
Yoga dan Dinda berjalan kaki berdampingan, keduanya memang sepakat turun dari taksi online tepat di gapura masuk gang.
Hal itu Dinda lakukan karena tidak ingin menarik perhatian tetangga, apalagi ia tak terlihat pulang semalam.
Saat keduanya sampai di depan Pagar rumah, terlihat Alfian berjalan terburu buru, bahkan setengah berlari ke arah Dinda.
" Dari mana saja?" tatapan Alfian tidak senang, apalagi saat melihat Yoga yang berdiri disamping Dinda, ia semakin tidak senang.
" Oh.. dari rumah teman, ada apa?" jawab Dinda mencoba tenang, ia menyadari bahwa Alfian terlihat tidak senang.
" Aku mencarimu tadi pagi, kata si teteh kau tidak pulang?" sorot Alfian tajam melirik Yoga.
Yoga yang merasakan kecemburuan itu tersenyum.
" Dia pacarmu Din?" tanya Yoga menyela,
Dinda diam, tidak menjawab.
" Saha eta Din (dia siapa din)? kenapa malah pulang dengan dia?" sorot mata Alfian memancarkan kecemburuan.
" Dia saudara Kinan, sudah pulanglah dulu.. satu jam lagi aku kerumahmu.. ku jelaskan kondisi yang sebenarnya.. ya??" pinta Dinda dengan nada sehalus mungkin,
membuat Alfian mau tidak mau mengangguk dan akhirnya berbalik pergi dengan langkah berat.
Yoga yang melihat itu tertawa kecil.
" Wah.. kau bisa bicara lembut juga ya ternyata..
berarti hanya denganku saja kau berbicara menyembur nyembur seperti naga.."
" tutup saja mulutmu itu." sahut Dinda berjalan kembali ke melewati teras.
" Lha memang iya.. dia pacarmu? patuh sekali.." gumam Yoga tapi terdengar oleh Dinda.
" Pacarku atau bukan, itu tidak menjadi urusanmu, lekas selesaikan urusanmu disini dan pergi dari sini." Ujar Dinda sembari membuka pintu rumah kontrakannya yang ternyata tidak terkunci.
" Wah..hanya dirimu saja yang bertindak sekasar dan segalak ini padaku sejak dulu.."
" kenapa? tidak terima kalau ketampananmu itu tidak bereaksi terhadapku?" Dinda berbalik menatap Yoga.
Yoga bukannya marah, tapi malah tersenyum,
" jadi kau mengakui kalau aku tampan?"
" tampan kalau tidak tau diri buat apa?"
" wah.. ucapanmu menusuk nusuk hatiku, sudah ku katakan bukan,
mari kita berdamai.. kita sudah terlalu tua untuk menjadi musuh bebuyutan lagi.." ujar Yoga.
Bukannya menjawab, Dinda malah meninggalkan Yoga dan masuk ke dalam rumah.
Sementara Damar dan Kinanti yang menyaksikan perdebatan dari dalam kamar itu saling memandang.
" Lebih baik suruh Yoga cepat pulang, lihatkan? mereka selalu ribut sejak dulu,
aku tidak mau membuat Dinda tidak nyaman..?!"
Damar terdiam sejenak, seperti berpikir.
" Bukankan kalian teman? bagaimana bisa teman baikmu menjadi musuh bebuyutan pacarmu?" tanya Damar akhirnya juga penasaran.
" Mudah sekali sekarang berbicara kalau Yoga dulu pacarku?" tanya Kinanti heran, karena sudah tidak ada sorot kemarahan di mata Damar.
" Karena aku tau kau tidak mencintainya lagi, dan itu hanyalah masa lalu bagimu..
tidak mudah..
tapi aku berusaha menerimanya,
andai dia bukan saudaraku pastinya dia sudah ku lempar jauh jauh,
bukankah kita punya pilihan..
__ADS_1
hubungan saudara tidak bisa di hapus,
aku harus belajar untuk mengendalikan emosi dan kecemburuanku.."
mendengar kata kata Damar Kinanti menjadi lebih tenang.
" Baguslah kalau mas sudah dewasa.." ujar Kinanti sembari merebahkan dirinya di atas tempat tidur.
" Dewasa? bukankan aku sudah bersikap dewasa sejak dulu?" tanya Damar memandangi istrinya yang rebahan itu.
" Mas hanya bersikap dewasa pada orang lain, tidak padaku.."
" Oh ya? contohnya?"
" Buanyakkkk.. kadang mas tidak lebih dewasa di banding Bagas.."
" Hehh..." Damar menyusul istrinya, merebahkan dirinya tepat disamping Kinanti.
" Eh! kok malah ikut rebahan?"
" lalu? aku tidak ada satu hal pun yang akan ku kerjakan disini..
sesungguhnya ada sih..
tapi butuh ijin.." tangan Damar menarik pinggang Kinanti dengan gemas.
" Ijin?"
" yah.. butuh ijinmu.." Damar berbisik di telinga Kinanti, sehingga Kinanti bergidik geli.
" Ini bahkan masih pagi, dan pintu kamar ini terlalu tipis.." keluh Kinanti.
" Sudah sebulan, kau bahkan tidak kangen denganku?" suara Damar masih berbisik.
" Bukan begitu.. ini rumah orang.. tidak pantas rasanya..?"
