Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
aku ingin mereka juga menyayangimu


__ADS_3

Damar merasakan tatapan penasaran dari para pekerjanya, ia tersenyum sesekali untuk meredakan rasa penasaran mereka.


Mungkin jika berani mereka akan lantang bertanya kemana dirinya pergi selama ini, namun tak seorang pun berani bertanya.


Dengan langkah yang ringan dan tenang Damar meraih tangan istrinya yang sejak tadi berjalan mengikuti langkahnya.


" Sehat ibu ibu..?" tanya Damar pada ibu ibu yang sedang sibuk bekerja tapi juga sesekali melirik Damar dan Kinanti.


" Alhamdulillah mas Damar...!" jawab para ibu serentak.


" Baguslah.." jawab Damar lalu memandang istrinya,


" sampaikan sayang.. ayo.." ucap Damar sembari mengangguk.


" Ibu ibu.. pulang kerja nanti silahkan datang ke kantor bergantian..


ada sedikit sembako dari kami.." suara Kinanti berusaha sekeras mungkin agar terdengar ke seluruh ruangan.


Mendengar itu tentu saja ibu ibu yang biasanya bekerja keras untuk membeli kebutuhan dapur itu sedikit kaget, dan bersorak setelah beberapa menit kemudian,


ada apa ini.. tentu pikir mereka begitu.


" Dalam rangka apa pak?" tanya dua pengawas gedung B,


" dalam rangka saya mengucapkan terimakasih dan rasa syukur..


sekalian saya minta doa untuk kesehatan istri dan entah putra atau putri yang masih di kandung istri saya ini.." Damar tersenyum sembari menyentuh perut istrinya.


" Wahh....??!!" raut para pekerja terlihat berubah sumringah turut berbahagia.


" Sehat sehat selalu bu..!"


" iya bu.. semoga lancar sampai melahirkan..!" teriak beberapa orang yang berdiri di sudut paling jauh.


" Iya bu! semoga sehat ibu dan kandungannya..!"


" sehat sehat...!"


banyak suara yang membuat Kinanti tersenyum bahagia,


doa doa dari para pekerja itu begitu tulus membuat hati Kinanti tak bisa menahan rasa haru.


" Terimakasih ibu ibu.." jawab Kinanti,


" Ya sudah.. kita ke gedung lain.." ajak Damar meraih lengan istrinya.


" Kenapa harus aku yang menyampaikan?" tanya Kinanti di sela sela langkahnya.

__ADS_1


" Aku ingin mereka semakin menyayangimu.. jadi penting rasanya untukku jika kau yang menyampaikan hal itu pada mereka sendiri sayang..


nanti bantulah juga sebentar di kantor, setidaknya berikan senyum pada mereka agar mereka merasa di hargai dan di anggap olehmu.." ujar Damar memberi pengertian pada istrinya, lalu keduanya melanjutkan langkahnya menuju 3 gedung lainnya.


Suasana rumah Winda terlihat begitu riuh sore ini, mobil mobil terparkir berjajar dari rumah yoga sampai depan rumah Ibu tiri Damar.


Teman baik, kenalan dan rekan bisnis berkumpul mengadakan arisan yang di adakan setiap sebulan sekali itu.


Kebetulan bulan ini Winda yang mendapat giliran, itu yang menyebabkan Winda riweh mulai dari seminggu yang lalu.


Di karena kan dirinya hidup di desa tentu saja ia banyak menyiapkan hidangan hidangan yang jarang di temui di kota, Winda ingin suasana yang berbeda, menu menu desa yang di masak ibu ibu pekerja dirumahnya benar benar memanjakan lidah para tamu Winda, para tamu banyak yang terang terangan memuji karena mereka sudah bosan memakan hidangan hidangan mewah kota yang tidak terlalu baik untuk kesehatan mereka yang sudah mulai menua.


Ada juga menu menu dari daging, tapi tetap saja di bumbui dengan bumbu khas jawa timuran yang sudah jarang di sajikan di acara acara besar di kota.


Yoga yang baru saja datang sore itu ikut menyapa, karena ia mengenal baik beberapa orang, teman teman ibu dan bapaknya dulu.


" Hemm... tambah ganteng saja pak dokter kita yang satu ini..


piye.. wes ono calon maneh? ( gimana.. sudah ada calon lagi?)" tanya beberapa ibu ibu menggoda Yoga.


Namun Yoga hanya tersenyum lebar saja sembari bersalaman.


