Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
pernah muda


__ADS_3

Yoga ingat betul, betapa manis dan penurutnya perempuan itu.


Mereka selalu menghabiskan waktu bersama setiap ada kesempatan.


Dari warna favorit, makanan dan kebiasaan kebiasaannya, Yoga sangat hafal.


Masih bisa Yoga ingat, bagaimana setiap perempuan itu mengeluh dan bersandar di bahunya.


Tubuhnya yang mungil dan senyumnya yang manis selalu membuat Yoga gemas dan ingin melindunginya.


Bohong jika ia bilang Kinanti tidak cantik, ia cantik.. bahkan dia memiliki kecantikan yang jarang, tak banyak perempuan dengan bibir mungil dan dagu semenarik itu.


" Mas Yog.. antarkan aku beli buku ya besok..


mas Yog.. tugasku banyak, tapi aku kangen..."


kalimat kalimat Kinan padanya bahkah masih bisa ia ingat dengan jelas meski masa masa itu sudah tahunan berlalu.


Baginya Kinanti seperti mutiara kecil yang putih bersih dan cantik, kilaunya tak mampu di hilangkan di hati Yoga.


Andai kata Kinanti tak selalu menolaknya untuk sentuhan fisik yang lebih intim, mungkin mereka masih bersama..


Kinanti bisa mentolelir ciuman ciuman ringan yang di berikan Yoga, tapi ia selalu murka saat Yoga mulai memaksanya untuk hal hal yang lebih.


" Ya ampun..." keluhnya sembari memegang keningnya.


"Kau benar benar memberi hukuman yang berat padaku..


sekarang aku bisa merasakan tangisanmu dan lukamu saat itu,


karena itu yang kurasakan sekarang, aku seperti di tampar oleh kenyataan.." batinnya.


Ia ingat betul betapa dirinya yang busuk dan tidak berperasaan tertangkap basah oleh Kinanti bermesraan dengan perempuan lain.


Dan bukannya meminta maaf, dirinya malah memutuskan Kinanti secara sepihak.


Lalu beberapa bulan kemudian memberi tambahan luka lagi pada Kinanti dengan mengirimkan undangan pernikahannya.


Kepalanya seperti berdenyut ketika mengingat kebodohannya di masa lalu.


Apa yang harus di lakukan untuk sekarang.. itulah yang berputar putar di kepalanya.


" Bagaimana respon mas Damar jika tau..


aku bahkan tidak mampu membayangkan.." di pejamkan matanya.


" ini membuatku gila.." desisnya dengan mata memerah.


ia tak menyangka sesakit ini rasanya,


ia bahkan tak sanggup melihat mereka berdua duduk di pelaminan.


Entah kenapa hatinya tiba tiba di penuhi rasa yang tidak menyenangkan, rasanya seperti di sayat sayat.


Mungkinkah karena sesungguhnya di lubuk hatinya yang paling dalam masih menginginkan kehadiran Kinanti.


Oh.. andai saja dirinya mencari Kinanti lagi, mungkin ia akan di terima kembali, atau justru di ludahi..


Harusnya dia berani mengambil resiko, tapi jiwa pengecutnya tak mengijinkan itu.


Saat istri Bagas pergi dari rumah, sesungguhnya ia sempat pergi mencari Kinanti.


Tapi sepupu Kinanti malah memukulnya sembari mengancam agar tidak mencari Kinanti kembali, karena gara gara Yoga kuliahnya hampir putus di tengah jalan.


Karena menyadari berapa besar kerusakan yang sudah ia sebabkan, ia memilih sadar diri dengan tidak menganggu Kinanti lagi, dan mengikhlaskan apa yang sudah terlewat.


" Pa?!" suara Bagas mengejutkannya, Anaknya itu tiba tiba membuka pintu dan berlari ke pelukannya.


" Lho? katanya tidur sama budhe?" tanya Yoga sembari mengusap wajahnya.


" Dia bangun barusan, lalu mencarimu.." Suara Damar membuat Yoga terperanjat bangun.

__ADS_1


Detak jantungnya berlarian.


" Mas?" suara Yoga cemas, di lihatnya Damar masih memakai baju pengantinnya.


" Kau sudah makan?" tanya Damar mendekat,


" Belum mas, sebentar lagi.." jawab Yoga tak berani menatap wajah Damar.


Damar mengerutkan Dahi,


" Apa kau mau ku paksa makan?" ujarnya serius,


" Kau selalu cerewet padaku, tapi kau lalai pada dirimu sendiri, apa apaan kau ini..?" tegas Damar.


" Jaga kesehatanmu baik baik, anakmu masih butuh kasih sayangmu.." imbuh Damar,


" Aku tau mas.. aku akan makan sebentar lagi.." jawab Yoga, sesungguhnya ia tau di balik kata kata Damar yang tegas, ada perhatian dan keperdulian yang besar.


Damar adalah tipe orang yang mengungkapkan keperduliannya dengan kalimat kalimat dan nasehat nasehat yang tegas dan sedikit tajam.


" Apa yang kau rasakan?" tanya Damar kemudian lebih lembut.


Yoga tertunduk sembari merangkul putranya.


" Aku.. aku hanya sedikit meriang mas.." Jawabnya dengan hati yang pedih.


" Biar di panggilkan mbok Sumi besok pagi.. biar di kerok dan di pijit, mungkin kau masuk angin gara gara terlambat makan.."


" tidak usah mas.. besok aku juga sudah mendingan.."


" Papa.. papa sakit?" Bagas menyela, mendengar suara mungil Bagas makin bertambah kepedihannya.


" Sedikit sayang.." jawabnya sembari mencium kening putranya itu.


