
Yoga duduk di sisi tempat tidur, matanya berbinar menembus jendela.
Ia melihat putranya duduk di atas bahu Damar.
Bagas tambah sehat, ceria, dan senyumnya lebih berseri seri.
Damar berjalan kearah pabrik, rupanya Bagas ikut bos paling besar di keluarga ini bekerja.
Di hela nafasnya, bukan karena tidak senang, dirinya malah di penuhi rasa syukur dan bahagia.
Anaknya di kelilingi saudara saudara saudara yang baik,
dan.. dirinya pun sudah mempunyai pendamping sekarang.
Tak ada hal muluk muluk yang ia inginkan, selain hidup tenang dan saling menjaga kepercayaan satu sama lain.
Ia bertekad, apapun itu.. akan ia usahakan untuk anak dan istrinya..
ia juga belajar banyak dari masa lalu, bahwa berjuang sekuat tenaga itu perlu.
Ia tak akan menjadi laki laki yang mudah menyerah dan selalu patuh pada keadaan seperti dulu.
Sosok Damar yang selalu mendobrak peraturan keluarga dan hidup di luar zona nyaman membuatnya mengerti.., laki laki kadang memang begitu.. meski penuh luka,
ia harus menjadi sosok yang kuat untuk melindungi keluarganya.
Damar begitu sederhana, tapi entah dari mana wibawa yang kuat itu muncul.
Dia bahkan selalu menundukkan kepalanya dan tersenyum pada setiap orang, namun bukan hilang wibawanya, yang ada malah orang semakin menghormatinya.
Bagas terlihat berpegangan pada tangan Damar, keduanya berjalan di pinggir sawah yang sudah terlihat menguning.
" Senyum senyum sendiri?" suara Dinda yang baru saja keluar dari kamar mandi membuatnya mengalihkan pandangannya pada istrinya yang sudah berdaster tipis itu.
Tangan Dinda sibuk menggulung rambut di handuknya.
" Anakmu.." jawab Yoga merangkul Dinda yang duduk disampingnya,
" Bagas? dia pasti mencari kita?" ujar Dinda berusaha mencari sosok Bagas di depan rumah Kinan.
" Kata siapa dia cari kita.. tuh disana.." Yoga menunjuk ke jalan, barulah Dinda menangkap sosok Damar yang sedang menggendong Bagas di bahunya.
" Dia terlihat senang..lihat tangan dan kepalanya tak berhenti bergerak kesana kemari.." tatap Dinda trenyuh.
" Apa kau tidak pernah menggendongnya seperti itu??!" Dinda menatap Yoga dengan mata menyipit tiba tiba.
Yoga hanya tersenyum,
" Tidak pernah?? wahh.. keterlaluan??" komentar Dinda sinis.
" Pantaskah kau bicara begitu pada suamimu? tidak ada takutnya,
mau kurebahkan di atas meja makan lagi?" balas Yoga.
" Hahh.. silahkan saja kalau mau pinggangku patah dalam waktu sebulan.." sahut Dinda pelan.
Yoga tersenyum senang, lalu mencium pipi Dinda gemas.
__ADS_1
" Namanya juga sudah di ujung tanduk.." bisik Yoga.
" Sudah.. ambil Bagas sana?!"
" dia itu happy ikut mas Damar.."
" Jangan di biasakan, nanti dia terbiasa tanpa kita..
heran.. hobby kok nitipin anak..
jangan jangan nanti aku kau titipkan juga?"
" dari tadi ya kalau ngomong tidak ada takutnya..
mana mungkin aku menitipkanmu? memangnya aku ikhlas kau di gendong orang kesana kemari??!"
" ah.. siapa tau, aku kan baru sehari jadi istrimu?"
" hemm.. mana panggilan yang semalam sempat ku dengar?"
" Yang mana?" Dinda pura pura lupa,
" pahhh... " Yoga mengingatkan,
" Ah.. yang lain sajalah.. aku geli sendiri kalau memikirkannya.." Dinda membuang pandangannya ke arah lain, menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah.
" Aku ini suamimu lho? bisa bisanya ada kalimat geli?" protes Yoga ingin di panggil dengan mesra.
" Kita kan sering ribut dulu, pasti lucu kalau di dengar Kinan dan mas Damar..?"
" Mas saja ya?" tawar Dinda,
" tidak mau! sama dong dengan mas Damar? aku mau yang beda, pokoknya beda..?!" terlihat sisi kekanak kanakan Yoga.
