
Yusuf duduk sembari menyilangkan kedua tangannya di dada, tampak sekali ekspresi tidak bersahabatnya.
" Kau sakit?" tanya Yusuf pada Kinanti yang terlihat pucat.
" Hanya pusing biasa, sudah mendingan.." jawab Kinanti.
Yusuf melirik Kaila yang berdiri tak jauh dari Kinanti.
" Kau mau menguping? pergi sana!" Yusuf sengit.
" Aku yang terlebih dulu kesini! aku juga tidak mau kau memarahi mbak Kinan!" balas Kaila.
" Kau itu jangan ikut campur, aku sudah memaafkanmu ya perkara tamparanmu beberapa hari yang lalu?!"
" Memaafkan?, memangnya aku minta maaf? kau itu pantas di tampar, malah aku menyesal kenapa menamparmu dengan tangan, harusnya aku menamparmu dengan sandal.." Nada Kaila tenang namun penuh cemoohan.
Geraham Yusuf mengetat menahan amarah.
Andai saja Kaila itu seorang laki laki, sudah pasti Yusuf akan menghadiahinya pukulan.
" Bersyukurlah kau, aku tidak memukul seorang perempuan..!" nada Yusuf tertahan.
" Lho? kau mau memukulku? silahkan? kita perpanjang urusan!" Kaila yang belum dewasa itu maju mendekat, ia benar benar tak punya takut karena selama ini di manjakan oleh Damar.
" Cukup kalian!" suara Kinanti memaksa, ia terlihat tak bertenaga.
" Aku sedang kurang sehat, jadi jangan bertengkar di hadapanku..
cobalah mengerti betapa gelisahnya aku?" imbuh Kinanti.
" Suruh dia pergi Nan, aku tak akan bicara selama ada mata mata musuh disini..!" tegas Yusuf.
" Mata mata musuh?!" Kaila melotot, keduanya beradu pandang layaknya musuh bebuyutan.
" Sudahlah.. pulanglah dulu nduk.. mbak mohon..?"
mendengar permohonan Kinanti gadis itu melunak,
Kaila melangkah keluar rumah Kinanti dengan berat hati.
Namun tak lupa ia tetap melempar pandangan tajam pada Yusuf ketika akan keluar.
Setelah Kaila pergi, baru keduanya berbicara dengan serius.
Yusuf yang memang kaku orangnya, memaksa Kinanti untuk pindah rumah.
Ia benar benar tidak senang mengetahui kenyataan kalau Kinanti hidup berdampingan dengan Yoga.
" Jangan mengambil kesimpulan dan keputusan sendiri...
aku punya suami Suf..
mas Damar pasti terheran heran jika aku tiba tiba pulang ke ibu.." ujar Kinanti.
" Kau tidak bisa tegas, itu membuatku geram,
__ADS_1
laki laki itu jelas jelas masih menganggumu?!"
tegas Yusuf,
" Dia tidak mengangguku, dia hanya belum bisa menerima kenyataan kalau masa lalu tidak bisa di ulang,
aku yakin..
dia membutuhkan waktu,
bagaimanapun juga, dia juga terluka dengan perpisahan kami.." Kinanti merasa kasihan pada Yoga, saat tau tentang kenyataan yang sebenarnya, ia tak bisa semena mena membenci Yoga lagi.
Namun ia tetap akan menjaga jarak dengan sikap yang tidak ramah, karena keramahan akan membuat Yoga semakin terlena dan tidak mampu menyadari bahwa masa lalu benar benar tak dapat di ulang.
Meski di hatinya ada belas kasihan..
namun tetap saja, Damar yang menjadi dunianya sekarang.
" Kau membuat pembenaran atas kekurang ajarannya?"
" tentu tidak, aku tidak membenarkan.. tapi aku berusaha mengerti kondisinya yang ternyata juga menanggung luka.."
" omong kosong.. tidak ada orang yang baik di keluarga ini selain mas Damar.." Gerutu Yusuf.
" Terserah kau saja bagaimana..! tapi aku tidak mau sampai mendengar hal hal yang buruk setelah ini?!" peringat Yusuf,
dan Kinanti mengangguk lemah.
" Kau tidak bicara pada ibu kan?" tanya Kinanti tiba tiba mengingat ibunya,
jawab Yusuf datar, namun terkesan kesal.
