hatinya dan juga lelah tubuhnya awalnya hanya berniat untuk berbaring.
Namun siapa sangka dirinya malah tertidur lelap.
Di buka matanya perlahan, berbalik kekanan dan kekiri,
matanya menembus jendela yang tirainya belum tertutup itu.
Terlihat langit yang sudah gelap, namun suasana sekitar terlihat terang karena lampu lampu dari rumah Damar yang menyala begitu terang.
Yoga bangkit perlahan dari tempat tidurnya, matanya melirik jam dinding, jam sebelas malam.
Bisa bisanya dia tidur seperti orang pingsan, batinnya.
Ia berjalan keluar kamar, badannya masih lemas namun kantuknya sudah hilang.
Di periksanya pintu depan dan jendela jendela, sudah terkunci..
pasti mbak Winda yang menguncinya,
dan Bagas.. sudah pasti pula mbak Winda mengajaknya tidur dirumahnya..
batinnya lagi.
Dengan langkah berat laki laki itu berjalan kearah dapur.
Meminum segelas air putih lalu menggigit satu potong bolu pandan kesukaannya.
Saat sedang sibuk mengunyah matanya menemukan sesuatu yang menurutnya asing.
Yoga beranjak dan membuka beberapa kardus yang menumpuk di ujung meja dapur.
" Makanan khas bandung.." baca Yoga setelah membolak balik sale pisang, wajit ketan dan beberapa manisan buah kering khas bandung itu.
Matanya yang semula sipit dan sayu karena tak bersemangat dan bercampur sisa kantuk, sekarang melebar.
Beberapa menit dia masih terdiam, lalu tak lama kemudian Yoga berjalan keruang tengah.
Betapa terkejutnya ia melihat dua koper besar berwarna abu abu diletakkan begitu saja di ujung ruangan.
Kenapa tadi dirinya tak melihat koper itu? apa karena ia baru saja terbangun dari tidur dan tidak fokus?, batinnya tiba tiba bergejolak, kaget senang bercampur menjadi satu.
Jantungnya yang semula tenang tenang saja sekarang berlarian, ia membayangkan perempuan yang di tunggu tunggunya sedang tertidur di kamar tamu atau kamar Bagas.
" Dia sudah datang.. " gumam Yoga lalu mengigit bibir bawahnya karena senang.
Dia pulang, berarti dia juga mencintaiku.. ingin hidup bersamaku..
berarti ini bukan cinta bertepuk sebelah tangan bukan??, Yoga membatin sendiri sembari berjalan menuju Kamar tamu.
Namun setelah pintu kamar tamu di buka tak ada sosok Dinda,
Yoga berpindah ke kamar Bagas, di bukanya pintu kamar Bagas.
Senyumnya terkembang lebar saat matanya terbentur pada tubuh sintal yang sedang tergolek manis di atas tempat tidur itu.
Perempuan berambut panjang, berkulit kuning langsat dan berkaki jenjang.
Seperti biasa, perempuan itu tidur dengan celana pendek dan kaos oblong saja.
Disampingnya tergolek juga Bagas yang tak kalah lelap tidurnya.
Yoga membeku sejenak, memandangi calon istri dan putranya.
Ada kebahagiaan yang tak bisa ia jelaskan yang merayapinya.
Perempuan yang tak pernah ia bayangkan sama sekali,
perempuan yang dulu bukan tipenya, bahkan yang paling membuatnya kesal..
sekarang Yoga sangat menginginkannya..
berusaha setengah mati memilikinya.
Yoga melangkah perlahan lalu ikut berbaring disamping Dinda.
Menarik perempuan itu agar mendekat ke dirinya dan menciumi pundak perempuan yang sudah di alam mimpi itu.
Semua orang sedang sibuk menata meja dan kursi, tak begitu panjang..
hanya di persiapkan untuk para keluarga dekat dan jauh yang akan hadir.
" Nan, sudah kau duduk saja, perutmu besar begitu, kalau kepleset bisa bahaya.." ujar Dinda yang baru saja selesai mencoba kebaya yang akan ia pergunakan besok.
" Aku hanya melihat orang orang saja.. karena mbak Winda sedang keluar dengan mas Yudi.." jawab Kinanti sembari menunjuk beberapa laki laki yang sedang sibuk menata kain dan hiasan di langit langit ruang tamu yang akan di pergunakan sebagai tempat untuk akad nikah besok.
" Ya sudah tapi duduklah.. jangan wira wiri kesana kemari..
bisa ambruk rumah ini kalau sampai ada apa apa denganmu.." ujar Dinda duduk disamping Kinanti.
