
Seminggu lebih berlalu berlalu, setelah kejadian itu Damar benar benar tak menampakkan batang hidungnya di hadapan Kinanti.
Hanya Winda dan Kaila saja yang bolak balik kerumah Kinanti untuk persiapan.
" Kata Damar dia manut saja kalau memang Kinanti tidak mau acara yang terlalu meriah bu, tapi..
Setidaknya berilah sedikit muka kepada kami.." ujar Winda kalem.
" Iya mbak.. saya faham.." ibu mengangguk,
" Begini saja bu.. biar saya yang bicara pada Kinanti..
karena harinya juga kami sudah dapat, akhir bulan kita bisa laksanakan akad dan resepsi langsung.."
ibu mengangguk,
" Saya manut saja mbak Winda.. tenaga ibu sudah habis.."
Winda tersenyum,
" ibu istirahat saja, biar saya yang atur..
ngomong ngomong Kinanti kemana bu?" tanya Winda,
" Ada di kamar mbak, tidak tau.. beberapa hari ini murung saja, entah tidak enak badan atau apa.." ujar ibu, sesungguhnya ibu tau ada sesuatu yang tidak beres diantara Kinanti dan Damar, apalagi Damar yang biasanya rajin datang,
tiba tiba saja tidak terlihat batang hidungnya lagi.
" Boleh saya bicara dengannya bu?" tanya Winda,
" tentu saja mbak.. saya panggilkan ya.."
" tidak usah bu, boleh saya ke kamarnya?" tanya Winda.
Ibu terdiam sejenak, namun mengangguk kemudian.
Winda masuk ke kamar Kinanti dengan hati hati.
Rupanya wanita itu sedang duduk disamping jendela sembari membaca sebuah buku, entah itu buku apa.
" Permisi..?" suara Winda membuat Kinanti menoleh ke arahnya.
Kinanti bangkit, ia tampak bingung melihat Winda yang tiba tiba ada di kamarnya.
" Mari bicara di luar mbak.." ucap Kinanti menaruh bukunya di atas meja.
" Kita bicara disini saja.. bagaimana?" Winda tersenyum.
" Apa yang mau di bicarakan mbak?" tanya Kinanti mempersilahkan Winda duduk di kursi meja riasnya, karena tak ada tempat duduk lagi.
" Nan.. seperti yang kau ketahui.. tanggal pernikahanmu sudah di dapatkan..
yaitu akhir bulan ini.." suara mbak Winda kalem dan hati hati.
" Baik mbak.." jawab Kinanti mengangguk pelan, tak ada semangat.
" Lho.. mau menikah kok raut wajahmu sedih begitu nduk?" tanya Winda, ia sesungguhnya tau apa yang sudah terjadi, karena Damar sempat marah marah kepadanya.
" Saya sedang bingung saja mbak.." jawab Kinanti,
" apa yang membuatmu bingung..?"
" tidak mbak.. sudahlah.." Kinanti memutuskan untuk memendamnya sendiri.
" Perlakuan Damar padamu kemarin maafkanlah ya.." ucap Winda membuat Kinanti menatap Winda sedikit tajam, namun tak lama meredup kembali.
Winda tersenyum, ia mengerti dengan kemarahan Kinanti.
" Dia bukan anak yang kasar atau keras kepala..
kejadian kemarin pun hanyalah salah faham..
dia dan mbak kurang komunikasi, disitu salahnya.."
" tapi dia keterlaluan.." tukas Kinanti.
" Iya.. dia keterlaluan...tapi yakinlah.. hanya kau yang mampu menundukkannya..
dia seperti itu karena saking takutnya kehilanganmu..
ku dengar kau mengancamnya,
dia bilang kau akan lari jika dia terus bersikap frontal dan agresif.."
Kinanti mengangguk,
__ADS_1
" itu benar mbak.. karena saat itu aku marah sekali,
tapi sesungguhnya aku tidak mungkin kemana mana, disini ada ibu.. dan aku harus merawatnya.."
jawab Kinanti dengan nada tenang.
" Itulah.. dia berubah jadi bodoh kalau di hadapanmu.." Winda tertawa.
" Jadi.. sekarang mbak mau membicarakan tentang resepsi..
mbak tau kau tidak ingin ada pesta yang besar..
tapi, kasihani kami..
mbak minta pesta tetap di adakan namun mbak akan mengurangi jam dan undangannya..
Sehari saja kalian luangkan waktu..
ikhlaskan untuk berdiri dan duduk menyalami tamu..
mau ya..
menikah hanya sekali Nan.. percayalah, kau terima beres.."
Winda meyakinkan, dan Kinanti masih terdiam.
" Jangan membuang terlalu banyak uang mbak?" ujar Kinanti membuat Winda tersenyum.
" Kau anak yang bijaksana.. tenanglah, kami mengeluarkan uang sepantasnya saja.. tidak kurang dan tidak lebih.." jelas Winda, menenangkan Kinanti.
" Nan.. mbak mau tanya dari hati ke hati.. boleh?" tatapan Winda teduh.
" Silahkan mbak.."
" Kau membenci Damar?"
Kinanti diam,ia terlihat bimbang.
" Benci.. tapi dengan perlakuannya kemarin.." jawab Kinanti.
" Lalu dengan orangnya?"
Kinanti menggeleng pelan,
" Dia yang menjadikanku sarjana.. memberi kasih sayang dan perhatian yg besar pada ibu.. tidak pantas aku berkata membencinya.."
jangan karena balas budi juga kau tidak berkata yang sejujurnya..
aku tidak mau ada kesalahpahaman lagi..
katakan.. apa Damar ada di hatimu?"
