
Kinanti mengikuti langkah langkah Damar,
mengawasi betapa gesitnya dia melempar hasil panennya ke penjual dengan harga yang tidak terlalu rendah meskipun barang miliknya kurang sempurna.
Komunikasi yang baik membuatnya memperoleh simpati dan kepercayaan dari pembeli.
" Nah.. kita sudah selesai, sisanya biar di urus pak Anwar.." ujar Damar, kami lalu berjalan melewati tumpukan tumpukan sayuran yang begitu terlihat hijau dan segar.
Melihat Kinanti yang tak waspada dan tertinggal jauh langkahnya, Damar kembali, dan menarik tangan Kinanti, kemudian menggandengnya.
" Apa yang kau lihat sampai sampai begitu?" tanya Damar.
" aku hanya takjub dengan sayuran sayuran itu.." jawab Kinanti setelah sadar diri.
Baru kali ini dia datang ke tempat ini, dan matanya begitu terlena dengan tumpukan sayuran yang sehat dan hijau.
Belum lagi tomat tomat buah yang segar dan gemuk.
Semua terlihat menyenangkan, apalagi dengan kesibukan orang orang yang sedang berinteraksi jual beli dengan besar besaran.
" Seperti tidak pernah melihat sayuran saja.." komentar Damar ringan,
" Sering, tapi tidak sebanyak dan sesegar ini, mas tau sendiri aku tinggal lama di kost kostan, aku memasak hanya sekali kali, tentunya aku jarang sekali ke pasar,
sekalipun ke pasar aku tidak melihat yang sebegini segar.." jawab Kinanti sedikit kesal dengan komentar Damar.
" Kalau begitu kelak akan sering sering ku ajak kesini.. karena mbah uti tidak hanya menanam satu jenis tanaman..
kita masih ada kesempatan ikut menjual hasil panen.." ujar Damar masih berjalan dengan menggenggam tangan Kinanti.
" Mas ingin menjadikanku pedagang setelah menjadi istrimu?" Kinanti asal bicara, namun kalimatnya itu berhasil membuat Damar tertawa lepas hingga beberapa orang melihatnya.
" Jadilah nyonya saja, ongkang ongkang kaki dirumah.. itu sudah cukup membuatku bahagia.." ujar Damar kemudian.
" Tapi aku tidak mau begitu.. orang akan mencemoohku karena bersantai santai dan suamiku bersusah payah bekerja.."
Damar tidak menjawab, ia menuntun Kinanti menerobos sekumpulan orang yang baru saja menurunkan wortel dan brokoli.
Dan lagi lagi mata Kinanti terlena.
Damar menarik tangan Kinanti lebih kencang agar perempuan itu berjalan lebih cepat.
" Masuklah dulu ke dalam mobil.." ujar Damar setelah mereka akhirnya sampai di parkiran.
Tak lama Damar masuk ke dalam mobil dengan membawa dua botol minuman dingin.
" Minumlah.." ucap Damar memberikan sebotol pada Kinanti.
" Kita makan ya.. aku belum makan sejak pagi.."
mendengar itu siapa yang tega,
" ya sudah.." jawab Kinanti mengalah.
Di sepanjang perjalanan mereka tak bicara, Damar juga tampak lapar sekali, sehingga dia cepat cepat membelokkan mobilnya ke salah satu tempat makan di sekitarnya.
" makan yang cepat saji saja, aku sudah mau pingsan.. rawon atau soto boleh Nan, tolong panggilkan pelayannya.." ujar Damar sudah tak mempunyai tenaga.
" Nih, makan dulu sembari menunggu makananmu datang.." Kinanti mengambil pisang yang tergantung di dekat kasir tadi.
Tanpa berkomentar Damar mengambilnya dan memakannya sembari duduk bersandar.
" Aku heran denganmu mas.."
" heran kenapa?" tanya Damar setelah menelan pisang di mulutnya.
" Belum sarapan, tapi bisa bisanya bekerja seperti itu?"
" ah.. aku lupa, sebenarnya aku hanya bermaksud melihat lihat,
tapi aku kasihan juga kalau Hari harus mengangkat sebanyak itu sendirian, tidak ada salahnya membantu.."
" Salah..!" tukas Kinanti.
" Membantu tanpa memperdulikan kondisi diri sendiri namanya ngawur..?!"
