
Sesungguhnya Damar ingin marah, bahkan ingin bertanya dengan keras, bagaimana bisa kondisi adiknya menjadi semakin kurus begitu.
Tapi saat melihat Yusuf yang tak jauh beda kondisinya, amarahnya menjadi luruh..
Laki laki itu tidak hanya tampak kurus, tapi penampilannya pun menjadi tak terawat.
Ia berkumis dan berjenggot tipis sekarang,
dan laki laki yang biasanya berkemeja rapi itu sekarang hanya berkaos biasa dan bercelana panjang yang tidak licin.
Damar dan Kinanti saling memandang, tak tau apa yang harus mereka katakan.
" Maaf mas.. jauh jauh kesini ndak nemu apa apa.." suara Yusuf kalem.
Damar diam, sesekali ia tertunduk menahan rasa sedih yang menyergap hatinya sedari tadi.
" Gendhis..?" panggil Damar saat putrinya yang sudah bisa berjalan itu mengikuti langkah Kaila yang beranjak ke dapur.
" Biar saja mas, biar main denganku..?" ujar Kaila menuntun Gendhis.
" Jadi.. sebenarnya.. ada apa mas? sampai jauh jauh mencari rumah kami?" tanya Yusuf setelah ruangan itu lama terasa hening.
" Tentu saja karena kami merindukan kalian.. kalian kira untuk apa?" sahut Kinanti.
Mendengar itu Yusuf tersenyum, namun senyumnya hilang saat menemukan wajah Damar yang begitu kaku.
Lagi lagi suasana hening sesaat,
namun terdengar helaan nafas Damar kemudian.
" Aku tak ingin basa basi, apa yang kulihat sekarang sungguh mengecewakan aku." suara Damar tenang namun penuh ketegasan.
" Saya tau.." jawab Yusuf tertunduk,
" hanya itu saja jawabanmu? sebagai seorang laki laki??
aku bahkan tidak membayangkan bisa menemukan kalian dalam kondisi yang semenyedihkan ini?!" suara Damar penuh penekanan.
" Mas??" Kinanti menyentuh lengan suaminya untuk menenangkan.
" Untuk apa kau pindah kesini kalau hanya memperburuk keadaan?
kembalilah ke malang!" tegas Damar lagi.
" Kami kesini demi ketenangan..
jangan lihat kondisi kami, kami memang menyedihkan di mata mas..
tapi kami sudah banyak belajar.." jawab Yusuf masih tertunduk.
" Kau mempersulit hidup adikku..!"
Damar kesal.
__ADS_1
" Bukankah mas yang menyuruh kami belajar?
dan sekarang kami sudah belajar.. bahkan mandiri..
lalu kenapa mas marah?" Yusuf hati hati berkata.
" Lihatlah dirimu? lihatlah Kaila? apa kalian tidak punya kaca? tidak bisakah kalian lihat betapa menyedihkan diri kalian sekarang??"
" bukankah ini proses yang mas mau?"
Damar terdiam, benar.. memang dia menginginkan keduanya belajar hidup mandiri.
Tapi.. saat melihat kondisi keduanya seperti ini, bukannya senang, hatinya malah seperti di sayat.
Dirinya hidup baik bersama anak istrinya, tapi.. adiknya..?
Damar memang ingin memberi Kaila dan Yusuf pelajaran atas apa yang sudah terjadi sebelum mereka menikah, tapi..
Damar tak sanggup melihat hasil rasa teganya sekarang.
" Jangan khawatir.. kami makan teratur sehari tiga kali mas.." ujar Yusuf membuat Damar menatapnya tak percaya.
" Kalau mas lihat kami semakin kurus karena kami benar benar fokus bekerja dan menabung,
aku dan istriku beberapa minggu yang lalu sempat sakit bergantian, kondisi kami juga belum sepenuhnya pulih.."
" Kau kerja dimana sekarang?" tanya Damar ragu,
" saya bekerja sebagai pengawas di salah satu pabrik.."
" hanya?? mungkin bagi mas ini kecil, tapi bagi saya ini sudah cukup baik.. apalagi tanpa dukungan siapapun..
lagi pula Kaila yang menginginkan kami jauh dari malang..
selama kami masih di malang ibu akan terus datang dan berbicara tentang hal yang tidak terlalu baik untuk kami.."
