Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
selalu mengacaukan hidupmu


__ADS_3

" Apa mas Damar memukulmu?" tanya Yusuf khawatir,


ia langsung datang saat Kaila menelfonnya.


" Tidak.. dia tidak menyentuhku sama sekali.." jawab Kinanti tentunduk.


" Semarah apapun mas Damar tidak akan sanggup menyentuhmu..


lalu si Yoga itu apa lukanya parah?"


" Mas Yudi sedang membawanya kerumah sakit.."


" baguslah, dia pantas mendapatkannya.. bahkan lebih bagus kalau mas Damar menghajarnya sampai mati.." Yusuf kesal.


" jangan begitu Suf?"


" kenapa? dia memang pantas kok, dia selalu mengacaukan hidupmu, bahkan saat kau sudah bahagia dia tetap berusaha merusaknya?!" ucap Yusuf sembari melirik Kaila yang datang membawa teh hangat untuk Kinanti.


" Di minum mbak.." ucap Kaila meletakkan segelas teh di meja.


" Kau... tidurlah disini nanti malam, kalau perlu sampai mas Damar tidak marah lagi.. aku tidak tenang membiarkan Kinanti sendiri..?" ujar Yusuf pada Kaila yang duduk tak jauh darinya dan Kinanti.


" Tidak.. aku tidak apa apa Suf.." sahut Kinanti dengan matanya yang masih bengkak karena tangisnya yang hebat beberapa waktu yang lalu.


" Tidak apa apa bagaimana?! kalau aku jadi mas Damar, mungkin aku sudah menusuk Yoga dengan pisau, mana bisa pikiranku waras melihat laki laki lain memeluk kaki istriku sembari berlutut?,


apalagi aku tau dia mantan kekasih istriku..


jadi jangan salahkan mas Damar bersikap sampai seperti itu?!"


" Jangan menambah percikan api.." suara Kaila serius, ia memandang Yusuf sedikit kesal.


" Tanya pada semua laki laki, mereka akan melakukan hal yang sama?!"


" aku tau, tapi tidak ada untungnya membicarakan itu, seharusnya kau menenangkan mbak Kinan..?"


mendengar itu Yusuf terdiam, benar kata Kaila.


" Maafkan aku.." ujar Yusuf pelan,


" aku juga terbawa emosi.. laki laki itu, selalu saja menyakitimu, entah dulu.. entah sekarang..


padahal suamimu adalah laki laki yang baik..


sudahlah.. jangan takutkan apapun..


dia pasti akan pulang dan mengerti tentang kondisi yang sebenarnya.." imbuh Yusuf tenang.


" Aku tidak memberitahu bulek.. takut dia khawatir.." ucap Yusuf lagi.


" Keputusan yang baik.. jangan sampai ibu tau..


sekarang pulanglah..


aku sungguh tidak apa apa.." ujar Kinanti.


Yusuf dan Kaila berpandangan.


" Aku akan menjaganya.. pulanglah.." kata Kaila meyakinkan Yusuf.


" Aku terlanjur meminta ijin.. jadi aku akan disini dulu..


kau istirahat saja Nan.. aku akan duduk di depan.."


Mendengar itu Kinanti mengangguk,


" ya sudah.. aku ke kamar ya.." suaranya masih serak,


wanita itu bangkit dan berjalan perlahan ke arah kamar.


Terlihat sekali ada beban pikiran yang sungguh berat di raut wajahnya meskipun dia berkata dirinya baik baik saja.


Tentu saja itu benar, salahnya sejak awal tidak mengatakan apa yang sesungguhnya terjadi pada suaminya.


Suami mana yang tidak marah melihat seorang laki laki berlutut sembari memeluk kaki istrinya.


Apalagi kalimat kalimat Yoga semacam itu.


" Aku memang bersalah karena sudah tidak jujur dan tidak tegas pada Yoga..


tapi aku tidak pernah mengkhianatinya.." keluh Kinanti lirih.


Ia berdiri di dekat jendela kamarnya, menatap halaman dan jalanan desa yang biasa ia dan Damar lewati,


ia sungguh sungguh berharap agar suaminya itu segera kembali.


Ia ingin Damar segera pulang,


sehingga dia bisa menjelaskan segala kesalahpahaman ini,


bahwa itu semua hanya perasaan Yoga yang sepihak, dan dirinya sama sekali tak membalasnya.


" Aku lapar.. ada yang bisa kumakan?" tanya Yusuf pada Kaila yang baru saja masuk ke dalam rumah Kinanti, hanya untuk sekedar melihat apa Kinanti baik baik saja, karena waktu sudah menjelang petang.


" Mbak Kinan tidak keluar? dia baik baik saja kan?" tanya Kaila.


" Dia sedang tidur.. mungkin kelelahan karena menangis terus.." jawab Yusuf masih rebahan di atas sofa ruang tamu.


" Nasi goreng ya? aku bisanya nasi goreng.."

__ADS_1


Yusuf tersenyum sembari mengangguk.


