
" Aku tidak perlu obat, elus saja kepalaku.. " Yoga merebahkan dirinya di pangkuan Dinda.
Tanpa sempat Dinda menolak pahanya sudah di jadikan bantal.
" Ayolah.. aku harus kerja dua jam lagi.." ujar Yoga menarik tangan Dinda agar menyentuh kepalanya.
" Kau jangan ngelunjak?" peringat Dinda ketus,
" Ngelunjak apa? mas Damar menyuruhmu membantu mengobatiku kan? obat itu tidak hanya yang di minum.."
" jangan mengada ngada."
" bagiku obat yang paling manjur sekarang adalah sentuhanmu, karena hatiku lebih sakit dari pada kepalaku,"
" kau aneh aneh lagi?!" Dinda berusaha bangun, tapi Yoga tidak mau beranjak, dia tetap merebahkan kepalanya.
" Kau tidak bertanya kenapa begitu?" ujar Yoga,
" Apanya yang begitu?!" Dinda gemas, kalau saja kepalanya tidak di jambak Kinanti dengan keras tadi, pastilah akan disingkirkannya kepala itu dari pahanya.
" Kenapa hatiku lebih sakit dari pada kepalaku?"
" tidak tau," jawab Dinda acuh.
" Dasar.. tidak peka, bagaimana hatiku tidak sakit.. kau tidak mengakui apa yang sudah kita lakukan, kau juga tidak membantuku saat aku di aniaya oleh temanmu?!" ujar Yoga menarik tangan Dinda kembali agar menyentuh kepalanya.
" Sudahlah.. kasihanilah aku sedikit.." pandangan Yoga memohon.
Dinda hanya bisa menghela nafas, lalu mengelus kepala yang berada di atas pangkuannya itu.
" Kau wanita satu satunya.." gumam Yoga sembari tersenyum,
" apalagi?"
" yang pernah mengelus kepalaku.. selain ibu tentunya.."
" Ah, pembual.."
" sungguh.. mbak Winda tidak pernah.. bahkan Kinantipun tidak pernah.."
" ah.. siapa yang percaya.." ucap Dinda masih mengusap rambut Yoga.
" Tanyakan sendiri padanya kalau tidak percaya.."
" terserah kau saja mau bicara apa.."
Yoga tak berkata apapun lagi, ia terlihat nyaman sekali di pangkuan Dinda, bahkan hampir saja tertidur jika tidak mendengar suara Bagas masuk ke dalam rumah.
" Papa.." Bagas mendekat,
Sementara si pengasuh terlihat kaget melihat majikannya berada di pangkuan seorang wanita.
" Ngapunten pak..( maaf pak..) biar saya ajak ke mbak Winda saja lagi..?" kata si pengasuh menundukkan pandangannya.
Dinda yang melihat itu segera menarik tangannya dari kepala Yoga.
" Tidak usah, biar dia disini.. sampean lanjutkan pekerjaan di dapur saja.." Yoga bangun dari pangkuan Dinda dan menyambut putranya yang mendekat.
" Papa bangunnya siang ya?" tanya Yoga sembari mendudukkan putranya di salah satu pahanya.
" iya.. papa malas.." jawab Bagas polos,
Yoga tertawa mendengarnya.
" Papa bukannya malas.. tapi papa temani mama.."
jawab Yoga membelai kepala putranya.
" Mama..?" tanya Bagas bingung, sedari tadi pandangannya tak lepas dari Dinda meski ia berada di pangkuan Yoga.
" Iya.. mama.. ini mama Bagas.." Yoga meraih pinggang Dinda dan menariknya agar lebih dekat.
Wajah Bagas terlihat bingung bercampur penasaran, ia memandangi Dinda dengan pandangan aneh.
" Kau jangan ngawur..!" bisik Dinda mencubit lengan Yoga.
" Aduhh..!" keluh Yoga kesakitan,
" Panggil mama dong?" Yoga tak perduli.
" Jangan mempermainkan anakmu, kasihan tau!" Dinda masih berbisik dan kali ini cubitannya lebih keras, membuat Yoga meringis sembari menggosok lengannya.
" Mama.." suara Bagas yang kecil itu membuat suasana tiba tiba ganjil.
Dinda membeku, begitu juga Yoga.
" Bagas punya mama..?" suara bocah itu lagi, membuat Dinda merinding, ada kesedihan yang merayapi hatinya, kepiluan yang tak dapat di jelaskan.
