Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
panggil aku mas?!


__ADS_3

Kaila masuk ke dalam kamar Damar dan Kinanti.


Saat itu Damar baru saja selesai menyuapi istrinya,


" masih belum enakan mbak?" tanya Kaila,


Kinanti tak menjawab, hanya mengangguk saja.


" Biarkan mbakyu mu istirahat.." ujar Damar bangkit dan membawa piring berisi sisa makan Kinanti ke dapur.


" Sebentar lagi Yusuf kesini dengan ibu.." ujar Damar membuat Kaila sedikit kaget.


" Memangnya kenapa mas?" tanya Kaila, semenjak kejadian Yusuf memukul Yoga, Kaila takut sekali berhadapan dengan Damar, ia takut salah bicara.


Tapi karena Kinanti sakit, mau tak mau ia harus melangkah ke rumah Damar juga.


" Yusuf sudah bicara padaku, perihal permasalahan kalian.."


" Mo.. mobil mas?"


" Memangnya masalah apalagi selain tabrakan kalian?" Damar mengerutkan dahinya.


" Tentu saja hanya itu.." Kaila tertunduk,


" apa ada yang kau sembunyikan dariku La?" tanya Damar sedikit heran dengan sikap Kaila yang biasanya manja dan ceplas ceplos berubah menjadi tidak terlalu banyak bicara.


" Tidak ada mas.." jawab Kaila pelan,


" Ya sudah, kau kuliah hari ini?"


" tidak.."


" memang tidak ada kuliah?"


" ada, tapi aku ijin mas.."


" kenapa?"


" aku menunggu mobilku selesai saja, mungkin besok selesai.."


" Kau kan bisa naik motor?"


" Kampusku terlalu jauh mas? lagi pula mas tau aku kurang pintar naik motor.." Kaila cemberut.


" Jangan libur kuliah hanya karena hal sepele, naik taksi online saja.."


Kaila menggeleng,


" tidak, aku libur saja hari ini.. aku takut banyak orang jahat.."


Damar menggeleng pelan,


" Sekarang semua itu aman La, asal kau hati hati..


jangan bolos kuliah, biar Umar yang mengantarmu, atau pakai saja mobil mas?!"


" Mobil mas terlalu besar, seperti naik robot,


tapi aku bersedia diantar Umar, jam 1 siang aku berangkat.."


Damar mengangguk dan berdiri.


Ia meninggalkan adiknya itu dan kembali berjalan menuju kamarnya.


" Tidak tidur sayang?" tanya Damar menemukan Kinanti masih terduduk diatas tempat tidur, wajahnya terlihat tidak baik.


" Kenapa?" tanya Damar duduk disamping istrinya,


" ada yang terasa sakit?" tanya Damar khawatir.

__ADS_1


Kinanti menggeleng pelan, sesungguhnya Kinanti cemas, melihat Kaila yang kikuk Kinanti takut, kalau kalau Damar curiga dan bertanya pada adik iparnya yang polos itu.


" Lalu kenapa tidak tidur?"


tanya Damar,


" Emmh.. mau air hangat.." jawab Kinanti,


" Ya sudah, kuambilkan sebentar.. " Damar bangkit dan berjalan pergi.


Rasanya Kinanti tidak tenang, ia sakit tapi masih harus merasakan was was,


ingin menyerah rasanya dan jujur saja, tapi ketakutannya terlalu besar.


Yusuf datang bersama ibu Kinanti, karena ibu berniat menunggui Kinanti sampai malam, Yusuf berniat meninggalkan ibu dan kembali kerumah, dan nanti malam dia akan kembali untuk menjemput buleknya itu.


" Ya sudah, kalau begitu aku kembali nanti malam mas.." pamit Yusuf bangkit dari kursi.


Belum juga Yusuf berjalan keluar, Kaila masuk dari pintu depan, ia sudah tampak rapi dan harum.


" Mana Umar mas? aku sudah siap ini?!" ujar gadis itu sembari membenarkan letak tas punggungnya.


Yusuf yang spontan melihat ke arah asal suara beradu pandang dengan Kaila, namun cepat cepat keduanya membuang pandangan ke arah lain.


Damar yang melihat aura permusuhan namun manis itu tersenyum.


" Umar katanya tidak bisa, bagaimana ini ya.. sepertinya kau harus naik taksi online.." ujar Damar, sesungguhnya Umar bisa bisa saja mengantar, apalagi kalau itu perintah Damar.


Tapi melihat Yusuf dan Kaila yang sama sama membuang muka setelah lama bertatapan itu, tiba tiba rasa isengnya timbul.


" Kok?! mana mau taksi online ke pedesaan begini?!" sembur Kaila.


Yusuf yang sudah berniat untuk pulang itu kembali pamit, ia ingin menyingkir segera, melihat Kaila membuat kepalanya pusing.


" Saya pamit kalau begitu mas.." Yusuf tersenyum sembari melanjutkan langkahnya.


Namun belum sampai pintu depan, Damar kembali memanggilnya.


" Kemana mas?" Yusuf memasang senyum seramah mungkin.