Dinda terdiam sejenak,
" yowes pah.." ujarnya kemudian lirih,
" apa apa??" senyum Yoga terkembang,
" yowes pah.. yowesss..." ulang Dinda.
Si mbak sibuk membersihkan dapur ketika Dinda melangkah masuk ke dapur.
" Mbak.. ayo kepasar sama saya.." ajak Dinda.
" Denganku saja?!" suara Yoga yang sudah berpakaian lengkap dan rapi.
" Ada aku dirumah malah ngajak si mbak.. kebetulan aku juga pingin jajan pasar.. " imbuh Yoga.
" Nggih.. sama mas Yoga saja mbak, saya mau bersihkan ini lho, ada gelas bekas susu pecah..
ya masa ada kucing masuk ya mbak? terus botol susunya juga tidak di tutup, tumpah beleber semua di meja..
njenengan lupa tho?? eman eman mbak.."
mendengar kata kata si mbak Dinda dan Yoga berpandangan, Dinda terlihat malu mengingat kelakuannya di atas meja yang sedang di lap oleh si mbak itu.
__ADS_1
Berbeda dengan Yoga, senyumnya begitu hangat pada Dinda, seperti ingin mengingatkan, disana.. di meja itu kita memadu kasih semalam.
Yoga yang begitu agresif dan Dinda yang kepasrahan nya begitu menggoda.
Hingga tak cukup sekali hal itu terjadi,
Entah berapa kali, dan entah sudah berapa macam posisi, hingga kaki jenjang Dinda menumpahkan botol susu dan memecahkan gelas yang masih berada di atas meja.
Yoga yang melihat tubuh istrinya terkena tumpahan susu, bukannya berhenti malah bersikap seperti anak kecil yang di beri permen.
Manis yang di rasakan Yoga tentu saja membuatnya semakin tak bisa berhenti.
Mengingat hal itu tentu saja hasrat Yoga tiba tiba tumbuh kembali.
Dorongan yang semalam ia rasakan muncul kembali.
" Nanti saja ke pasarnya.." ucap Yoga meraih tangan istrinya,
" kenapa??" tanya Dinda dengan dahi berkerut, padahal tadi ngotot mau ikut, tapi sekarang malah bilang nanti saja.
" Sepertinya ada kado yang lupa kau buka, aku penasaran dengan isinya..? kita buka sekarang ya?" sahut Yoga menarik Dinda berjalan keluar dari dapur.
" Kado yang mana? sudah ku buka semua..?" jawab Dinda menolak, karena ia yakin sudah membuka kadonya.
" Biar aku kepasar sendiri sajalah?" Dinda menghentikan langkahnya tepat di ruang tengah.
" Kuantar.. tenanglah.. tapi sekarang kita ngobrol dulu di kamar.." Yoga tiba tiba mengangkat tubuh Dinda.
Dinda yang awalnya terheran heran sekarang tau apa yang di maksudkan oleh suaminya dengan berbincang di kamar.
" Aku tidak tahan melihat meja itu.. aku jadi ingat semalam.."
ujar Yoga membaringkan Dinda di atas tempat tidur ketika sudah sampai di dalam kamar.
" Malam pertama kita terlalu luar biasa bagiku.. rasanya masih segar di pikiranku dan sentuhanmu pun masih lekat kulitku.." Bisik Yoga mulai mencumbu Dinda.
" Apa kata orang kalau menemukan pintu kamar kita selalu tertutup?" tanya Dinda saat bibirnya bebas sejenak dari cumbuan Yoga.
" Kenapa masih perduli pada kata orang.. yang mencintaimu itu aku.. yang hidup bersamamu itu aku.." Yoga menekankan.
" Aku bukan Yoga yang dulu.. aku suamimu sekarang.. laki laki yang akan menjalani sisa hidupnya denganmu..
yakin dan percayakan semua padaku Adinda..
istriku.." imbuh Yoga lembut.
Yoga mulai membuka kancing sweater Dinda satu persatu, namun tiba tiba laki laki itu bangkit dari atas tubuh istrinya.
Ia berjalan ke arah jendela yang besar itu dan menutup tirai dengan cepat.
" Bukankan kaca itu terlihat gelap dari luar?" tanya Dinda saat Yoga kembali kepadanya.
" Yah.." Jawab Yoga dengan tangan yang sibuk melanjutkan membuka kancing sweater.
" Lalu kenapa kau tutup?" tanya Dinda,
" aku tak mau saja kau melihat kearah lain dan tak fokus kepadaku.." Jawab Yoga sembari menyingkirkan sweater itu dari tubuh istrinya.
__ADS_1