
" Tidak kerja dia?" tanya Winda pada si mbak karena tidak bisa masuk ke dalam rumah.
" sepertinya jadwal hari ini mas Yoga masuk siang mbak.. mungkin saja masih tidur.." jawab si mbak yang merawat Bagas.
" wes jam piro iki? ( sudah jam berapa ini?)" Winda ngomel.
" Ya sudah, biarkan dia sebangun bangunnya, kerja nggak kerja urusannya, dia sudah tua! sampean temani Bagas saja mbak, katanya mau ke tante Kinannya," ujar Winda.
" Oh.. nggih mbak.."
" tapi di awasi ya mbak, istrinya Damar hamil soalnya, bahaya kalau Bagas minta minta gendong atau nakal?!"
" iya mbak Winda.." jawab si pengasuh patuh.
Yoga bergerak, tapi lengannya di rasa berat.
Dengan rasa penasaran laki laki itu membuka matanya perlahan,
senyumnya mengembang saat menemukan Dinda tertidur di pelukannya.
Namun senyumnya berangsur menghilang saat ia melihat betapa sembab mata Dinda karena menangis cukup lama.
" Itu salahku membuatmu menangis.." gumam Yoga.
Di belai belainya rambut Dinda, di kecupinya kening Dinda berkali kali, hingga perempuan itu membuka matanya, dan menemukan dirinya sedang tertidur di pelukan Yoga.
" Tidurlah lagi.." suara Yoga penuh kasih sayang,
bukannya tertidur lagi, mata Dinda justru terbelalak,
dan tak lama kemudian Dinda memberingsut, ia sungguh malu mengingat kejadian subuh tadi.
Bisa bisanya sudah di perlakukan seperti itu, tapi masih bisa tidur di pelukan Yoga.
Entahlah.. karena lelah atau dia nyaman, dirinya tertidur begitu saja.
Yoga bangkit dari tempat tidur dan membuka tirai jendelanya yang lebar itu.
Rupanya matahari sudah tinggi, ia bisa melihat pengasuhnya yang sedang bermain dengan Bagas dan Kinanti di teras rumah Damar.
Yoga mengalihkan pandangannya pada Dinda yang mulai beranjak.
" Sini lihat.." Yoga lagi lagi mengangkat tubuh Dinda hingga berhadapan dengannya, layaknya menggendong anak anak.
" Kau sudah minta maaf tapi kau begini lagi?!" protes Dinda.
" Lihat dulu.." suara Yoga kalem, di turunkan perempuan itu di depan jendela yang besar itu.
" Itu putraku.. sedang bermain dengan sahabatmu.." jelas Yoga tersenyum senang sambil menunjuk teras depan rumah Damar, entah kenapa pagi ini rasanya cerah dan membahagiakan sekali bagi Yoga.
Dinda terdiam,
" Kasihan.. aku sering meninggalkannya.. jadi dia lebih senang bersama dengan saudara sudaraku..
apalagi kalau sudah sama mas Damar dan mbakyu.. dia nempel sekali.." ujar Yoga memeluk Dinda dari belakang, tapi Dinda segera melepaskan pelukan Yoga dengan susah payah.
" Berhenti menyentuhku disana sini?!" suara Dinda tiba tiba tajam.
" Apa kau kira karena aku janda kau boleh se enaknya?!" imbuh Dinda.
" Astaga Adinda?? bisa bisanya kau berpikiran demikian?" Yoga kaget, ternyata Dinda belum memaafkannya, bagaimana bisa dia tiba tiba bersikap sinis begini, padahal tadi dia manis sekali saat baru saja bangun tidur.
" Apa karena tadi subuh? kau jadi berpikir seperti itu?" tanya Yoga bingung harus bagaimana untuk menenangkan Dinda yang tiba tiba berubah menjadi sinis itu.
__ADS_1
" Aku memang salah.. aku tidak akan membela diri, tapi aku sendiri tidak tau kenapa aku begini kepadamu??"
Dinda tak berkutik, Yoga berusaha mendekat lagi namun Dinda selalu mundur menjauh.
" Tanyakan pada Kinanti apa aku pernah begini terhadapnya? dia pasti akan menjawab tidak pernah..
bahkan.. pada ibu Bagaspun..
aku hanya beberapa kali menyentuhnya karena kewajiban sebagai suami..
Sungguh.. aku tidak pernah seliar ini..
kau tau aku adalah laki laki yang bertata krama tinggi..? aku sangat menghargai perempuan..??"
" oh.. jadi itu salahku? membuat dirimu menjadi liar dan kasar?
bisakah ku tarik kesimpulan?
kau bersikap seperti itu karena menganggapku wanita murahan yang gampang di rayu?"
" hentikan Dinda?! jangan menghina dirimu sendiri hanya karena kesalahanku?
itu murni kesalahanku sebagai seorang laki laki, aku tak bisa menahan diri karena kau terus saja menolak percaya perasaanku..
apa kau tau? aku sangat tidak tenang saat tau di luar sana ada laki laki lain yang menunggumu..?"
" Berhenti?!" tegas Dinda saat Yoga mendekat lagi.
" Aku akan mempertanggung jawabkan setiap sentuhanku padamu.." ujar Yoga,
" Aku tidak ingin," sahut Dinda,
" Maksudmu?"
" Aku akan kembali ke bandung dalam beberapa hari, aku juga tidak ada niatan menikah dalam waktu dekat ini,
dan kuharap, jangan mengganggu ku selama aku bersama dengan Kinanti disini."
Yoga tercengang, padahal semalam Dinda sempat membalas ciumannya, ia pun tak menolak saat Dirinya memeluk Dinda dengan erat, tapi kenapa sekarang jadi begini?.