" Ke kampus ya? sekali ini saja.. besok besok tidak akan merepotkanmu..


kan searah dengan tokomu?"


Kalimat Damar benar benar tidak bisa di tolak.


" Boleh mas," jawab Yusuf mengangguk pelan.


Di lebarkan senyumnya meski hatinya berat.


" Tuh La, sudah buruan berangkat, mumpung ada mas Yusuf yang antar..!" ujar Damar.


" Ah..?! aku tidak usah kuliah saja!" protes Kaila.


" Eh...! enak saja, sudah berangkat sana?! Yusuf sudah baik hati mau mengantarmu?!"


" Inikan gara gara dia?!"


" Kaila?! kau bukan anak SMA.. jadi jangan manja.. cepat berangkat..!" tegas Damar.


Dengan langkah berat Kaila mengekor di belakang Yusuf.


" Kenapa aku harus terus terlibat denganmu?" gerutu Yusuf ketika mobil nya sudah melaju keluar dari gapura desa.


" Memangnya aku mau juga terlibat denganmu?!" sembur gadis berambut sebahu dan berdagu lancip itu.


" eh.. kau itu, bukannya terimakasih.. malah galak..


makan apa sih setiap hari? meletus letus seperti petasan.." lanjut Yusuf menggerutu.

__ADS_1


Kaila diam, ia tak berniat menjawab, berada satu mobil dengan Yusuf membuatnya sudah kesal sekali.


" Ayo bicara baik baik.." ucap Yusuf tiba tiba, membuat Kaila menatapnya,


" baik baik??" tanya Kaila heran.


" Iya, kau harus tau kenapa aku memukul saudaramu itu.."


" Itu karena kau preman..!" Kaila membuang pandangannya pada layar HPnya.


" Tidak ada preman serapi dan seganteng diriku.." jawab Yusuf tanpa senyum, membuat Kaila bergidik.


Yah memang Yusuf tidak jelek, bisa di katakan ganteng juga, tapi sikapnya yang selalu sinis pada Kaila itu menutupi segala kelebihannya di mata Kaila.


" Sadar sadar om.. jangan kepedean.." cemooh Kaila,


" Om??!" Yusuf melotot,


" Iya omlah.. aku saja baru lulus SMA tahun kemarin.. yang jelas situ jauh.. dan jauh lebih tua dariku.." lanjut Kaila.


" Aku hanya beda 6 atau 7 tahun denganmu, jadi jangan menyebutku om?!" balas Yusuf menahan diri.


" Tetap saja, om.."


" mas!" tegas Yusuf.


" Panggil aku mas?! jelas?! dasar.." gadis tang duduk disampingnya itu benar benar membuatnya darah tinggi.


Kaila diam diam tertawa,


" Ya sudah.. terserah saja mau om, atau mas.. aku tidak ada rencana untuk memanggilmu.."


mendengar itu Yusuf hanya bisa diam menahan diri, ia baru tau kalau Kaila baru semester 2, tidak layak rasanya ia ribut dengan anak kemarin sore.


" Ayo bicara serius, tentang saudara saudara kita" ucap Yusuf setelah situasi di dalam mobil tenang.


" Bicaralah.." sahut Kaila masih sibuk bermain dengan HPnya.


" Dasar.. remaja..!" batin Yusuf setelah melirik ke arah Kaila yang malah acuh tak acuh dan terus bermain HP.


" Bagaimana? apa mas Damar sudah di beri tahu?" tanya Yusuf dengan nada lebih tenang.


" Perihal mas Yoga? ku kira belum.."


jawab Kaila.


" Lalu? bukankan akan lebih buruk jika mas Damar mengetahuinya sendiri?


kenapa kalian diam saja dengan kelakuan Yoga?!


seakan akan dia tidak pernah menyakiti saudaraku?!" Nada bicara Yusuf mulai meninggi kembali.


" Kami juga bingung bagaimana harus bersikap, bukannya kami membela.. tentu tidak.. tapi kami juga sedang membujuk mas Yoga?"


" tidak membela bagaimana? kau bahkan menamparku?!" raut wajah Yusuf kesal setiap mengingat tamparan Kaila di wajahnya.


Kaila menatap laki laki disampingnya itu,


" Andai om tidak memukul mas Yoga dengan brutal seperti itu, aku juga tidak akan bertindak seperti itu?!"


" Mas..?! sekali lagi kau panggil aku om, akan ku turunkan disini..!" tegas Yusuf dengan alis berkerut dan dahi terlipat,


panggilan om benar benar membuat hatinya tak terima.


" Ah.. sudahlah.. anggap saja kita impas..


pukulanmu bahkan masih membekas di wajah mas Yoga,


dan lagi.. tamparanku tidak sekeras itu kan? tanganku kan kecil mungil dan lembut.." ucap Kaila kemudian.

__ADS_1


" Apa? kecil mungil lembut?!" nada Yusuf seakan tak percaya, ia melirik tangan Kaila, bagaimana bisa tamparan sekeras itu berasal dari tangan yang memang kecil bagi Yusuf,


tapi saat itu tak ada kelembutan yang ia rasakan, hanya pipinya yang sakit dan panas.


__ADS_2