" Mulai sekarang Bagas punya mama.. sama seperti yang lainnya.." jawab Yoga menyentuh pipi putranya.
" Papa?" bocah itu memandang papanya, seakan ingin memastikan.
__ADS_1
Yog mengangguk,
" iya.. mama.." kata Yoga.
" Bagas punya mama..?" ulang bocah itu lagi,
" Bagas mau peluk mama?" tanya Yoga sembari melirik Dinda yang benar benar beku, perempuan itu diam saja sembari membuang muka, ia tak berani menatap bocah kecil di hadapannya, ia takut, entah apa yang ia takutkan.
Tangannya mencengkeram pahanya sendiri, ingin lari dari ruang tamu itu rasanya.
Tapi jika dia lari sekarang.. bagaimana perasaan anak itu.., batin Dinda bergejolak tak karuan.
" Boleh?" tanya Bagas pada papanya,
" tentu saja boleh.." Yoga menurunkan Bagas dari pangkuannya.
Dengan langkah malu dan takut takut, Bagas mendekati Dinda yang sedang melihat ke arah lain itu.
" Bagas mau punya mama nggak?" tanya Yoga lagi ketika melihat putra nya masih takut mendekat pada Dinda.
" Mau papa.." jawab Bagas sembari mengangguk,
" mama baik ?" tanya anak itu lagi karena Dinda tak mau memandangnya.
" Tentu saja mama baik.. coba panggil.." ujar Yoga meyakinkan putranya.
Bagas melangkah ke hadapan Dinda, masih dengan langkah yang takut takut.
" Mama..?"
Deg..
Dinda di sergap perasaan yang ganjil, yang tak pernah di rasakan sebelumnya, hingga ia tak mampu menafsirkan perasaan macam apa yang sedang ia rasakan sesungguhnya.
Yang ia tau hanyalah betapa sedih dan kasihannya makhluk kecil di hadapannya itu.
Tatapan mata yang polos dan tak berdosa itu sedang mengharapkan balasan.
" Mama tidak mau Bagas?" suara yang sungguh menyayat hati Dinda, mau tidak mau pandangan Dinda beralih pada anak laki laki yang sedang berdiri di hadapannya itu.
" Mama tidak suka Bagas?" suara Bagas lagi.
Dinda terdengar berkali kali menarik nafas, dadanya serasa sesak setiap mendengar anak itu berbicara.
Tangan yang sebelumnya mencengkeram erat pahanya sendiri, sekarang terangkat, menghela kedua lengan Bagas.
Di pandanginya anak itu, teduh..
" Mama..?"
" I.. iya nak.." jawab Dinda akhirnya.
" mama kemana? Bagas sendirian terus sama papa?"
Hati Dinda seperti di sayat.. siapa yang tega mendengar itu, ada kepedihan dan kerinduan yang tersimpan di suara Bagas.
Tak bisa lagi menahan, meski ia bukan seorang ibu, hatinya tetap saja tersentuh,
air matanya menyeruak begitu saja, tanpa ia kehendaki,
dengan hati hati di tariknya Bagas ke dalam pelukannya.
Dan tanpa di minta tangan Bagas membalas pelukan Dinda,
Tangan kecil yang tak pernah lagi merasakan sentuhan ibunya sejak usianya masih dua minggu itu.
Oh.. betapa kasihannya.. bagaimana aku bisa menolaknya.. bagaimana aku bisa mengacuhkannya..
Batin Dinda bergejolak oleh laki laki kecil yang begitu mirip dengan Yoga itu.
Yoga trenyuh,
diam diam bersyukur melihat itu, tentu saja terharu..
campur aduk rasanya melihat Dinda dan Bagas saling memeluk dan berbicara, layaknya seorang ibu dan putranya.
Yoga sedang bersiap untuk berangkat kerja.
Ia mengambil Kunci mobil di laci samping TV, kebetulan Dinda dan Bagas sedang duduk berdua disitu.
" Papah berangkat ya sayang, Bagas dirumah sama mama ya?" Yoga mencium kening putranya, lalu berpindah dengan cepat ke kening Dinda.
Dinda menatap Yoga, Yoga tau itu adalah pandangan protes, namun Yoga hanya melemparkan senyuman manis,lalu berjalan keluar.
Sesampainya Yoga di garasi suara Dinda menghentikannya.