Yoga terduduk lesu,
" Jadi benar? kau suka laki laki bernama Alvian itu?" suara Yoga mulai tenang, ia berusaha menguasai dirinya, tak mau tersulut api cemburu dan bersikap sembrono lagi.
" Jangan bawa bawa Alvian, dia tidak ada hubungannya,"
" Siapa bilang tidak ada, kau menolakku karena lebih menyukai dia.."
Dinda geram, laki laki ini sungguh membuatnya merasa begitu bodoh, dirinya merasa seperti di permainkan.
" Aku dan Alvian sudah berteman selama bertahun tahun, dia tak pernah menuntutku sepertimu?! dia bahkan tak pernah meminta sentuhan fisik sepertimu!" tegas Dinda.
" Jadi aku? hanya aku saja?" tanya Yoga memandang Dinda serius.
" Aku tidak mengerti maksudmu!"
" Aku bisa merasakan kau membalas ciumanku semalam, dan kau juga memelukku dengan penuh kepasrahan..
apa aku berhalusinasi? atau kita sesungguhnya merasakan hal yang sama? hanya saja kau malu mengakuinya.." kata kata Yoga tepat sasaran, menusuk kepercayaan diri Dinda.
Wajah perempuan itu bersemu merah,
" Dasar kau buaya!" tegas Dinda langsung berjalan pergi keluar dari kamar Yoga,
__ADS_1
ia tak ingin perasaannya di tangkap oleh Yoga.
Dengan gerakan terburu buru Dinda masuk ke kamar yang di tempatinya dan mengambil travel bag nya.
" Setidaknya mandi dulu? apa kata mbakyu kalau melihatmu keluar dengan tampilan seperti ini dari rumahku?" Yoga menghalangi Dinda yang berjalan ke arah ruang tamu.
" Perduli apa?! biar orang tau kelakuanmu!" tegas Dinda.
" Kau yang akan menanggung malu jika keluar seperti ini, bukan aku? bahkan keluargaku akan menilai kalau kau sudah tidur denganku, apa kau mau di nilai sembarangan?" Yoga berdiri menghalangi pintu.
Dinda mendengus kesal, apa yang di katakan Yoga ada benarnya.
" Mandilah dulu.." pinta Yoga kalem, dan tanpa menjawab Dinda segera berbalik dan pergi ke kamar.
Damar sibuk memeriksa laporan saat HPnya berdering,
" iya sayang.. aku pulang jam makan siang ya.." jawab Damar,
" Pulang sekarang mas?! pulang sekarang?!" suara Kinanti marah.
" Ada apa?" tanya Damar mengerutkan dahi.
" Pulang apa kususul?!"
" Iya iya.. aku pulang sekarang.." jawab Damar segera menaruh kertas laporan itu dan bangkit.
Ruang tamu itu terasa sesak untuk Dinda, Kinanti memandanginya dengan pandangan selidik, pandangan yang tidak pernah Dinda dapatkan sebelumnya.
" Kau melihatku seperti tersangka.." suara Dinda pelan, ia terlihat begitu lesu.
" Apa kau tidak lihat rumahku? kau hanya tinggal berjalan saja sebentar dan mengetuk pintu rumahku, tapi kenapa kau malah tidur dirumah Yoga?!" tanya Kinanti tak terima saat tau sahabatnya itu tidur dirumah Yoga.
" Aku bahkan tidak tidur.." gumam Dinda, ia memang merasa tidak tidur, rasanya hanya sekejap saja ia memejamkan matanya tadi subuh.
" Apa?! kau tidak tidur semalam?! kau? kau dengan Yoga??" Kinanti yang mendengar gumaman Dinda salah faham.
" Ah.. pikiranmu buruk.. aku tidak melakukan apapun.." Dinda lelah menjelaskan.
" Sayang?!" terdengar suara langkah kaki Damar masuk ke dalam rumah, sedikit kaget laki laki itu saat menemukan Dinda yang sedang terduduk lesu di sofa ruang tamunya sedangkan istrinya saat itu berdiri di hadapan Dinda, persis seperti seorang penuntut.
" Lho? kapan sampai mbak Dinda?" tanya Damar ramah.
" Seharusnya mengabari biar saya suruh orang jemput?" imbuh Damar.
" Mas?!!" Dinda tak menjawab, malah suara istrinya yang biasanya kalem itu tiba tiba melengking.
" Mas??!!!!" panggil Kinanti lagi sembari merajuk, dia menarik narik baju Damar dengan raut wajah kesal.
" Apa sih Nan? malu ada Dinda..?" bisik Damar, mengira istrinya itu sengaja merajuk dan bermanja manja.
" Dinda tidur dirumah Yoga mas?!!" pekik Kinanti menarik baju Damar lebih kencang.
" Maksudnya?" Damar benar benar tidak bisa mencerna situasi, ia baru saja masuk rumah, dan di serang dengan kalimat yang membingungkan.
" Panggil Yoga kesini mas?! panggil kesini?!! biar kujambak jambak rambutnya!!!"
Damar terbelalak, ada apa ini sebenarnya, kenapa istrinya semarah ini, Damar berusaha memahami.
" Benar kau tidur dirumah Yoga?" tanya Damar dengan hati hati saat sudah mulai memahami situasi.
Dinda hanya menghela nafas sembari mengangguk.
Melihat anggukan Dinda Damar langsung menatap istrinya sembari menelan ludah.
__ADS_1
Sialan Yoga.. aku pasti kena marah juga! batin Damar.
" Sabar ya sayang.. sabar dulu.. minum air dulu.. biar ku panggil Yoga.." Damar menenangkan istrinya yang masih saja menarik narik bajunya dengan marah.