Saat Kaila sedang sibuk mengaduk nasi gorengnya, ia menangkap sosok Yusuf yang berjalan dengan hati hati masuk ke dapur.


" Untuk apa mengendap endap?" tanya Kaila melirik Yusuf yang sudah di belakangnya.


" Ketahuan rupanya.. padahal aku hanya ingin mengintip sedikit.." sahut Yusuf.


Laki laki itu berjalan mendekat,


" Apa kau masih marah padaku?" tanya Yusuf sembari duduk di kursi meja makan, tak jauh dari Kaila yang sedang sibuk di depan kompor, berjarak sekitar 3 meter saja darinya.


" Kenapa aku harus marah?" tanya Kaila balik tanpa menoleh ke arah Yusuf.


" Karena aku ternyata benar benar suka padamu?"


Kaila terdiam sejenak, sebenarnya ia sedang menahan dirinya.


Dia mengira dengan tidak bertemu Yusuf lagi akan ada perubahan pada perasaannya,


perasaan perasaan seperti gelisah dan tidak tenang jika tidak melihat wajah atau kabar Yusuf.


Namun beberapa waktu ini dia bisa mengatasinya dengan baik, karena Yusuf tidak pernah muncul lagi di hadapannya,


dan Kaila merasa perasaan itu pasti akan menghilang begitu saja seiring berjalannya waktu.


Tapi kenapa mendengar hal itu saja hati Kaila kembali berdesir dan bergemuruh.


" Jangan berkata yang tidak tidak di saat saat genting seperti ini.." ucap Kaila kembali mengaduk nasi goreng itu.


" Jadi masih tidak penting ya?" gumam Yusuf, dan Kaila pura pura tidak mendengar.


" Aku akan menikah.." ucap Yusuf membuat Kaila tertegun.


" Aku menerima calon istri dari orang tuaku.." imbuh Yusuf.


Kaila diam, tak menjawab,


namun tiba tiba hidung Yusuf menemukan bau masakan yang hangus.


" Hei? itu gosong ya?!" Yusuf bangkit dan mendekat.


Kaila cepat cepat mematikan kompornya karena kaget Yusuf tiba tiba sudah berdiri disampingnya.


" Sebegitu kesalnya kau padaku? bahkan ingin memberiku makanan yang hangus?" tanya Yusuf menarik bahu Kaila agar melihat kearahnya.


" Aku tidak sengaja.." ucap Kaila membuang pandangannya, tak mau menatap Yusuf yang berada di hadapannya.


Yusuf menghela nafas berat melihat perempuan di hadapannya itu.


" Kau senang karena aku tidak akan menganggumu lagi kan?" tanya Yusuf pada Kaila yang masih membuang pandangannya ke arah lain.


" Kau senang bukan?" tanya Yusuf lagi,


" Apa?" tanya Yusuf tidak percaya pada pendengarannya.


" Tidak..!" jawab Kaila sekali lagi lebih keras.


Raut wajah Yusuf berubah bingung,


" Kenapa tidak? bukankan kau tidak suka ku ganggu?


dan.. jika aku sudah menjadi suami orang, aku pasti berhenti melihat kearahmu.."


Yusuf menunggu jawaban, namun bukan jawaban yang ia terima, malah beberapa pukulan di dadanya.


" Aduhh..?!" keluh Yusuf meringis menahan sakit.


" Kok malah mukul??" tanya Yusuf semakin heran dengan tingkah Kaila.


" Karena apa yang ada di pikiranku selama ini ternyata benar!" jawab Kaila dengan mata berkilat marah.


" lho lho lho?! apanya yang benar?!"


" Kau laki laki brengsek dan pembual..!" Kaila berjalan menjauh dari Yusuf, namun Yusuf mengejar langkah Kaila.


Dengan gerakan cepat diangkatnya tubuh Kaila di atas bahu kanannya.


" Yusuf?!" Kaila memberontak,


" diam?! jangan bangunkan Kinanti?!" tegas Yusuf dengan suara setengah berbisik.


Tangan Yusuf membuka pintu kamar Kosong paling belakang, berjalan masuk dan menutup pintu kamar itu kembali.


Di lemparkan tubuh Kaila di atas tempat tidur tak berpenghuni itu.


" Apa sih maksudmu?!" sembur Kaila bangkit.


" lho?! aku yang lebih berhak bertanya apa maksudmu?


kau mengataiku brengsek dan pembual??!" Yusuf mendekat.


Kaila terdiam, rasanya dongkol sekali pada Yusuf.


" Kau memang pembual, pembohong..!" ucap Kaila setelah lama terdiam.


" kenapa? kapan aku membual di hadapanmu?" tanya Yusuf lebih menguasai diri.


" Jadi apa namanya?"

__ADS_1


" Apa? jelaskan sebelum aku benar benar marah." raut Yusuf datar, berusaha sabar.