" Kalau begitu ayo kita pulang?"
Mendengar itu Kinanti membisu, tak menjawab.
" Kenapa? tidak mau pulang bersama suamimu?" tanya Damar bangkit dan duduk, di tatapnya baik baik wajah istrinya itu.
" Bukan tidak mau.." jawab Kinanti lirih,
" Lalu?"
" Aku hanya merasa hidup disini tenang.."
" tenang? tanpaku?"
Lagi lagi Kinanti diam,
Damar tertunduk, ia berusaha mengerti istrinya.
" Tidak ada jaminan ketika marah di masa depan mas tidak akan bersikap seperti itu lagi.." kata Kinanti tanpa memandang suami yang sedang terduduk di sampingnya itu.
Laki laki gagah itu tampak sedikit lusuh, dengan rambutnya yang sudah mulai memanjang, dan kumis halus pun sudah mulai tumbuh di atas bibirnya.
Hah.. bagaimana bisa.. Kinanti mengeluh dalam hati setiap memandangi Damar diam diam.
Tidak terawat pun Damar tetap semenarik itu.
Tanpa sadar Kinanti mengeluh, menyebabkan kesalahpahaman di pemikiran Damar, bahwa istrinya itu lelah melihatnya.
" Tidurlah.. aku mau keluar mencari angin sebentar.." ujar Damar tiba tiba.
Laki laki itu turun dari atas tempat tidur dan keluar dari kamar begitu saja.
" Mas? Sudah sarapan?" tanya Yoga yang sedang duduk di karpet ruang tamu, ia terlihat sibuk dengan HPnya.
" Sudahlah.. kau dari mana?" tanya Damar dengan wajah tak bersemangat.
" Aku tidur di hotel, ya masa aku mau menganggu ritualmu.." Yoga meringis,
__ADS_1
" Ritual gundulmu..! ayo ikut aku keluar.."
" keluar lagi? kemana?" raut wajah Yoga terlihat sedikit lelah.
" Ayo sudah ikut saja.." Damar berjalan ke arah pintu.
Dengan berat hati Yoga mengikuti, bagaimana mungkin Yoga berani menolak.
" Kau pulanglah.." ucap Damar setelah duduk di kursi belakang taksi online yang Yoga pesan.
Ia baru saja selesai membeli vitamin dan beberapa cemilan.
" Lalu mas dan Kinanti? emhh.. mbak yu maksudku..?" tanya Yoga yang duduk disamping Damar.
" Dia sepertinya belum mau pulang,"
" lha terus? mau sampai kapan disini?"
" ya emboh.. ( ya tidak tau..)" jawab Damar lesu.
" Bagaimana dengan pekerjaanmu jika mas terus disini?
lambat laun kondisi pabrik tidak akan terkontrol.. dan bisa merugi,
ingat mas.. sepercaya apapun mas pada orang orang itu, mas tidak bisa menyerahkan kuasa dalam tempo yang lama..
sejujur apapun manusia, akan selalu lupa jika ia melihat perputaran uang yang besar setiap hari..
Jika soal mengajar ku kira itu bukan masalah besar meski mas mengundurkan diri..
tapi jangan tinggalkan tanggung jawabmu terlalu lama.." Yoga ikut resah.
" Memangnya kenapa istrimu tidak mau pulang mas?" tanya Yoga kemudian.
" Mungkin dia masih kecewa padaku yang meninggalkannya..
dia takut aku berbuat hal semacam itu lagi di masa depan."
Yoga tertunduk sembari menghela nafas,
" Ini semua salahku.. dulu aku meninggalkannya dengan semena mena.. dan sekarang aku membuat mas bersikap seperti itu padanya.." tampak sekali penyesalan di mata Yoga.
" Sudahlah.. perkara aku pergi itu memang berhubungan denganmu, tapi perkara tidak segera pulang, itu murni kesalahanku sebagai seorang suami." jawab Damar membuka sebotol air mineral dan meminumnya.
" Harusnya aku segera pulang setelah dua atau tiga hari..
menyelesaikan masalah diantara kita,
benar kata Kinanti..
aku belum cukup dewasa dalam mengambil keputusan ketika itu semua berhubungan dengannya.." lanjut Damar setelah menghabiskan sebotol air mineral berukuran tanggung.
" Tidak mas.. kau orang paling dewasa yang pernah ku kenal.." ujar Yoga meyakinkan.
" Wajar jika kau marah dan kecewa.. bukankah itu manusiawi..
wajar Juga Kinanti pergi..
karena aku selalu berada di dekat kalian..
membuatnya tidak nyaman..".
Keduanya terdiam tak ada yang ingin keduanya katakan lagi, hingga suasana begitu hening di dalam mobil.
Hanya suara suara klakson yang mereka dengar di sepanjang perjalanan.
" Pak, tolong menuju travel terdekat.. saya mau cari tiket.." ujar Yoga tiba tiba ketika mereka sudah dekat dengan Gang masuk rumah Dinda.
" Kau mau cari sekarang?" tanya Damar,
" Iya, mas mau turun atau mau ikut?"
" Aku turun saja," jawab Damar, dan sopir itu menghentikan mobilnya.
__ADS_1
Menurunkan Damar di depan gang, dan kembali membawa Yoga menuju travel terdekat.