Damar terdiam, di katupkan kedua bibirnya.
" Kembalilah ke malang.. bekerjalah di tempat mas Damar.." suara Kinanti tenang.
" Biarkan saja kami disini.." sahut Kaila keluar dari dapur, membuat Damar dan Kinan memandangnya.
" Aku dan suamiku baik baik saja mas..
kami terlihat kurang baik karena terlalu fokus dengan kesibukan kami..
mas Yusuf yang selalu lembur, dan aku yang menyibukkan diri berjualan dirumah.." imbuh Kaila duduk sembari mengendong Gendhis.
" Kau sedang membohongi siapa?" suara Damar tegas,
" aku tidak bohong mas..?"
" kau bahkan berhenti kuliah!" suara Damar yang sedikit tinggi membuat Gendhis kaget.
__ADS_1
" Mas menakuti Gendhis??" ucap Kaila mengelus kepala keponakannya itu.
" Aku tidak mau tau! kembali ke malang secepatnya!" Damar masih tidak menurunkan nada suaranya.
" Aku memang ingin kalian mandiri, tapi tidak seperti ini?! apa kata almarhum bapak jika dia tau kondisimu begini?!"
suara Damar menggema di ruangan, membuat semua orang terdiam.
" Kami tidak seburuk yang mas pikirkan.." Kaila berusaha meyakinkan Damar bahwa dirinya dan suaminya baik baik saja.
" Meskipun kau baik baik saja, aku tetap tidak rela! suamimu yang becus ini benar benar pintar mengambil keputusan!" Damar benar benar kesal.
" Dengarkan aku Yusuf, aku tidak mau tau, lanjutkan pendidikan adikku, bagaimana bisa kau yang seorang sarjana malah memutus pendidikan adikku, inikah kekuatanmu sebagai suami? hanya disini saja kemampuanmu?!
kau boleh jadi kuli atau apa saja, tapi memutus pendidikan Kaila, itu tidak bisa ku terima!"
" Jangan salahkan suamiku mas, aku yang menginginkan ini.." Kaila menyela,
" kau lihat suamimu? dia yang seorang sarjana saja sulit untuk mencari pekerjaan yang sesuai dengan pendidikannya, apalagi kau yang hanya memegang ijazah SMA?!,
Yusuf?!, kau kira untuk apa aku susah payah bekerja sebagai kuli dan lainnya sembari kuliah?,
aku ingin Kinanti mendapat pendidikan yang layak, sama sepertiku?!
aku ingin dia setara denganku, bahkan kalau dia menginginkan sekolah kembali ku akan mengabulkannya,
bukankan kita harus memberi yang terbaik untuk perempuan yang kita cintai?
lalu apa yang kau lakukan dengan membawa Kaila kesini?
aku bisa memahami jika tak ada perkembangan, tapi setidaknya jangan tunjukkan kemunduran kepadaku..?!" Damar benar benar tak bisa di bantah.
Sepanjang jalan suaminya itu membisu, hanya matanya saja yang tak henti berkaca kaca, rautnya seakan menyesali sesuatu.
" Kalau lelah kita cari penginapan saja.. besok baru lanjut ke malang.." suara Kinanti pelan,
" tidak, aku tidak apa apa," jawab Damar pendek.
Mendengar itu Kinanti menghela nafas, lalu membuang pandangannya ke jendela sembari mengelus kepala putrinya yang sibuk meminum susu dari dotnya.
Damar mengendarai mobilnya dengan tenang kembali ke kota malang.
Dirinya yang awalnya hanya ingin melihat kondisi adiknya saja lalu kembali pulang, menemukan kekecewaan yang sungguh besar.
Damar memang membayangkan kehidupan Kaila yang sederhana,
namun kesederhanaan yang ia temukan sungguh membuatnya nelangsa.
" Kita berhenti saja dulu, mas terlihat tidak fokus.. aku takut.." suara Kinanti membuat Damar memperlambat laju mobilnya.
" Kita sedang di tol.. mau menepi dimana.. rest areanya masih jauh.." suara Damar pelan.
" Pintu tol berikutnya kita keluar saja.. aku ingin menepi dengan Gendhis,
__ADS_1
mas juga bisa makan dan merokok sebentar.."
mendengar kata kata istrinya Damar hanya mengangguk saja dan menambah kecepatan mobilnya.