Kinanti diam,
" Aku janji akan menutup mulutku rapat rapat, kau juga boleh mempertahankan kemarahan mu untuk membuatnya jera..
tapi tolong, jawablah mbak dengan sebenar benarnya..
adakah Damar dalam hatimu?" Winda menatap Kinanti tanpa celah, ia menunggu dan ingin tau, sebenarnya apa yang di rasakan Kinanti sama atau tidak dengan yang di rasakan adiknya.
" Nan... mbak menunggu kejujuran mu.." ucap Winda membuat Kinanti mau tidak mau harus menjawab.
Namun Kinanti menjawabnya dengan anggukan,
" Jangan mengangguk.. jawablah Nan, ada atau tidak Damar di hatimu..?" mbak Winda ingin kepastian.
" Ada mbak.." jawab Kinanti pelan.
Seperti mendapatkan undian, senyum Winda terkembang, hal hal yang sempat menjadi pertanyaan besar di batinnya kini terjawab sudah.
" Itu cukup untuk mbak Nan..
entah sedikit, entah banyak.. pastinya pernikahan kalian di dasari perasaan.. bukan keterpaksaan..
mbak bahagia, akhirnya adik mbak yang malang mendapatkan perempuan yang di cintainya.." hati Winda trenyuh.
" Lalu bagaimana dengan mantan calon suamimu itu Nan.. apa tidak akan ada masalah jika kau langsung menikahi orang lain?" Winda penasaran.
" Kami sudah selesai mbak.."
" apakah kau tidak menyesal kelak?"
" menyesal tentang apa mbak?
semua hal sudah di batalkan,
__ADS_1
termasuk pengajuan nikah kami..
untung saja, aku belum sempat tanda tangan,
kalau tidak mungkin tak akan semudah ini mbak.." Kinanti menjelaskan pada Winda, dan pandangan Kinanti meredup,
terlihat kelelahan di matanya.
Yah.. ia harus mengakui, ini adalah kesalahannya sendiri, dia dengan mudahnya menerima pinangan Haikal meskipun tanpa dasar perasaan cinta.
" Bukan itu yang kutanyakan nduk..
maksudku..apakah kau benar benar tak akan menyesal? karena Damar bukan seorang pegawai dan tidak berseragam..
dia hanya mengurusi bisnis kecil yang di tinggalkan ayahnya.. kadang dia mengurusi kayu, kadang dia juga mengurusi tanaman tanaman di sawah..
apa tidak apa apa nduk?"
" Justru aku yang tak layak untuknya mbak, aku hanya berasal dari keluarga yang bahkan tidak mempunyai apapun..
tak ada yang bisa ku tawarkan,
yang ada malah aku merepotkan nya terus.."
" Husshh..! ngomong apa..
dia itu mencintaimu, tidak ada kata merepotkan atau hitung menghitung dalam hal ini.."
Kinanti terdiam, ia sudah kehabisan kata kata.
" Jadi.. kau pasrah kan semua pada mbak yoo?" tanya Winda,
lagi lagi Kinanti mengangguk.
" Baguslah.. oh iya, Damar menolak perias pilihan mbak.. katanya di teman ibumu ada.."
" Perias? yang akan ku gunakan kemarin mbak?"
" mungkin.. dia bilang cocok disana, dia suka dengan kebaya yang kau coba katanya.."
Mendadak Kinanti malu mendengarnya,
Winda yang menangkap ekspresi itu bertanya.
" Kenapa nduk?"
" tidak mbak.." jawab Kinanti membuang perasaan malunya dan bersikap normal kembali.
" Damar juga bilang cocok dengan baju prianya..
mbak sempat heran, apa Damar yang mengantar mu dan calon suamimu yang dulu itu ke tempat perias? kuat sekali hatinya?"
" Sebenarnya dia mencoba baju pengantinnya denganku mbak.. karena waktu itu Haikal sedang di luar kota.."
Winda terhenyak,
" kalian sudah mencoba baju pengantin?" Winda tak percaya.
Kinanti mengangguk,
" Itulah namanya jodoh ya nduk.. tidak ada yang tau.. ternyata Damar lah yang benar benar menjadi pengantin prianya.."
Kinanti diam, ia tak berkomentar.
" Ya sudah.. cukup disini saja, tapi tolong datanglah lagi dengan Damar ke perias itu.. pastikan lagi.."
Kinanti mengangguk pelan.
" Mbak tau kau sedang marah, tidak apa apa, teruskan saja marahmu.. biar dia tahu rasa, main sobek sobek saja rok perempuan...! biar tidak kurang ajar ke depannya?!" Winda jadi mengomel.
" Aku akan menyuruhnya kesini, jadi kau tidak perlu menghubunginya,
kalau perlu jangan bicara padanya di sepanjang perjalanan, biar dia kapok..."
mendengar itu Kinanti sedikit terhibur, lucu sekali mbak Winda ini pikirnya, bukan malah membela adiknya.
" Mbak itu paling seneng nduk lihat Damar bingung, soalnya mulai dari kecil wajahnya datar tanpa emosi, segala hal di lakukan dengan patuh tanpa berkata tidak..
jadi ketika melihat Damar marah dan kebingungan,
mbak itu malah terhibur.. setidaknya mbak bisa melihat perasaannya dan dia tidak memendamnya sendiri.." jelas Winda pada Kinanti,
" Iya mbak.. berarti boleh saya marah marah padanya mbak?"
" Marah saja..! kalau perlu mogok bicara biar dia kelimpungan.. " Winda tertawa, terlihat sekali betapa usilnya dia pada Damar, berbeda dengan caranya memperlakukan adik kandungnya Yoga.
__ADS_1
Semakin sayang Winda, semakin usil dan ingin tau dirinya.