Kinanti benar benar tak habis pikir, Damar terlalu baik, dan itu tidak bagus menurut pandangan Kinanti.
" Jangan ulangi lagi mas..!" imbuh Kinanti dengan sorot mata mengawasi.
Damar tertawa,
__ADS_1
" Kok tertawa?"
" Senang saja.. kau mengkhawatirkan ku juga ternyata.." ujar Damar.
Tak lama makanan mereka datang,
" makan dulu, baru marahi aku lagi.." Damar melempar senyum manisnya.
Melihat senyum dan sikap itu bagaimana Kinanti tak tertarik dan bersimpati.
Kinanti mengeluh diam diam dalam hati, makin kesini kenapa makin banyak hal hal menarik tentang Damar yang ia temukan.
Cara berjalannya, bicaranya, berpikirnya.
Sikap yang sabar dan bijak begitu mendominasi nya di saat saat seperti ini.
Sangat berbeda dengan Damar yang mengunci dirinya di kamar dan merobek bajunya.
Entahlah.. perasaan apa yang berkembang di hati Kinanti saat ini.
Yang jelas daya tarik Damar tiba tiba menyerangnya.
Gesit dan cerdas.. Kinanti juga baru saja menemukannya saat melihat Damar tawar menawar dengan penjual yang akan membeli cabenya tadi.
" Makan.. kok malah melamun.." suara Damar kalem.
" setelah makan kita kemana?" tanya Damar,
" Memangnya mau kemana? sudah mulai sore.." jawab Kinanti.
" Kita jalan jalan saja sebentar.. toh seminggu lagi kita baru bisa bertemu lagi.." pinta Damar.
" Mau kemana?"
" ke alun alun batu bagaimana? kita naik bianglala.."
" mas.. kita bukan remaja lagi.."
" Memangnya kenapa? tidak hanya remaja yang boleh menikmati udara sore dan keramaian.."
" Kau kadang ke kanak kanakan mas.."
Kinanti tak menjawab, ia tak ingin lagi beradu kata,
segera di habiskan makanannya, dan menuruti keinginan Damar.
Setelah berkendara beberapa menit dan menerobos kemacetan.
Keduanya sampai di alun alun kota, dan memilih duduk di salah satu kursi besi.
" Ramai sekali bianglala nya mas.." ujar Kinanti,
" Nanti agak malam biasanya sepi.." jawab Damar,
" Memangnya mau sampai malam?"
" aku patuh saja padamu.." jawab Damar tersenyum begitu lembut.
" Sebentar.." Damar tiba tiba bangkit dari kursinya.
" Kemana?" tanya Kinanti ikut berdiri,
" Sebentar saja.. diam, jangan kemana mana.." ujar Damar lalu berjalan, bahkan setengah berlari keluar dari alun alun dan masuk ke arah keramaian pasar malam yang menjual berbagai macam makanan dan oleh oleh khas lainnya.
Kinanti yang gusar karena di tinggal sendirian menoleh ke kanan dan ke kiri.
Sementara senja mulai merayap dan membentuk gurat jingga, hawa juga mulai menusuk, tentu saja.. ini adalah kota dingin, menjelang pergantian malam, tentu saja udara akan terasa semakin dingin.
Kinanti menoleh ke kanan dan ke kiri, masih saja Damar belum terlihat.
Kalau 15 menit lagi tidak datang, kinanti akan menelfonnya sambil mengomel, begitu kira kira Rencana Kinanti.
Dan 15 menit kemudian, saat Kinanti bersiap menelfon, Damar terlihat keluar dari keramaian pasar dan berjalan perlahan ke arah Kinanti.
Entah apa yang ia pegang, tangan kanannya di letakkan di belakang, dan tangan Kirinya memegang sebuah tote bag berukuran sedang.
" Katanya sebentar? tapi lama?!" Kinanti mengomel.
Tapi omelannya itu segera terhenti ketika ia di hadapkan dengan seikat bunga mawar berwana pink.
Kinanti membeku, selain karena di serang hawa dingin, Hadiah dari Damar ini juga membuatnya sedikit kaget.
__ADS_1
Tak pernah sekalipun dalam hidupnya ia di beri bunga oleh laki laki, bahkan oleh kekasihnya terdahulu.
Ia merasa hal hal semacam ini terlalu berlebihan dan kekanak kanakan, karena itu dia selalu menolak hal hal yang berbau romantis.
Tapi ternyata, setelah melihat seikat mawar di hadapannya, rasanya tidak terlalu buruk dan terlalu kenakan kanakan.
" Ini untukmu.. ambilah.." ujar Damar menyerahkan mawar itu.
Wajah Kinanti tanpa senyum menerimanya, tapi bukan berarti dia tidak suka, ia hanya merasa terkejut saja.
" Kau suka?" tanya Damar masih berdiri di hadapan Kinanti.
Kinanti mengangguk sembari sesekali menciumi aroma mawar itu.
Damar lega melihatnya.
Kemudian Damar duduk perlahan disamping Kinanti.
Perlakuannya sungguh berhati hati, di keluarkan kotak merah kecil dari saku celananya,
kotak merah yang sudah dia simpan selama kurang lebih sebulan di laci mobil sebenarnya.
Sesungguhnya sudah sejak sebulan yang lalu Damar mencari kesempatan, sejak ia bertekad untuk merebut Kinanti, namun kesempatan tidak pernah datang dan rasanya sulit sekali karena penolakan yang terus ia terima.
Dan sekarang, ia ingin melamar Kinanti dengan mulutnya sendiri, bertanya, apakah perempuan ini mau menjadi istrinya dalam suka dan duka.
Meskipun urutannya agak berantakan, tapi Damar beranggapan lebih baik terlambat dari pada tidak.
" Mungkin ini sedikit terlambat Nan.. tapi.." ucap Damar membuat Kinanti menoleh ke arahnya,
" mau kah kau menikah denganku?" Damar membuka kotak merah itu, ada dua buah cincin di dalamnya,
Deg..
Kinanti benar benar tak bergerak sekarang, matanya terpaku pada cincin itu.
" Maafkan aku melewatkan lamaran dengan benar, karena itu aku akan melamarmu lagi, meskipun seminggu lagi kita akan menikah.." jelas Damar sembari meraih bahu Kinanti agar Kinanti menoleh sepenuhnya ke arahnya.
Rasa Haru mau tak mau menyelimuti Kinanti.
" Laki laki ini.." keluh Kinanti dalam hati,
" Berapa kali aku menolaknya, tapi dia tetap bersikap pantang menyerah.." keluh Kinanti lagi dalam hati.
" Jadi istriku ya Nan..??" Suara itu meminta begitu lembut.
Kinanti tak mungkin lagi menolak, meski tanpa lamaran ini mereka tetap akan menikah.
Lagipula juga sudah saat nya mengakui, bahwa Damar memang menghuni hatinya.
" Iya mas.. aku mau.." jawab Kinanti lirih sembari mengangguk,
ia menahan rasa harunya juga menahan air di sudut sudut matanya agar tidak tumpah dan merusak Suasana.
Dengan gerakan tanpa ragu ragu Damar mengambil cincin bermata satu, yang khusus ia pesan untuk Kinanti.
Di pakaikan nya di jari manis Kinanti, pas sekali.
Di ciumnya dahi Kinanti, lalu kedua tangan Kinanti kanan dan kiri bergantian.
Merasakan sikap Damar yang begini lembut, Kinanti rasanya hampir meleleh..
Kinanti tersenyum tersipu,
ia tak tau di perlakukan seperti ini rasanya menyenangkan.
" Siapa yang mengajarimu sok romantis begini mas..?" tanya Kinanti penasaran.
" Kau mengejekku.. aku ini pada dasarnya romantis.. kau saja yang tidak peka dan terlalu galak padaku.." ujar Damar.
" Andai ini bukan tempat umum, aku akan memelukmu dengan erat Nan.." imbuh Damar masih menggenggam tangan Kinanti.
Keduanya beradu pandang, namun wajah Kinanti terlihat bersemu karena malu.
Hal itu tentu saja semakin membuat Damar gemas, ia bahkan ingin membungkus Kinanti dan segera membawanya kerumah.
Tapi ia masih waras, hanya seminggu lagi..
ia harus mampu menahan diri.
" lalu apa hanya aku saja yang wajib memakai cincin?, lalu mas bebas kemanapun tanpa memakai cincin begitu?" protes Kinanti setelah sadar ada dua cincin di dalam kotak itu.
__ADS_1