__ADS_1
" Mana satpam mu yang cemburuan itu?" tanya Kinanti tak melihat Yoga sedari tadi.
" Dia pergi sejak pagi," jawab Dinda,
" Kemana?"
" kerumah seniornya, dia bilang tidak enak kalau tidak mengundang senior dan rekan rekan di kliniknya.."
" baguslah.. rekan kerjanya tentu saja harus tau kalau dia bukan lagi duda.."
Dinda hanya tersenyum mendengarnya.
" Kau tau, sebelum kau pulang dia ngomel ngomel tidak jelas.."
" ngomel bagaimana?"
" dia berpikir kau tidak benar benar berniat menikah, itu karena kau berlama lama,"
" ah.. paling paling dia cemburu dengan Alvian, entahlah.. sampai detik ini pun dia masih belum bisa mempercayaiku.." keluh Dinda menyandarkan punggungnya ke dinding.
" Kau hebat.. membuat Yoga yang kalem jadi tidak sabaran dan menggebu ngebu.." Kinanti tertawa,
" Kau memujiku atau menggejekku?" tanya Dinda dengan menyipitkan kedua matanya, beluk sempat Kinanti menjawab terdengar suara Bagas dari arah luar.
" Mama..!" Bagas berlari ke pelukan Dinda,
" Mama, Bagas mau main..?" ujar bocah itu,
" main apa? memangnya mbak kemana? tidak main sama mbak?"
tanya Dinda.
Si mbak masuk dengan terburu buru,
" Tidak mau mbak Dinda.. dari tadi minta sama mbak Dinda terus, sudah saya bujuk kalau mbak Dinda sedang sibuk,
tapi tetap saja cari mbak Dinda terus??" jelas si mbak pengasuh, ia terlihat tergopoh gopoh mengejar Bagas.
" Dia belum puas melepaskan kangennya Din," ujar Kinanti,
" ya sudah.. tinggal bantu bantu di belakang saja mbak.. biar Bagas dengan saya.." ujar Dinda mengangkat Bagas ke pangkuannya.
" Hemm.. sekarang sudah ada mama, tante nggak pernah di cari lagi ya..?" goda Kinanti mencubit pipi Bagas pelan.
" Tante ada adek di perut.." sahut Bagas membuat Kinanti tertawa,
" Kata budhe.. Bagas nggak boleh nakal, di perut tante ada adek.. kasihan tante berat perutnya.." imbuh Bagas polos menunjuk perut Kinanti.
Kinanti yang melihat keakraban itu trenyuh sekali, ia sangat bahagia..
karena dengan keputusan Yoga, ia dan Dinda kembali menjadi dekat..
bahkan keduanya mempunyai hubungan yang lebih dari seorang teman baik sekarang.
" Kau pernah menyangka?" tanya Kinanti dengan mata berbinar,
Dinda yang faham maksud dari pertanyaan Kinanti hanya tersenyum malu, lalu menggeleng kemudian.
" Memang ya.. tak ada yang tau jodoh itu sejauh dan sedekat apa..
mungkin kau kuwalat..?
kau bahkan pernah melempar Yoga dengan sepatumu, sapu di tempat kost kita juga tidak terlewat menjadi senjatamu saat Yoga mencariku.." Kinanti masih bisa mengingat dengan benar, saat itu Kinanti dan Yoga sedang ribut, dan Kinanti kembali ke kost dengan kondisi menangis.
Tanpa bertanya Dinda mengusir Yoga yang datang tak lama kemudian.
Hal semacam itu sering terjadi pada keduanya, Dinda mati matian membelanya, sementara Yoga yang merasa lebih penting dari pada seorang sahabat tentu saja tak terima dan selalu beradu argumen dengan Dinda.
Keduanya tak pernah mau mengalah dan sering membuat penghuni kost lainnya merasa risih.
" Aku membelamu, mana ada aku kuwalat?" protes Dinda pelan,
" Apa namanya? laki laki yang sering kau lempari sandal dan sepatu, besok sudah menjadi suamimu..?
Yoga selalu memandangmu dengan sengit dulu, tapi sekarang..
dia seperti anak kucing..
tak melihatmu sebentar saja uring uringan,"
Dinda tak menjawab, namun terlihat guratan kebahagiaan di wajahnya.
" Aku sudah merasa aneh melihat ekpresinya saat melihatmu di bandung..
dia seperti terkejut,
musuh bebuyutannya berubah menjadi lebih kalem dan cantik.."
" huss.. sudah, kau ini mau membuatku malu atau bagaimana?