Dari kejauhan dia juga melihat beberapa perempuan setengah baya sedang meliriknya dengan pandangan yang menurutnya kurang sopan.


Mereka menatap Yoga dari atas sampai ke bawah, benar benar membuat Yoga tidak nyaman.


" Oh.. dia mungkin masih di pabrik.. seperti tidak tau saja budhe.. dia mana senang dengan keramaian.." jawab Winda sembari tersenyum.


" Ya setidaknya menyapaku lho..


bapaknya adalah teman baikku dan suamiku.."


" aduh.. anak itu gila kerja budhe.."


" siapa mbak?" tanya ibu ibu lainnya penasaran.


" Itu.. yang mau ku jodohkan dengan anak pertamaku dulu.."


" Owalah.. yang katanya mau fokus ngurus pabrik dan jadi dosen itu?"


" iya.. tau taunya malah menikah, padahal ngomongnya mau fokus bekerja..


kurang apa sih anakku Win? cantik, pegawai negeri..


pastinya warisan dariku juga banyak?" nada si ibu itu terlihat sedikit kesal.


" Namanya bukan jodoh budhe.. mau bagaimana.. perasaan kan tidak bisa di paksa.." sahut Winda sopan.

__ADS_1


" Katanya anak orang biasa biasa saja ya istrinya? bukan pegawai juga kan?"


mendengar kalimat itu Winda mulai merasa terganggu, ia tak nyaman, namun ia tetap harus bertindak sebagai tuan rumah yang baik.


" Tipenya mas Damar kan memang begitu budhe.. yang diam dirumah dan manut,


mas Damar tidak suka perempuan yang sibuk bekerja di luar dan terlalu mandiri,


karena mas Damar menginginkan perhatian yang besar untuk dirinya dan anak anaknya kelak..


kalau mas Damar bisa memenuhi semua kebutuhan, untuk apa dia punya istri yang sibuk bekerja di luar?,


mungkin karena itu mas Damar menolak tawaran budhe dengan halus.." Sahut Yoga yang sejak tadi hanya menjadi pendengar,


ia melempar senyum yang manis pada ibu itu.


Mendengar kata kata Yoga si ibu seperti kehabisan kata kata.


" Jangankan mas Damar.. sayapun lebih suka istri yang diam dirumah dan fokus mengurus saya dan anak..


bukankah bekerja dan memenuhi kebutuhan itu menjadi tugas saya sebagai seorang suami..?" imbuh Yoga membuat si ibu semakin tak bisa menjawab.


" ya sudah budhe.. saya menyapa tamu lainnya dulu.. monggo.." Yoga seperti sengaja membuat mulut ibu ibu yang sombong itu diam, sesungguhnya ia tak bermasalah dengan perempuan yang bekerja setelah menikah, namun mendengar Kinanti di banding bandingkan ia ikut kesal.


Dengan langkah ringan Yoga berjalan meninggalkan si ibu bersama Winda.


" Ganti bajumu Kaila?!" tegas si ibu yang kesal melihat Kaila hanya memakai kaos oblong dan celana pendek saja.


" Buat apa bu? toh aku tidak menunjukkan diriku kepada siapapun?" jawab Kaila yang sedang asik rebahan di atas tempat tidur sembari bermain HP.


" Sebentar lagi ada teman teman ibu kesini, ada beberapa juga yang membawa anaknya, jadi lekas ganti baju! kau juga harus ikut menyapa!" tegas si ibu lagi.


" Tidak mau.." jawab Kaila,


" Pasti laki laki kan anak teman teman ibu?" tanya Kaila seakan tau pikiran ibunya.


" Aku sudah punya pacar bu, jadi jangan bertindak seperti sebelumnya, aku tidak mau di kenal kenalkan dengan siapapun itu...!" tolak Kaila.


" Saudara Kinanti yang pas pasan sama seperti Kinanti itu?!


bagaimana caranya menghidupimu kelak ha?!"


kalimat ibunya itu benar benar menyakiti telinga Kaila.


" Yusuf bekerja, bukan pengangguran bu?! dan tolong ibu jangan terus terusan menilai orang dari pekerjaan atau seberapa banyak ia menghasilkan uang?!"


" Ah.. receh.. anak seperti itu tidak akan mampu membuatmu hidup nyaman, patuhlah pada ibu, banyak laki laki yang lebih baik dan mampu dari pada saudara Kinanti itu! ayo lekas bangun dan ganti bajumu!" tegas si ibu sembari menarik lengan Kaila dengan kasar.

__ADS_1


__ADS_2