
Dinda keluar dari kamarnya, ia terlihat sudah berpakaian lengkap.
" Sarapan dulu Din?" panggil Kinanti yang sedang menggoreng ikan.
" Aku sarapan di pasar saja.." jawab Dinda dengan wajah yang lesu.
" Kau kenapa sakit?" tanya Kinanti mendekat.
" Sehat.." jawab Dinda mengambil kunci motor.
" lha kok lesu?"
" ya iyalah.. wong raiso turu mambengi..( tidak bisa tidur tadi malam.. )"
" lha kenapa? ada yang di pikir?" tanya Kinanti dengan wajah tak bersalah.
" suaramu Nan.. suaramu itu lhoo..?!" jawab Dinda sembari melengos, mood Dinda benar benar buruk.
Kinanti langsung terdiam,
ia faham betul apa maksud Dinda,
tanpa bicara apapun lagi dia kembali ke dapur untuk melihat ikan yang dia goreng.
Tidak ada yang lebih baik selain diam dan membiarkan Dinda berangkat sekarang.
Dinda baru saja menyentuh motornya, namun Damar yang sedang merokok di teras tiba tiba masuk keruang tamu.
" Biar saya bantu mbak," Damar mengambil alih motor itu dan mengeluarkannya ke teras.
" Hemm.. makasih mas.." ujar Dinda, sekilas terlihat oleh Dinda wajah Damar yang berseri seri.
Diam diam Dinda menghela nafas, benar benar ya suami istri ini, mengujinya lahir dan batin.
Tanpa berkata apapun lagi Dinda segera menaiki motornya dan berangkat ke pasar baru.
Yoga memanggil Kaila karena rasa penasarannya yang tinggi akan hubungan Kaila dan Yusuf.
" Sejak kapan?" tanya Yoga duduk tenang,
Kaila diam, tidak menjawab dan terus saja tertunduk.
" Jangan kira karena mas Damar tidak ada kalian bisa sesuka kalian..
aku mengenal Yusuf Kaila..
mengenal Yusuf dengan baik." tegas Yoga, ia seperti memperingati.
" Apa kau yakin Yusuf benar benar menyukaimu?"
pertanyaan Yoga membuat Kaila sontak menatap Yoga.
Seperti tak percaya kata kata itu keluar dari mulut Yoga.
" Apa yang masa katakan? menurut mas dia bermain main denganku?" tanya Kaila dengan wajah serius.
" Aku tidak mengatakan itu,"
" tapi mas menyiratkan itu?"
Yoga menghela nafas panjang, susah sekali bicara dengan anak muda, pikirnya.
" Begini nduk.. mas lebih senang jika kau fokus dengan kuliahmu,
__ADS_1
dengan karakter Yusuf.. aku takut kau lupa dengan tujuanmu yang sesungguhnya..
ingat, jangan mengecewakan mas Damar nduk.."
" aku tau mas...Yusuf memang selalu ribut untuk menikahiku, tapi aku sudah menegaskan padanya tidak akan menikah sebelum aku menyelesaikan pendidikanku.."
" lalu, apa katanya?"
" dia bersedia menungguku, meski dia bilang sosoknya akan jauh lebih tua di banding sekarang, dan mungkin akan ada laki laki yang lebih muda yang mungkin bisa saja menarik perhatianku.." jawab Kaila.
Yoga diam, menelaah kalimat kalimat Kaila.
" Berarti kau bisa tetap teguh dengan tujuanmu meski Yusuf akan mengambil sikap frontal kelak?" tanya Yoga kemudian.
" Tentunya kalau aku berharga baginya, dia akan melunak, tapi jika dia tidak melunak, maka cintanya tidak terlalu besar untuk ku pertahankan mas,"
Yoga tersentak dalam hati,
ia tidak menyangka Kaila akan mengatakan hal semacam itu,
Yoga mengira mata dan hati Kaila akan tertutupi oleh Yusuf dan membuatnya bebal, namun ternyata tidak.
" Kusangka kau akan bersikeras.. ternyata kau cukup mampu memahami situasi..
baguslah jika kau cukup mengerti dengan apa yang kusampaikan..
aku hanya takut, sosok Yusuf yang keras dan grusa grusu itu akan menyakitimu kelak.." kata Yoga sedikit lega dengan ketenangan Kaila.
" Kita pulang saja lusa.." kata Kinanti sembari bergelayutan di lengan suaminya.
Keduanya berjalan keluar dari area alun alun bandung.
Damar mengangkat alisnya,
" Sungguh?" tanyanya dengan wajah berbinar,
" Tentu saja sayang.. dua atau tiga hari lagipun tak masalah.. aku akan menunggu.." jawab Damar mencium kening istrinya.
Dan keduanya memutuskan menyebrang jalan, mencari cari panganan kecil di jalan yang di penuhi dengan banyak penjual.