" Jangan keterlaluan!" tegas Dinda dengan suara tertahan karena takut terdengar oleh Bagas.
" Aku harus berangkat kerja, nanti malam saja kita bicara.." jawab Yoga tenang.
" Kalau tidak lihat anakmu sudah kutampar kau yang lancang ini!"
__ADS_1
" tamparlah.. tapi setelah itu biarkan aku pergi bekerja.. " ucap Yoga kalem sembari menyodorkan pipinya pada Dinda.
" Tamparlah.. sepuasmu, aku tak akan membalas.."
Dinda mengatupkan bibirnya menahan diri.
Ia geram sekali dengan tingkah Yoga.
" Ayah macam apa kau? kau senang memberi anakmu harapan palsu?!" kecam Dinda.
" Aku akan membuatnya nyata, jadi itu bukan harapan palsu,"
" Kau tidak waras?!"
" Iya, aku tidak waras.." jawab Yoga masih tenang, sorot matanya penuh kasih sayang pada Dinda.
" Aku tidak menyetujui apapun rencanamu! jadi jangan seenaknya memperlakukanku seakan aku mau mau saja!"
Yoga tersenyum,
" Aku tidak ingin perempuan lain yang menjadi ibu dari anakku, tidak kasihankah kau jika aku salah memilih perempuan dan membuat putraku semakin sedih?"
" Kau menggunakan anakmu untuk menekanku?"
" sebelum Bagas bertemu denganmu pun aku sudah bisa menekanmu," Yoga mendekat,
" kau?!" Dinda mundur,
" Kenapa? aku kenapa?" Yoga terus maju.
" Kau kira kau berpengaruh?" Dinda menahan Dada Yoga karena dia sudah kehabisan langkah untuk mundur, belakangnya hanya tersisa dinding.
" Kalau kau mencintaiku kau tak akan begini?" ucap Dinda.
" Aku begini karena kau terus lari dari perasaanku,
aku bukan anak muda lagi, aku dan kau adalah dua orang yang sama sama pernah menikah, sama sama kenyang dengan pahitnya cinta dan rumah tangga.
Aku ingin menikahimu tidak hanya sekedar karena cinta atau nafsu,
banyak hal yang sudah ku perhitungkan." tegas Yoga melingkarkan tangannya di pinggang Dinda.
" Aku tidak pantas menjadi ibu putramu, aku tidak layak, dia berhak mendapat ibu yang lebih baik dariku?!"
" ibu seperti apa yang pantas menurutmu?
yang cantik?
yang kaya?
yang sibuk dengan dirinya sendiri?
yang lebih mementingkan penampilan dan pergaulannya?
perempuan yang seperti ibu kandungnya? yang lebih memikirkan dirinya sendiri di banding tanggung jawabnya pada putranya?"
Dinda terdiam mendengar itu.
" Aku akan membahagiakanmu.. aku tidak mau berjanji.. tapi aku akan membuktikannya,
tidak hanya setahun atau dua tahun pernikahan, tapi sampai kita tua.. aku akan menjagamu.."
Keduanya berpandangan..
seperti ada magnet besar dari dalam diri Yoga, yang selalu berhasil menggoyahkannya.
Namun tiba tiba Dinda tersadar dan membuang pandangannya dengan cepat.
" Aku sudah bilang aku tidak layak.." suara Dinda lebih tenang.
" Kau perempuan terdidik dan berwawasan.. kau hanya menutupi dirimu agar terlihat tidak menarik di depan laki laki..
dan aku tau apa sebabnya,
ada luka yang besar di sini.." Yoga menunjuk dada Dinda.
" Luka itu yang menyebabkanmu selalu lari dariku..
kau takut terikat dalam pernikahan karena tidak ingin sakit hati lagi.. begitu bukan?"
" Jangan sok tau tentang aku..?!" Dinda menatap Yoga tegas.
Melihat Dinda yang selalu saja marah padanya itu membuat Yoga gemas, galaknya masih saja sama seperti semasa dirinya masih gadis.
Bedanya, dulu Yoga selalu kesal dan membalas kata kata Dinda.
Tapi sekarang, mengomel seperti apapun Dinda, Yoga hanya tersenyum, semakin di lihat semakin gemas.
Yoga yang melihat Dinda begitu dekat tentu saja tak mau menyianyiakan kesempatan,
di curinya bibir perempuan yang sedang mati matian menentangnya itu.
__ADS_1