" Tentu saja.., belum ada dua bulan kau mengatakan suka padaku, ingin aku bersamamu, tapi hanya karena sedikit penolakanku saja kau dengan waktu cepat sudah mendapatkan pengganti, bahkan akan menikah dengan segera,


bukankan hatimu luar biasa sekali flexibelnya?


bisa ku sebut apa hal semacam itu selain pembual dan brengsek?!" sembur Kaila kesal.


Yusuf tertawa mendengarnya,


" Jadi kau marah?" tanya Yusuf,


" coba katakan? kenapa kau harus marah akan hal itu? bukankan aku bertepuk sebelah tangan?"


lagi lagi Kaila terdiam.


" Asal kau tau, aku bukannya mudah berpindah hati, aku bukannya mudah memutuskan sesuatu..


tapi melihat penolakanmu yang menurutku cukup serius itu, aku tidak ingin memohon lagi dalam bentuk apapun pada wanita yang tidak mencintaiku..


dan satu hal, usiaku sudah matang, ibuku memaksaku untuk menikah,


bisa apa aku yang sudah patah hati ini selain menerima permintaan dari kedua orang tuaku??


jangankan aku, mungkin kau sendiri akan putus asa dan menerima siapapun itu jika dalam posisi yang sama sepertiku..


andai saja kau berkata ' iya ' kepadaku..


jangankan calon dari ibuku..


aku bahkan sanggup menolak perempuan manapun demi dirimu..!"


Keduanya terdiam, masih saling memandang kesal.


" Omong kosong.. sudahlah..


konyol sekali aku ini, bukankah itu bukan urusanku..?


kenapa aku bingung,


toh di luar sana banyak laki laki yang lebih serius darimu..


yang bukan pembual,


tenang saja..


Aku akan mendapatkan laki laki yang baik dan menikahinya.." ujar Kaila tersenyum pahit dan melangkah, sesungguhnya hatinya di penuhi rasa yang tidak menyenangkan saat mendengar Yusuf akan menikah.


Namun lagi lagi Yusuf tak membiarkannya.


" Siapa laki laki itu?! kau sudah punya laki laki?! kau menolakku karena ingin menikahi orang lain?!" Yusuf mencengkeram kedua lengan Kaila, kalimat Kaila membuatnya meradang, keseriusannya saat mengungkapkan perasaannya dulu terasa diabaikan.


" Kukira kau menolakku karena kau ingin serius dengan kuliahmu?! tapi ternyata kau mempermainkan aku dengan alasan alasanmu!"


Kaila terperangah dengan emosi Yusuf yang tiba tiba saja naik.


Dia tidak punya laki laki,


mungkin ada beberapa teman kuliah yang mendekatinya, tapi tentu saja dirinya tidak menginginkan para laki laki itu.


Dan sesungguhnya dirinya pun belum ingin menikah, kalimat yang terlontar dari mulutnya spontan karena rasa tidak nyaman dan kecemburuan saja.


" Apa kau kira aku akan menyerah setelah tau kalau kau hanya beralasan?!


aku tidak akan menyerahkanmu pada laki laki manapun, kau dengar?"


Bisik Yusuf di telinga kiri Kaila, lalu dengan gerakan cepat di angkatnya gadis itu lagi dan menjatuhkannya di atas tempat tidur.


" Yusuf?! aku hanya.. mmbbb.." belum selesai Kaila bicara, Yusuf sudah menyergap bibir Kaila dengan ciumannya.


Ciuman yang kasar dan memaksa, semakin Kaila melawan, Yusuf semakin kasar dan menguasai Kaila dengan sekuat tenaga.


Namun beberapa saat kemudian Yusuf mulai melunak, di perlembut ciuman dan sentuhannya.


Di lepaskan pula tangan Kaila yang di genggamnya erat.


Di ijinkannya perempuan itu mengambil nafas bebas sejenak, sembari memandanginya.


" Kau harus menjadi istriku.." ucap Yusuf dengan nafas yang sudah berat.


Sementara Kaila yang sudah terlena tak mengatakan apapun,


ia malah melingkarkan tangannya ke punggung Yusuf,


dan sentuhan tangan Kaila yang hangat


membuat Yusuf semakin berani dan tak bisa menahan dirinya.


Di kecupnya kening Kaila,


" Kelak jangan menyesali ini.." ucap Yusuf tepat di telinga Kanan Kaila,


ia benar benar ingin memiliki perempuan yang sedang berada di bawah tubuhnya itu,


ia tak mau bersabar atau mengalah pada siapapun.


Ia juga tidak mau lagi mendengar alasan atau penolakan Kaila.


Dirinya tak sesabar Damar, yang tetap diam meski di tolak berkali kali, bahkan bersikap rela meski Kinanti hampir saja menikahi orang lain.

__ADS_1


Tanpa meminta persetujuan Kaila di menjatuhkan bibirnya di leher perempuan yang sudah menyita perhatiannya sejak acara akad nikah Damar dan Kinanti itu.


Tangannya melingkar erat di pinggang Kaila dan menarik perempuan itu hingga tak ada batas lagi diantara keduanya.


__ADS_2