Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
kemanapun kau pergi aku ikut


__ADS_3

" Mbak Dinda.." Damar mengejar langkah Dinda yang sudah bersiap siap naik motor nya, tentu saja hari ini dia harus bekerja dan menghasilkan uang hari ini.


" Ada apa mas?" tanya Dinda balik,


" Bisa turun sebentar? saya mau bicara mumpung istri saya masih tidur.." pinta Damar, dan dengan langkah sedikit berat Dinda turun dari motor dan kembali ke teras rumah.


Pagi ini Bagas begitu senang melihat papanya.


Seperti Bagas, Yoga juga sudah terlihat lebih santai dari kemarin kemarin.


" Kapan mereka pulang Yoga?" tanya Winda sembari menyuapi Bagas.


" Tidak tau mbak.."


" lho? kok iso tidak tau?!" suara Winda meninggi.


" Sudah mbak.. biarkan saja mereka dulu..


mas Damar juga sedang berusaha membujuk istrinya.."


" Memangnya Kinan masih marah?"


" sepertinya tidak.. tapi kekecewaan itu lebih berbahaya dari pada marah kan mbak..


intinya kecewa saja.. karena mas Damar pergi dari rumah berminggu minggu, mengacuhkan istrinya.." jelas Yoga sembari menciumi putranya yang sedang duduk di sampingnya itu.


" Tapi kondisi Kinanti sehat kan?"


" semakin kurus kulihat mbak.. sepertinya pola makannya terganggu..


aku ingin memeriksanya sih.. tapi aku takut mas Damar salah paham lagi.."


" ke dokter lain kan bisa..?!"


" ah.. aku serba takut sekarang, apapun yang berhubungan dengan istrinya aku tidak mau ikut ikut..


meski itu hanya sebuah saran,


aku takut di nilai masih menyimpan perasaan.." jawab Yoga tenang dan lebih santai.


" Lalu bagaimana kalau mereka tidak pulang pulang, pabrik terbengkalai sudah sebulan lebih..?"


" Kan ada Umar dan staf.."


" kau kira segalanya bisa berjalan dengan baik tanpa pengawasan Damar secara langsung?!,


Dia benar benar melimpahkan banyak pekerjaan kepadaku,


belum sawahnya sendiri dan mbah uti,


aku juga punya kesibukan lain Yog,


kau sih enak!"


" Enak apa? aku ini bekerja pada suatu lembaga mbak..


tidak seperti mbak yang bebas,


mbak kira juga tidak lelah mendengar keluhan orang setiap hari?


tapi itu adalah tugasku, duniaku..


jangan ngomong enak enak begitu ah mbak..


wong duwite sampean luwih akeh teko duwitku.. ( orang duitnya mbak lebih banyak dari pada duitku..)"


" Masalahnya ini pekerjaan yang seharusnya di lakukan Damar di limpahkan padaku..?!"


" yo protes lho ke mas Damar.. kok protes ke aku..


aku mana tau urusan tanah, sawah, pabrik.. embohh..!"


" ya setidaknya belajar, emange lek awakmu pensiun arep lapo lek ora ngurusi tanduran,


mboh pari, tebu, opo pohong..!


( memangnya kalau kamu pensiun mau apa, kalau tidak urus tanaman, entah padi, tebu, apa singkong..!)


mangkannya segera cari istri, tapi kalau bisa cari istri yang telaten..


ya telaten ngurus anak, ya ngurus suami..


mbak akan lebih suka kalau perempuan yang bisa memutar uang.. yang bisa di ajak bisnis..!"

__ADS_1


" Lha kok aku saja yang disuruh cari istri yang begitu? mas Damar tidak..?!"


" kalau Damar itu sudah cukup dirinya sendiri yang ulet, kalau dua duanya ulet repot..


lha awakmu.. ora ulet blas.. tidak ada asetmu yang berkembang.."


" oh.. jadi aku disuruh cari istri yang bisa mengembangkan asetku?"


" yo iyooo...!"


" bahaya.. pemikiran berbahaya..


aku itu maunya menikah lagi karena dasar rasa suka mbak, kalau bisa ya cinta.. bukan karena dia pintar mengembangkan aset.." gumam Yoga.


" Ngenteni awakmu jatuh cinta maneh yo suwe ( lama ) Yog.. yog..!" protes Winda.


Dari kejauhan terlihat sebuah mobil berwarna hitam mendekat.


Yoga mengerutkan alisnya dan bangkit dari kursi.


Yoga melihat Kaila turun dari dalam mobil itu dan buru buru masuk.


" Dengan siapa Kaila itu mbak?" tanya Yoga.


Winda ikut melihat,


" Itu seperti mobil sepupu Kinan, Yusuf.." jawab Winda.


" Apa mereka berhubungan?"


" sepertinya, Kaila tidak pernah selengket itu pada laki laki sebelumnya,"


Yoga terlihat berpikir sejenak,


" apa mas Damar tau?" tanyanya kemudian,


" sepertinya Damar tau," jawab Winda sembari memberi suapan terakhir pada Bagas.


" Sampun ( sudah)..?? tambah lagi??" tanya Winda pada Bagas,


" kenyang budhe.." jawab Bagas menggeleng pelan.