Setelah membeli segelas susu dingin dan duduk sejenak,
keduanya kembali berjalan kaki, mereka melewati jalan asia afrika, yang selama ini hanya mereka dengar dari buku pelajaran saat Sekolah Dasar saja.
Keduanya berjalan dengan tenang, menikmati suasana malam kota Bandung yang akan mereka tinggalkan lusa.
Dalam diam Damar bersyukur, melihat betapa cerah wajah istrinya, dan betapa erat tangan Kinanti memeluk lengannya sembari sesekali menyandarkan kepalanya itu pada lengan Damar dengan manja,
seakan tak perduli pada pandangan orang di sekitar, malam ini benar benar membahagiakan.
Waktu sudah masih begitu pagi saat Damar mulai terbangun dari tidurnya.
Mata yang sayup sayup terbuka tertutup kembali karen kantuk.
" Sayang.." suara Damar lirih sembari menyusup ke balik selimut dan melingkarkan tangannya ke perut istrinya yang tak sedang tak berpakaian itu.
Tentu saja itu karena hasil perbuatan Damar semalam.
Kinanti mengira setelah lelah berjalan jalan mereka akan beristirahat dengan nyenyak, tapi ternyata tidak..
Damar bahkan menganggunya sampai berkali kali.
Mata Damar tiba tiba terbuka saat tangannya terus meraba perut istrinya.
__ADS_1
Dengan rasa penasaran laki laki itu bangkit dan menaruh kepalanya di pinggang istrinya, sembari terus mengelus perut istrinya.
Ada yang berbeda.. batin Damar,
dirinya baru sadar, bagaimana bisa tubuh Kinanti semakin kurus, sementara perutnya semakin berisi.
" Nan..?" panggil Damar masih dengan kepala di pinggang Kinanti.
Tapi perempuan itu tampak lelah, hingga tak bergerak sedikitpun.
" Nan?? bangun sebentar..??" Damar memanggil lagi, tapi Kinanti tak kunjung bergerak.
Damar yang penasaran setengah mati me ngalihkan tangannya dari perut Kinanti.
Menyentuh bagian sensitive istrinya dan menciumi leher istrinya,
membuat Kinanti yang mengantuk berat itu tiba tiba bergerak dan sedikit menggeliat karena geli.
" Mas..?!" suara Kinanti kesal dengan mata masih tertutup.
Namun tangan Damar masih saja bergerak menggoda Kinanti agar bangun.
" Aku capek mas..??" keluh Kinanti masih dengan menutup mata.
" Jawab dulu.. baru mas biarkan tidur lagi.." suara Damar berbisik.
" Ya ampun pagi pagi.. apa..?" jawab Kinanti setengah bergumam.
" apa mens mu lancar?" tanya Damar masih dengan tangan kemana mana,
" hemm.. lupa, sepertinya sudah lama tidak mens.." jawab Kinanti masih dengan bergumam, lalu tak lama kembali tertidur.
Damar langsung terdiam, tangannya yang tadinya usil kemana mana sekarang diam di tempat.
Di pandanginnya istrinya itu sembari duduk.
Terlihat dada bidang yang tidak tertutupi apapun itu, dengan pemiliknya yang sedang memasang wajah yang melonggo.
Antara bingung dan kaget Damar tampak begitu bodoh dengan ekspresi wajahnya sekarang.
Di tatapnya wajah istrinya itu lagi dengan baik baik, dan menyentuh lagi dan lagi perut istrinya itu,
seakan ingin meyakinkan sesuatu.
Dengan buru buru laki laki itu turun dari tempat tidur,
mengambil bajunya yang tergeletak di atas lantai dan memakainya.
Menyelimuti tubuh istrinya itu lagi, lali segeran berjalan keluar kamar.
" Mbak Dinda? mbak Dinda?" Damar mengetuk pintu kamar Dinda beberapa kali, hingga Dinda keluar dengan wajah ngantuknya, rambut berantakanya dan kantung mata yang lumayan tebal.
Damar sedikit kaget di buatnya, tapi tujuannya segera menyadarkan dirinya kembali.
" Ada apa mas?" tanya Dinda dengan raut masam.
" Bisa beritahu saya, apotik yang buka 24 jam disini?" tanya Damar.
Dinda menggosok gosok matanya,
" Mau beli apa? ini masih subuh?"
" ada yang harus di beli sekarang, mendesak mbak?" suara Damar terdengar sungguh sungguh,
__ADS_1
" Dekat Pasar, naik motor 15 menitan, pertigaan sana belok ke kanan.. nanti ada pasar, cari saja di sekitarnya.." jawab Dinda,
" Kunci motor nempel.. awas kesasar.." ujar Dinda lagi lalu kembali masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya.