
Damar membonceng Kinanti melewati pertigaan desa.
Lampu motor Damar menembus jalanan yang gelap dan sepi.
Sementara suara jangkrik dan kodok memecah kesunyian.
" Bagaimana? menurutmu sayang?" tanya Damar sembari memperhatikan jalan.
" Penilaian awal orangnya baik mas.." jawab Kinanti,
" Tentu saja.. beliau teman almarhum ibuku, beliau pasti menjagamu dengan baik di sekolahnya..
hanya saja kau dengar ucapan beliau tadi..
jangan mengharapkan gaji yang tinggi.."
" tentu saja saya faham tentang hal itu pak.." sahut Kinanti tersenyum sembari mengeratkan pegangannya di pinggang suaminya.
" Ku belikan motor matic ya, mau yang warna apa..?" tanya Damar,
" Mas ini, seperti menawariku permen saja..
tidak usah ah, aku bisa jalan kaki.. atau di antar mas sesekali.. tidak begitu jauh dari rumah.." ujar Kinanti,
" tidak jauh bagaimana? bisa bisa kakimu seperti pemain sepak bola pulang pergi jalan kaki?
tentu saja aku mau mengantar jemputmu setiap hari sayang, tapi bagaimana kalau kau sesekali ada keperluan sendiri?
selama ini kalau bukan Umar ya si Yuk kan yang memboncengmu dengan motor mbak Winda..
Sebenarnya aku sudah ingin membelikanmu motor dari awal, tapi selama awal awal menikah aku inginnya kau kemana mana dengan ku dulu.."
" oh.. supaya aku menempel terus?"
" tentu saja iya.. kadang aku bersyukur tempat kerjaku dekat, tidak ada dinas dinas luar seperti orang orang,
jadi aku bisa pulang setiap hari dan memelukmu.." Damar menyentuh tangan istrinya sejenak, lalu kembali ke setir motornya.
Kinanti yang merasakan kasih sayang penuh dari suaminya itu menyandarkan kepalanya di bahu bidang suaminya.
Hatinya begitu bersyukur berada disamping Damar.
" Jadi? mau warna apa motornya? mau matic yang besar seperti ibu ibu di kota itu? atau vespa yang terbaru?" tanya Damar lagi.
" Apa mas lupa? istrimu ini pendek?"
" ah.. tidak pendek.. hanya imut imut.." Damar tertawa.
" Kalau begitu vespa yang terbaru saja, kau pasti cantik sekali memakai itu.."
" Wah benar kata orang.. suamiku menyukai sesuatu yang retro..?"
Damar tertawa,
" Apa kau malu mempunyai suami dengan selera sepertiku?"
__ADS_1
" Tentu tidak mas.."
" bagaimana dengan mobil? semua orang ramai menyuruhku membeli mobil baru..
mereka kasihan padamu karena kemana ku bawa dengan mobil butut.."
" Malu sih tidak.. tapi aku tidak begitu nyaman saat tau mobil itu mogok dan membuat mas kehujanan, dan ujung ujungnya sakit seperti kemarin.."
sahut Kinanti.
" Baiklah.. jika sekali lagi mogok.. aku akan ganti mobil.." Ujar Damar tersenyum.
Lima menit kemudian, sudah terlihat rumah Damar dari kejauhan.
Sementara Dari arah bersamaan Mobil Yoga juga memasuki halaman rumah.
" Mas?!" sapa Yoga keluar dari mobil,
" Dari mana?" tanya Yoga yang masih terlihat wangi dan rapi meski pulang kerja, ia melirik sedikit ke arah Kinanti.
Perempuan itu sedang berpegangan erat pada pinggang suaminya.
" Dari antar mbakmu kerumah kepala sekolah SDN 01.." jawab Damar kalem, sembari mematikan motor.
" Mau apa mas?"
" mbak mu mau ngajar lagi.."
" Owalah.. bu guru tho mbak..?" ujar Yoga pura pura tidak tau.
" Pantas.. Bagas kok nempel.." imbuhnya melempar senyum pada Kinanti.
Yoga juga ikut tertawa, namun tak ada keceriaan di dalam tawanya.
" Baguslah mas.. mbak yu jadi ada kegiatan, tidak dirumah terus.. tapi Bagas pasti sedih..
waktunya bersama mbak yu jadi berkurang.."
Ujar Yoga menatap Kinanti lembut,
" Dia bisa bermain dirumah setelah jam mengajar selesai.." jawab Kinanti akhirnya,
" Syukurlah kalau begitu mbak.. karena sepertinya dia sayang sekali dengan sampean.." Yoga tersenyum kalem,
" Kau jangan khawatir.. Kinanti juga sayang pada Bagas..
mengajar kan hanya sampai siang, lagi pula dia akan jadi guru kelas satu..
kukira dia masih bisa menghemat tenaganya untuk yang dirumah.." Damar menoleh pada istrinya itu sembari tersenyum.
Yoga terdiam melihat kasih sayang yang sangat pekat itu.
" Kau beru pulang kerja?"
tanya Damar setelah mengalihkan pandangannya dari Kinanti,
__ADS_1
" iya mas.."
" Ku kira dari mana.. kau terlihat masih segar sekali.."
" Oh.. itu, aku mandi tadi di klinik, soalnya kalau sudah semalam ini kadang aku malas mandi.."
" Oh.. ku kira kau sedang ada janji.."
" ah, tidak ada mas.." Jawab Yoga sembari melirik Kinanti.
" Ya sudah mas.. aku mau masuk dulu.. sudah malam sekali soalnya.." ujar Yoga sedikit kikuk.
" Yah.. masuklah.. kasihan Bagas menunggu.." Ujar Damar mengerti.
Hari ini Damar berpamitan berangkat keluar pabrik untuk memeriksa kayu kayu yang sudah di potong.
Kinanti pun meminta ijin untuk ke pasar dan sekalian menjenguk ibunya.
Damar mengijinkan dengan syarat Yuk yang mengantar dan menjemput.
Kebetulan usia Yuk sekitar 28 tahunan, ia pintar menggunakan sepeda motor kemana mana,
namun karena dia orang desa, tentu saja ia menikah di usia yang sangat muda, di usianya yang sekarang yuk sudah memiliki 3 orang anak.
Dan karena kebutuhan ekonomi yang harus yuk penuhi, ia harus bekerja di rumah damar sebagai asisten rumah tangga, sedangkan suami Yuk menjadi buruh tani di ladang Damar dan si mbah uti.
Damar sudah sejam yang lalu berangkat saat matahari belum tinggi,
dan Kinanti sedang menunggu Yuk yang sedang mengeluarkan motor dari rumah Winda.
Tak lama terdengar suara deru mobil Yoga yang keluar dari garasi.
" Kenapa ndak bareng Yoga saja Nan? biar nanti pulang nya saja di jemput Yuk apa Kaila?" Ujar Winda keluar dari rumahnya.
" Tidak usah mbak, biar Yuk saja yang antar, saya tidak mau merepotkan, papanya Bagas kan harus bekerja.." tolak Kinanti cepat.
" Eh.. dia masuk jam 10 Nan, masih bisa mengantarkan.. kasian saja aku harus melihatmu di bonceng Yuk,
suamimu itu sih, harusnya dia mengajari mu menyetir mobil dan membelikanmu mobil?!" gerutu Winda,
" Kadang aku heran, dia itu hemat atau pelit..!" Winda berjalan ke arah rumah Yoga, tak lama setelah berbicara dengan Yoga Winda kembali ke arah Kinanti.
" Yoga tidak keberatan mengantarmu Nan, biar Yuk dirumah saja.. nanti kalau mau pulang telfon mbak apa Kaila ya?!" nada bicara Winda mengintimidasi, membuat Kinanti tak bisa berkata apa apa lagi, Yuk pun yang terlihat memasukkan motor kembali ke dalam garasi.
Kinanti menggigit bibirnya sembari tertunduk.
" Ya sudah mbak..." jawab Kinanti.
" Begitu dong.. hitung hitung biar akrab juga dengan Yoga, kalian kan kurang akrab kelihatannya.. kita ini bersaudara Nan, jadi akrab lah pada semua.."
Kinanti hanya mengangguk.
Tak lama Mobil Yoga yang berwarna putih mendekat dan kaca mobilnya terbuka.
" Monggo ( silahkan ) mbak yu.." suara Yoga kalem, laki laki itu terlihat tampan seperti biasanya, ia mengenakan kaos polos berwarna putih.
__ADS_1
" Naiklah Nan.. hati hati Yog?!" ujar Winda,
" inggih ( iya ) mbak ee.." Yoga mengangguk, diam diam hatinya senang sekali, namun ia tak menunjukkan raut kesenangannya di hadapan Winda dan Kinanti.