__ADS_1
" memang iya.. tapi aku benar benar tak menyangkan kalian akan berlanjut sampai pada detik ini.." ujar Kinanti menahan senyumnya.
Yusuf memasang walpaper dapur mulai dari sejam yang lalu, dan mengeluarkan kompor dari kardusnya.
" Kau sudah melamar kemana saja?" tanya Anita yang sudah sedari tadi memperhatikan kesibukan adiknya.
" Aku sudah menaruh lamaranku ke tiga perusahaan mbak.." jawab Yusuf sembari memasang selang di kompor barunya.
Yusuf sengaja membuat suasana dapur di penuhi dengan warna biru muda, karena itu warna kesukaan Kaila.
Yusuf ingin Kaila nyaman ketika memasak di dapur, karena itu ia menatanya senyaman mungkin.
" Kalau seminggu atau dua minggu lagi tidak ada panggilan, masuk saja ke kantor masmu.." ujar Anita menawarkan pekerjaan di kantor suaminya.
" Biar aku usaha sendiri dulu mbak.." jawab Yusuf sembari mengelurkan tempat bumbu dari plastik kresek.
Ia menatap tempat bumbu kosong itu di tempat yang ia rasa pas.
Ia juga membelikan rak piring berukuran sedang, satu set piring, satu set sendok dan garpu.
Anita hanya bisa menghela nafas melihat adik laki lakinya itu, hatinya sedikit tak terima, anak laki laki kesayangan bapaknya tiba tiba hidup sendiri dan seadanya.
Memang sih sudah waktunya Yusuf mandiri..
tapi tetap saja.. sebagai seorang kakak ia merasa sedih.
" Jangan melihatku begitu.. aku baik baik saja.. tabunganku masih cukup untuk bertahan sampai satu bulan..
tapi aku minta maaf kalau mbak kesini masih harus duduk di atas karpet dulu..
aku masih belum bisa mengeluarkan uang untuk hal hal yang belum begitu penting..
karena aku juga harus membeli seserahan juga untuk Kaila kan?" Yusuf melempar senyum pada Anita,
bukannya tenang, hati Anita masih sedih melihat adiknya tersenyum seceria itu.
" Kenapa kau mengatur semua sendiri? Kaila kemana?" tanya Anita,
" Dia ke kampus mbak.. katanya ingin pindah ekstensi yang sabtu minggu saja.." jawab Yusuf sembari mencuci piring dan peralatan makana yang masih baru.
" Kenapa?"
" maunya begitu.. mau bagaimana?" Yusuf lagi lagi mengulas senyum,
" Kau tidak takut?"
" Takut apa mbak?"
" yah.. apapun yang mungkin terjadi?"
" Mbak.. aku yang merusak masa depannya..
seandainya aku tidak memaksakan kehendakku padanya.. pasti kondisi semacam ini tak akan terjadi..
sebagai bentuk penebusan ku..
aku harus tetap meneruskan apa yang ia inginkan dan cita citakan.. bukankah begitu mbak?"
" Tapi apa kau mampu Suf?"
" Mampu atau tidak aku tidak tau mbak..
yang jelas.. aku harus berusaha..
aku laki laki mbak.. pundakku harus kuat bukan?" jawab Yusuf mulai meletakkan piring piring basah itu di rak.
" Hatiku sakit sekali melihatmu begini Suf..
keluarganya benar benar tega padamu.." Anita mulai berkaca kaca,
" Mas Damar orang yang baik mbak.. aku saja yang mengecewakannya..
dalam hal ini aku yang salah mbak,
wajar jika dia marah.. aku menghancurkan kepercayaannya..
merusak masa depan adikknya.."
" Merusak apa? toh kau masih menguliahkan Kaila, kau bahkan sudah menyiapkan rumah meskipun sedehana?!" protes Anita yang terbawa emosi.
" Kau memang salah, tapi ya jangan begitu? mereka bukan keluarga miskin, memberikan pesta pernikahan untuk adiknya pun ia tak mau,
menikah itu hanya sekali Suf.. setidaknya mereka sedikit perduli?!"
Yusuf menghentikan kesibukannya dan tertunduk, seperti meredam perasaannya.
" Pesta tidak penting bagiku mbak.. bisa menikah dengan Kaila saja aku sudah bersyukur..
jadi, mbak dan bapak ibu tidak perlu susah payah membuatkanku pesta bulan depan..
__ADS_1
aku dan Kaila baik baik saja dengan keputusan mas Damar.." ujar Yusuf memberi pengertian pada kakak perempuannya.