" Aku kenal benar Yusuf mbak.. bertahun tahun..


apa dia benar benar suka pada Kaila?" suara Yoga tampak ragu.


" Dia playboy? suka bermain perempuan?" tanya Winda tidak sabar.


" Tidak kalau bermain perempuan.."


" lalu? apa yang membuatmu berkata seperti itu, membuatku was was saja?!"


" Sepengetahuanku Yusuf itu kaku orangnya, tidak bisa di tekuk.. tidak sabaran..


jika bisa memilih, lebih baik Kaila tidak bersamanya..


aku juga takut, dia main main.. mengingat dia kesal sekali terhadapku.."


Winda jadi ikut berpikir,


" Mana mungkin dia berani terhadap Damar Yog?, jangan ngarang ngarang?!"


" Lalu kenapa yang dia dekati Kaila, padahal dia tidak nyaman sekali dengan keluarga kita?


apa mbak tidak cemas sama sekali kalau dia akan menyakiti Kaila suatu ketika nanti?"


" Huss...! jangan mengambil kesimpulan semacam itu, toh mereka pacarannya normal normal saja.." tukas Winda tak mau berpikir buruk.


" Kesempatan bagus baginya dengan tidak adanya mas Damar.." gumam Yoga.


" Bagaimana jika aku tidak mau pulang?" Kinanti memandang suaminya itu baik baik.


" Aku akan terus disini.."


" pekerjaanmu?"


" aku akan mencari kerja disini.."


" pabrik dan tanah tanahmu?"


" akan kuserahkan pada Kaila.." jawab Damar tenang.


" Mana ada orang yang mau membuang pekerjaan dan kekayaannya semudah mas?" Kinanti tak percaya,

__ADS_1


" Bisa.. demi kau.. istriku..


asal saja.. kau tak mengeluh jika aku berubah menjadi pria yang pas pasan dan tak punya apa apa.."


Raut Kinanti masam, bisa bisanya Damar menjawab semuanya dengan tenang dan mudah, padahal Kinanti ingin memberi sedikit beban Pikiran pada Damar.


" Pokoknya.. aku pergi kemana kau pergi,


aku tinggal dimana kau tinggal.." ujar Damar.


Laki laki itu tersenyum lalu mengambil rokoknya,


" Kalau memang masih berniat lama disini, belikan aku baju..


aku kan hanya membawa satu setel baju.." Damar mengambil sebatang rokok dan membakarnya.


" Merokok terus..!"


" eh.. baru sekarang ini aku merokok dirumah temanmu..


masa sebatang saja tidak boleh.." keluh Damar yang sedang duduk di atas karpet itu.


" Mas benar benar mau pindah kesini kalau aku tidak mau pulang?"


Damar mengangguk,


" apapun maumu.. ku turuti.. asal ya itu..


jangan mengeluh kalau kita hidup pas pasan.." lagi lagi Damar tersenyum.


" mas sengaja mempermainkanku ya?"


" lho? yang tidak mau pulang siapa, yang di tuduh mempermainkan siapa.."


Terdengar suara motor Dinda berhenti dan langsung di parkir di teras.


" Wah.. aku menganggu perbincangan sepertinya..?" Dinda masuk ke dalam rumah dengan wajah lelahnya.


" laris hari ini Din?" tanya Kinanti mengambil segelas teh hangat dan langsung di berikan pada Dinda yang baru saja duduk.


Ketiganya duduk di atas karpet dan berhadapan.


" Alhamdulillah.. ada yang borong tadi.." jawab Dinda tersenyum senang,


" Wah.. baguslah..!" Kinanti juga senang, Damar yang melihat senyum di wajah istrinya itu menghela nafas berat.


" Kita jalan jalan ya nanti malam.." suara Damar datar,


" kemana? kemanapun, alun alun? jalan braga?"


" sejak kapan mas senang jalan jalan?"


" sejak sekarang.. aku mau lebih menikmati waktu kita..


lagi pula.. selama menikah aku hanya sibuk dengan pekerjaanku dan tidak pernah mengajakmu kemanapun.." jawab Damar,


Dinda tersenyum menggoda Kinanti,


" Lha.. itu...jalan jalan lah.." ucapnya.


Kinanti memandang suaminya,


" tapi potong rambut dan cukur dulu ya?"


" lha? kenapa? malu jalan dengan ku?"


Kinanti menggeleng,


" Lalu?"


" Kalau begitu aku jadi ingat mas jaman dulu..


mas sering kerumah dengan rambut yang potongannya persis seperti itu.."


" hemmm.. aku akan potong rambut jika kau tidak suka.."


" bukan tidak suka.."


" kau bilang mengingatkanmu dengan masa lalu.."


" lebih ke arah.. tidak suka melihat mas tampak seperti anak muda begitu.. kelihatan lebih muda dan manis tau mas?


aku kan jadi sebal..?!"

__ADS_1


mendengar itu Damar tersenyum lebar, sementara Dinda tergelak.


" Bisa bisanya kau kekanak kanakan begitu Nan.. nan.." keluh Dinda sembari menggeleng.


__ADS_2