" Ya sudah, aku mau menemui suamimu di pabrik.." Yusuf bangkit,
" Mas Damar di kampus hari ini, dia mengajar dan baru nanti malam ke pabrik.. kau temui Umar saja, atau pak Hartono.." beritahu Kinanti.
Yusuf mengangguk seadanya dan berjalan keluar.
Sesampainya di depan mobilnya ia melihat Kaila yang berjalan kembali ke arah rumah Kinanti.
Kaila dan Yusuf sempat beradu pandang, namun lagi lagi pandangan permusuhan.
Tapi Yusuf menahan dirinya sekarang, karena ia merasa percuma ribut dengan seorang wanita yang masih bau kencur pikirnya.
Winda berjalan dari parkiran menuju warung soto ayam yang lumayan terkenal di daerah itu.
Tempatnya sederhana namun masakannya luar biasa.
itu terbukti dari banyaknya pengunjung yang makan di tempat itu.
Namun Winda hafal betul jam jam kosong, jam dimana pengunjung tidak begitu ramai, bahkan sepi.
Sehingga Winda bisa makan dengan tenang.
" Pak Di.. sotone siji ( satu ).." ucap Winda pada si penjual.yang sudah hafal betul dengan Winda.
__ADS_1
Bagaimana tidak, Winda adalah pembeli setia sejak masih SMA sampai dirinya menjadi ibu ibu seperti sekarang.
Winda memilih meja paling ujung, dekat dengan Jendela, sehingga ia bisa melihat pemandangan hijau yang masih menghiasi sekitaran warung itu.
Baru ia makan beberapa suap, sebuah mangkok tiba tiba mendarat di hadapannya.
" Makan yang kenyang.." suara berat yang familiar,
Juga tangan dan jemari yang ia kenal sekali.
Seorang laki laki yang lebih tua 3 tahun darinya duduk tepat di hadapannya, dengan mangkok berisi soto ayam, dan tentu saja senyum manis pemiliknya.
Winda menghela nafas, seperti lelah.
" Jangan selalu menghampiriku.." ucap Winda,
" Kenapa? apa enaknya makan sendirian.. bukankan akan lebih baik jika aku menemanimu makan.." laki laki itu mengulas senyum sabarnya.
" tidak ada yang melarang seorang teman untuk makan dengan temannya yang lain bukan?" imbuh laki laki berkulit sawo matang itu.
Lesung pipinya selalu muncul saat ia tersenyum dan itu membuat Winda kesal.
" Makan ya makan, jangan bicara atau tersenyum sembarangan.." Winda mengambil sesendok soto dan memasukkan ke dalam mulutnya.
" Ada apa?" tanya laki laki itu perduli,
" Kau menghadapi situasi yang sulit?" tanya laki laki itu lagi.
" Tidak.." jawab Winda cepat.
" Ah, bohong sekali.." laki laki itu tertawa,
" Kau harus merubah kebiasaanmu, jangan menoleh ke arah kiri setiap kau bohong..
masa dari perawan sampai menjadi ibu ibu kau tetap saja.."
melihat Laki laki di hadapanya tertawa, Winda hanya bisa diam.
" Sudahlah.. habiskan makananmu mas, lalu segeralah pergi.." ujar Winda beberapa saat kemudian.
" Jadi sekarang kau mulai merebut hak ku?" ucap laki laki itu serius tiba tiba,
" mas Daud..?" Winda memperingatkan dengan hati hati.
" Aku sudah merelakanmu di miliki orang lain, dan sekarang kau merebut hak ku sebagai sesama manusia yang saling mengenal untuk melihatmu sedikit lebih dekat?"
" mas.. kita sudah berjanji hanya akan berbincang seadanya dan menyapa seperlunya.."
" Yah.. layaknya teman lama.. benar kan, dan aku sudah melakukannya selama 10 tahun ini..
ada kalanya aku ingin melihatmu dari jarak dekat dan bertanya apa yang sedang membebanimu, sehingga kau makan dengan raut wajah suram seperti itu?" Laki laki itu menjawab dengan tenang.
" Maafkan aku mas.. aku sedang banyak pikiran memang.." ucap Winda kemudian.
" Bicaralah.. meski aku tak bisa membantu.. setidaknya beban di hatimu sedikit berkurang.." ujar laki laki bernama Daud itu tersenyum kembali, memperlihatkan lesung pipi yang pernah menjadi kesayangan Winda itu.
__ADS_1