Damar menghela nafas, ia bingung melihat ekspresi Yoga yang tiba tiba seperti itu.


Entah kenapa Damar merasa Yoga selalu menghindari tatapan matanya.


" Karena papa sakit, Bagas ikut om saja, kembali ke budhe Winda.." ujar Damar.


" Biarkan dia tidur disini mas.." ujar Yoga masih tidak menatap Damar.


" Tapi kau kurang sehat, bagaimana kalau dia rewel malam malam?" Damar khawatir.


" tenanglah mas, aku ayahnya.. aku bisa mengatasinya..


sudah, mas kembalilah.. pastinya banyak orang yang sedang menunggu mas.."


Damar lagi lagi menghela nafas,


" Baiklah, jangan lupa makan dan minum obat.." ujar Damar, lalu menutup pintu kamar Yoga perlahan.


" papa belum maem..?" tanya Bagas sembari mendongak menatap wajah bapaknya.


Yoga tak menjawab, ia hanya menciumi rambut anaknya itu lalu memeluknya erat erat.


" Bagas sayang papakan?" suara Yoga bergetar.


" sayang papalah.." jawab Bagas polos sembari memeluk balik Yoga.


Di pejamkan matanya, masih dengan Bagas di pelukannya, tak pernah ia merasa sepilu ini dalam hidupnya.


" Aku sudah tidak kuat.." ucap Kinanti menyandarkan sanggulnya di lengan Damar.


" Ya sudah.. ayo kita istirahat.." ujar Damar bangkit.


Ia menuntun Kinanti turun dari pelaminan dengan hati hati.


Belum separuh berjalan, Damar merasa sungguh kasihan.


Sudah kepalanya berat, perutnya di memakai korset yang ketat, dan jariknya yang sempit mempersulit langkahnya.

__ADS_1


Diam diam Damar memperhatikan wajah yang mungkin saja tampak lesu di balik make up yang tebal itu.


Tiba tiba saja Damar menghentikan langkahnya, tangannya yang semula memegang Kinanti di lepas demi menarik jariknya sendiri ke arah samping kanan kiri agar langkahnya lebih lebar.


Toh ia bisa ganti celana panjang setelah ini, pikir Damar.


" Sedang apa sih mas?" tanya Kinanti yang heran melihat suaminya menarik narik jarik yang sedang di kenakannya, begitu pula dengan orang orang disampingnya.


Damar tak menjawab, ia hanya tersenyum, lalu dengan hati hati tangannya terulur ke punggung dan paha belakang Kinanti.


" Kita ke kamar sekarang.." bisiknya lalu mengendong tubuh mungil istrinya itu.


Kinanti sedikit kaget, tapi lebih banyak malunya.


Bagaimana tidak, meski banyak tamu yang sudah pulang, tapi tetap saja mereka tidak sedang sendirian.


" Turunkan aku mas, aku bisa jalan sendiri? aku malu mas?!" ucap Kinanti setengah berbisik.


" Eh, memangnya aku tak boleh menggendong istriku yang sedang lelah..?" ucap Damar masih dengan senyum yang tersungging manis di wajahnya.


" Kita tidak sopan mas, disini banyak orang tua??"


" mereka juga pernah muda kan?" jawab Damar dengan tatapan mesra.


" Aku pernah muda, tapi tidak pernah mengendong istriku di hadapan orang banyak Damar..?!" celetuk pak dhe Darwis yang duduk tak jauh dari tempat Damar berdiri, rupanya beliau mendengar percakapan pasangan baru itu.


" Sudah sana masuklah kalian..! anggap saja kami ngontrak..!" ujar pak dhe Darwis membuat semua orang yang ada disitu tertawa termasuk Damar dan Kinanti.


Damar tak berniat berkata kata lagi, merasakan lengan Kinanti yang melingkari lehernya ia kembali berjalan.


Sesampainya di Kamar,


Damar menurunkan Kinanti.


Di dudukan istrinya itu di atas tempat tidur.


sementara Damar menarik sebuah kursi dan duduk di hadapan Kinanti.


" Dimana ibu perias?" tanya Damar, tatapannya lembut.


" Masih pulang, jam 10 dia kembali.." jawab Kinanti.


" jam sepuluh.. itu terlalu lama.." ujar Damar meraih tangan Kinanti dan menciumnya.


Kinanti tertunduk, dadanya berdesir merasakan sentuhan bibir Damar yang menyentuh punggung tangannya.


Padahal di hadapan orang tadi biasa saja, tak seperti ini rasanya, batin Kinanti.


" Hei.." Damar menghela dagu Kinanti agar menatapnya.


" Apa yang sedang kau pikirkan sayang?" tanya Damar sembari tersenyum.


Ia merasakan tangan Kinanti yang tiba tiba basah karena keringat,


tubuhnya pun terlihat tegang.


" Mana aku tega.." ucap Damar tak kalah lembut dari kalimat kalimatnya sebelumnya,


membuat Kinanti menatapnya, sedikit tenang.


" Ku bantu melepas semua beban di kepalamu ini ya..


setelah itu tidurlah..


aku tidak akan menganggumu..


kau terlihat letih sekali.." ujar Damar penuh pengertian.


Damar bangkit dari kursinya,


membantu Kinanti melepas satu persatu hiasan dan bunga yang terpasang di sanggul nya.

__ADS_1


lalu setelah semua terlepas terlihatlah rambut Kinanti yang berantakan, menyadari itu Kinanti segera berusaha merapikan rambutnya.


" Tidak usah malu.. aku ini mencintaimu.." ujar Damar pelan lalu mengecup bibir Kinanti yang merah itu, hingga lipstik Kinanti berpindah ke bibirnya.


__ADS_2